Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Bos Nadya


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 372


...•...


...•...


Setelah mendapat pemberitahuan dari salah seorang karyawan di kantornya, Nadya pun bergegas masuk ke dalam untuk menemui bosnya yang sudah menungggu dan ingin bertemu dengannya. Untunglah karyawan tadi juga mengatakan padanya kalau sang bos sudah berada di ruangannya, ya itu artinya Nadya harus naik ke lantai sepuluh tempat ruang kerja bosnya itu berada.


Nadya tampak tergesa-gesa untuk bisa sampai disana, ia tidak mau tentunya membuat bosnya menunggu terlalu lama, karena ia khawatir jika akan dipecat oleh bosnya. Selain itu, Nadya juga memang penasaran dan ingin tahu siapa bosnya. Apalagi sudah seminggu lebih ia belum melihat atau bertemu dengan bosnya itu, ia hanya berkomunikasi melalui asisten si bosnya selama ini.


Sesampainya di depan pintu ruang kerja bosnya, Nadya pun tampak gugup sendiri untuk bisa masuk ke dalam sana dan menemui bosnya. Ya bagaimanapun juga ia belum pernah bertemu dengan bosnya itu, ada rasa canggung tersendiri yang ia rasakan saat ini karena ini merupakan pertama kalinya ia akan bertemu dengan sang bos.


TOK TOK TOK...


"Permisi, pak! Ini saya Nadya, sekretaris bapak!" ucap Nadya sembari mengetuk pintu.


"Masuk!"


Suara balasan dari dalam ruangan itu, membuat Nadya gemetar karena ini kali pertama ia mendengar suara bosnya tersebut. Nadya pun perlahan hendak memegang gagang pintu itu, ia memejamkan mata sembari menghela nafasnya sebelum akhirnya membuka pintu tersebut secara perlahan-lahan dan akan menemui bosnya di dalam sana.


Ceklek....


Pintu pun terbuka dengan perlahan, Nadya melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan juga mulai membuka matanya yang masih terpejam. Nadya terkejut melihat sosok pria tengah duduk membelakanginya di depan sana, ya pasti itulah bosnya yang selama ini ia penasaran ingin tahu dan melihatnya.


"Masuk sini, Nadya!" ujarnya.


"Eee iya, pak." ucap Nadya gugup.


Nadya menelan saliva nya dengan susah payah dan coba menenangkan diri agar tidak gugup, ya bagaimanapun juga ia harus bersikap santai dan tenang agar bosnya itu tidak merasa ilfil padanya. Apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka, tentunya Nadya berharap ia bisa bicara lancar tanpa ada rasa canggung sedikitpun di hadapan bosnya.


"Tutup pintunya!" ujar pria itu.


Mendengarnya membuat Nadya harus berbalik kembali ke arah pintu dan menutup pintu itu kembali sesuai perintah bosnya, suara lantang dari bosnya tadi benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang dan tak karuan. Rasanya seperti ia sedang berada di dalam kandang harimau yang sedang lapar dan siap untuk menerkamnya.


"Su-sudah, pak." ucap Nadya gugup.


"Yaudah, sini!" ucap pria itu.


Nadya pun kembali melangkah lagi ke depan mendekati tempat bosnya berada, dengan perlahan ia melangkahkan kaki masih sambil merasa gugup dan coba celingak-celinguk ke arah sekeliling ruangan tersebut untuk menghilangkan rasa gugupnya tersebut.


Sementara ia juga melihat kalau bosnya masih terus duduk membelakanginya, namun ia seakan tak asing ketika berada tepat di belakang bosnya. Ya Nadya merasa seperti pernah melihat bentuk tubuh yang seperti itu, namun ia tidak bisa terlalu jelas mengingatnya karena memang yang ia lihat saat ini hanyalah punggung serta bagian belakang bosnya.


