Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Kemana Kevin?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 94


...•...


...•...


Devano sudah sampai di Mathilda Cafe, dia menunggu kedatangan Kevin kesana sambil mengaduk-aduk minuman yang ia pesan menggunakan sedotan.


Sesekali Devano melihat jam tangannya serta mengecek ponselnya untuk memastikan apakah Kevin mengirim pesan padanya atau tidak.


"Ini Kevin kemana sih? Kok sampe selama ini dia gak datang-datang ya? Saya wa juga ceklis satu, sebenarnya apa yang terjadi sama dia??" gumam Devano kebingungan karena Kevin tak kunjung datang.


Tak lama kemudian, seorang pria datang kesana sambil tersenyum ke arah Devano.. ya dia adalah Rafi sepupunya yang juga diminta datang kesana.


"Maaf Van gua lama datengnya," ucap Rafi.


"Iya gapapa, udah duduk dulu!" ujar Devano mempersilahkan Rafi duduk.


"Jadi gimana, apa yang udah lu dapetin soal kecelakaan kemarin?" tanya Rafi.


"Asisten gue udah selidikin semuanya dan dia berhasil dapetin info kalo ada orang yang sengaja memotong tali rem mobil kemarin, terus dia juga udah cek cctv di sekitar gedung pernikahan gue dan hasilnya ternyata salah satu security disana yang udah ngelakuin itu semua! Gue juga suruh dia buat cari tahu dimana tempat tinggal security itu, tapi sampe sekarang belum ada info lagi dari dia!" jelas Devano menceritakan semua pada Rafi.


"Udah coba lu telpon asisten lu itu?" tanya Rafi.


Devano mengangguk menandakan kalau dia sudah berkali-kali coba menelpon Kevin, namun selalu saja nomornya tidak aktif.


"Kalo gitu kita susulin aja ke gedung itu, barangkali dia masih disana kan cari tahu info soal si security itu!" usul Rafi yang langsung disetujui oleh Devano.


Mereka berdua pun akhirnya pergi dari cafe itu dan mengendarai mobil masing-masing menuju gedung pernikahan Devano & Shella kemarin.


...•••...


Sementara itu, Damar kembali ke rumah sambil tersenyum-senyum sendiri.. Ia duduk di kursi luar rumahnya dan masih terus senyum-senyum.


Merasa ada yang datang, Shella pun mengecek keluar rumah untuk memastikan apakah memang ada yang datang atau tidak.


"Eh ternyata kamu yang dateng Mar, ngapain kamu malah duduk disini bukannya masuk kedalam?" ujar Shella menegur sepupunya yang sedang duduk di luar rumah itu.


"Ah mbak Shella ada disini toh? Kapan datangnya mbak??" tanya Damar sedikit terkejut melihat Shella ada disana.


"Iya tadi mbak kesini diantar mas Vano, udah kamu masuk gih bi Yani sama ibu barusan buat kue bolu coklat loh!" ucap Shella yang membuat Damar tergiur mendengar kata bolu coklat.


"Wah kayaknya enak tuh mbak, aku mau dong cobain bolu nya.. Kebetulan aku juga lapar nih abis lari pagi," ujar Damar memegangi perutnya yang keroncongan.


"Yaudah makanya kamu masuk, bolu nya masih banyak kok di meja! Eh tapi mending kamu mandi dulu, badan kamu udah penuh keringat begitu!" ujar Shella menunjuk badan Damar yang penuh keringat.

__ADS_1


"Hehe iya mbak kalo gitu aku mau mandi," ucap Damar beranjak dari kursinya lalu masuk ke dalam.


Shella pun terheran-heran ada apa dengan sepupunya itu, karena tak biasanya Damar senyum-senyum begitu padahal tidak ada yang lucu.


"Damar kenapa ya? Kok dia senyum-senyum terus daritadi? Ah palingan dia abis ketemu cewek cantik jadinya kayak gitu deh," gumam Shella kemudian masuk juga ke dalam rumah.


Tampak Jenar juga terperangah melihat Damar menyapanya sambil tersenyum renyah, ia pun menemui Shella untuk menanyakan tentang Damar.


"Eh Shella, kamu tau gak itu sepupu kamu kenapa? Gak biasanya dia sapa ibu sambil senyum begitu," tanya Jenar pada Shella yang baru masuk.


"Itu dia Bu aku juga gak tahu kenapa Damar begitu, daritadi pas di luar dia juga senyum-senyum melulu kayak yang lagi seneng.." ucap Shella menaikkan bahunya.


"Oalah tapi bagus deh daripada dia manyun mulu kan, eh itu nanti kamu mau bawa bolu nya gak buat suami kamu? Kalo mau biar ibu bungkusin.." ujar Jenar.


"Boleh deh Bu, mas Vano kan belum pernah cobain enaknya bolu coklat buatan ibu.. Pasti dia nanti ketagihan karena kue bikinan ibu tuh rasanya mantap!" ujar Shella mengacungkan jempolnya.


"Ah bisa aja kamu, kan ini ibu bikinnya bareng bi Yani sama kamu juga.. yaudah sebentar ya ibu bungkusin dulu biar gak kehabisan nantinya," ucap Jenar lalu berjalan ke meja makan.


Shella pun mengambil handphonenya melihat jam sekaligus juga mengabari suaminya dan menanyakan kiranya kapan dia akan menjemput dirinya disini lagi.


"Mas Vano gimana sih? Katanya cuma sebentar, ini kok lama banget belum balik-balik.. Mana gak ada kasih kabar ke aku lagi!" gumam Shella sambil cemberut.


...•••...


Disisi lain, Devano & Rafi terjebak macet di jalan menuju gedung.. bahkan mereka hampir tak bisa menggerakkan mobilnya.


