Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Orang tua Arga


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 323


...•...


...•...


Setelah puas menangis dan saling berpelukan di bawah sana, kini Jenar serta Nadya duduk di sofa berbincang sembari menikmati teh hangat yang sengaja dibuat Jenar untuk menenangkan putrinya yang sedang sedih itu.


Jenar terus mengusap wajah putrinya yang kini masih berada dalam dekapannya, ia benar-benar senang sekali karena Nadya ternyata sudah pulih dan tidak membenci dirinya lagi seperti dulu, ya hal itu yang memang ditakuti Jenar jika Nadya sadar.


"Ibu seneng banget sayang, akhirnya kamu bisa ingat semua tentang kita!" ucap Jenar.


"Kalau aku sih gak seneng Bu," ucap Nadya.


"Hah? Emangnya kenapa sayang? Kamu gak suka inget lagi sama ibu kamu ini?" tanya Jenar heran.


"Bukan begitu Bu, tapi aku kecewa karena tau kalau selama ini aku benci sama ibu. Harusnya aku sebagai seorang anak gak bersikap seperti itu, aku nyesel banget Bu!" ucap Nadya.


"Kamu gak perlu begitu, sayang! Ibu maklumi kok kenapa kamu benci sama ibu!" ucap Jenar.


"Gak bisa Bu, tetep aja aku ini anak yang durhaka! Aku gak pantas dipeluk sama ibu kayak gini, aku harus cium kaki ibu terus memohon ampun sama ibu karena udah lancang!" ucap Nadya.


"Hus! Kamu gak perlu begitu sayang, ibu juga udah maafin kamu kok!" ucap Jenar mengelus wajah putrinya sambil tersenyum.


"Makasih banyak ya, Bu! Aku beruntung punya ibu yang selalu sayang sama aku, entah apa yang aku pikirkan dulu sampai bisa benci begitu sama ibu aku sendiri! Sekali lagi maafin aku ya Bu, aku udah salah menilai ibu selama ini!" ucap Nadya.


"Iya sayang, udah ya jangan sedih lagi! Ibu kan udah maafin kamu dan gak marah sama kamu, ya jangan nangis ya!" ucap Jenar tersenyum.


Nadya manggut-manggut lalu mengangkat kepalanya keluar dari dekapan sang ibu, Jenar pun memegang wajah putrinya lalu menyeka air mata yang masih mengalir disana, akhirnya Nadya bisa tersenyum kembali saat bertatapan dengan ibunya.

__ADS_1


"Bu, aku sayang sama ibu!" ucap Nadya.


"Iya sayang, ibu juga sayang sekali sama kamu! Ibu senang karena kamu akhirnya udah pulih dan bisa ingat semuanya!" ucap Jenar.


"Iya Bu, aku sekarang juga inget kalau Adrian itu emang bener-bener jahat. Bahkan dia hampir pernah lecehin aku waktu itu, aku nyesel banget kemarin sempat minta ketemu sama dia!" ucap Nadya.


"Apa sayang? Nak Rian pernah hampir lecehin kamu?" tanya Jenar kaget.


"Iya Bu, kejadiannya udah lama kok. Waktu itu pas pak Satria, papanya Adrian meninggal dunia karena kecelakaan!" jawab Nadya.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu gak pernah cerita sih sama ibu? Kalau ibu tau kan pasti ibu bakal marahin anak itu!" ujar Jenar kesal.


"Gapapa Bu, waktu itu aku juga syok banget dan aku gak cerita soal itu ke siapapun. Maaf ya Bu, aku banyak banget bikin kesalahan waktu dulu! Aku juga hampir kehasut sama Adrian buat benci Shella, aku nyesel banget kalau inget soal itu!" ucap Nadya.


"Udah jangan sedih! Semua itu kan udah masa lalu, sekarang nak Rian gak bisa lagi deketin kamu!" ucap Jenar tersenyum.


