
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 228
...•...
...•...
Lestari keluar dari dalam ruang ICU dalam keadaan menangis dan hampir seluruh wajahnya basah akibat air mata yang terus mengalir deras, matanya juga terlihat sembab dan sepertinya disana masih menyimpan banyak lagi bulir air mata yang akan pecah bila ia masih memikirkan kondisi Nadya putrinya yang hilang ingatan itu.
Melihat Lestari keluar dengan keadaan seperti itu, Shella langsung tergerak hatinya untuk mendekati wanita tersebut karena bagaimanapun juga Lestari sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri oleh Shella. Tentu Shella tak melupakan ibunya, ia baru pergi mendekati Lestari setelah menenangkan Jenar di kursi tunggu itu.
Shella berjalan menghampiri Lestari yang tengah menangis tersedu-sedu sambil bersandar di tembok depan ruang ICU, ia amat sangat terluka melihat kesedihan seorang ibu seperti Lestari. Walau Lestari bukanlah siapa-siapanya dan mereka juga baru kenal beberapa waktu ini, namun bagi Shella melihat seorang ibu menangis adalah hal yang menyakitkan.
"Tante..." ucap Shella pelan menyapa dan mendekati Lestari dari samping, ia menatap nanar wanita itu sembari menaruh tangannya di atas pundak Lestari.
Lestari hanya menoleh tanpa mengatakan apa-apa, kesedihannya membuat ia sulit berkata-kata untuk saat ini karena dipikirannya hanya ada Nadya yang melupakan dirinya. Namun, begitu melihat Shella disana Lestari langsung maju memeluk gadis itu dengan erat dan mengeluarkan semua air mata yang ia simpan sebelumnya di bahu Shella.
Shella pun memakluminya dan membiarkan Lestari menangis di dalam pelukannya, ia bahkan mengelus lembut punggung Lestari sembari mengucapkan kalimat yang ditujukan untuk menenangkan wanita tersebut agar tidak terlalu bersedih.
"Tante, sabar ya! Mungkin ini cobaan selanjutnya yang diberikan Tuhan pada keluarga kita, tapi aku yakin dibalik ini semua pasti ada yang bisa kita petik! Salah satunya bersyukur, bagaimanapun juga Tuhan sudah membantu menyadarkan Nadya dari koma serta memberikan kesempatan dua baginya!" ucap Shella dengan nada lembut.
Devano yang berada tak jauh dari sana ikut terisak melihatnya, ia benar-benar tidak tega ketika harus menyaksikan momen seperti ini secara langsung. Bahkan Devano sampai harus berkali-kali menyeka air matanya karena tidak sanggup menahannya, ia menoleh ke arah Jenar yang sedang duduk bersandar disana dengan tatapan kosong.
Devano pun berinisiatif untuk menghampiri mertuanya dan coba menghiburnya, ia duduk di samping Jenar sembari menatap wanita itu. Ia merasa iba melihat Jenar terus-terusan bersedih karena kondisi buruk yang menimpa Nadya, Devano meletakkan tangannya di pundak Jenar secara perlahan agar tak mengagetkan wanita itu.
"Ibu... jangan sedih terus ya!" ucap Devano.
Jenar reflek menoleh ke arah menantunya itu, ia tersenyum tipis memandangnya lalu mengubah posisi duduknya menjadi agak tegak.
"Makasih, nak Vano!" ucap Jenar.
__ADS_1
"Oh ya, ibu lap air mata ibu pakai ini ya!" ucap Devano memberikan beberapa lembar tisu pada Jenar.
Jenar hanya manggut-manggut menampani tisu pemberian Devano, ia menggunakan tisu itu untuk menyeka air matanya serta mengeluarkan ingus yang mengganggu di hidungnya. Devano tersenyum memandang wajah Jenar, ia merasa lega karena mertuanya bisa sedikit lebih tenang sekarang.
Pandangannya kini kembali tertuju pada sang istri yang masih berpelukan dengan Lestari, ia kagum pada istrinya tersebut karena selalu bisa menenangkan hati orang-orang yang sedang bersedih ataupun tersakiti walau dia tidak mengenal atau belum terlalu akrab dengan orang tersebut.
"Ibu mau kemana?" tanya Devano heran karena Jenar bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
"Ibu harus temui Sheila, ibu butuh melihat wajahnya dari dekat supaya bisa sedikit lebih tenang!" jawab Jenar dengan mata masih sembab.
"Yasudah Bu, kalau memang itu bisa membuat ibu lebih tenang! Tapi, tolong ibu ingat pesan dokter tadi untuk tidak memaksa Sheila mengingat ingatannya yang hilang!" ucap Devano.
"Iya, ibu hanya ingin bicara sama Sheila!" ucap Jenar.
Devano pun mengangguk mengizinkan Jenar masuk ke ruang ICU menemui putrinya, sementara Shella & Lestari kini melepas pelukannya saat melihat Jenar hendak memasuki ruangan tersebut. Lestari menahan lengan Jenar dengan telapak tangannya.
