
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 288
...•...
...•...
Jenar masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal serta emosi karena perkataan Arga yang benar-benar stress, ia pun duduk di sofa mendengus kesal sembari mengatur nafasnya untuk coba menenangkan hatinya supaya tidak terbawa emosi.
Nadya yang baru menyelesaikan makan siangnya dibuat terkejut saat melihat ibunya tampak emosi disana, ia pun mendekat untuk coba mencari tahu apa penyebab ibunya sampai seperti itu dan mengapa sang ibu tidak kembali lagi ke meja makan.
"Bu...."
Nadya memanggil ibunya dengan suara pelan serta lembut dan duduk di samping Jenar, sang ibu yang sedang melamun kini tersadar dan menoleh ke arah putrinya yang sudah ada di sampingnya dengan wajah penasaran.
"Ibu kenapa? Kok kayak lagi emosi gitu?" tanya Nadya penasaran dan tampak cemas.
Jenar pun tersenyum melihat kecemasan di wajah putrinya yang sedikit membuatnya bahagia, belum pernah ia melihat Nadya secemas ini sebelumnya apalagi ketika gadis itu belum lupa ingatan seperti sekarang ini.
Tanpa aba-aba Jenar langsung memeluk putrinya dengan erat dan mengusap kedua lengan atas gadis itu dengan lembut, Nadya memang tak mengerti apa penyebab ibunya tiba-tiba memeluk dirinya namun ia diam saja menikmati pelukan itu sekaligus untuk menenangkan hati ibunya.
"Ibu tenang ya, ada aku kok disini! Ibu gak perlu khawatir lagi atau emosi kayak gitu, kan ada Sheila!" ucap Nadya sembari tersenyum.
"Iya sayang, makasih ya nak!" ucap Jenar sangat bahagia mendengar kata-kata itu dari putrinya.
"Oh ya, emangnya ibu kenapa sih? Ibu abis terima telpon dari siapa tadi, kok sampe emosi kayak gini?" tanya Nadya penasaran sekali.
"Ibu telponan sama Shella, sayang!" jawab Jenar.
"Loh, emang apa yang dibilang sama mbak Shella sampe ibu emosi begitu??" tanya Nadya malah semakin terheran-heran penasaran.
"Ibu emosi bukan karena Shella kok, nak!" jawab Jenar tersenyum sambil membelai rambut Nadya.
__ADS_1
"Hah? Jadi maksudnya ibu tuh kenapa bisa sampe emosi kayak tadi, aku kok jadi bingung ya Bu?" ucap Nadya garuk-garuk kepala kebingungan.
"Hahaha, udah gausah bingung! Kan intinya sekarang ibu udah gak emosi..." ucap Jenar.
"Iya sih, tapi kan aku penasaran Bu mau tau penyebab ibu sampe emosi kayak gitu! Aku baru kali ini loh lihat ibu semarah itu, serem tahu apa gara-gara sikap aku tadi ya?" ucap Nadya.
"Ya ampun, bukan dong sayang! Soal itu mah ibu udah maafin kamu kok, ini ada satu hal lagi yang kamu gak perlu tau!" ucap Jenar.
Nadya pun terpaksa diam dan tidak lagi bertanya mengapa ibunya emosi begitu, ia tak mau terlalu memaksa apabila sang ibu juga tidak ingin menceritakan itu padanya karena ia paham soal yang namanya privasi.
"Oh ya, makanan ibu kan belum abis tau!" ucap Nadya.
"Biarin aja, ibu juga udah gak selera makan! Tapi, punya kamu udah diabisin kan?" ucap Jenar.
"Udah dong, Bu!" jawab Nadya tersenyum.
Jenar pun ikut senang melihat putrinya tersenyum ceria seperti itu, ia mengusap-usap puncak kepala Nadya sembari mengecup kening putrinya dengan lembut membuat gadis itu merasa nyaman dan tenang.
"Bu, aku masih penasaran deh...." ucap Nadya.
