
Hari ini adalah hari pertama Shella bekerja.. Ia pun antusias menyambut nya, karena tentunya momen ini adalah momen yang diinginkan olehnya.
Jenar pun juga bahagia melihat Shella akan pergi bekerja, ia bahkan menyiapkan sarapan serta bekal untuk Shella di kantor nanti.
"Nah Shella, ini bekal buat kamu.. Ibu sendiri loh yang siapin," ucap Jenar.
"Iya non, Bu Jenar tadi bangun jam 4 subuh cuma buat masakin itu loh.." ujar Yani.
"Ih ya ampun ibu, kenapa sih gak bangunin aku? Kan kasian ibu masak sendiri pagi-pagi begitu," ucap Shella.
"Gapapa Shella, anggap aja ini bentuk permintaan maaf ibu ke kamu.. Selama ini kan ibu gak pernah kasih perhatian buat kamu," ucap Jenar.
Shella menghampiri ibunya dan memeluknya dengan erat.
"Maafin ibu kalo dulu ibu selalu kasar sama kamu, ibu enak-enakan foya-foya sementara kamu harus banting tulang buat kehidupan kita.. Ibu bener-bener nyesel sayang!" ujar Jenar sambil menangis.
"Gapapa Bu, Shella udah maafin ibu kok.. Shella sayang sama ibu mau gimanapun sikap ibu ke aku," ucap Shella.
Yani terharu melihat Jenar & Shella menangis sambil berpelukan.. Ia teringat pada anaknya yang sudah meninggal.
Melihat Yani meneteskan air mata, Shella pun menyudahi pelukannya dengan Jenar dan bertanya pada Yani.
"Loh, bibi kenapa? Kok ikutan nangis?" tanya Shella.
"Ini non, bibi jadi keinget sama almarhum anak bibi.." jawab Yani.
"Ohh jadi bibi udah punya anak? Emang bibi udah nikah ya? Aku kira bibi masih single," ujar Shella.
"Iya non bibi udah nikah dan punya anak, tapi anak bibi harus meninggal di usianya yang masih belia.." ucap Yani.
"Emang anak bibi meninggal kenapa?" tanya Shella.
"Dia kena penyakit leukimia," jawab Yani.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un, bibi yang sabar ya! Aku tau pasti bibi sayang banget sama anak bibi itu, tapi insyaallah sekarang dia udah bahagia di surga!" ujar Shella.
"Iya non makasih," ucap Yani.
"Terus suami kamu kemana toh?" tanya Jenar.
"Suami saya ninggalin saya dari saya masih hamil 4 bulan," jawab Yani.
"Ya ampun tega banget sih, semoga suami kamu dapet hidayah ya dari Allah!" ucap Jenar.
"Iya Bu aamiin," ucap Yani.
"Eh yaudah bibi jangan sedih lagi, kalau bibi mau bibi bisa anggap aku sebagai anak bibi kok.." ujar Shella.
"Yang bener non? Jujur, sejak pertama kali lihat wajah non hati saya langsung tenang.. Mungkin, kalau anak saya masih hidup dia juga seumuran sama non Shella!" ucap Yani.
"Iya Bi aku juga seneng kok kalo punya 2 ibu, jadi aku bisa dapet kasih sayang dari 2 ibu sekaligus.." ujar Shella.
"Makasih non, non Shella itu emang anak yang baik!" ujar Yani.
"Ya pasti dong sama kayak ibunya," ucap Jenar.
"Eh udah mau jam 6, aku harus berangkat sekarang Bu.. Takut kena macet soalnya kantornya lumayan jauh dari sini," ujar Shella.
"Oh gitu yaudah kamu berangkat sana, eh gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Jenar.
"Gak ada kok Bu, yaudah aku pamit ya assalamualaikum.." ucap Shella.
"Waalaikumsallam," ucap Jenar.
__ADS_1
Shella mencium tangan Jenar dan juga Yani, itu membuat Yani sangat tersentuh.
...•••...
Laila terlihat sedang kebingungan di ruang tamu, dia seperti mencari sesuatu.
Lalu, seorang laki-laki menghampiri nya..
"Heh!" ujarnya.
Laila pun menoleh ke pria tersebut,
"Eh kak Rafi, kenapa?" tanya Laila.
Ternyata laki-laki itu adalah Rafi, dia merupakan sepupu dari Devano & Laila.. Selain itu, dia juga HRD di perusahaan Devano.
"Harusnya gua yang tanya, lu kenapa? Kok kayak kebingungan gitu?" ujar Rafi.
"Ini loh gue lagi cari flashdisk gue yang ilang.." jawab Laila.
