Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Sudah 5 bulan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 371


...•...


...•...


Shella terbangun di pagi hari yang cerah karena sinar matahari menembus kamarnya, ia menoleh ke arah samping dan ternyata suaminya masih tertidur pulas memunggunginya. Bahkan Shella masih dapat mendengar suara dengkuran sang suami dari sana, ia pun tersenyum sembari menggelengkan kepala mendengarnya karena tak biasanya Devano mendengkur sampai seperti itu.


Shella pun bangkit dari tidurnya dan terduduk di atas ranjang itu, ia menguap sembari merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot tubuhnya sehabis tertidur pulas semalaman. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu perlahan menapakkan kakinya ke lantai dan berdiri tegak masih sambil menguap seperti orang bangun tidur pada biasanya.


Disaat Shella baru hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi, tiba-tiba saja Devano memeluk pinggangnya dari belakang dan membuat Shella tidak bisa bergerak pergi dari sana.


"Hayo, mau kemana kamu honey? Bisa-bisanya kamu tinggalin aku di ranjang sendirian, istri macam apa kamu?!" ujar Devano.


"Mas, ih bikin aku kaget aja deh!" ujar Shella.


"Hahaha..." Devano tertawa sembari melepaskan pelukannya dan menyibakkan selimut dari tubuhnya.


Devano pun ikut menapakkan kaki-kakinya di atas lantai, namun ia masih terduduk di pinggir ranjang dan mendongak menatap wajah istrinya sambil tersenyum renyah seperti pria aneh.


"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Shella heran.


"Gapapa. Aku cuma seneng aja, pagi ini kamu cantik banget, honey!" jawab Devano sembari menarik pinggang Shella dan mencium perutnya yang masih tertutupi piyama merah muda itu.


"Ohh, jadi pagi ini aja? Pagi kemarin-kemarin itu enggak cantik, ya?" ujar Shella.


"Ya gak gitu lah, honey! Maksud aku pagi ini kamu cantiknya beda dari sebelumnya, jadi lebih kayak gimana gitu di mata aku!" ucap Devano.


"Halah!" cibir Shella.


"Hahaha, udah lah jangan digituin bibirnya! Nanti aku lumatt baru tau rasa!" ujar Devano.


"Ish, dasar mesum!" ujar Shella.


Devano pun tertawa saja sembari terus menciumi perut Shella yang sudah agak membesar, ya usia kandungannya saat ini sudah memasuki trimester kedua yang membuat perut Shella mulai membesar dibanding sebelumnya.


Namun, bagi Devano itu justru membuatnya nyaman untuk memeluk dan membenamkan wajahnya disana sembari menciuminya. Devano juga sudah makin tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya di dunia ini, walau ia tahu masih butuh berbulan-bulan untuk menunggu momen tersebut.


"Mas, ini kan udah masuk bulan kelima kehamilan aku. Apa kamu masih gak mau kerja gitu? Kan udah lama juga Adrian itu Bimo itu enggak muncul, bisa jadi mereka udah gak pengen ngambil aset perusahaan kamu." ucap Shella.


"Hey! Honey, aku gak perlu pergi ke luar rumah buat kerja. Kan ada Rafael sama Novi yang bisa urus semuanya, jadi aku tinggal duduk santai aja disini nunggu laporan dari mereka. Itulah gunanya bos besar, sayangku!" ucap Devano sambil berdiri dari duduknya dan membelai rambut sang istri.


"Huft, ya tapi seenggaknya kamu ngapain kek gitu! Aku malas lihatnya, setiap hari pasti kamu cuma tidur-tidur gak jelas main game, atau kadang-kadang nonton tv sambil ngemil." ujar Shella.


"Kok kamu gitu sih? Aku ini suami kamu loh, harusnya kamu gak boleh bilang begitu sama aku! Emang kamu mau, kalau aku marah sama kamu? Mau kamu aku hukum kamu nanti?" ujar Devano.


"Iya iya, aku minta maaf!" ucap Shella cemberut.


Devano pun mengecup wajah Shella sembari membelai rambut istrinya itu, tanpa memalingkan pandangannya dari wajah sang istri. Devano memberikan tatapan tajamnya sehingga membuat Shella ketakutan dan memalingkan wajahnya.




Singkat cerita, saat ini Shella dan Devano telah sama-sama menyelesaikan mandi mereka. Ya tapi bedanya, Shella sudah berganti pakaian dan tengah mengeringkan rambutnya di depan kaca, sedangkan Devano itu baru keluar dari dalam kamar mandi dan masih membelai handuk yang melilit di pinggangnya, ia hanya senyum-senyum saja sambil melirik ke arah Shella dan berjalan menghampirinya.


Devano pun langsung memeluk tubuh Shella dari belakang dan melingkarkan tangannya di leher sang istri yang wangi itu, ia menghirup aroma harum dari leher Shella yang tak bisa ia lupakan begitu saja karena selalu membuat hidungnya merasa senang, terlebih lagi saat istrinya itu baru selesai mandi seperti sekarang dan harum khas sabunnya tercium.


