Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Bolak-balik aja


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 381


...•...


...•...


Sesampainya di ruangan kerjanya, Novi langsung duduk dan menaruh berkas-berkas yang ia bawa dari luar tadi lalu mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ya Novi pun berniat menghubungi Devano alias bosnya untuk meminta pada Devano agar bisa datang ke kantor, karena klien dari Korea yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaannya itu ingin bertemu langsung dengan Devano dan tak mau diwakilkan oleh siapapun.


Novi sebenarnya agak ragu untuk melakukan itu karena ia khawatir Devano akan marah, ya Devano sebelumnya sudah mengatakan padanya untuk tidak mengganggu dirinya selama ia cuti. Namun, kali ini ia terpaksa harus menghubungi Devano demi kebaikan perusahaan miliknya juga yang bergantung pada kerjasama dengan klien dari Korea tersebut dan Novi tidak ingin jika perusahaan itu menurun akibat kehilangan klien yang sangat penting tersebut.


"Huh, aku harus coba telpon pak Vano! Ini semua demi kebaikan kantor!" gumam Novi.


Novi pun mengambil nafas dalam-dalam untuk menyakinkan dirinya sebelum menelpon Devano menggunakan ponselnya, ia juga memejamkan mata sejenak dan bersiap untuk menelpon Devano. Ia mencari nama kontak bosnya itu dan dengan keyakinan penuh ia menekan tombol hijau untuk mulai menghubungi Devano, ia menaruh ponsel itu di telinganya dengan jari yang terus mengetuk-ngetuk meja dan menggigit bibir bawahnya.


📞"Halo Nov, ada apa sih kamu telpon saya? Kan saya sudah bilang sebelumnya, jangan ganggu saya dulu selagi saya ingin cuti untuk menemani istri saya!" ucap Devano langsung membentuk Novi.


📞"Eee iya maaf pak! Saya gak bermaksud untuk mengganggu bapak kok, saya cuma—"


📞"Cuma apa ha? Kamu ini gak ngerti bahasa atau gimana sih? Jangan ganggu saya dulu apapun alasannya! Paham?" potong Devano.


📞"Iya pak, pa-paham! Tapi, ini masalahnya genting pak dan hanya bapak yang bisa menyelesaikan masalah ini." ucap Novi gugup.


📞"Masalah genting apa?" tanya Devano.


📞"Ada klien dari Korea yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita, tapi beliau hanya ingin bertemu dengan bapak tidak dengan perwakilan bapak. Menurut saya klien ini sangat penting pak, karena bisa berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan ini pak!" jawab Novi.


📞"Haish, apa kamu gak bisa nego lagi sama dia? Bilang kalau saya ini lagi sibuk, masa dia gak bisa ngerti sih?" ujar Devano kesal.


📞"Maaf pak! Tapi, saya sudah berulang kali mengatakan itu dan mereka tetap saja tidak mau bertemu dengan pak Rafael. Mereka ingin bertemu dengan bapak saja," ucap Novi.


📞"Lalu, apa saya harus terbang ke Korea untuk bertemu mereka?" tanya Devano.


📞"Tidak kok, pak. Mereka yang datang kesini menemui bapak, apa bapak bersedia untuk melakukan pertemuan dengan mereka?" ucap Novi.


📞"Saya pikir-pikir dulu, nanti saya kabari kamu lagi." ucap Devano.


📞"Umm, baik pak! Tapi, klien dari Korea ini hanya memberi waktu sampai lusa dan akan mengurungkan niatnya jika tidak ada kabar dari bapak nantinya." ucap Novi.


📞"Ya, tidak akan sampai lusa kok." ucap Devano.


📞"Baik pak! Kalau begitu saya izin tutup telponnya, sekali lagi maaf pak karena saya sudah mengganggu waktunya!" ucap Novi.


📞"Ya gapapa." ucap Devano.


Tuuutttt....


Devano langsung memutus telponnya, dan Novi tampak cemas sendiri dengan kondisi jantung yang masih tak karuan saat ini.

