Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Pelanin mas!


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


...β›”WARNING!!!β›”...


...TERDAPAT ADEGAN 18+ DALAM BAB INI, BAGI YANG BELUM CUKUP UMUR ATAU TIDAK MAU MEMBACANYA, YAUDAH CUKUP LIKE SAJA DAN JANGAN MEMAKSAKAN DIRI...


...πŸ”žπŸ”žπŸ”ž...


#CSMC EPISODE 296


...β€’...


...β€’...


Devano kini baru usai menuntaskan mandinya bersama sang istri yang terbilang lama karena mereka melakukan ritual terlebih dulu di dalam kamar mandi, ya memang Devano masih terus saja menggenjot istrinya walau sudah berkali-kali ia melakukan itu pada Shella.


Mereka keluar dari dalam toilet dan kini kembali ke kamar, Devano pun menggendong tubuh Shella yang telanjang bulat ala bridal style lalu meletakkan istrinya itu di atas ranjang dan tentu saja Devano kembali menindihnya sembari mengusap wajah serta rambut sang istri.


"Mas, kamu masih mau?" tanya Shella yang nampaknya kelelahan melayani suaminya.


Devano mengangguk sambil mengukir senyum di wajahnya lalu bergerak mencumbu ceruk leher istrinya membuat Shella terpejam karena merasakan nikmat dan gairah yang kembali mencuat, ia memang tak bisa menyangkal kalau dirinya benar-benar menikmati permainan Devano.


"Mas, kayaknya udah dulu deh! Aku gak mau kamu terus begini, kan kamu juga harus ke kantor mas!" ucap Shella menghentikan tindakan suaminya.


Wajah Devano pun berubah kecewa karena ia masih ingin memuaskan juniornya di bawah sana, akhirnya ia menatap mata sang istri sembari membelai rambutnya dan kedua tangannya fokus bermain pada titik yang ada pada dua gumpalan Shella membuat istrinya itu mendesahh pelan.


"Kamu kenapa bilang gitu sih? Tuh lihat tubuh kamu aja masih bilang kalo kamu mau lagi, gausah pikirin soal kantor udah tenang aja!" ucap Devano.


"Tapi mas, kita kan udah dua kali main! Masa kamu belum ngerasa puas juga sih?" ucap Shella.


"Masih kurang, honey! Sekali lagi baru deh aku puas, boleh kan?" ucap Devano.

__ADS_1


Akhirnya Shella terpaksa menyingkirkan tangan suaminya dari gundukan miliknya, ia menatap wajah Devano dengan tatapan tak senang dan seakan meminta pada Devano untuk berhenti melakukan itu padanya. Namun, hal itu tak membuat Devano sadar dan masih saja ingin meminta jatah kembali dari istrinya yang sudah berkeringat itu.


Memang melihat ekspresi wajah dari sang istri, membuat Devano merasa kasihan dan terbesit sedikit pikiran untuk tidak kembali meminta Shella melayaninya. Ya memang Devano terkadang memiliki perasaan kasihan itu kepada istrinya, namun rasa gairah di dalam tubuhnya semakin menggelora membuatnya tetap kekeuh meminta Shella melayaninya lagi.


"Kamu masih bisa kan, puasin aku lagi?" tanya Devano penuh harap. Ia menatap Shella dengan tatapan yang mengatakan kalau ia ingin lagi.


"Mas, aku pengen istirahat!" ucap Shella.


"Ayolah, honey! Sekali ini aja deh, abis itu aku bakal biarin kamu istirahat sesuka hati kamu! Ya mau ya?" ucap Devano memohon pada istrinya.


"Masss..." Shella merengek.


Namun, Devano tak memperdulikan itu. Ia langsung saja mengangkat tubuh Shella dan membawanya ke atas ranjang lalu menindihnya, ia tersenyum sekilas menatap wajah sang istri yang berada sangat dekat dengannya. Satu tangannya ia gunakan untuk membelai rambut Shella dengan lembut.


"Sekali lagi, ya!" paksa Devano.


Shella hanya terdiam dengan nafas yang sudah tak karuan karena tindakan suaminya itu.


