
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 385
...•...
...•...
Perlahan Nadya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ICU menemui Yoga, ia tersenyum ketika dapat kembali melihat tubuh pacarnya yang telah seharian ia cari-cari itu. Nadya pun berhenti begitu sampai di dekat ranjang Yoga dan duduk pada kursi yang tersedia disana, ia menatap wajah Yoga kemudian tersenyum ketika Yoga menoleh.
Yoga membalas senyuman Nadya dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya, ia tak bisa bergerak terlalu banyak dan hanya dapat menggerakkan tengkorak kepalanya saja. Kondisi Yoga saat ini masih belum pulih benar dan tubuhnya belum bisa dipastikan bisa sembuh, karena Yoga terjatuh ke jurang yang dalam dan curam serta tubuhnya banyak tergores atau terbentur benda-benda disana.
"Nadya...." ucap Yoga pelan sembari terus menatap wajah Nadya di sampingnya.
"Iya Yoga sayang, kamu jangan banyak bicara dulu ya! Kata dokter tubuh kamu masih lemah, kamu harus banyak istirahat!" ucap Nadya.
"Nadya, aku minta maaf ya!" ucap Yoga.
"Minta maaf untuk apa Yoga? Kamu gak salah kok sama aku, justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu karena aku gak ikutan nyari kamu di jurang tadi." ucap Nadya.
"Soal itu gapapa kok, aku juga gak pengen kamu terjun langsung ke jurang! Tapi, aku mau minta maaf sama kamu karena aku gak bisa lama lagi temenin kamu di dunia ini sayang! Kamu tolong jangan nangis ya, aku pasti akan selalu ingat sama kamu biarpun dunia kita sudah berbeda!" ucap Yoga menahan tangis yang ingin pecah.
"Hah? Kamu bicara apa sih? Jangan ngelantur deh ah! Kamu bisa sembuh kok sayang!" ucap Nadya.
"Enggak Nadya, aku udah gak kuat lagi! Kamu jaga diri kamu baik-baik ya sayang! Maaf banget, aku udah gak bisa jagain kamu lagi! Terimakasih karena kamu sudah mau hadir di detik-detik terakhir aku, Nadya sayang!" ucap Yoga.
"Gak ada! Kamu gak boleh bicara begitu! Kamu gak boleh pesimis Yoga! Aku bakal lakuin apapun untuk kesembuhan kamu, karena aku gak bisa kehilangan kamu Yoga!" ucap Nadya cemas.
"Nadya, boleh aku minta sesuatu?" tanya Yoga.
Nadya mengangguk pelan dan penasaran apa kiranya yang diminta oleh Yoga saat ini.
"Aku pengen denger kamu bilang kalau kamu cinta sama aku, karena selama kita pacaran kamu gak pernah sama sekali bilang seperti itu ke aku. Sekarang aku mau tau aja, apa kamu beneran cinta sama aku atau enggak?" ucap Yoga.
Nadya terdiam menunduk mendengar permintaan Yoga barusan, ia kembali menyesal karena sudah menjalani hubungan tanpa cinta dengan Yoga.
"Umm, iya Yoga aku bakal bilang itu kok. Aku cinta sama kamu Yoga, sangat-sangat cinta dan sayang sama kamu! Maafin aku Yoga, karena memang awalnya aku terima kamu sebagai pacar hanya karena aku gak enak sama kamu yang udah banyak bantu aku selama ini! Tapi, sekarang ini aku udah benar-benar cinta sama kamu Yoga." ucap Nadya.
Yoga tersenyum dan perlahan menggerakkan tangannya untuk mengelus tangan sang kekasih.
"Makasih sayang! Ucapan kamu sangat-sangat berarti buat aku, semoga kamu bisa terus bahagia dengan laki-laki yang bisa mencintai dan menyayangi kamu seperti aku! Itu ada di diri Adrian, Nadya. Aku harap kalian bisa bersama selamanya!" ucap Yoga.
