Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Perdebatan Devano & Adrian


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 136


...•...


...•...


Akhirnya Tama & Silvi keluar gerbang menemui para polisi yang sudah bertumpuk disana, dengan penuh keikhlasan mereka menyerahkan dirinya pada polisi.


"Saya siap bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah saya perbuat pak, silahkan tangkap saya! Tapi saya mohon pak, jangan bawa istri saya! Karena dia sama sekali tidak terlibat dalam kecelakaan ini, saya lah yang mengemudikan mobil itu pak..!!" ucap Tama menyerahkan diri pada polisi.


"Baik pak, terimakasih sudah mau menyerahkan diri! Ayo borgol dia dan bawa ke dalam mobil! Maaf sebelumnya pak, kami harus membawa Bu Silvi juga ke kantor polisi sebagai saksi!" ucap salah seorang polisi memerintahkan bawahannya untuk memborgol tangan Tama.


"Saya bersedia menjadi saksi pak," ucap Silvi sambil menatap wajah suaminya yang saat ini sedang diborgol.


"Baiklah, mari kita pergi sekarang..!!" ucap polisi itu kemudian menuntun Silvi & Tama masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke kantor polisi.


Tama sempat melirik ke belakang, terlihat Devano berdiri saja di depan pintu tanpa menghampirinya.


"Maafkan papah Vano, kali ini papah tidak bisa lagi membantu kamu dan juga melindungi kamu..." gumam Tama sambil menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil polisi itu.


Setelah semuanya masuk, tentu saja polisi-polisi tersebut langsung menjalankan mobilnya menuju kantor untuk membawa kedua orang tua Devano itu.


Devano pun berjalan menuju gerbang untuk menutup kembali pintu pagar yang masih terbuka, ia masih merasa syok karena kedua orangtuanya ditangkap polisi dan kini tinggallah ia sendirian disana.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berhenti di depan pagar rumahnya... seorang pria berpakaian serba hitam turun dari mobil itu menghampirinya.


"Mau apa anda kesini?" tanya Devano sinis pada pria tersebut yang kini berhadap-hadapan dengannya.


"Heh anak pembunuh, gimana perasaan lu setelah tau kalau kedua orang tua lu itu pembunuh? Pasti sakit kan? Makanya kasih tau mereka kalau membunuh itu perbuatan jahat..!!" ucapnya sambil membuka kacamata hitam yang ia kenakan dan kini wajahnya resmi terlihat.


Ya pria itu ialah Adrian Bagaskara yang baru saja selesai mengantarkan papahnya menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


"Maksud anda apa? Bukan papah atau mamah saya yang sudah menyebabkan ayah anda meninggal, justru mobil ayah anda lah yang hampir ingin menabrak mobil papah saya! Sebaiknya anda cari tau dulu kebenarannya sebelum berbicara yang tidak-tidak!" ucap Devano dengan santai.


"Hahaha, seharusnya lu yang kroscek kebenarannya terlebih dulu sebelum lu berbicara seperti itu! Bagaimana bisa lu memutarbalikkan fakta yang ada? Jelas-jelas mobil orang tua lu yang udah bikin mobil papah gue jadi oleng dan menabrak tiang pembatas jalan! Lu terima aja kalau kedua orang tua lu itu adalah pembunuh...!!!" ujar Adrian.


Devano terlihat sangat emosi saat itu, rasanya ia ingin langsung memukul wajah Adrian yang menyebalkan itu.


Namun, ia terus menahan dirinya untuk tidak melakukan itu karena bagaimanapun juga ia masih menghargai Adrian yang sedang berduka.


"Terserah apa kata anda, saya lagi malas berdebat dengan manusia yang berpikiran rendah seperti anda! Sebaiknya sekarang anda pergi dari sini, karena saya tidak mau melihat anda berlama-lama ada disini..!!" ucap Devano mengusir Adrian.


"Gue juga gak pengen berlama-lama di tempat pembunuh, oh ya dengar Devano gue pastikan lu bakal kehilangan satu persatu orang yang lu sayangin! Biar lu bisa merasakan apa yang gue rasakan setelah kehilangan kekasih, saudara dan sekarang bokap gue juga pergi meninggalkan gue!" ucap Adrian mengancam Devano.


"Anda tidak usah merasa paling tersakiti disini, anda kehilangan semua orang yang anda sayangi itu juga karena kelakuan anda sendiri! Jadi lebih baik anda berkaca lebih dulu pada diri anda sendiri..!!" ucap Devano tersenyum.


"Emang dasar ya, anak pembunuh seperti lu ini selalu gak tau diri dan gak sadar diri... jelas-jelas semua yang gue alami saat ini itu karena lu! Gue pastikan kehidupan setelah ini bakal hancur sehancur-hancurnya! Dan lu bakal ngerasain lebih buruk dari apa yang gua rasain sekarang..!!!" ujar Adrian meninggikan suaranya.


"Dan anda juga harus tau Adrian, kalau tidak semudah itu untuk bisa menghancurkan hidup saya! Apalagi kalau anda berniat memisahkan saya dari Shella istri saya, itu semua gak akan pernah bisa anda lakukan! Justru sebaliknya anda harus berhati-hati karena mungkin setelah papah anda, giliran anda lah yang menyusulnya..." ucap Devano.