"Kuatkan hati kamu ya, Jenar! Jangan bersedih saat Nadya tidak mengenali kamu nanti!" ucap Lestari.
"Iya, terimakasih!" ucap Jenar.
"Iya, sayang! Ibu masuk dulu ya..." ucap Jenar mengusap kepala Shella.
Jenar pun memasuki ruangan tersebut dengan harapan bisa berbicara dengan putrinya, sementara Shella kembali memeluk Lestari lalu mengajak wanita itu duduk di kursi agar tidak pegal terus berdiri disana. Sedangkan Devano menggeser posisi duduknya memberi ruang bagi Lestari serta istrinya untuk bisa duduk disana juga.
"Yang sabar ya, tante!" ucap Devano memberi semangat pada Lestari.
"Terimakasih, nak!" ucap Lestari pelan.
Tiba-tiba Devano teringat pada sekretarisnya yang ia bawa ke rumah sakit ini, ya ia belum mengecek kondisi Novi lagi karena terlalu fokus pada penangkapan Adrian serta sadarnya Nadya.
Devano pun berbisik di telinga sang istri meminta izin padanya untuk mengecek kondisi Novi di ruangan lain, bagaimanapun juga ia bertanggung jawab akan hal itu karena Novi adalah sekretarisnya.
"Honey, aku permisi sebentar ya! Tadi aku kesini bareng Novi juga, dia lagi dirawat dan aku belum tahu kondisinya lagi! Aku janji cuma sebentar kok, setelah lunasin biayanya aku bakal balik lagi kesini!" bisik Devano di telinga Shella.
"Iya mas, jangan macem-macem loh!" ucap Shella mengingatkan suaminya.
"Tenang aja, honey!" ucap Devano tersenyum, dan cup! Ia mengecup kening sang istri sebelum akhirnya pergi dari sana menuju ruang rawat Novi.
__ADS_1
Setelah suaminya pergi, Shella kembali merangkul Lestari menguatkan wanita itu supaya tidak terus larut dalam kesedihannya. Walau Shella saat ini juga ikut bersedih karena saudaranya tidak biasa mengingat apapun di dunia ini termasuk dirinya.
•
•
Jenar kini sudah berada di dalam ruang ICU bersama Nadya yang masih terbaring disana, syukurlah kali ini gadis itu sudah sadar dari koma dan juga obat bius yang tadi diberikan suster padanya. Jenar pun bisa mengajak bicara Nadya walau masih harus meminta izin pada suster disana, ia tentu tak mau membuat putrinya kembali drop.
"Suster, apa saya boleh bicara dengan putri saya?" ucap Jenar bertanya pada sang suster.
"Iya, silahkan Bu! Tapi, jangan bicara yang berat-berat dulu ya soalnya kondisi pasien belum sepenuhnya stabil!" jawab suster itu ramah.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, Bu!"
Suster itu menjauh dari mereka membiarkan ibu dan anak itu berbicara berdua, Jenar langsung menghampiri Nadya dan berhenti tepat di sampingnya. Sementara Nadya sendiri menatap heran ke wajah Jenar, bola matanya bergerak memperhatikan tiap inci tubuh Jenar dari bawah sampai atas tanpa ada yang terlewat.
"Ibu ini siapa lagi?" tanya Nadya.
Jenar langsung tersentak mendengarnya, sungguh sakit rasanya tidak dikenali oleh putri kandungnya sendiri yang sudah ia lahirkan. Namun, ia mengingat pesan Lestari tadi untuk menguatkan hatinya karena Nadya begini akibat hilang ingatan bukan sengaja melupakan dirinya.
"Umm, ibu ini ibu Jenar alias ibu kandung kamu! Ibu tahu kamu pasti gak ingat kan? Gapapa kok, kan sekarang kamu lagi sakit!" ucap Jenar tersenyum mengusap lembut wajah gadis itu.
"Jadi ibu ini tuh ibu kandung aku? Tapi kok tadi ada ibu-ibu juga sih yang masuk sini terus bilang kalau dia mama aku, ih aku jadi bingung deh!" ujar Nadya kebingungan sembari menyipitkan matanya.
"Sudah tidak perlu terlalu dipikirkan! Anggap saja kamu mempunyai dua ibu sekaligus, bukannya itu bagus kan?" ucap Jenar.
"Ahaha, ibu lucu deh! Mana ada orang yang punya dua ibu sekaligus??" ujar Nadya tertawa.
Entah mengapa melihat putrinya tertawa saja sudah membuat Jenar sangat senang, ia sangat bersyukur pada Tuhan yang maha kuasa karena masih diberi kesempatan untuk melihat dan mendengar suara tawa putrinya itu.
"Sheila, ibu senang sekali bisa melihat tawa di wajah kamu itu lagi! Walau ibu harus menerima kenyataan kalau kamu mengalami hilang ingatan..." batin Jenar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1