"Kamu bicara apa sih sayang? Cuma kamu yang aku mau, gak ada yang lain!" ucap Nadya.
"Maaf Nadya! Tapi, aku udah gak kuat lagi. Selamat tinggal, terimakasih sudah menemani aku di hari terakhir aku ini!" ucap Yoga tersenyum.
Nadya menangis sembari menggelengkan kepalanya saat Yoga mengucapkan itu.
"I love you, Nadya...." ucap Yoga pelan dan kemudian memejamkan mata.
"I love you too, Yoga!" ucap Nadya sambil menangis sesenggukan dan memegangi telapak tangan Yoga tanpa sadar kalau pria itu telah terpejam.
__ADS_1
Tiiitttt....
Nadya terkejut dengan suara tersebut, ia melihat ke layar monitor dan sudah menunjukkan garis lurus. Lalu, Nadya pun menatap kekasihnya yang juga telah terpejam dan genggaman tangannya pun terlepas begitu saja setelahnya. Nadya sangat panik dan cemas, ia berteriak-teriak memanggil dokter serta mencoba untuk menyadarkan Yoga.
"Yog, Yoga! Yoga bangun Yoga...!!! Dokter... dokter cepat tolong pacar saya dok...!!!" teriak Nadya.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan suster masuk ke dalam sana memeriksa kondisi Yoga karena suara teriakan dari Nadya. Dokter itu menoleh ke arah Nadya tak lama setelahnya.
"Maaf mbak! Pasien sudah meninggal dunia..." ucap dokter itu dengan nada tidak enak.
Degg...
Nadya terkejut mendengarnya, ia menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan perkataan dokter barusan. Nadya pun histeris dan teriak-teriak disana mengatakan kalau Yoga kekasihnya tidak meninggal dan masih hidup, bahkan sampai ia harus ditenangkan oleh beberapa suster serta Adrian yang masih ada disana agar bisa tenang.
Akhirnya Nadya bisa ditenangkan oleh Adrian dengan pelukan lembutnya, pria itu terus memberi ruang bagi Nadya untuk meluapkan semua kesedihan yang dia rasakan saat ini.
"Aku tau ini berat buat kamu, Nadya. Tapi, semoga kamu bisa kuat menjalani semuanya!" batin Adrian.
•
•
Keesokan harinya, jasad Yoga telah dimakamkan langsung oleh pihak keluarga sehari setelah Yoga dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit di pemakaman umum dekat rumahnya. Semua orang telah pergi dari tempat itu dan hanya menyisakan sosok Nadya bersama Adrian serta Jenar disana, tampaknya Nadya masih belum bisa menerima kepergian Yoga yang sangat mendadak itu.
Jenar berusaha menenangkan putrinya agar tidak terus-terusan menangis seperti itu, ia memeluk Nadya dan mengusap punggungnya membiarkan gadis itu mengeluarkan air mata di bahunya. Jenar memang juga sangat sedih dan tak menyangka dengan apa yang terjadi pada Yoga, ia baru saja senang karena Nadya sudah memiliki seorang pacar dan sekarang justru Yoga malah pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
Adrian yang masih ada disana juga tampak sedih dan tak tega pada Nadya, ia hanya bisa menutup mulutnya menahan air mata agar tidak menetes setelah melihat Nadya sangat-sangat sedih. Adrian juga masih penasaran dengan kalimat Yoga yang masih belum terselesaikan semalam, yakni tentang Damar alias sepupu Nadya tersebut.
"Gue sebenernya masih penasaran banget sama kata-kata Yoga semalam, karena ini terkait keselamatan Nadya. Apalagi Damar itu tinggal satu rumah dengan Nadya, dia pasti bisa ngelakuin apa aja yang bisa membahayakan Nadya! Gue harus cari tau info ini lebih lanjut!" gumam Adrian dalam hati.
Adrian pun berjongkok di dekat Nadya untuk pamit kepada gadis yang tengah menangis disana, ia juga meminta pada Jenar serta Nadya untuk segera pulang bersama dirinya. Ya karena sekarang juga sudah siang dan matahari cukup terik, sehingga Adrian tak mau jika Nadya ataupun Jenar nantinya akan kepanasan kalau tak segera pulang.