"Oh ya, aku udah beberapa bulan ini gak dapat jatah dari kamu. Rasanya Daniel di bawah sana udah kangen nih sama punya kamu, apa kamu gak mau gitu main-main sama aku lagi?" bisik Devano berdesis di telinga sang istri.


Shella yang tengah asyik duduk di depan kaca pun merasa terkejut mendapati tubuhnya didekap begitu saja oleh suaminya, namun ia hanya menghela nafas panjang tanpa mampu memarahi suaminya karena pastinya nanti ia sendiri yang akan dimarahi oleh suaminya itu sepeti tadi ketika mereka baru bangun tidur dan ia salah melontarkan kata-kata.

__ADS_1


"Gimana honey? Kamu gak kasihan sama Daniel di bawah sana, apa?" tanya Devano coba menggoda Shella dengan menghembuskan nafas di lehernya.


"Mas, stop dulu! Aku lagi mau keringin rambut, kan kata kamu hari ini kita pergi ke rumah saudara kamu. Kalau kamu mau minta jatah, nanti kita gak bisa kesana dong?" ucap Shella.


"Iya juga ya, kok aku bisa lupa ya kalo hari ini mau ajak kamu ke rumah saudara aku?" ujar Devano.


"Haish, makanya kamu tuh jangan mikirin begituan mulu! Kan jadinya otak kamu gampang lupa, padahal kamu sendiri kemarin yang bilang ke aku. Aku aja ingat, masa kamu yang ngajak sendiri malah lupa sih?" ucap Shella.


"Ahaha, ya maklumlah kan otak aku udah dipenuhi sama wajah kamu, honey!" ujar Devano.


"Ish, gombal! Udah sana pake baju! Abis itu kita turun ke bawah dan sarapan, baru deh kita sama-sama pergi ke rumah saudara kamu." ucap Shella.


"Iya honey..." ucap Devano manja.


Cupp...


Devano pun mengecup wajah serta leher Shella yang harum itu berkali-kali, sebenarnya ia sangat ingin bermain dengan istrinya itu pagi ini. Namun, ia sudah terlanjur janji pada pamannya ingin mampir ke rumahnya disana dan tak mungkin ia ingkari karena takut membuat pamannya kecewa.


"Yaudah, aku pake baju dulu ya? Eh tapi, kamu gak mau pakein aku baju apa?" goda Devano.


"Mas, apaan sih? Jangan mulai deh ah! Aku lagi serius ini, emang kamu mau kalau nanti aku kelihatan jelek di depan saudara kamu? Pasti kamu bakal malu kan? Secara kamu itu keluarga ternama, jadi istri kamu juga harus cantik!" ucap Shella.


"Hahaha, kamu gak perlu makeup juga udah cantik kok honey! Karena kamu kan cantiknya alami, natural tanpa bahan pengawet!" ucap Devano.


"Ish, gombal mulu! Udah ah sana sana jangan ganggu aku!" ujar Shella.


"Iya iya..." Devano pun mengalah dan menjauh dari Shella untuk memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh sang istri sedari tadi.


...•••...


Disisi lain, Nadya yang kini sudah mempunyai kerjaan tetap pun pamit pada ibunya untuk pergi ke kantor di pagi hari yang cerah ini. Ya seperti biasa tentunya Nadya sudah dijemput oleh Yoga di depan rumah, dan mereka akan berangkat bersama-sama menuju kantor tempat Nadya bekerja.


Memang saat ini Nadya juga belum mengetahui siapa bos atau pemilik kantor itu, ya karena orangnya sangat misterius dan sampai sekarang Nadya belum bertemu dengannya, padahal Nadya adalah sekretaris disana yang seharusnya dapat bertemu atau sekedar tahu siapa bosnya.


"Bu, aku pamit berangkat kerja dulu, ya? Kebetulan ini udah mau siang, aku telat telat." ucap Nadya menghampiri ibunya di sofa lalu mencium tangan sang ibu untuk pamitan.


"Eh sayang, yaudah iya kamu berangkat gih sebelum telat! Nanti kamu bisa dimarahin sama bos kamu loh!" ucap Jenar.


"Enggak tahu, ibu gak pernah nanya." jawab Jenar.


"Ohh, terus sekarang dia kemana Bu?" tanya Nadya.


"Tadi sih katanya mau keluar, mungkin lagi mau bahas soal kerjaan. Tapi, ya ibu enggak tahu dan gak mau ikut campur juga! Nanti disangkanya ibu ini kepo lagi, biar aja suka-suka dia mau kemana juga!" jawab Jenar sambil tersenyum.


"Iya sih, Bu. Yaudah, aku berangkat ya? Assalamualaikum, Bu!" ucap Nadya.


"Waalaikumsallam, sayang!" jawab Jenar.


Nadya pun berjalan keluar dari rumahnya meninggalkan sang ibu dan menemui Yoga yang sudah menunggu di luar, ya Yoga memang memilih menunggu saja di teras walau Jenar sudah berulang kali memintanya untuk masuk dan menunggu Nadya di dalam, namun Yoga tidak mau.