"Iya Bu, aku sekarang juga mau minta maaf sama Yoga! Aku salah kemarin karena udah nuduh dia yang gak bener, padahal yang jahat itu Adrian bukan Yoga!" ucap Nadya.


"Iya sayang, nanti ibu minta nak Yoga kesini ya buat bicara sama kamu!" ucap Jenar.


"Makasih Bu,"


...•••...


Disisi lain, Devano mendatangi alamat yang diberikan Viona kemarin untuk mencari tau siapa Arga sebenarnya dan apa motif dia ingin menculik Shella istrinya waktu itu, Devano sangat penasaran serta tak mau jika Arga terus mendekati istrinya.


Devano pun datang kesana seorang diri, ia turun dari mobil begitu sampai pada alamat sesuai titik yang diberikan Viona, ia menghampiri salah seorang satpam yang bertugas disana lalu bertanya apa benar rumah itu adalah rumah Arga.


"Permisi pak, saya mau tanya!" ucap Devano.


"Eh iya, tanya apa ya mas?" ujar satpam itu.


"Apa benar ini rumah Arga? Soalnya saya lagi cari teman saya itu, terus saya dapet info kalau dia tinggal di rumah ini!" ucap Devano.


"Ohh, iya benar mas! Ini memang rumahnya den Arga, tapi udah seharian den Arga gak pulang kesini!" ucap satpam itu.


"Loh emang dia kemana, pak?" tanya Devano.

__ADS_1


"Waduh, saya juga kurang tau mas!" jawab satpam.


"Eee terus di dalam sana ada siapa?" tanya Devano.


"Ohh, ada tuan Herman sama nyonya Helena, mas! Mereka itu orangtuanya den Arga, mas nya mau ketemu sama mereka?" ucap satpam itu.


"Kalau saya belum bisa ketemu Arga sekarang, paling tidak saya bisa cari informasi tentang dia dari orangtuanya!" batin Devano.


Devano diam sejenak memikirkan itu, ia bingung apa harus menemui orang tua Arga di dalam sana atau tidak. Bagaimanapun juga, Devano memang ingin mencari tau tentang siapa itu Arga dan apa maksud dia menculik Shella waktu itu.


Akhirnya Devano memutuskan untuk mau bertemu dengan kedua orang tua Arga disana, ia akan mengorek informasi tentang Arga dari mereka tentunya, sekaligus juga mencari tau apakah Arga itu yang mengirim paket ke rumahnya.


"Baiklah, saya mau bertemu mereka!" ucap Devano.


"Oke, silahkan masuk mas!" ucap satpam.


Satpam itu membuka pintu gerbang agar Devano bisa masuk ke dalam, tentu Devano langsung melangkahkan kakinya masuk dan berjalan menuju depan pintu rumah besar itu, ia ditemani oleh satpam tadi untuk menemui orang tua Arga disana.


Sesampainya di ruang tamu, satpam itu langsung menunjuk ke arah dua orang yang sedang duduk di sofa dan memberitahu pada Devano kalau mereka adalah orang tua Arga, tentu Devano langsung tersenyum dan tak sabar ingin bertemu mereka.


"Itu dia tuan Herman dan juga nyonya Helena, mas!" ucap satpam itu.


"Ya,"


Satpam itu pun pergi lebih dulu menemui majikannya untuk meminta izin pada mereka jika ada yang ingin bertamu ke rumah itu, setelah mendapat izin barulah satpam itu memperbolehkan Devano untuk mendekati Herman serta Helena disana.


"Permisi...." ucap Devano sambil tersenyum.


Herman dan Helena pun menoleh saat Devano muncul disana, mereka tampak asing ketika melihat pria yang datang itu.


"Ya, silahkan duduk!" ucap Herman.


"Terimakasih,"


Devano pun duduk di sofa sesuai perintah dari Herman, ya mereka lanjut berbincang disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2