Nadya pun mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Adrian dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau kamu emang mau pulang, yaudah kamu duluan aja sana! Aku masih mau disini temenin Yoga, aku belum mau pulang!" ucap Nadya tegas.
"Sheila, sayang! Yang dibilang nak Rian itu benar, kamu harus pulang sekarang ya? Kita gak bisa terus ada disini dan menangis, pasti Yoga juga sulit buat tenang di alam sana kalau kita enggak bisa ikhlasin kepergian dia! Kamu cinta kan sama Yoga, sayang?" ucap Jenar sembari mengelus punggung putrinya.
"Iya Bu..." jawab Nadya sambil mengangguk.
"Nah, kalo gitu kamu harus bisa ikhlasin kepergian Yoga dan jangan menangis terus seperti ini! Karena itu cuma bikin Yoga jadi berat buat tinggalin dunia, emang kamu mau itu terjadi?" ucap Jenar.
"Enggak Bu," jawab Nadya menggeleng.
"Yaudah, hapus air mata kamu ya sayang! Kita pergi dulu dari sini sekarang, nanti kan kita bisa datang ke makam Yoga lagi!" ucap Jenar sembari memegang wajah Nadya dan menyeka air mata yang ada disana.
"Iya Bu, ibu benar." ucap Nadya. "Yoga, aku sama ibu pergi dulu ya? Semoga kamu tenang disana! Aku disini akan selalu doakan kamu!" sambungnya sembari menatap makam Yoga yang dipenuhi bunga-bunga itu.
Setelahnya, Nadya pun berdiri dengan bantuan dari ibunya lalu bersama-sama dengan Adrian mereka berjalan keluar dari pemakaman tersebut. Sebenarnya perasaan Nadya sangat berat untuk meninggalkan tempat itu, karena ia masih belum bisa terima dengan kepergian Yoga yang terlalu mendadak dan ia sama sekali tak menyangka itu.
Nadya dan Jenar pun diantar pulang oleh Adrian dengan mobilnya, mereka masih saling berpelukan saat di dalam mobil karena Nadya juga belum bisa tenang dan masih terus menangis. Ya walau saat ini Nadya tidak terlalu histeris seperti sebelumnya yang bahkan sampai tidak tidur semalaman, namun tetap saja tangisan itu pasti akan membuat matanya semakin membengkak.
Adrian yang menyetir saja sampai terus menoleh ke belakang memastikan kondisi Nadya, ia tidak tega melihat gadis itu terus menangis sejak semalam dan tidak berhenti-henti. Adrian memang paham kalau akan sulit bagi Nadya untuk bisa mengikhlaskan kepergian orang yang disayanginya, namun kalau seperti ini terus pasti akan membuat Nadya sakit.
"Nadya terpukul banget kehilangan Yoga, andai aja waktu bisa diputar, biar supaya gue aja yang meninggal dan bukan Yoga!" batin Adrian sembari menahan air mata yang ingin tumpah.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Shella merasa galau sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke Jakarta untuk menemui klien dari Korea. Ia pun tampak uring-uringan di kasur dan merasa bosan karena tidak ada teman disana, ya biasanya pasti selalu ada Devano yang menemani dirinya saat sedang ingin rebahan di kamar seperti sekarang ini.
Namun, saat ini semua itu tak mungkin terjadi lantaran Devano sudah pergi ke kota beberapa waktu lalu untuk datang ke kantor. Shella pun hanya sendirian karena ia tidak enak minta ditemani oleh Silvi atau Eriska yang sedang sibuk, Vonny alias sepupu Devano juga masih sekolah dan ia tidak bisa meminta padanya untuk menemaninya.
"Haish, bete banget sih! Mana mas Vano juga belum kasih kabar apa-apa ke aku, dia lupa atau gimana sih? Katanya tiap menit mau kirim pesan buat aku, tapi sampai sekarang gak ada tuh?!" ujarnya jengkel.