__ADS_1


"Huh untung aja pak Vano bisa ngerti, tapi dengar suara pak Vano marah udah bikin jantung aku senam kayak gini. Gimana kalau pak Vano sampai tahu kalau sebelumnya aku juga gagal membujuk klien dari Singapura?" gumam Novi panik.


Setelahnya, Novi pun menaruh ponsel di tangannya dan kemudian bangkit untuk keluar dari ruangan itu. Ya Novi akan menyusul Rafael di kantin sesuai dengan perkataannya tadi.




Sementara Devano kini tampak kebingungan setelah menerima telpon dari Novi, ya Devano bingung harus bagaimana saat ini karena ia tak mungkin pergi meninggalkan Shella disana. Namun, ia juga tidak mungkin membiarkan klien dari Korea itu pergi begitu saja hanya karena ia tidak mau menemui mereka dan pastinya itu akan berdampak pada penurunan dari perusahaannya.


Tama yang penasaran saat melihat putranya tampak bingung, langsung bergerak menghampiri Devano yang tengah berdiri di dekat vas bunga karena tadi Devano tak ingin mengganggu papanya. Ya Tama tahu betul kalau Devano sekarang sedang bingung walau ia belum tau apa yang tengah dipikirkan putranya tersebut saat ini, itulah sebabnya ia datang menghampiri Devano disana.


"Vano..." ucap Tama sembari memegang pundak putrinya dari belakang.


Devano terkejut kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum saat melihat papanya berdiri disana, "Eh papa?" ucapnya.


"Iya, apa yang lagi kamu mikirin Vano? Telpon dari siapa tadi itu?" tanya Tama.


"Eee ini barusan Novi sekretaris aku tuh telpon, katanya ada klien dari Korea yang minta ketemu sama aku buat bahas rencana kerjasama antara perusahaan aku dengan dia. Tapi, aku kan baru sehari disini dan gak enak juga kalo aku langsung pergi ke kota buat temuin klien itu. Shella juga pasti gak mau kalau diajak pulang secepat ini, menurut papa gimana ya?" jelas Devano.


"Ya kalau menurut papa sih terserah kamu aja, kamu bisa pergi ke Jakarta dan ketemu klien kamu itu! Biar Shella tetap disini sama papa mama, kamu gausah khawatir! Lagian disini kan juga banyak orang yang bisa temenin Shella, dia pasti seneng kok!" ucap Tama memberi usul pada Devano.


"Eee tapi papa kan tahu sendiri, aku gak bisa tenang kalau gak ada Shella di dekat aku. Alasan aku ambil cuti untuk temenin Shella terus kan karena itu, sekarang malah aku disuruh tinggalin Shella lagi. Ya berat banget buat aku, pah!" ucap Devano.


"Iya, papa tau. Tapi, ini kan demi perusahaan kamu loh! Emang kamu mau perusahaan kamu turun dan kamu bisa kehilangan banyak klien? Ingat Vano, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah dan kamu harus bisa memenuhi kebutuhan istri sama anak kamu itu! Kalau misal perusahaan kamu anjlok, bagaimana caranya kamu menghidupi mereka? Kan kamu sendiri yang bilang, kamu gak mau minta bantuan dari papa." ucap Tama.


"Ya iya sih, pah. Papa benar kok, yaudah aku bakal datang ke Jakarta besok dan ketemu sama klien itu. Tapi, sorenya juga aku langsung balik kesini buat ketemu Shella." ucap Devano.


"Ya ampun, Vano! Kamu segitunya khawatir ya sama istri kamu? Emangnya kamu gak capek kalau harus bolak-balik dari Jakarta kesini? Udah lah, kamu tenang aja dan gausah khawatir dengan Shella! Insyaallah papa sama semua orang disini akan bantu jagain Shella buat kamu, tenang aja!" ucap Tama.


"Aduh kamu ini, yasudah terserah kamu saja!" ucap Tama geleng-geleng kepala dan menepuk pundak putranya itu.


"Iya pah..." ucap Devano.


