
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 297
...•...
...•...
Akhirnya Jenar membawa Nadya pulang tanpa Yoga karena gadis itu tak mau melanjutkan perbincangan dengan pria tersebut, tentu saja karena Nadya yakin ibunya pasti akan terus mengawasi mereka sehingga Nadya tak bisa bebas berbicara dengan Yoga seperti di taman tadi untuk menanyakan tentang Adrian.
Selama perjalanan menuju rumah, tampak Nadya terus-menerus manyun seperti kesal karena gagal mendapat info apa-apa tentang Adrian dari Yoga, padahal tadi sebenarnya ia hampir saja bisa mendapatkannya kalau saja ibunya tidak datang kesana dan mengacaukan semuanya.
"Sayang, kamu kok cemberut terus sih? Kamu marah ya sama ibu, karena ibu udah ganggu kamu?" tanya Jenar sembari merangkul putrinya.
"Aku gak marah kok sama ibu, aku cuma kecewa aja karena baru bicara sebentar sama Yoga disana!" jawab Nadya dengan raut wajah kusut.
"Kan tadi ibu udah bilang, ini udah siang dan ibu gak mau kamu sakit lagi kalau kena pancaran sinar matahari yang panas itu!" ucap Jenar.
"Ya tapi kan Bu, aku bukan anak kecil yang kalau kena sinar matahari bakal sakit! Emang aku penyakitan, tapi gak ada hubungannya sama sinar matahari juga Bu...!!" ucap Nadya.
"Emang sih, kan ibu cuma jaga-jaga aja! Soalnya kondisi kamu lagi lemah sayang, ibu gak mau kamu pingsan dan ngerepotin Yoga lagi! Ibu kan juga udah bilang sama kamu, ajak aja nak Yoga sekalian ke rumah biar kamu bisa lanjut bicara disana! Eh tapi kamunya malah gak mau..." ucap Jenar.
"Huft, yaudah gausah dibahas lagi deh Bu! Kita cepetan pulang aja, aku mau rebahan di kamar sambil ngelamun!" ucap Nadya manyun.
Jenar pun mengusap-usap pundak Nadya untuk menghibur gadis yang tengah cemberut itu, ia sebenarnya merasa kasihan pada Nadya yang terus saja penasaran dengan Adrian, namun ia tidak mau jika putrinya terbawa pengaruh buruk lelaki itu sekaligus takut juga kalau Nadya akan syok bila mengetahui Adrian adalah narapidana.
Mereka lanjut berjalan menuju rumah yang sudah dekat itu, namun ketika ada tukang es krim lewat Nadya mendadak ceria dan ingin membeli es krim itu, tingkahnya seperti anak SD yang sedang minta jajan pada ibunya padahal Nadya sendiri sudah dewasa bahkan telah lulus kuliah.
Telolet... telolet... telolelolet... (suara es krim)
__ADS_1
"Bu, aku mau beli es krim itu dong!" ucap Nadya seraya menunjuk ke abang tukang es krim.
"Aduh sayang, jangan dulu deh! Kan ibu udah bilang tadi kondisi kamu masih lemah, terus kata dokter juga kamu kan gak boleh makan makanan sembarangan! Emang kamu mau sakit kamu itu kambuh lagi, terus kamu dirawat lagi?" ucap Jenar.
"Yah, tapi aku kepengen es krim Bu..." rengek Nadya.
"Lain kali aja ya sayang, kalo kamu udah bener-bener sehat dan pulih! Atau gini aja deh, nanti ibu bikinin es krim spesial buat kamu yang sehat dan aman dikonsumsi sama kamu!" ucap Jenar.
"Wah beneran Bu? Emang ibu bisa bikin es krim kayak gitu?" tanya Nadya.
"Ya bisa dong, gimana mau gak?" ujar Jenar.
"Mau mau mau... yaudah kita pulang sekarang Bu, aku udah gak sabar pengen nyicipin es krim buatan ibu!" ucap Nadya tersenyum sumringah.
"Iya, yuk kita lanjut jalan lagi...!!"
Jenar kembali merangkul putrinya dan Nadya pun membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu, mereka lanjut berjalan tanpa ada jeda lagi karena Nadya sudah tidak sabar untuk menikmati es krim buatan ibunya yang pasti akan enak dan bikin ketagihan setelah mencobanya.
