Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Kepergok istri


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 193


...•...


...•...


Setelah Shella pergi dari rumah sakit tempat Nadya dirawat, Yoga nekat datang kesana karena sudah terlalu rindu dengan Nadya.


Pria itu mengendap-endap memastikan lebih dulu apakah disana ada Adrian atau tidak, dan beruntungnya ia karena di depan ruang ICU sedang tidak ada Adrian.


"Huh syukurlah gak ada Adrian disana, gue berarti bisa temuin Nadya tanpa harus bersitegang dengan Adrian..." gumamnya.


Karena merasa aman, Yoga pun melangkah maju ke dekat ruang ICU.... tampak dari jauh masih ada Lestari bersama Jenar yang menunggu di tempat duduk.


"Permisi tante," ucap Yoga saat sampai di depan ruang ICU coba bersikap sopan pada kedua ibu dari Nadya itu.


Sontak Lestari serta Jenar saling menatap kebingungan karena mereka tak mengenal pria yang baru datang itu, sementara bi Irah coba buka mulut mengenalkan Yoga pada mereka.


"Maaf Bu, ini itu temannya non Nadya! Waktu ibu lagi keluar kota, aden Yoga ini sempat datang ke rumah menemani non Nadya yang lagi bete bu..." ucap bi Irah.


"Ohh jadi kamu temannya Nadya?" tanya Lestari memastikan pada Yoga.


"Iya benar tante, nama saya Yoga! Dan saya kesini mau cek kondisi Nadya tan," jawab Yoga tersenyum lalu mencium punggung tangan Lestari.


"Salam kenal Yoga, saya Lestari mama angkat Nadya! Dan ini bu Jenar ibu kandungnya Nadya alias Sheila...." ucap Lestari mengenalkan Jenar kepada Yoga.


"Ohh iya tante," ucap Yoga kemudian mencium tangan Jenar juga selaku ibu kandung Nadya.


"Kamu ini teman Nadya dimana ya kalo boleh tau? Soalnya Nadya belum pernah cerita ke saya tentang kamu, dia juga jarang sekali punya teman pria...." tanya Lestari penasaran.


"Eee sebenarnya saya juga baru kenal sama Nadya tante, kebetulan waktu itu saya menolong Nadya saat dia hendak dijahati oleh seseorang di pinggir jalan..." jawab Yoga.

__ADS_1


"Oh ya ampun, terimakasih nak Yoga kamu sudah menolong anak tante! Yasudah kalau kamu mau lihat Nadya, silahkan saja lewat sana!" ucap Lestari.


"Iya tante makasih, permisi..." ucap Yoga kemudian jalan membungkuk melewati tiga ibu-ibu arisan itu menuju ke arah kaca ruangan tersebut untuk melihat Nadya.


Sesampainya di depan kaca itu, Yoga langsung tersenyum tipis menatap Nadya dari balik kaca tersebut.


"Akhirnya aku bisa lihat kamu lagi Nadya, walau cuma dari balik kaca ini tapi itu juga udah bikin aku senang kok Nadya! Semoga secepatnya kamu bisa sadar ya cantik! Aku rindu sama senyuman manis kamu...." gumam Yoga sedikit menitikkan air mata memandangi Nadya.


Disaat Yoga sedang menangis, tiba-tiba Jenar datang menepuk pundaknya... wanita itu sepertinya tau betul kalau Yoga sangat peduli dengan putri kandungnya itu.


"Nak Yoga, Nadya pasti senang sekali punya teman seperti kamu yang sangat peduli sama dia!" ucap Jenar yang berada di samping Yoga.


Yoga menoleh ke arah Jenar lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, ia tersenyum lalu membuka mulutnya hendak berbicara.


"Saya juga senang tante bisa bertemu dengan wanita seperti Nadya, dia selain cantik juga memiliki sifat yang baik dan hati yang lembut! Sayangnya wanita sebaik Nadya masih sering disakiti oleh orang-orang tante, padahal seharusnya dia berhak hidup bahagia!" ucap Yoga tersenyum tipis.


Kata-kata dari Yoga itu membuat hati Jenar tersentak, ia jadi merasa bersalah karena sudah meninggalkan Nadya di panti asuhan saat dia masih kecil dan juga sempat menyakiti perasaan wanita itu.


