Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Tatapan Laila


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 268


...•...


...•...


Disaat Shella & Jenar tengah berada di dalam ruang UGD menjenguk Nadya, Laila kini justru mencoba untuk berkenalan dengan pria yang menarik perhatiannya yakni Yoga dan mereka tampak sedang duduk berdampingan di depan ruangan itu sembari menunggu giliran untuk menjenguk Nadya di dalam.


Laila terus memandangi wajah pria di sampingnya tanpa berkedip, ia sungguh merasa tertarik pada ketampanan wajah Yoga walau baru kali pertama ini ia bertemu dengan pria tersebut disana. Sedangkan Yoga masih memikirkan Nadya dan sama sekali tidak menggubris tatapan mata dari Laila, baginya kondisi Nadya lebih penting daripada gadis itu.


"Yoga..."


Barulah ketika namanya disebut oleh gadis itu, Yoga menoleh tapi masih tanpa ekspresi sangat berbeda ketika ia menatap Nadya dengan kali ini ia menatap Laila disana. Ya justru Laila malah tersenyum berusaha membuat Yoga tergoda padanya, pria itu pun membalas senyumnya namun masih saja berusaha untuk tetap dingin dan cuek.


"Ya, kenapa?" ucap Yoga pelan.


Entah mengapa gadis itu malah tersipu dan senyum-senyum sendiri sambil memandang ke arah lain dengan menutupi mulutnya, sepertinya ia merasa salah tingkah atau mungkin terpesona dengan suara Yoga yang memang sangat-sangat cool dan menjadi idaman banyak wanita.


"Kamu kenapa sih, kok malah senyum-senyum gitu?" tanya Yoga penasaran melihat tingkah Laila.


"Eh, gapapa kok! Aku kagum aja sama suara kamu, Yoga!" jawab Laila dengan santai sambil tersenyum dan mata ia kedip-kedipkan ke arah Yoga.

__ADS_1


Yoga tak mengerti apa maksud gadis itu sebenarnya, ia pun hanya manggut-manggut lalu berusaha membuang muka dan tidak lagi menggubris kedipan mata serta senyum penggoda yang diberikan Laila padanya karena takut akan ada hati yang terluka.


"Ganteng banget sih, emang idaman deh cowok ini si Sadam mah lewat jauh...." gumam Laila di dalam hatinya masih sambil senyum-senyum.


Bahkan kali ini Laila memandang wajah Yoga sembari menopang dagunya dengan kedua tangan dan jarak yang lebih dekat dari sebelumnya, tentu Yoga merasa risih terus-terusan ditatap seperti itu oleh gadis yang baru saja ia temui dan belum terlalu kenal apalagi akrab.


"Yoga, kamu ganteng banget deh..." puji Laila.


Sontak Yoga reflek menoleh menatap Laila dengan wajah terheran-heran, ia tak mengerti mengapa gadis itu sampai nekat memuji ketampanan wajahnya dan terus saja memandanginya sembari tersenyum.


"Ya, makasih! Kamu juga cantik banget, Laila!" ucap Yoga seperti gugup, ia memuji balik gadis itu.


"Wah, iya kah? Alhamdulillah kalo emang aku cantik di mata kamu, makasih ya ganteng!" ucap Laila.


"Iya, kamu cantik kok Laila! Eee... kalau boleh tau kamu ini siapanya Nadya, ya?" ucap Yoga penasaran.


"Aku ini adik iparnya Shella, otomatis udah saudaraan juga sama Sheila alias Nadya itu!" jawab Laila.


Tak lama kemudian, Shella & ibunya keluar dari dalam ruangan itu lalu kembali menuju tempat duduk yang saat ini diduduki oleh Laila serta Yoga. Mereka tampak heran karena melihat Laila tadi sedang asyik memandangi wajah Yoga, namun begitu melihat Shella sudah keluar gadis itu langsung salah tingkah dan pura-pura melihat ke arah lain.