Devano melepas handuk yang ia kenakan dan kini ia pun telah telanjang sempurna, miliknya terlihat jelas apalagi Devano sengaja menunjukkan itu pada istrinya walau Shella berupaya menghindar.


Dengan satu hentakan Devano berhasil masuk dan kini mereka telah menyatu sempurna, Shella kembali bersuara panjang dan tubuhnya terangkat sedikit merasakan kepuasan saat miliknya diterobos oleh milik suaminya.


Devano mempercepat gerakan pinggulnya berniat segera menuntaskan permainannya, Shella berusaha memberitahu suaminya untuk melambatkan sedikit permainannya dengan cara menepuk-nepuk punggung Devano tapi tidak digubris. Shella sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada kandungan di dalam perutnya itu.


"Mas, mas! Pelan-pelan, mas!" ucap Shella begitu bibirnya dilepas oleh Devano.


"Kenapa, honey? Minta lebih cepet?" ujar Devano.


Shella menggeleng, namun Devano malah mempercepat gerakannya membuat Shella mencengkeram lengan suaminya.


"Mas, tolong pelanin! Aku lagi hamil..."


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Nadya masih berbicara bersama Yoga di taman dan gadis itu menantikan jawaban dari pria di sampingnya dengan terus memandangi wajah Yoga sambil tersenyum manis serta menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Sheila, please jangan tatap aku begitu!" ucap Yoga.

__ADS_1


"Abisnya kamu gak jawab jawab pertanyaan aku, jadi gimana nih kamu bisa bantu aku gak?" ucap Nadya.


"Umm... bisa kok Sheila, apa sih yang aku gak bisa lakuin untuk kamu? Tapi, emangnya kamu mau apa sih ketemu sama Adrian? Kamu tau emang Adrian itu siapa?" tanya Yoga penasaran.


"Udah deh gausah banyak tanya, kalo kamu emang bisa bantu aku yaudah sekarang kasih tau aku dimana Adrian!" bentak Nadya.


Yoga tersenyum kemudian menggenggam dua telapak tangan gadis di sampingnya, lalu menatap mata Nadya dengan tatapan serius.


"Sheila, asal kamu tau aja ya Adrian itu..."


"Tunggu!"


Tiba-tiba ada seorang wanita memotong ucapan Yoga sehingga pria itu tak bisa melanjutkan ucapannya pada Nadya, mereka berdua reflek menoleh ke asal suara dan syok karena melihat sosok Jenar berdiri di dekat mereka.


"Ibu? Kenapa ibu kesini?" ujar Nadya terkejut dan spontan melepas tangannya dari genggaman Yoga.


Jenar tersenyum menatap wajah putrinya serta Yoga secara bergantian disana, ia tidak mau kalau Yoga meneruskan ucapannya dan mengatakan yang sebenarnya mengenai Adrian kepada putrinya itu.


"Gapapa sayang, ibu cuma khawatir aja sama kamu! Ini udah mau tengah hari loh, panas tuh!" ucap Jenar.


Nadya pun menatap langit dan matahari memang sudah hampir berada di puncak kepalanya, sedangkan Jenar langsung memegang pundak putrinya sambil mengusap lembut rambut Nadya.


"Kita pulang ya, sayang? Ibu gak mau kamu sakit karena kepanasan!" ucap Jenar.


"Umm... tapi aku masih mau ngobrol sama Yoga, bu! Sebentar aja ya, boleh kan?" ucap Nadya memohon.


"Yaudah, kalo gitu ajak aja nak Yoga ke rumah sekalian! Nanti kalian kan bisa lanjut ngobrol disana, gimana sayang?" ucap Jenar memberi usul.


"Duh, gimana ya? Kalo ngobrol di rumah pasti ibu bakal denger, ah gagal lagi deh!" batin Nadya.


Jenar terus mengusap rambut putrinya sambil tersenyum dan sesekali memandang Yoga yang masih terduduk disana, matanya mengisyaratkan pada Yoga untuk tidak mengatakan pada Nadya mengenai sosok Adrian.


"Maaf ya sayang, ibu terpaksa ngikutin kamu tadi! Karena dari awal ibu udah curiga sama tingkah kamu, ternyata benar kamu temuin Yoga untuk tanya tentang Adrian...." batin Jenar.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2