
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 245
...•...
...•...
"Setelah mendengar kesaksian dari para saksi yang hadir dalam sidang kali ini, maka saya memutuskan kalau terdakwa yakni saudara Tama dan saudari Silvi tidak bersalah dan terbebas dari tuduhan ini! Sidang kami tutup, silahkan bagi yang ingin meninggalkan ruang sidang ini!"
TOK TOK TOK...
Palu diketuk tiga kali oleh hakim agung menandakan kalau keputusannya sudah bulat dan kedua orang tua Devano resmi dinyatakan tak bersalah atas tuduhan yang dilayangkan Adrian.
Sontak Devano, Shella & Laila serta orang tua mereka mengucap syukur sembari bersujud di lantai berterima kasih pada sang pencipta karena telah membebaskan dua orang itu dari tuduhan tak berdasar yang dilayangkan Adrian.
Bahkan Laila sampai menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Shella, ia sangat senang sekali melihat mama papanya bisa bebas dan tidak harus mendekam di penjara. Sedangkan Devano menghampiri dua saksi serta pengacaranya untuk mengucapkan terima kasih pada mereka, Devano terlihat bahagia dan sangat bersyukur karena mama papanya bisa bebas.
Devano pun kini mendekati mama papanya yang tengah berpelukan di depan, ia terisak karena merasa terharu melihat kedua orang tuanya tampak amat sangat gembira dengan keputusan dari pengadilan hari ini.
"Mah, pah!" sapa Devano berdiri di depan Silvi & Tama lalu bersimpuh sembari mendongak ke arah wajah kedua orangtuanya.
"Vano?" ucap Silvi menghapus air matanya. "Sini sayang, mama mau peluk kamu!" sambung wanita itu sembari merentangkan tangannya.
Devano pun maju dan sedikit berjinjit lalu memeluk erat tubuh mamanya, ia menangis bahagia di bahu sang mama karena tak menyangka usahanya akan berhasil dan bisa membebaskan mama papanya.
"Terimakasih sayang, mama gak tau lagi harus lakuin apa untuk membalas semua kebaikan kamu!" ucap Silvi sembari terisak.
__ADS_1
"Gak perlu begitu, mah! Aku ini ikhlas bantu mama sama papa untuk keluar dari sini, karena aku juga yakin kalau mama sama papa itu gak salah!" ucap Devano melepas pelukannya kemudian memegang dua pundak mamanya dan menghapus air mata di wajah Silvi dengan tangannya.
Tama yang berada di samping mereka juga ikut menangis, ia masih tak percaya putranya benar-benar berusaha keras mencari saksi untuk bisa membebaskan mereka dari tuduhan ini.
"Vano, terimakasih ya! Papa berhutang budi sama kamu, papa janji apapun yang kamu mau pasti akan papa turuti!" ucap Tama menepuk pundak Devano.
"Gak perlu pah, aku gak butuh apa-apa kok! Yang aku mau cuma papa sama mama selalu ada disisi aku, itu aja kok!" ucap Devano tersenyum.
Akhirnya Tama memeluk tubuh putranya erat sembari meneteskan air mata, ia menyesal karena selama ini jarang memberi perhatian pada Devano.
Sementara Silvi menoleh ke belakang mencari-cari putrinya, ia pun berhasil menemukan Laila yang tengah berpelukan dengan Shella. Silvi pun bangkit dari duduknya lalu hendak berjalan ke arah mereka, namun tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing sehingga ia sangat berat untuk melangkahkan kakinya ke depan.
Bruuukkk....
Tubuh Silvi ambruk karena ia tak kuat lagi menahan pusing pada kepalanya, seisi ruangan pun panik melihat ke arah Silvi yang sudah tergeletak pingsan di atas lantai termasuk juga Laila & Shella.
"Sel, itu mama pingsan!" ujar Laila menunjuk ke arah mamanya.
Devano & Tama yang tengah berpelukan juga kaget karena mendengar suara riuh orang-orang, mereka bertambah terkejut ketika mengetahui Silvi sudah tergeletak di atas lantai.
...•••...