Setelahnya, Tama pun kembali ke sofa untuk lanjut mengobrol bersama Roky dan meneruskan ngopi-ngopi seperti tadi. Sedangkan Devano masih kebingungan disana.


...•••...


Disisi lain, Adrian tengah mengantarkan Nadya pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobilnya. Adrian merasa khawatir dan tidak tega melihat Nadya yang terus saja menangis disana memikirkan Yoga yang hilang, walau sebenarnya Adrian juga tidak senang karena Nadya terus saja membahas Yoga saat sedang bersamanya.


Namun, sebagai seorang lelaki yang jantan Adrian berusaha bersikap tenang dan lebih mementingkan Nadya dibanding perasaannya yang sedang hancur saat ini melihat Nadya menangisi Yoga. Ya Adrian tidak mungkin tega melihat gadis yang dicintainya itu terus-terusan menangis tanpa henti, ia pun berusaha untuk coba menenangkan Nadya disana.


"Nadya, kamu jangan nangis terus dong! Aku yakin kok polisi pasti bisa temuin tubuh Yoga yang hilang, kamu harus sabar dan banyak-banyak berdoa ya buat Yoga!" ucap Adrian.


"Makasih pak! Tapi, aku mana bisa berhenti nangis disaat pacar aku sekarang hilang dan aku juga gak tahu kabarnya gimana?!" ucap Nadya terisak.


"Sabar aja! Polisi pasti bakal kasih kabar nanti ke kita, aku kan tadi udah kasih nomor telpon ku ke mereka dan minta mereka supaya mau berkabar jika terdapat sesuatu mengenai Yoga. Sekarang kamu harus tenang dulu, kita pulang ke rumah kamu ya!" ucap Adrian sembari mengusap puncak kepala Nadya dengan lembut dan tersenyum.


Nadya mengangguk pelan dan kemudian menyeka air matanya sembari menoleh ke arah Adrian.


"Makasih pak! Maafin aku karena aku gak bisa profesional dalam bekerja, aku justru keluar disaat jam kerja seperti ini. Sebaiknya bapak putar balik aja, kita kembali ke kantor! Aku udah gapapa kok, aku lebih baik kerja daripada pulang ke rumah dan nanti ketemu ibu. Karena ibu pasti bakalan khawatir kalau ngeliat aku pulang sambil nangis begini, aku gak mau bikin ibu khawatir atau panik pak!" ucap Nadya.


"Jangan! Kamu mana bisa fokus kerja saat lagi sedih kayak gini? Dan saya juga gak tega nyuruh kamu kerja, lebih baik kamu pulang dan tenangin diri kamu disana! Masalah ibu kamu ya biar nanti saya yang bantu jelaskan sama tante Jenar, kamu pulang aja ya?" ucap Adrian tersenyum.


"Eee baik pak!" ucap Nadya menurut.

__ADS_1


Akhirnya Nadya mau diajak pulang ke rumah oleh Adrian setelah sempat ragu sebelumnya, Nadya kini juga berusaha tenang dan menghapus air matanya menggunakan tisu agar tak dicurigai ibunya. Ya walau Nadya sebenarnya masih tidak enak pada Adrian karena ia pergi diwaktu kerja begini, tapi apa boleh buat toh yang ngajak pulang adalah Adrian alias bosnya sendiri.


Entah mengapa Nadya saat ini merasa lebih nyaman dan tenang saat bersama Adrian, tidak seperti sebelumnya yang mana ia selalu cemas bahkan ketakutan ketika Adrian mendekatinya. Mungkin karena sikap lembut yang ditunjukkan Adrian saat ini padanya, sehingga Nadya mulai terbuai dengan sikap Adrian itu dan melupakan ketakutannya sejenak.


"Sebenarnya kamu emang orang baik, Adrian. Aku tahu itu, hanya saja kehilangan sosok yang kamu cintai merubah kamu menjadi manusia yang serakah dan jahat seperti sekarang." batin Nadya.