"Penasaran apa, sayang?" tanya Jenar heran.
"Soal Adrian," jawab Nadya bersemangat.
"Udah, kamu jangan ngomongin soal Adrian lagi ya! Ibu gak mau denger itu, paham?" ucap Jenar.
Nadya terkejut karena ibunya terlihat sangat marah dan tidak suka ketika ia menyebut Adrian disana, sontak Nadya makin penasaran siapa sebenarnya Adrian dan mengapa ibunya sebegitu marahnya bila ia bertanya tentang Adrian.
•
•
Sementara itu, Arga masih di depan gang rumah Jenar bersandar pada badan mobilnya sembari mengusap wajahnya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Jenar.
"Haduh, baru kali ini saya ditampar sama orang lain!" ucap Arga sembari meringis.
Sang asisten yakni Leo yang berada di sampingnya terkekeh melihat ekspresi Arga, ia tidak tahan untuk tertawa karena Arga benar-benar kesakitan dan tampak lucu dengan wajah yang berubah merah akibat tamparan dari Jenar itu.
"Heh, kenapa kamu cengengesan gitu? Apanya emang yang lucu, ha?" ujar Arga.
__ADS_1
"Hmm... gak kok bos, sa-saya cuma keinget artikel lucu yang saya baca di sosmed tadi!" jawab Leo langsung berubah gugup.
"Awas ya, kalo kamu berani ketawain saya! Saya bakal potong gaji kamu 90%...!!" ancam Arga.
"Waduh, iya iya bos saya gak ketawain bos kok!" ucap Leo nampak ketakutan.
Arga pun memalingkan wajahnya dari si asisten itu lalu mengambil ponselnya dari saku celana, ia menghubungi si botak yang merupakan orang suruhannya untuk mencari tahu dimana Devano sekarang atau menanyakan info lainnya.
📞"Halo, kamu masih ngikutin Devano kan?" tanya Arga begitu telponnya tersambung.
📞"Halo bos, duh sorry nih bos! Kita sekarang gak bisa ngikutin Devano lagi, abisnya dia gak ke kantor hari ini! Daritadi kita tungguin di depan kantornya, kagak ada mobil Devano lewat!" ucap si botak.
📞"Haish.... ya makanya kamu cari dia ke tempat lain dong! Ini saya udah ke rumahnya, tapi dia gak ada dan saya juga gak bisa ketemu Shella!" ujar Arga.
📞"Ba-baik, bos! Saya akan cari Devano ke tempat lain, tapi maaf ya bos saya gak bisa janji kalo bisa temuin dia! Soalnya kota ini kan luas pak, jadi susah buat temuin Devano!" ucap si botak.
📞"Aaarrgghh...!!" Arga geram dan langsung menutup telponnya begitu saja.
Arga tampak sangat kesal karena usahanya kali ini gagal untuk lebih dekat dengan Shella dan mengancam Devano, ia mengepalkan tangan serta tubuhnya seketika bergetar menahan emosi di dalam hatinya yang sangat memuncak.
"Bos, kenapa bos?" tanya Leo terheran-heran.
"Gapapa, udah yok kita pergi dari sini!" ucap Arga langsung berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.
"Siap, bos!"
Leo pun bergegas juga masuk ke dalam duduk di kursi kemudi, namun ia bingung harus mengarahkan mobilnya kemana lantaran bosnya itu belum memberitahu mereka ingin pergi kemana sekarang.
"Eee... pak!" ucap Leo menoleh ke belakang.
"Apa?" tanya Arga dengan ketus.
"Eee... maaf nih pak sebelumnya, tapi kita mau pergi kemana ya?" ucap Leo gugup.
"Haish, udah jalan aja dulu!" bentak Arga.
"Ba-baik bos!"
Leo pun menjalankan mobilnya dengan cepat karena takut bosnya akan semakin emosi, ia harus banyak-banyak sabar menghadapi bos seperti Arga yang temperamental.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...