"Eee... Shella, tante! Gimana kondisi Nadya sekarang?" tanya Yoga dengan wajah cemas.


"Alhamdulillah Sheila baik-baik aja kok, kan kamu sendiri yang bilang tadi kalau penyakit Sheila itu belum terlalu parah dan masih bisa disembuhkan!" jawab Jenar sambil tersenyum.


"Syukurlah tante, kalo gitu apa aku boleh masuk ke dalam buat bicara sama Nadya??" ujar Yoga.


"Eee... maaf Yoga, tapi Sheila nya lagi istirahat di dalam! Kamu nanti aja ya bicaranya kalau dia udah bangun dan bisa dijenguk lagi!" ucap Shella.


"Oh, oke..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja seorang pria tampan berpakaian rapih muncul disana dan mendekati Shella yang tengah berbicara dengan Yoga, ya pria itu bersama asistennya sudah berhasil sampai di rumah sakit sesuai info yang mereka dapatkan dari bik Yani sebelumnya.


"Hai, Shella...!!" sapa pria tersebut.


Shella pun menoleh terkejut saat namanya disebut, ia menatap penuh keheranan karena belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.


...•••...


Disisi lain, Devano juga masih berbincang dengan Adrian yang semakin emosi karena ucapan Devano cukup untuk membuatnya kepanasan dan rasa ingin memukul wajah Devano lalu menghabisinya saat itu juga tetapi tidak bisa karena ini di kantor polisi.


Sementara Devano sendiri masih santai-santai saja sambil tersenyum, ia merasa puas berhasil membuat musuh bebuyutannya itu jadi seperti ini karena memang itulah tujuannya sebelum datang kesini yakni untuk membuat Adrian makin menderita.


"Oh ya, saya juga mau menyampaikan kalau sekarang pemimpin PT. Kilau Bagaskara adalah Bimo alias adik anda yang secara sah ditunjuk langsung oleh kakeknya yakni Mr. Frederick..." ucap Devano.


"Saya yakin, anda pasti kecewa bukan? Hahaha, tapi itulah resiko yang harus diterima anda karena memilih hidup sebagai orang jahat!" sambungnya.


Adrian terdiam tak menyahuti ucapan Devano, ia berpikir kalau Frederick alias kakeknya memang selalu pilih kasih bahkan sekarang Frederick malah membebaskan Bimo seorang tanpa juga coba melepaskan dirinya dari dalam penjara itu.


"Kakek emang keterlaluan, bisa-bisanya dia malah bebasin Bimo dan biarin gue mendekam disini! Awas aja, kalau gue udah keluar dari sini pasti tuh orang bakalan nyesel banget...!!" batin Adrian.


Belum sempat Devano melanjutkan pembicaraan ini dan memanas-manasi Adrian, tiba-tiba polisi datang mengatakan kalau waktu kunjungan sudah habis dan Adrian memang harus kembali ke dalam sel.


"Permisi pak, waktu kunjungan sudah habis! Saudara Adrian harus kembali ke selnya!" ucap polisi itu.


"Oh baik, pak! Kalau begitu saya permisi dulu, Adrian terimakasih atas waktunya dan saya harap anda bisa menerima ini semua dengan lapang dada karena inilah resiko seorang penjahat!" ucap Devano masih sempat-sempatnya meledek Adrian.


Adrian tak menjawab dan hanya menunjukkan wajah kesalnya, mungkin kalau tidak ada polisi disana bisa lain jadinya karena Adrian benar-benar emosi pada Devano yang terus meledeknya. Polisi pun langsung membawa Adrian kembali ke dalam selnya, sedangkan Devano berjalan keluar dari rutan tersebut sambil senyum-senyum merasa puas.


"Hahaha, Adrian kelihatan sangat emosi dan kesal sekali tadi... dunia memang selalu berputar, kali ini giliran saya yang di atas dan Adrian di bawah!" gumam Devano sembari berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2