❤️


Sesampainya di depan gang rumah Nadya, Adrian langsung menghentikan mobilnya dan memarkir mobilnya itu disana. Ia menatap sejenak ke arah Nadya lalu tersenyum, Adrian mulai menggerakkan tangannya untuk mengusap puncak kepala sampai wajah gadis di sampingnya itu dengan lembut dan kemudian memberi kecupan manis disana.


Nadya membalas senyuman Adrian walau hanya sekilas dan tipis sekali sembari menunduk, entah mengapa Nadya masih agak canggung dan ragu saja jika diperlukan seperti itu oleh Adrian. Terlebih saat ini status Nadya adalah berpacaran dengan Yoga dan ia tidak boleh mengkhianati kekasihnya itu, namun Nadya juga tak mungkin membantah bosnya.


"Kita turun yuk! Aku antar sampai depan rumah, supaya kamu aman!" ucap Adrian.


"Iya pak, makasih!" ucap Nadya pelan.


Setelahnya, Nadya pun turun dari mobil itu bersama dengan Adrian yang juga ikut turun untuk mengantar gadis itu sampai ke depan rumahnya. Adrian tak ingin terjadi sesuatu pada Nadya, terlebih gadis itu memang sedih bersedih saat ini dan bisa saja Nadya tidak fokus saat berjalan ke arah rumahnya, lalu tersandung atau apalah itu sesuai yang dipikirkan oleh Adrian di kepalanya.


"Yuk saya anterin!" ucap Adrian mendekat ke arah Nadya kemudian menggandeng tangan gadis itu.


Nadya hanya mengangguk pelan lalu mengikuti saja langkah kaki Adrian dan mulai bergerak menuju ke arah rumahnya di depan sana, sesekali Nadya juga menoleh menatap wajah Adrian di sampingnya. Lagi-lagi perasaan Nadya saat ini tak karuan, antara canggung juga rasa nyaman semua itu menyatu sehingga Nadya bingung dengan suasana hatinya.


TOK TOK TOK...


Saat sampai di halaman rumah Jenar, Adrian dengan cepat langsung mengetuk pintu walaupun Nadya sudah memintanya untuk segera pulang dari sana dan biarkan Nadya saja yang masuk. Namun, Adrian memang sangat peduli dan perhatian pada gadis itu sehingga tak mau meninggalkan Nadya sendiri bahkan tak melepaskan genggaman tangannya.


"Pak, kenapa bapak gak langsung pulang aja? Aku bisa kok masuk ke dalam sendiri," ucap Nadya.


"Gapapa." ucap Adrian singkat.


Ceklek...


Tak lama kemudian, Jenar keluar membuka pintu dan tampak sangat syok terkejut saat melihat putrinya sudah pulang bersama dengan Adrian yang menggandeng tangan Nadya. Jenar tak mengerti bagaimana bisa Nadya pulang bersama Adrian saat ini bukannya Yoga, ia juga memang belum tahu kalau Adrian sudah dibebaskan dari penjara.


"Loh Sheila, kamu sudah pulang?" tanya Jenar.


"Eee iya Bu, assalamualaikum..." ucap Nadya sembari mencium punggung tangan ibunya.


"Waalaikumsallam," ucap Jenar.


"Tante, apa kabar?" ucap Adrian menyapa Jenar sembari juga mencium tangan Jenar disana.


"Alhamdulillah baik, bagaimana kamu bisa ada disini Adrian? Terus kok kamu bisa sama Sheila, bukannya kamu masih harus jalanin hukuman di dalam penjara?" tanya Jenar terheran-heran.


"Eee iya tante, saya udah bebas." jawab Adrian.


"Kok bisa...??" tanya Jenar masih kebingungan.


"Eee soal itu lebih dibahas nanti aja, tante. Saat ini Sheila butuh istirahat di dalam, dia sedang sedih banget tante." ucap Adrian.


"Hah? Emang kamu kenapa Sheila sayang? Kok kamu bisa sedih kayak gini?" tanya Jenar langsung beralih menatap wajah Nadya kemudian mendekati putrinya itu.


Nadya pun bergerak memeluk sang ibu dan kembali menangis di dalam pelukan ibunya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2