
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 196
...•...
...•...
Shella & Devano tengah dalam perjalanan pulang, mereka kini sudah tampak cair dan saling memandang dengan senyuman terpampang di wajah mereka.
Shella pun sudah mau berbicara dengan suaminya itu setelah mendengar penjelasannya serta permintaan maaf dari pria itu karena sering berbohong dan ingkar janji padanya.
"Mas, aku kayaknya gendutan deh ya?" tanya Shella menatap wajah suaminya.
"Hah? Gak kok, mana ada sih kamu gendutan? Menurut aku body kamu itu bagus loh, pas untuk ukuran cewek cantik! Siapa juga yang bilang kamu gendut emang?" ujar Devano.
"Ih serius mas aku gendutan tau, soalnya kamu udah mengembangkan cinta yang banyak di hati aku...." ucap Shella yang awalnya cemberut tapi di akhir malah tersenyum genit.
"Aduh ya ampun honey, udah mulai ngegombalin suaminya ya sekarang? Ada-ada aja kamu ini, siapa sih yang ngajarin gombal begitu ha?" ujar Devano tersenyum-senyum.
"Siapa lagi mas kalo bukan kamu? Aku aja sampe kekenyangan digombalin terus sama kamu, makanya sekarang gantian aku yang gombalin kamu mas...." ucap Shella.
"Ah masa emangnya kapan sih aku gombalin kamu honey? Perasaan aku gak pernah ah gombalin kamu begitu, selama ini yang aku ucapkan itu fakta honey! Cantik, ya kamu kan memang cantik? Manis, ya itu apalagi kamu tuh manis banget ditambah kalo lagi senyum! Nah terus bagian mananya yang gombal?" ujar Devano tersenyum.
"Ish mas, kok malah jadi aku yang kena sih? Harusnya kan kamu yang kesemsem gitu sama gombalan aku, lah ini malah aku sendiri yang jadi malu-malu...." ujar Shella.
"Hahaha, yaudah kita bahas yang lain aja jangan ada yang ngegombal lagi! Kasian aku sama kamu nanti makin gendut lagi gara-gara makanin gombalan dari aku..." ujar Devano.
"Apa sih? Bisa aja kamu mah mas," ucap Shella tersenyum malu-malu sambil mencolek lengan Devano dengan gemas.
Setelah saling tertawa dan mencolek tubuh satu sama lain, kini mereka terdiam lantaran Shella merasa lapar begitupun Devano yang sedari siang belum makan.
"Mas, aku laper lagi deh... makan dulu yuk! Kamu mau gak mas?" ucap Shella memegangi perutnya yang keroncongan.
"Umm... boleh boleh, kamu maunya makan dimana nih restoran atau pinggir jalan? Terus kamu juga lagi kepengen makan apa?" tanya Devano pada sang istri.
__ADS_1
"Kayaknya kita makan di pinggir jalan aja deh mas, aku lagi mau makan bakso kebetulan udah lama aku gak makan itu..." jawab Shella.
"Ohh yaudah sebentar ya aku cari dulu warung bakso di dekat sini, tapi beneran nih gak mau makan di restoran aja biar aman? Takutnya kalau makan di pinggir jalan kan kurang higienis honey, suka kena asap kendaraan juga nanti kamu batuk-batuk lagi!" ucap Devano.
"Gapapa mas, dari kecil juga aku makan di pinggir jalan kok sama papa mama aku! Dan sampe sekarang aku aman-aman aja kan? Gak perlu khawatir mas, udah ah buru aku laper banget nih!" ujar Shella.
"Iya iya, sabar dong honey ini kan aku juga belum nemu tempat baksonya... emang kamu belum makan siang apa, kok sampe kelaparan kayak gini?" ujar Devano.
"Udah kok mas, cuma gak tau kenapa ini aku mendadak lapar lagi... kalo mas sendiri udah makan belum?" ucap Shella.
"Eee belum sih honey, aku terlalu sibuk mikirin masalah kantor sampe lupa buat makan! Tapi tenang aja kan kita mau makan ini," ucap Devano tersenyum menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal.