"Benar yang dikatakan nak Yoga, harusnya Sheila berhak mendapatkan kebahagiaan seperti orang-orang! Saya memang bukan ibu yang baik untuk Sheila, mungkin Sheila akan lebih bisa bahagia jika bersama keluarga barunya dan ditemani oleh nak Yoga!" gumam Jenar merasa bersedih.


...•••...


"Duh mas Vano kira-kira lagi apa ya? Sampai-sampai dia gak angkat telpon dari aku, apa mungkin mas Vano udah gak peduli lagi sama aku sekarang??" gumam Shella yang hatinya terus bertanya-tanya mengenai suaminya.


Shella benar-benar panik dan mencemaskan keadaan suaminya karena masih tidak bisa dihubungi, ia meminta supir taksinya untuk mempercepat laju mobilnya agar mereka bisa cepat sampai juga di kantor suaminya.


"Eee pak, tolong lebih cepat ya! Saya ada urusan penting nih!" ucap Shella.


"Waduh susah mbak, ini jalannya rame banget mepet-mepet lagi mobilnya jadi gak bisa kalo ngebut mbak!" ucap supir itu.


"Yahhh tapi saya harus cepet sampe ke lokasi tujuan pak, apa gak ada jalan lain pak supaya bisa lebih cepat sampai disana?" tanya Shella.


"Waduh saya bukan orang sini sih mbak, jadi saya kurang tau jalan jalan di sekitar sini! Tapi tenang aja mbak kita bakal sampai kok sebentar lagi!" ucap supirnya.


"Yaudah baik pak, tolong ya soalnya saya ada urusan penting nih..." ujar Shella.


"Iya siap mbak!" ucap supir itu.


Shella tampak semakin cemas karena kondisi jalan yang macet dan sulit bagi taksinya untuk bisa melaju di atas 30 km per jam.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, Devano yang gagal menghubungi tukang urut akhirnya terpaksa memeriksa kondisi telapak kaki Novi sendiri.


Ia melepas heels yang dikenakan sekretarisnya itu lalu meminta izin pada Novi untuk menyentuh kakinya.


"Eee Nov, boleh saya aja yang coba periksa kaki kamu? Soalnya ini tukang urut langganan saya tidak bisa dihubungi, kebetulan kakek saya dulu itu tukang urut dan saya sempat diajarkan beberapa ilmu tentang urut sama beliau! Jadi saya ngerti kok dikit-dikit...." ucap Devano.


"Udah deh pak gausah, saya jadi gak enak kalo bapak sentuh kaki saya! Kan gak sopan nanti dikiranya saya sekretaris yang jahat!" ucap Novi menolak Devano membantunya.


"Kamu gak perlu mikir begitu Novi, saya ini sudah anggap kamu seperti saudara saya sendiri jadi kamu gausah khawatir ya! Udah sini biar saya cek kaki kamu...." ucap Devano kemudian perlahan mulai memegang kaki Novi.


Gadis itu meringis menahan sakit saat Devano mengurut kakinya yang terkilir, ia juga merasa tidak enak karena sudah mengkhianati bosnya yang bahkan sangat peduli padanya.


"Eee pak...." ucap Novi menatap wajah Devano.


"Ya, kenapa Nov? Sakit ya? Kamu tenang aja ini sedikit lagi juga bakal sembuh kok, kamu tahan ya rasa sakitnya!" ujar Devano.


"Awh, awhh...." rintih Novi kesakitan.


"Nah udah selesai, sebentar lagi kaki kamu pasti bisa sembuh seperti semula! Tapi untuk sekarang ini kamu belum bisa jalan, jadi saya antar aja ya kamu pulang!" ucap Devano.


"Eee gausah deh pak, saya jadi gak enak ngerepotin bapak terus...." ucap Novi.


"Gapapa Nov, udah yuk saya gendong aja kamu biar lebih cepat!" ucap Devano memaksa Novi untuk mau pulang bersamanya.


Novi terus berusaha menolak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, akan tetapi Devano tetap kekeuh lalu langsung menggendong tubuh Novi ala bridal style.


"Pak, turunin saya! Nanti kalau karyawan disini mikirin yang enggak-enggak gimana?" ujar Novi cemas minta diturunin.


"Gak mungkin!" ucap Devano singkat lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Ceklek.... pintu itu malah terbuka dari luar, tentu saja hal tersebut membuat Devano kaget begitu juga dengan Novi.


"Mas Vano?" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Shella, ia telah sampai disana dan melihat suaminya tengah menggendong sang sekretaris setianya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2