Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Bertemu Sadam lagi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 360


...•...


...•...


Shella dan Rafael pun sampai di halaman depan cafe all in love, tempat Shella akan bertemu dengan kedua teman kampusnya disana. Tanpa berlama-lama lagi, Shella langsung bersiap untuk turun dari mobil dan meminta Rafael menunggunya disana sampai ia selesai mengobrol bersama teman-temannya di dalam sana.


"Pak Rafael, kamu tunggu disini aja ya! Atau kalau mau ikut ke dalam ngopi-ngopi, juga gapapa. Ya terserah kamu aja sih baiknya gimana!" ucap Shella.


"Ohh, siap Bu! Saya tunggu disini aja, nanti kalau misal saya haus baru saya akan masuk ke dalam beli minuman." ucap Rafael.


"Yasudah, saya turun dulu ya?" ucap Shella.


"Iya Bu, hati-hati! Apa mau saya bantu untuk turun dan masuk ke dalam cafe itu, Bu?" ucap Rafael menawarkan diri untuk membantu Shella karena ia juga cemas pada Shella.


"Gapapa, saya bisa sendiri kok." ucap Shella.


"Umm, baik Bu." ucap Rafael.


Shella pun langsung membuka pintu mobilnya, lalu menapakkan kaki ke jalan dan turun keluar dari dalam mobil tersebut. Shella berjalan sendirian memasuki area cafe tersebut sambil tersenyum, Shella sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman-temannya disana.


Dari arah lain yang tak jauh, ada sekelompok orang tengah mengawasi gerak-gerik Shella. Mereka menggunakan sebuah HT untuk berkomunikasi dengan seseorang yang letaknya tak jauh dari sana.


"Halo bos, target sudah berjalan masuk ke dalam cafe. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" ucap seseorang itu melalui HT nya.


"Pantau terus! Jangan sampai lengah!"


"Baik, bos!"


Sangking senangnya, Shella memang sampai tak memperdulikan keadaan di sekitarnya sehingga ia tidak tau jika ada segerombolan orang yang tengah mengawasinya dari jauh.


Kini Shella sudah masuk ke dalam cafe tersebut, ia duduk di sebuah kursi kosong dan menaruh tasnya di atas meja. Tampak belum ada Yasmin maupun Zara disana, Shella pun memilih menunggunya sejenak dan tidak memesan makan atau minuman sampai kedua temannya itu datang kesana.


"Shella..."


Shella pun terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba menyebut namanya, ia menoleh dan matanya seketika terbelalak saat melihat sosok pria tengah berdiri menatapnya dari jarak dekat.


"Sadam?" ucap Shella menyebut nama pria tersebut sembari bangkit dari duduknya.


"Hey! Kamu apa kabar?" ucap pria yang tak lain ialah Sadam itu bertanya pada Shella.


"Eee aku baik, Alhamdulillah. Kamu kok bisa ada disini juga? Mau apa?" ucap Shella.


"Ah iya, aku emang kerja disini. Aku tukang antar pesanan online, udah sekitar lima bulanan lah aku kerja disini. Kamu sendiri ngapain disini?" ucap Sadam sambil tersenyum.


"Eee aku mau ketemu sama Yasmin dan Zara, kebetulan kami emang biasa kumpul disini. Eh ya, kenapa kamu gak gabung juga sama kita nanti? Kan kamu juga udah lumayan deket sama kita, apalagi kamu kan mantan pacar Laila." ucap Shella.


"Bukan cuma Laila, kan kamu juga." ucap Sadam.


"Ah iya, jadi gimana?" tanya Shella.


"Umm, sebenarnya aku mau. Tapi, aku masih harus antar beberapa pesanan lagi. Mungkin kalau nanti aku udah selesai kerja, aku bisa kumpul sama kalian disini. Toh Yasmin sama Zara juga belum datang, kan?" ucap Sadam.


"Iya sih, yaudah semangat ya kerjanya!" ucap Shella tersenyum sembari mengepalkan tangannya.