"Tumben banget di daerah sini macet, ada apa sih ya?" gumam Devano heran kemudian membuka kaca mobilnya dan bertanya pada seseorang yang lewat.


"Permisi pak, maaf saya mau nanya ini kenapa macet ya? Emang ada apa di depan pak kalo boleh tau?" tanya Devano.


"Kecelakaan pak? Waduh kira-kira bakal lama gak proses evakuasi nya pak? Soalnya saya lagi buru-buru nih," tanya Devano lagi.


"Wah kalo itu saya kurang tahu pak, tapi kayaknya lama sih mending bapak putar balik lewat jalan lain kalo mau cepet sampe tujuan pak..!!" usul si bapak.


"Oh gitu ya, yaudah makasih pak!" ucap Devano.


"Iya sama-sama pak," ucap si bapak lalu melanjutkan langkahnya pergi dari sana.


Sementara itu, Devano mengirim pesan pada Rafi untuk mencari jalan lain agar mereka cepat sampai di gedung itu.


"Kasian banget korban kecelakaan itu, semoga dia selamat dan gak terluka parah.." gumam Devano yang ikut merasa iba karena dia juga pernah kecelakaan sebelumnya.


Devano pun memutar balik mobilnya dan pergi lewat jalan lain, begitu juga dengan Rafi yang mengikuti Devano tepat di belakangnya.


...•••...


Nadya masuk ke ruangan Adrian membawakan berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Adrian.


"Permisi pak, ini berkas yang harus anda tandatangani.." ucap Nadya menyerahkan berkas itu pada Adrian.


"Makasih sayang, taruh aja semuanya di meja! Sekarang kamu sini duduk di pangkuan saya!" ucap Adrian menepuk-nepuk pahanya sebagai kode untuk Nadya agar mau duduk disana.


"Maaf pak saya gak bisa, masih ada yang harus saya kerjakan setelah ini! Saya permisi pak, nanti biar saya kembali kesini untuk mengambil berkasnya lagi!" ucap Nadya menolak permintaan Adrian.

__ADS_1


Nadya langsung berbalik badan dan langsung melangkahkan kakinya, namun Adrian dengan sigap beranjak dari tempat duduknya menahan Nadya yang ingin pergi.


"Tunggu sayang, jangan pergi!" ujar Adrian menarik tangan Nadya dan kemudian mendekap tubuhnya dari belakang.


"Pak, bapak apaan sih??!! Lepasin saya pak, jangan kayak begini nanti kalo ada yang lihat gimana?" ujar Nadya berusaha memberontak dari dekapan Adrian.


"Gak saya gak akan lepasin kamu..!!" ucap Adrian sambil mencium wangi rambut Nadya.


Nadya semakin merasa risih karena Adrian melakukan sentuhan-sentuhan yang sensitif di area tubuhnya.


"Pak, tolong jangan seperti ini! Saya harus lanjut kerja pak, tolong lepasin saya..!!" ujar Nadya terus memberontak.


Namun tenaga Nadya tidak cukup kuat untuk melawan kuatnya dekapan dari Adrian.


Adrian semakin menjadi-jadi dengan menciumi leher jenjang Nadya bahkan memberi tanda kepemilikan disana yang membuat Nadya agak mengerang.


Tangan-tangan nakal Adrian juga terus melancarkan aksinya dengan merabaa-rabaa bagian tubuh Nadya yang masih tertutupi oleh kemeja.


"Kamu milikku Nadya.. Kamu gak akan bisa lepas dari saya, dan selamanya kita akan bersama-sama!" ujar Adrian sambil terus bergeliat menciumi leher milik Nadya bahkan sesekali ia mengecup cepat bibir kenyal Nadya.


Tampak air mata keluar membasahi pipi Nadya, ia benar-benar merasa sedih sekaligus kecewa karena tubuhnya telah dijamah oleh seorang pria yang bukan mahramnya.


Tok Tok Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan aksi yang tengah dilakukan Adrian itu, dia pun reflek melepaskan tubuh Nadya dan mempersilahkan orang tersebut masuk.


"Ya masuk!" ucap Adrian sambil merapihkan kemeja dan juga rambutnya yang agak berantakan.


Nadya pun juga menyeka air matanya serta merapihkan kemejanya yang berantakan akibat ulah Adrian barusan.


...•••...


Sesampainya di gedung, Devano mendapat kabar dari salah seorang security disana kalau Kevin sudah pergi cukup lama menggunakan mobilnya.


Devano pun makin khawatir dengan kondisi asisten pribadinya itu, ia terus mencoba menghubungi nomor teleponnya tapi masih tidak aktif juga.


"Aduh kemana ya kira-kira Kevin? Nomornya juga masih gak aktif, emang Kevin ini sukanya bikin orang cemas melulu..!!" ujar Devano.


"Sabar Van, coba aja sekarang kita tanya langsung ke mereka alamat tempat tinggal si pelaku itu! Jadi kita gak perlu tunggu asisten lu Van," ucap Rafi.


"Oh iya betul lu Fi.." ujar Devano lalu kembali ke depan gedung menemui security yang bertugas disana.


Sementara itu, Rafi menunggu di mobil sambil memainkan ponselnya.. tanpa sengaja ia menemukan berita tentang kecelakaan yang melibatkan mobil sedan putih dengan truk di jalan yang tadi ia lewati.


Rafi terus membaca berita itu sampai habis, ia pun mendapatkan info inisial korban serta plat nomor mobil sedan tersebut.


"B 131 ZZZ.. Inisial korban KS, kok gue jadi curiga kalo orang ini asistennya Devano? Coba deh nanti gue tanya langsung ke Devano.." gumam Rafi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_1


...Si cute Nadya😍...


...#SalamdariBinjai🙏...


__ADS_2