"Ish kamu mah mas, udah berapa kali sih aku bilang sama kamu? Dahulukan makan dibanding apapun, karena makan itu penting mas supaya tenaga kamu bertambah! Awas ya lain kali aku gak mau lagi denger kamu telat makan siang, apa harus aku kirim makan siang buat kamu ke kantor setiap hari?" ucap Shella.
"Wah boleh tuh honey, iya kamu bawa aja makan siang buat aku setiap hari ya ke kantor! Aku bakal semangat deh makannya kalo masakan dari kamu," ucap Devano.
"Yaudah mulai besok aku bakal bawain makan siang buat kamu ya mas? Aku gak mau suami aku yang ganteng ini sakit, nanti kan aku juga yang bakal repot kalo kamu sakit!" ujar Shella.
Devano merasa senang karena istrinya begitu peduli pada dirinya, ia pun membelokkan mobilnya ke kanan lalu berhenti tepat di depan warung bakso yang lumayan besar.
...•••...
Novi celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang hendak ditemuinya disana, dengan membawa tas serta berkas-berkas yang ditandatangani Devano tadi Novi terus berjalan ke dalam taman tersebut.
"Pak Adrian dimana ya? Katanya ajak ketemuan disini buat kasih berkasnya, kok malah gak kelihatan sih?" gumam Novi kebingungan.
Akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya, seorang pria berjas tengah berdiri membelakangi dirinya berada di depan sana.
"Itu dia.."
Novi langsung mempercepat langkahnya mendekati pria tersebut, walau sangat sulit baginya untuk cepat melangkah dengan kondisi kaki yang masih sakit.
Namun, Novi berhasil sampai ke tempat Adrian berdiri dengan selamat tanpa terjadi apapun pada dirinya termasuk kakinya.
"Pak Adrian..." sapa Novi memanggil nama pria tersebut yang sedang berdiri di hadapannya.
Adrian sontak membalikkan tubuhnya menoleh ke asal suara yang memanggilnya, matanya langsung tertuju ke arah kaki gadis itu yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Eh kamu datang juga, kaki kamu kenapa?" ucap Adrian menanyakan kaki Novi.
"Eee gapapa kok pak, maaf ya saya datang agak terlambat soalnya tadi susah pesan taksi onlinenya!" ucap Novi tersenyum.
__ADS_1
"Ya it's ok, lalu mana berkasnya yang sudah ditandatangani Devano? Saya ingin cepat-cepat memproses itu agar saya bisa membayar hutang perusahaan Devano, lalu saya bisa memegang saham 50 persen disana!" ucap Adrian tersenyum tipis menengadahkan tangannya ke arah Novi.
"Sebentar pak..."
Novi pun membuka tasnya dan mengambil berkas-berkas dari dalam sana, namun ia tidak langsung menyerahkan itu pada Adrian.
"Ini pak berkasnya, ada di tangan saya!" ucap Novi menunjukkan berkas-berkas itu di hadapan Adrian.
"Bagus, sekarang cepat berikan pada saya!" ucap Adrian sudah tidak sabar untuk memiliki berkas di tangan Novi.
Novi tampak ragu untuk memberikan itu pada Adrian, ia mengingat perhatian Devano kepada dirinya tadi serta bagaimana kebaikan yang sudah diberikan oleh bosnya itu padanya.
Namun, akhirnya Novi tetap menyodorkan berkas tersebut kepada Adrian...
"Ini pak," ucap Novi.
Adrian tampak tersenyum sumringah hendak menampani berkas tersebut, akan tetapi Novi justru menarik kembali berkasnya menjauh dari jangkauan tangan Adrian.
"Kenapa Nov?" tanya Adrian kesal.
"Maaf pak, mungkin saya memang dipotong gaji oleh pak Devano selaku bos saya! Tapi kebaikan beliau telah menyadarkan saya kalau ini bukan cuma soal gaji, melainkan juga kesetiaan yang harus diuji!" jawab Novi.
"Apa maksud kamu Novi??" ujar Adrian.
"Saya gak bisa bantu bapak lagi!" ucap Novi dengan lantang menatap mata Adrian.
Tepat di depan mata pria itu, Novi merobek-robek berkas di tangannya menjadi bagian yang kecil-kecil.
"Ja-jangan Nov, jangan!" teriak Adrian.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...Ini dia visual Novi...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1