Sontak Adrian langsung menatap Devano penuh emosi, ia mengepalkan tangannya dan wajahnya terlihat bergetar seperti langsung ingin menghajar pria di hadapannya saat itu juga.


"Gak, pasti gue bakal kalah kalo ajak Devano buat duel 1 lawan 1 sama gue... sebaiknya gue harus tahan emosi dan coba bermain pintar menggunakan otak, awas lu Vano!" gumam Adrian.


"Hahaha... ancaman lu itu hanya seperti angin yang berhembus aja bagi gue, karena gue sama sekali gak takut sama ancaman lu yang kuno itu!" ujar Adrian.


"Oh ya? Kalau begitu saya juga tidak takut pada ancaman anda yang katanya ingin menghancurkan hidup saya! Justru saya menanti rencana-rencana yang akan anda lakukan untuk itu, yasudah ya saya permisi masuk dulu...." ucap Devano kemudian masuk lalu menutup pintu gerbangnya, ia juga tersenyum barulah berjalan menuju rumahnya.


Adrian masih terdiam disana menatap geram ke arah Devano yang sedang berjalan membelakanginya.


"Lu lihat aja Devano, siapa yang akan menghancurkan siapa nantinya...!!!" gumam Adrian kemudian bergerak menuju mobilnya.


Saat baru masuk ke mobil, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ada telpon masuk dari Nadya, tentu saja Adrian langsung tersenyum karena ditelpon oleh asisten cantiknya itu.


📞"Halo sayang, ada apa kamu telfon aku?" tanya Adrian sambil tersenyum senang.


📞"Begini pak, saya mau mengucapkan belasungkawa atas kepergian pak Satria! Maaf ya pak karena saya gak bisa ikut ke pemakaman tadi, saya juga baru tau tentang ini dari tv..." ucap Nadya.


📞"Iya tidak apa-apa sayang, terimakasih ya atas ucapannya..." ucap Adrian.


📞"Eee pak, tadi saya juga dapat kabar dari Syifa.. katanya karyawan-karyawan di kantor bapak mau ikut datang ke rumah bapak buat pengajian, apa boleh pak?" tanya Nadya.

__ADS_1


📞"Oh ya boleh kok cantik, kamu kabari aja ke mereka kalau saya akan mengadakan pengajian nanti malam jam setengah 8 ya setelah isya lah! Oh ya kalau kamu mau kesini sekarang saya juga gak masalah loh, soalnya saya lagi butuh sandaran..." ucap Adrian.


📞"Oh yaudah saya ke rumah bapak sekarang ya kalo gitu, tapi saya kan belum tau dimana rumah bapak!" ucap Nadya.


"Yesss..." ucap Adrian.


Adrian langsung senang mendengar perkataan dari Nadya, bahkan ia sampai mengepalkan tangannya sangking senangnya.


📞"Gampang sayang nanti kan bisa saya shareloc ke kamu, kalau mau juga saya bisa kok jemput kamu sekarang!" ucap Adrian.


📞"Eh jangan pak jangan! Biar saya aja yang datang ke rumah bapak ya, soalnya kan bapak pasti lagi berduka takutnya nanti bapak gak fokus bawa mobilnya..." ucap Nadya.


📞"Oh gitu, iya deh nanti saya shareloc ya ke WhatsApp kamu! Makasih cantik udah mau datang kesini..!!" ucap Adrian.


📞"Iya sama-sama pak..." ucap Nadya.


Setelah telpon terputus, Adrian pun tersenyum-senyum sendiri lalu segera mengirim lokasi rumahnya pada Nadya.




Disisi lain, Nadya merasa heran pada dirinya sendiri mengapa ia begitu peduli sekali dengan Adrian sampai mau datang ke rumahnya untuk menjadi sandaran laki-laki itu.


"Ish aku ini kenapa ya? Kok jadi begini sih sampe iyain perkataan pak Adrian buat datang kesana?? Tapi gapapa deh kasian juga pak Adrian, pasti sekarang dia lagi sedih banget karena ditinggal papahnya kayak waktu dulu aku pas ditinggal sendirian di panti asuhan..." ucap Nadya.


Drrttt... Drrttt...


Tak lama kemudian, handphone bergetar ada pesan masuk dari Adrian yang mengirimkan lokasi rumahnya.


"Ini pak Adrian udah kirim lokasinya, yaudah deh aku langsung siap-siap aja terus langsung kesana pake taksi online!" ucap Nadya kemudian beranjak dari duduknya untuk mengganti pakaian.


Nadya tampak kebingungan memilih pakaian yang ingin ia kenakan saat itu, entah kenapa ia seperti tak mau tampil mengecewakan di hadapan Adrian nanti.


"Duh perasaan pakaian aku begini semua deh gak ada yang bagus, kira-kira aku pake apa ya biar gak malu-maluin pas disana nanti??" ujar Nadya sambil terus mengambil pakaiannya dari lemari.


"Hadeh ngapain sih aku pake bingung segala mau pake apa?? Ayolah Nadya jangan kayak gini dong!" ujar Nadya mengacak-acak rambutnya sendiri.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2