"Makasih, aku kesana dulu ya?" ucap Sadam.


"Iya.."


Sadam pun pergi dari sana meninggalkan Shella, ia mengambil pesanan yang harus ia antar dari tempat pengambilan. Sedangkan Shella duduk kembali disana, ia tak menyangka kalau ternyata Sadam adalah seorang kurir di cafe tersebut.


...•••...

__ADS_1


Disisi lain, Nadya mengajak Adrian serta Yoga berbincang di sebuah cafe terdekat. Nadya ingin mendamaikan kedua pria tersebut karena ia tak mau terus saja ada keributan di dekatnya, apalagi mereka ribut hanya karena memperebutkan dirinya. Tentu hak itu sangat menganggu untuknya, yang ia inginkan adalah kedua pria tersebut mau berdamai dan saling bersahabat.


"Nadya, kamu ngapain sih ajakin aku sama dia buat bicara disini? Aku yakin banget, dia juga pasti gak akan bisa diajak damai!" ujar Yoga.


Adrian hanya menyunggingkan senyum ketika Yoga melirik ke arahnya sinis, Adrian dengan santainya menyedot minuman yang ia pesan di hadapan sepasang kekasih tersebut.


"Yoga, kamu tahan dong emosi kamu! Aku yakin kok, kalian pasti bisa temenan!" ucap Nadya.


"Hah? Aku temenan sama Adrian? Ya ampun, itu gak akan mungkin terjadi Nadya! Bukannya apa-apa, aku tau banget Adrian itu tipe lelaki yang seperti apa. Dia gak mungkin bisa diajak damai apalagi temenan! Udah deh, mending kita pergi aja dan biarin dia sendirian disini!" ucap Yoga emosi.


"Yoga, jangan dong! Sebentar aja ya, kita bicara dulu sama Adrian disini!" pinta Nadya.


"Haish, oke deh iya. Tapi, aku ngelakuin ini semata-mata karena aku sayang sama kamu. Kalau bukan karena kamu, udah aku bikin jadi perkedel tuh cowok aneh!" ucap Yoga kesal.


"Yaudah gapapa, yang penting kamu mau ngobrol dulu sebentar sama Adrian." ucap Nadya.


"Hey, Nadya! Kamu kayaknya salah deh, aku dan Yoga ini saingan untuk mendapatkan hati kamu. Kita gak akan bisa sahabatan, kecuali kalau kamu emang mau punya dua suami sekaligus. Ya tapi aku juga gak pengen lah berbagi istri sama dia, aku maunya miliki kamu seutuhnya sayang!" ucap Adrian.


Braakkk...


Yoga yang emosi langsung menggebrak meja dengan keras, ia bahkan berdiri dan menatap tajam ke arah Adrian sembari menunjukkan telunjuknya tepat di depan mata pria tersebut.


"Lu jangan kurang ajar ya!" teriak Yoga.


Adrian hanya tersenyum menyeringai melihat reaksi Yoga yang amat sangat marah itu, lagi-lagi ia masih bisa menghadapi amarah Yoga dengan santai bahkan tak emosi sama sekali.


"Yoga, udah cukup! Malu tau kamu dilihatin banyak orang kayak gitu!" ucap Nadya membujuk Yoga.


"Iya, maaf Nadya! Aku cuma gak suka aja sama ucapan dia tadi," ucap Yoga.


"Udah, duduk lagi ya!" ucap Nadya.


Yoga pun menurut dan duduk kembali disana dengan bantuan Nadya, walau sebenarnya ia masih sangat emosi kepada pria di hadapannya itu.


"Adrian, kamu itu kalau bicara jangan ngasal dong! Aku dan kamu udah gak ada hubungan apa-apa lagi, jadi sebaiknya kamu moveon dan mulai lupain aku! Karena aku juga gak ada rasa apa-apa sama kamu, aku sekarang udah bahagia sama Yoga dan kami gak lama lagi juga akan melangsungkan pernikahan! Kamu jangan terus berharap buat milikin aku, masih banyak kan wanita lain yang lebih daripada aku?" ucap Nadya berbicara panjang kali lebar.