Nadya kini sudah berdiri di dekat bosnya, ia pun menelan saliva nya lebih dulu dan mengambil nafas panjang lalu menghembusnya perlahan untuk menenangkan diri agar tidak panik.


"Eee saya sudah—"


"Duduk!" Pria itu dengan cepat memotong ucapan Nadya dan memerintahkan Nadya untuk duduk disana alias di hadapannya.


"Ba-baik, pak!" ucap Nadya gugup.


Perlahan Nadya pun duduk disana sembari menyibakkan rambutnya ke belakang dan tersenyum menatap ke arah punggung bosnya.


"Saya yakin, kamu ingin tahu siapa saya kan?" ucap pria itu sembari memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Nadya disana.

__ADS_1


Nadya pun terkejut hebat saat melihat sosok pria di hadapannya saat ini alias bosnya di perusahaan tersebut, Nadya dengan sigap menutup mulutnya dengan telapak tangan karena masih tak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini dengan mata kepalanya. Ya dugaannya tadi ternyata benar dan ia memang tidak salah mengira.


Sementara pria itu hanya tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya ke arah Nadya.


"Gak, gak mungkin!" batin Nadya sambil geleng-geleng kepala tak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.


...•••...


Sementara itu, Shella dan Devano sama-sama sudah bersiap untuk keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah menemui Silvi serta Tama. Ya mereka berempat nantinya akan berangkat bersama menuju rumah saudara Devano yang terletak di luar kota, hal ini dilakukan untuk mengajak Shella refreshing agar tidak stress terus-terusan diam di rumah.


Devano pun menuntun istrinya menuruni tangga secara perlahan, ia khawatir terjadi sesuatu pada sang istri jika tak menuntunnya. Ya walaupun Shella terus saja memaksa dan mengatakan kalau ia bisa jalan sendiri tanpa bantuan suaminya itu, namun Devano tak sama sekali menggubrisnya dan terus saja menuntun Shella hingga sampai di bawah.


"Mas, kamu lebay banget sih! Aku kan masih bisa jalan sendiri, kamu harusnya gak perlu pegangin aku kayak tadi!" ucap Shella.


"Honey, kamu kenapa sih? Aku kan cuma mau bantu kamu dan gak pengen sesuatu terjadi ke kamu." ucap Devano menatap tajam ke arah istrinya.


"Ya tapi kamu terlalu lebay tau! Kalau cuma buat turun dari tangga, aku mah bisa turun sendiri!" ucap Shella dengan wajah cemberutnya.


"Hey! Kamu harus nurut sama aku, honey! Aku ini kan suami kamu, dan kamu gak boleh bantah omongan aku!" tegas Devano.


"Haish, iya iya..." ujar Shella.


Tiba-tiba saja, Silvi serta Tama muncul dan menghampiri sepasang suami-istri yang tengah berdebat di dekat tangga itu. Mereka heran melihat Shella dan Devano yang belakangan ini memang sering ribut hanya karena hal sepele, mereka pun berniat untuk memisahkan keduanya agar tidak terus-terusan berdebat seperti itu.


"Vano, Shella. Kalian ini kenapa sih? Suara debat kalian itu kedengaran loh sampe meja makan, ada masalah apa lagi ini sih sama kalian?" tanya Silvi terheran-heran.


"Ini loh, mah. Shella ini nih dibilangin sama suami ngebantah mulu, padahal kan aku cuma pengen yang terbaik buat dia dan gak mau Shella sama calon anak aku kenapa-napa!" ujar Devano.


Melihat suaminya sangat marah saat bercerita pada Silvi, Shella pun tampak merasa bersalah dan tidak enak karena sudah membangkang tadi pada perkataan suaminya. Padahal memang benar Devano hanya ingin ia selamat dan tidak terjadi apapun padanya dan juga calon bayi di dalam kandungannya itu.


"Vano, kamu yang sabar dong! Jangan marah-marah begitu sama istri kamu! Kamu wajarin aja, Shella ini kan lagi hamil. Jadi, emosinya lagi gak teratur!" ucap Silvi menghampiri Shella dan merangkulnya.