...•••...
"Kenapa, honey? Minta lebih cepet?" ujar Devano.
Shella menggeleng, namun Devano malah mempercepat gerakannya membuat Shella mencengkeram lengan suaminya.
"Mas, tolong pelanin! Aku lagi hamil..."
Seketika Devano terhenyak lalu menghentikan gerakannya setelah mendengar perkataan istrinya, ia memandang wajah Shella yang berkeringat lalu bertanya untuk memastikan apakah yang diucapkan istrinya itu benar atau tidak.
Sedangkan Shella tampak berusaha menghindari tatapan suaminya, ia sebenarnya belum ingin mengungkapkan itu sekarang pada Devano karena waktunya belum tepat, ya Shella ingin memberi kejutan pada Devano di hari ulang tahunnya nanti.
"Honey, apa maksud kamu bilang begitu? Apa benar kamu hamil lagi, honey?" tanya Devano.
Shella membuang muka dengan bibir mengatup dan nafas yang tak teratur akibat rasa lelah serta panik yang menjadi satu, terlebih milik suaminya yang masih tertancap di bawah sana membuatnya sulit juga untuk fokus.
Devano yang penasaran langsung mencengkeram rahang sang istri dengan kuat lalu menatap matanya untuk mendapat jawaban darinya, ia sangat-sangat berharap kalau yang didengarnya tadi memang benar dan Shella hamil lagi.
__ADS_1
"Honey, ayo jawab!" ujar Devano.
"Enggak mas, tadi tuh aku bilang gitu supaya kamu gak cepet-cepet aja gerakinnya! Aku gak kuat tau mas, punyaku udah perih banget!" jawab Shella.
Shella pun terpaksa mengatakan kebohongan karena ia ingin menundanya sampai hari dimana suaminya merayakan ulang tahun nanti, ia tidak mau semua yang sudah direncanakan itu gagal begitu saja hanya karena permainan cepat suaminya di atas ranjang.
Setelah mendapat jawaban dari sang istri, wajah Devano pun berubah jadi tampak lesu dan tak bergairah, padahal ia sudah sangat senang tadi ketika Shella mengatakan kalau dia hamil, namun kesenangannya itu hanya sementara dan kembali terpatahkan dengan jawaban dari mulut Shella.
"Maaf ya mas, aku cuma mau kasih kejutan ke kamu! Sabar ya, tinggal 5 hari lagi kok..." batin Shella.
Devano yang sudah kehilangan gairahnya untuk bercinta memutuskan tidak melanjutkan gerakan itu, ia juga mengerti kalau istrinya sudah lelah dengan permainan mereka yang cukup panjang dan melelahkan itu.
Devano pun mencabut miliknya dari **** * milik Shella, tampak Shella terkejut lantaran Devano melakukan itu bukannya melanjutkan permainan mereka yang belum sempat terselesaikan, jujur Shella kecewa karena tubuhnya juga belum mendapat kepuasan kembali.
"Kok dicabut, mas?" tanya Shella.
"Kamu perlu istirahat, aku gak mau egois!" jawab Devano dingin sembari menjauh dari istrinya.
Melihat sikap Devano yang seperti itu membuat Shella merasa bersalah karena sudah memintanya untuk memelankan permainan tadi, ia tahu bagaimana perasaan Devano sekarang yang merasa dibohongi olehnya.
Shella pun bangkit dari tidurnya lalu menghampiri Devano dan memeluk suaminya itu dari belakang, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Devano sembari menempelkan wajahnya pada punggung berkeringat sang suami.
"Mas, maafin aku ya!" ucap Shella memelas.
"Kamu apa-apaan sih, honey? Ngapain minta maaf segala? Kamu itu gak salah, aku yang salah karena terlalu nafsuu tadi..." ucap Devano.
"Tapi, mas—"
Devano langsung menyingkirkan tangan Shella dari pinggangnya lalu berbalik badan dan menempelkan telunjuknya pada bibir sang istri sembari mendekap Shella dengan erat hingga wanita itu bisa merasakan sesuatu yang masih berdiri tegak di bawah sana.
"Ssshhh! Gapapa kok, udah gausah sedih gitu!" ucap Devano sambil membelai rambut istrinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1