Adrian kembali tersenyum dan memajukan tubuhnya sedikit dengan kedua tangan ia letakkan di meja.


Mendengar ucapan Adrian, membuat Yoga overthinking dan khawatir kalau memang ucapan Adrian barusan itu adalah benar. Sedangkan Nadya juga langsung terdiam tak berkutik, ia melirik ke arah Yoga dengan tatapan bersalahnya.


"Yang dibilang Adrian emang bener, aku gak cinta sama Yoga. Entah mengapa aku sekarang jadi ngerasa bersalah, karena udah terima Yoga jadi pacarku hanya karena rasa kasihan." batin Nadya.


...•••...


Novi sedang berada di ruangannya mengerjakan pekerjaan yang harus ia kerjakan hari ini, Novi tampak kesulitan untuk melakukan itu karena ia masih terpikirkan pada kejadian tadi saat ia makan bersama bosnya di kantin berdua. Novi masih tak menyangka jika Devano bisa melakukan itu padanya, bahkan selama makan bosnya itu selalu saja memandangi wajahnya sambil senyum-senyum sendiri.


Ceklek...


Tanpa aba-aba, seseorang langsung masuk begitu saja ke dalam ruangannya. Novi pun tampak kesal dan marah kepada orang tersebut, tentu saja karena ia merasa punya privasi yang harus dihargai oleh seluruh karyawan disana.


"Hey! Kalau mau masuk ruangan saya itu—" ucapan Novi tidak sempat terselesaikan, karena ia melihat yang masuk ke dalam ruangannya itu adalah Devano alias bosnya disana.


Novi menelan saliva nya secara susah payah, apalagi saat Devano menatapnya dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Devano menutup kembali pintu ruangan Novi, lalu berjalan mendekat ke arah Novi yang masih tampak gugup di tempat duduknya.


"Pak Vano..." ucap Novi gugup.


"Hey, Nov!" ucap Devano dengan santainya langsung duduk di depan Novi dan menaruh satu kaki di atas kakinya yang lain.


"Kamu kenapa pergi gitu aja tadi? Kan saya udah bilang, kamu harus temani saya disana sampai saya selesai makan!" ucap Devano tampak kesal sembari menaruh satu tangannya di meja.


"Eee maaf, pak! Sa-saya—"


"Saya gak peduli apapun alasan kamu! Karena kamu sudah berani melanggar aturan yang saya berikan, berarti kamu juga harus menanggung akibat dari semua itu! Saya terpaksa akan menghukum kamu, supaya kamu gak lagi-lagi melakukan itu ke saya!" ucap Devano memotong ucapan Novi dengan tegas.


"Pak, tapi—"


Belum sempat Novi menyelesaikan ucapannya, namun ponsel yang ada di mejanya berdering. Novi pun terpaksa menunda sejenak apa yang ingin ia sampaikan barusan, karena ia harus mengangkat telpon dari Rafael.


"Pak, maaf. Saya mau izin angkat telpon dulu!" ucap Novi sembari menggenggam ponselnya.


"Yaudah, angkat aja!" ucap Devano.

__ADS_1


"Baik, pak!" Novi langsung beranjak dari duduknya membawa ponsel di tangannya dan hendak mengangkat telepon itu agak jauh dari sana.


"Hey! Mau kemana? Kamu angkatnya disini aja, jangan jauh-jauh dari saya!" ujar Devano.


Akhirnya Novi terpaksa mengangkat telpon dari Rafael itu di hadapan Devano, walau ia agak ragu untuk melakukannya karena takut Devano akan curiga atau bagaimana padanya.


📞"Halo, Nov! Kamu kok lama banget sih angkat telponnya?" ucap Rafael heran.


📞"Eee iya halo, maaf tadi aku masih ngerjain kerjaan dulu nanggung." ucap Novi dengan suara agak dipelankan.