"Ya, aku maafin kok. Tapi, lain kali kamu jangan begitu lagi kalau aku bilangin! Kan aku cuma gak mau terjadi apa-apa sama kamu, jadi kamu itu harusnya nurut aja sama aku bukannya malah ngebantah kayak tadi!" ujar Devano.


"Vano, udah lah! Jangan dibesar-besarkan lagi! Kan istri kamu juga udah minta maaf, lagian Shella ini lagi hamil jangan dimarahin mulu!" ucap Silvi.


"Iya mah, masalahnya aku kesel aja! Kan aku cuma mau perhatian sama istri aku ini, supaya dia baik-baik aja dan gak terjadi sesuatu juga sama anak di dalam kandungannya!" ucap Devano.


"Yaudah, masalahnya kan udah kelar. Shella juga udah minta maaf, kamu udah dong marahnya!" ucap Silvi mengingatkan putranya.


"Benar Vano, kamu harus bisa paham sama emosi istri kamu yang kadang naik kadang turun itu. Maklumin aja namanya orang hamil, jangan malah dimarahin terus! Nanti kalau anak kamu stress gimana, gara-gara ibunya dimarahin terus?" sahut Tama juga memberi pesan pada Devano.


"Iya mah, pah. Aku paham kok!" ucap Devano.


"Yaudah, sekarang kita sama-sama sarapan yuk! Udah cantik, jangan sedih lagi ya! Suami kamu mah emang begitu kan orangnya, gampang emosi dia!" ucap Silvi sembari mengusap rambut Shella.


"Iya mah..." ucap Shella tersenyum tipis.


Setelahnya, mereka berempat pun pergi menuju meja makan untuk melakukan sarapan bersama sebelum nantinya akan pergi ke rumah saudara.


...•••...


Disisi lain, Sadam sampai di sebuah tempat untuk bertemu dengan Yasmin serta Zara setelah sebelumnya gadis-gadis itu memang memintanya untuk datang kesana. Ya Sadam pun turun dari motor, lalu menghampiri mereka berdua disana dan bertanya langsung mengenai pertemuan kali ini.


Terlihat Zara dan Yasmin pun juga telah berada disana dan duduk berdua menanti kedatangan Sadam, mereka langsung berdiri menyambut Sadam yang baru datang disana itu. Keduanya pun juga meminta Sadam untuk segera duduk disana dan mereka bisa segera berbincang.


"Eh lu udah dateng, sini sini duduk! Kita ngobrolnya sambil duduk aja biar santai," ucap Yasmin.


"Iya..." ucap Sadam sambil tersenyum.


Sadam pun duduk di samping kedua gadis tersebut sembari menatap mereka secara bergantian, ia juga terus tersenyum karena jarang-jarang ia diundang oleh kedua gadis itu untuk ketemuan seperti ini.

__ADS_1


"Ada apa nih?" tanya Sadam penasaran.


"Eee lu gak mau pesen minum dulu gitu? Supaya kita ngobrolnya bisa lebih nyantai, udah pesen aja dulu!" ucap Yasmin menawarkan Sadam untuk memesan minuman lebih dulu.


"Gausah, gue gak haus. Lagian kok kalian malah ajak gue ketemuan disini sih? Kenapa gak di cafe tempat gue kerja aja? Bukannya kalian juga udah sering datang kesana, ya kan?" ucap Sadam.


"Ohh, gapapa sih. Gue bosen aja kalo disitu terus, pengen nyari suasana baru aja." jawab Yasmin.


"Oalah, yaudah langsung aja kali! Pada mau bicara apa nih sama gue? Bukannya apa-apa, gue kan orang sibuk jadi gak bisa lama-lama nih nyantai kayak gini disini. Bedalah sama kalian yang gak ada kerjaan, cuma suka gosip doang!" ujar Sadam nyengir.