Berkali-kali Shella terus mengecek ponselnya untuk melihat apakah ada pesan dari suaminya atau tidak, namun ternyata harapan ia tak terpenuhi lantaran suaminya belum mengirimi pesan apa-apa. Padahal sedari tadi Shella sudah menunggu pesan dari suaminya tersebut, ya akhirnya ia pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan merasa jengkel.
"Duh, mas Vano kemana sih? Kok ya gak mau kasih kabar ke aku gitu loh?" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba saja Shella merasakan ada tendangan kecil dari dalam perutnya, ya ia pun langsung memegang perutnya itu sambil tersenyum dan mulai berbicara pada calon bayi yang ada di dalamnya.
"Hey, kamu pasti kangen juga ya sama ayah? Sabar ya sayang! Ibu sendiri juga gak tau nih, ayah kamu itu lagi ngapain sekarang? Soalnya ayah gak kirim sms sih ke ibu, kan nyebelin ya sayang? Bilangnya mau tiap menit kirim pesan, tapi sampe sekarang satupun gak ada tuh yang masuk ke hp ibu!" ucap Shella.
TOK TOK TOK...
Tak lama kemudian, ada suara ketukan yang muncul dari luar dan membuat Shella sedikit terkejut karena ia sedang asyik bicara dengan bayinya.
"Siapa...??" teriak Shella bertanya.
"Ini mama sayang, boleh kan mama masuk? Mama ada bawain cemilan nih buat kamu, mama sama tante Eriska tadi buatin crepe loh buat kamu sayang! Mau cobain enggak?" ucap Silvi dari luar.
"Eh mama, masuk aja mah pintunya gak dikunci kok!" ucap Shella meminta mamanya langsung masuk.
Ceklek....
Silvi pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar itu dan berjalan mendekat ke arah Shella sambil membawa piring berisi crepe alias cemilan yang sengaja ia bawa untuk Shella, ia tampak heran melihat menantunya itu senyum-senyum sendiri sambil mengusap perutnya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Silvi heran.
"Eee ini mah, tadi anak aku nendang pas aku ngomongin ayahnya." jawab Shella.
"Oh ya? Wah berarti tandanya dia ngerasain juga apa yang kamu rasain sayang!" ucap Silvi.
"Ehehe iya mah..." ucap Shella tersenyum.
"Nah, ini kamu makan dulu ya! Supaya kamu gak kekurangan energi, nanti sore baru deh kita lanjut jalan-jalan lagi menikmati pemandangan disini!" ucap Silvi memberikan cemilan itu pada Shella.
"Makasih ya mah! Pake repot-repot segala, aku kan jadi gak enak sama mama." ucap Shella.
"Gapapa sayang, mama kan juga gak mau kalau calon cucu mama ini kenapa-napa apalagi kekurangan gizi!" ucap Silvi tersenyum.
"Iya mah," ucap Shella.
"Kamu ini lagi kenapa sih sayang? Kok kayaknya daritadi itu lemes banget?" tanya Silvi.
"Eee sebenarnya aku kangen sama mas Vano, mah. Abisnya mas Vano belum kasih kabar juga ke aku sampe sekarang, kan aku jadi khawatir takut terjadi sesuatu sama mas Vano!" jawab Shella.
"Oalah, pantas aja bayi kamu nendang tadi! Devano kan baru pergi satu jam yang lalu sayang, mungkin dia masih di jalan kali!" ucap Silvi.
Shella tersenyum malu dan menundukkan kepalanya sembari memainkan rambutnya, entah mengapa ia bisa serindu itu pada suaminya saat ini yang padahal baru sekitar dua jam lalu dia pergi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...Guys, kan mau puasa nih, maafin petrik ya kalo ada salah, oke oke? Nanti petrik juga akan maafin kalian kok biarpun kesalahan kalian banyak, hehe gak kok canda guys jangan marah😇😁...
...❤️❤️❤️...