📞"Ohh, iya gapapa. Sekarang berarti kamu udah gak sibuk kan?" tanya Rafael.


📞"Enggak kok, ya cuma aku gak bisa lama-lama telponan sama kamu. Soalnya..." ucap Novi menggantung karena Devano memberi isyarat padanya untuk mengambil alih telpon itu.


📞"Soalnya apa?" tanya Rafael bingung.


📞"Eee sebentar ya!" ucap Novi.


Novi pun menjauhkan sejenak ponselnya dan menutup layar ponsel itu dengan telapak tangannya, supaya Rafael tak bisa mendengar ucapan ia dengan Devano saat ini.


"Siapa yang telpon?" tanya Devano sinis.


"Eee ini pak Rafael, pak." jawab Novi.


"Ohh, yaudah sini saya mau bicara sama dia!" ucap Devano meminta ponsel milik Novi.


"I-i-iya pak..." ucap Novi.


Novi pun terpaksa memberikan ponselnya kepada Devano, walau ia tidak mau melakukannya.


📞"Halo, Rafael!" ucap Devano dalam telpon.


📞"Hah? Kok suara kamu jadi kayak cowok, Nov?" ujar Rafael terheran-heran mendengar suara yang berbeda dari telpon itu.


📞"Saya Devano, bukan Novi!" ucap Devano.


📞"Ohh, ma-maaf pak! Saya gak tau kalau udah ganti orang, tapi kok bapak bisa pegang hp Novi sekarang?" ujar Rafael.


📞"Ya bisalah! Novi itu kan sekretaris saya, udah kamu jangan ganggu dia dulu! Mending kamu fokus aja jagain istri saya, Novi lagi banyak kerjaan yang harus diurus!" ujar Devano.


📞"Eee iya iya pak, saya gak telpon Novi lagi kok!" ucap Rafael ketakutan.


Tuuutttt...


Devano dengan cepat langsung mematikan telpon dari Rafael itu, ia bahkan menyimpan ponsel milik Novi ke dalam saku jasnya.


"Eee pak, maaf itu kan handphone saya!" ucap Novi.


"Saya sita dulu! Karena saya masih mau bicara sama kamu dan kasih hukuman buat kamu!" ucap Devano dengan tegas menatap mata Novi.


"Eee i-i-iya, pak." ucap Novi menunduk ketakutan.


Devano pun tersenyum lalu meraih tangan Novi dan menggenggamnya erat. Devano tak henti-hentinya memandang wajah cantik sekretarisnya itu, yang berhasil membuatnya terpesona.




Rafael merasa heran dan penasaran mengapa Devano bisa mengambil alih ponsel Novi saat ia tengah menghubungi gadis itu, ia pun tampak kesal sedikit karena gagal untuk bisa berbicara dengan Novi alias gadis yang disukainya itu.


"Pak Vano rusuh banget sih! Saya kan lagi mau deketin Novi seperti yang dia suruh, eh malah dimatiin gitu aja telponnya!" ujarnya kesal.


Saat ia tengah memikirkan masalah itu, tiba-tiba saja ia melihat banyak sekali orang yang berlalu lalang di depannya sehingga pandangannya pun terganggu. Rafael tak mengerti bagaimana bisa ada banyak sekali pengunjung di cafe tersebut saat jam kerja seperti ini, apa mungkin mereka semua menganggur? Begitulah yang ia pikirkan.


Karena merasa bosan terus-terusan di dalam mobil, Rafael mencoba keluar untuk mencari udara segar sekaligus berkeliling di sekitar cafe sembari menunggu Shella yang masih berada di dalam cafe tersebut bersama teman-temannya.


"Huft, bosen banget! Tadinya kan gue mau minta Novi buat temenin gue, eh malah pak Vano larang-larang gak jelas!" gumam Rafael.


Akhirnya Rafael memilih masuk saja ke dalam cafe untuk memesan minuman, kebetulan tenggorokannya saat ini juga mulai kering.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2