"Emang terakhir lu simpen dimana tuh flashdisk?" tanya Rafi.
"Seinget gue sih di meja kamar gue, tapi tadi pas gue cek gak ada kak.. Duh mana itu flashdisk penting banget lagi, di dalamnya ada tugas kuliah gue!" jawab Laila.
"Ya kalo gitu lu cari aja di kamar lu dong, ngapa nyarinya sampe kesini-sini? Yakali tu flashdisk bisa jalan sendiri kesini," ujar Rafi.
"Ih udah kak, tapi gak ada di kamar gue.. Siapa tau aja kan flashdisk nya jatuh disini," ucap Laila.
"Emang flashdisk nya warna apa?" tanya Rafi.
"Item," jawab Laila.
"Heh itemnya biasa aja dong gausah sambil nunjuk ke gua juga!" ujar Rafi.
"Dih kan lu yang nanya kak, masa iya gue jawab sambil nunjuk ke meja.." ucap Laila.
"Dih dih gak mau, mending gue cari sendiri!" ucap Laila.
"Yaudah kalo gak mau dibantu, gue pergi dulu ya!" ujar Rafi.
"Eh eh, bang Vano mana kak?" tanya Laila.
"Kagak tau, lu samperin aja sana ke kamarnya!" jawab Rafi.
Lalu, Rafi pergi meninggalkan Laila..
Sementara Laila melanjutkan mencari flashdisk nya.
"Duh dimana ya flashdisk nya??" ujar Laila.
Tiba-tiba saja Devano ada disampingnya.
"Ngapain lu?"
Laila pun terkejut dan memukuli Devano..
"IHH NGAGETIN AJA SIH!" ujar Laila.
"Aduh aduh sakit tau! Kok lu mukulin gue sih?" ujar Devano.
"Ya lagian lu ngagetin gue!" ucap Laila.
"Lah siapa yang ngagetin? Gue kan cuma nanya," ucap Devano.
__ADS_1
"Ya tapi- ah udah lah!" ujar Laila.
"Emang lu nyari apaan sih?" tanya Devano.
"Flashdisk gue bang," jawab Laila.
"Ohh yang warna item bukan?" tanya Devano.
"Nah iya kok lu tau?" ucap Laila.
"Ini flashdisk lu sama gue, kemarin gue pinjem.." ujar Devano.
"Ish pinjem kenapa gak bilang-bilang sih??!!" ujar Laila.
"Ya lu nya kan lagi di rumah Yasmin gimana gua mau bilang," ucap Devano.
"Yaudah sini gue mau bawa flashdisk nya ke kampus!" ujar Laila.
Laila mengambil flashdisk nya dan kembali ke kamarnya.
...•••...
Frederick ikut bersama Adrian ke kantor, ia ingin melihat kondisi perusahaan itu sekarang.
"Eee kakek mau ikut ke ruangan saya? Atau mau keliling-keliling dulu?" tanya Adrian.
"Saya mau lihat kerja dari karyawan-karyawan disini, kalau ada yang tidak benar dia harus segera dipecat!" ucap Frederick.
"Kakek tenang, semua karyawan disini itu disiplin, pekerja keras dan kerjanya juga bagus-bagus.." ujar Adrian.
"Itu kan menurut kamu, siapa tau ada yang gak bener kan.." ucap Frederick.
Lalu, Marissa yang baru datang langsung panik ketika melihat Adrian sudah ada disana.
"Pagi pak!" ucap Marissa.
"Nah ini nih buktinya, masih ada aja yang datangnya terlambat kan.. Kamu bilang kok semua karyawan disini disiplin," ujar Frederick.
"Eee iya maaf pak, tadi saya harus siapin sarapan buat ibu saya dulu pak.." ucap Marissa.
"Iya gapapa Risa, kamu boleh pergi sekarang!" ujar Adrian.
"Baik pak,"
Marissa melangkah pergi..
"Ini nih yang bikin perusahaan ini sulit berkembang, sikap kamu ke karyawan kamu aja lembek begitu!" ujar Frederick.
"Terus saya harus gimana kek?" tanya Adrian.
"Lebih keras lagi! Jangan lembek! Tanamkan sikap disiplin dan bertanggung jawab pada seluruh karyawan kamu disini..!!" jawab Frederick.
"Baik kek, saya akan lakukan itu.." ucap Adrian.
"Yasudah!"
"Eee kakek mau kemana?" tanya Adrian.
"Ngopi,"
Frederick berjalan pergi meninggalkan Adrian..
"Ribet amat sih kakek! Kapan sih dia balik ke Austria?" batin Adrian.
__ADS_1
Adrian pun juga pergi ke ruangannya.
...~Bersambung~...