"Haish, songong banget ya lu sekarang!" ujar Yasmin.


"Tau ih! Baru kerja jadi tukang antar makanan aja udah sombong, kalo lu udah sukses kayak suaminya Shella tuh baru deh lu boleh sombong ke kita!" sahut Zara ikut memarahi Sadam.


"Hahaha, yaelah becanda doang kali. Masa gitu aja kalian pada baper?" ujar Sadam.


"Iya iya, kita tuh ajak lu kesini mau bahas soal Shella sama lu." ucap Zara.


"Hah? Emang Shella kenapa? Dia diculik lagi?" tanya Sadam terkejut.


"Ish, amit-amit Dam! Jangan sampe! Lu kalo ngomong asal aja ya, ucapan itu doa tau!" ujar Zara.


"Tau nih, gak bisa jaga omongan banget! Emang lu mau kalau Shella diculik lagi, ha? Temen macam apa lu?" sahut Yasmin.


"Ya enggak lah! Terus ada apaan sama Shella emangnya?" ucap Sadam.


"Gak ada apa-apa sih. Cuma gini, Shella itu kan udah mau masuk enam bulan hamilnya. Nah gimana kalau kita beliin sesuatu buat dia? Kayak kado gitu, semacam perlengkapan bayi. Kan dia udah semakin mendekati hari kelahiran tuh, gimana gimana menurut lu Dam??" ujar Yasmin.


"Eee ya bagus sih, kalau kalian mau beliin kado buat Shella ya emang bagus banget! Gue setuju kalo gitu, pasti Shella juga bakal seneng!" ujar Sadam.


"Yeh bukan kita doang yang beliin, lu juga! Kan alasan kita ajak lu kesini ya buat bahas itu, jadi nanti kita bertiga patungan terus uangnya buat beliin kado deh untuk Shella dan calon bayinya." ucap Zara.


"Ohh, yah kalo itu gimana ya..." ujar Sadam.


"Hah? Kenapa emang?" tanya Yasmin heran.


"Masalahnya kan kalian tau, gue ini anak rantau di Jakarta. Gue juga harus biayain hidup gue sendiri, karena bokap gue cuma mau transfer buat biaya kuliah. Nah makanya gue kerja, supaya gue bisa makan sama bayar kosan." jawab Sadam.


"Yeh parah banget sih lu! Masa lu gak mau ikut patungan sama kita? Ini buat Shella loh, sahabat lu sendiri Sadam!" ujar Yasmin.


"Iya, malah bukan cuma sahabat. Shella kan juga mantan yang pernah lu selingkuhi dulu, anggap aja kado kali ini sebagai permintaan maaf lu ke Shella!" sahut Zara.


"Ya ampun, yang udah lama masih diungkit-ungkit aja! Kan gue jadi gak enak buat nolaknya!" ujar Sadam sambil garuk-garuk kepala.


"Yaudah, makanya lu mau dong patungan sama kita! Gini aja deh, nanti lu nyumbang uang nya jangan banyak-banyak! Cukup lima puluh persen aja, nah sisanya dibagi deh ke gue sama Zara." ucap Yasmin.


"Ndasmu lima puluh persen! Ya curang lah kalo gitu mah, masa iya gue paling banyak sendiri? Kalian mah enak pada punya duit banyak, apalagi lu Zara. Lah gue?" ucap Sadam ngamuk.


"Hehehe, becanda kok. Maksudnya gini, gue sama sumbang enam puluh persen, nah lu sisanya deh. Gimana, lebih dikit kan?" ucap Yasmin.


"Haish, yaudah iya gue ikut!" ucap Sadam.


"Nah, baru mantap! Ini nih teman yang sejati namanya, keren lu Dam!" ujar Yasmin.


"Yeh giliran mau aja dipuji-puji..." cibir Sadam.


Yasmin dan Zara hanya tertawa kecil melihat ekspresi dari raut wajah Sadam itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2