Disisi lain, Nadya sedang disuapi makan pagi oleh ibunya yakni Jenar. Mereka hanya berdua saat ini karena Devano & Shella sibuk mengurus persidangan mama papanya, Nadya pun tampak kebingungan dan seperti mencari seseorang yang biasa ia temui disini.
"Kamu cari apa sih, Sheila? Daritadi kok celingak-celinguk terus kayak orang linglung?" tanya Jenar sembari menyendokkan bubur merah di mangkuk lalu menatap wajah putrinya.
Nadya pun terkejut karena ibunya tiba-tiba bertanya seperti itu, apalagi pikirannya juga sedang kosong tadi karena melamun mencari-cari kehadiran seseorang yang ia nantikan.
"Eh enggak kok bu, aku gak cari siapa-siapa! Aku cuma penasaran mbak Shella dimana, kenapa dia gak dateng kesini sama ibu sekarang?" ucap Nadya menatap wajah ibunya.
Jenar tersenyum kemudian mengarahkan sesendok bubur ke mulut putrinya, Nadya membuka mulutnya lebar agar sendok itu bisa muat masuk ke dalam.
"Ohh jadi kamu nyariin Shella, tenang aja nanti juga dia pasti kesini kok! Cuma sekarang Shella lagi ada urusan sebentar sama suaminya, udah gausah sedih ya kan ada ibu disini buat kamu!" ucap Jenar sembari membersihkan bekas bubur yang menempel di bibir bawah putrinya dengan jari tengah.
__ADS_1
Nadya pun terdiam saat tangan ibunya menyentuh bibirnya, entah mengapa ia seperti merasa sangat nyaman dan semakin yakin kalau Jenar adalah benar ibu kandungnya.
Jenar kembali tersenyum melihat putrinya terdiam memandangi wajahnya, ia merasa senang sekali karena bisa sedekat ini dengan putrinya yang telah ia telantarkan dahulu.
"Jujur ibu lebih suka ingatan kamu hilang seperti ini sayang, walau menyakitkan karena kamu tidak mengenal ibu tapi ibu bahagia bisa lebih dekat dengan kamu dibanding sebelumnya!" batin Jenar.
Suasana di ruang itu sempat hening karena keduanya saling diam dan bertatapan sembari melempar senyum, sampai akhirnya kedatangan seorang dokter mengejutkan mereka.
"Permisi bu, saya mau cek kondisi mbak Nadya dulu ya!" ucap dokter itu tampak ramah dan sopan.
"Eh iya dok, kebetulan sarapannya juga udah habis kok!" ucap Jenar berdiri lalu menyingkir untuk memberi ruang bagi sang dokter.
"Wah bagus dong, semoga kamu cepat sehat ya Nadya!" ucap dokter itu kemudian diangguki oleh Nadya sembari tersenyum kebingungan.
Jenar memberikan mangkuk bubur yang sudah kosong itu kepada suster disana, ia tetap berada di dekat putrinya karena ingin tahu bagaimana kondisi Nadya saat ini setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit sejak ia sadar dari koma.
Setelah selesai mengecek kondisi Nadya, dokter itu tersenyum sembari menoleh ke arah Jenar.
"Bagaimana, dok?" tanya Jenar penasaran.
"Ya Alhamdulillah, kondisi mbak Nadya sekarang sudah berangsur membaik dan kemungkinan secepatnya akan bisa keluar dari rumah sakit dan bisa dibawa pulang! Tapi ingat, mbak Nadya harus terus perhatikan kondisi jangan sampai banyak beraktivitas dulu apalagi telat makan!" jelas dokter itu.
"Alhamdulillah, sayang bentar lagi kamu bisa ikut ibu pulang ke rumah!" ucap Jenar tersenyum bahagia.
"Iya bu, aku gak sabar buat itu!" ucap Nadya.
Dibalik kebahagiaan mereka, ada hati yang sedang terluka dan menangis ketika menatap kemesraan Jenar & Nadya dari balik kaca.
"Sepertinya kamu telah menemukan kebahagiaan mu, Nadya! Mama turut bahagia melihatnya, semoga kamu bisa bahagia selamanya bersama keluarga kandung kamu! Terimakasih karena telah hadir dalam kehidupan mama dan mengobati rasa sakit di hati mama kala itu..."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1