"Yog, aku udah siap!" ucap Nadya tersenyum sambil menepuk bahu kekasihnya.


"Eh kesayangan aku, cantik amat sih kamu!" ucap Yoga memuji kecantikan gadisnya.


"Masa sih?" tanya Nadya.


"Ya iya dong, sayang! Kamu cantik banget! Setiap hari juga itu cantik, gak ada obatnya!" jawab Yoga.


"Ah kamu bisa aja!" ujar Nadya tersipu.


Yoga pun bangkit setelah menghabiskan kopi yang dibuatkan oleh bik Yani untuknya, ia berdiri tepat di hadapan gadisnya lalu mengusap rambut Nadya dengan lembut. Senyuman terukir di wajahnya saat menatap wajah cantik milik Nadya dari jarak dekat, ia pun juga mendaratkan kecupan pada pipi mungil sang gadis yang merupakan pacarnya.


"Udah, yuk berangkat! Aku gak mau telat, aku kan baru kerja satu Minggu." ucap Nadya menggandeng tangan kekasihnya itu.


"Iya iya, tenang aja! Selama aku yang antar, kamu gak mungkin bisa telat kok!" ucap Yoga.


"Iya, soalnya kamu bawa mobilnya ngebut banget! Aku aja setiap pagi hampir jantungan gara-gara cara nyetir kamu yang bikin aku deg-degan, tapi gapapa sih jadi aku gak perlu dimarahin sama bos aku." ucap Nadya sambil tersenyum.


"Oh ya, kamu udah tahu siapa bos kamu?" tanya Yoga.

__ADS_1


"Umm, belum." jawab Nadya geleng-geleng.


"Ohh, misterius banget ya? Biasanya kan begitu masuk kerja, kita juga udah bisa tau siapa bosnya. Eh ini kamu udah seminggu lebih, tapi masih belum tahu atau ketemu juga sama bos kamu." ujar Yoga.


"Entahlah, aku juga bingung." ucap Nadya.


Setelahnya, mereka pun melangkah masuk ke dalam mobil dan mulai berangkat menuju kantor Nadya.




Saat di dalam perjalanan, Yoga terus melirik ke arah Nadya dan Nadya pun sebaliknya juga berbalik melirik Yoga sambil tersenyum tipis. Kelakuan mereka itu seperti anak muda yang baru jatuh cinta, padahal hubungan mereka sudah berjalan lebih dari lima bulan saat ini.


Tiba-tiba saja, terlintas dalam pikiran Yoga mengenai Adrian yang menghilang secara mendadak. Mereka tidak lagi mendengar kabar mengenai pria tersebut sejak terakhir kali bertemu dengannya waktu itu, ya tentu hal ini sangat aneh bagi Yoga karena Adrian tak mungkin hilang begitu saja.


"Sayang!" ucap Yoga memanggil gadisnya.


"Ya?" Nadya terkejut dan menoleh penasaran.


"Kamu heran gak sih? Kenapa Adrian bisa tiba-tiba ngilang kayak gini? Udah lima bulan lebih loh dia gak kelihatan nongol lagi, padahal katanya dia mau berusaha buat deketin kamu kan?" tanya Yoga.


"Umm, iya sih aku juga heran. Tapi, menurut aku itu bagus karena kita jadi bisa tenang!" jawab Nadya.


"Ya iya bener juga sih. Tapi, aku ngerasa ada yang gak beres aja gitu! Aku takut Adrian lagi rencanakan sesuatu buat rebut kamu dari aku, kan kamu tau sendiri Adrian orangnya kayak gimana!" ujar Yoga.


"Udah lah, kamu gausah mikir yang enggak-enggak! Kan itu semua belum tentu terjadi," ucap Nadya.


Nadya pun tersenyum memandang wajah Yoga sembari mengelus punggung tangan Yoga untuk menenangkan hati pria tersebut, walau suasana hatinya juga jadi tak karuan setelah Yoga mengatakan itu kepadanya. Nadya juga heran mengapa Adrian bisa menghilang begitu saja darinya, padahal terakhir kali mereka bertemu pria itu mengatakan jika dia tak akan menyerah.


"Yoga bener juga, aku jadi ikut kepikiran sama Adrian. Bisa aja dia lagi rencanakan sesuatu di luar sana, buat hancurin hubungan aku dan Yoga!" batin Nadya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai tepat di depan halaman kantor Nadya. Ya tentunya gadis itu langsung saja pamit pada kekasihnya untuk segera turun bekerja, karena sekarang ini sudah mepet waktu kerja dan ia hampir terlambat sampai ke tempatnya bekerja.


"Yog, aku turun ya?" ucap Nadya.


"Iya sayang, hati-hati kamu! Nanti sore aku jemput lagi disini, ya?" ucap Yoga.


"Iya, makasih ya!" ucap Nadya.


Cupp...


Nadya mendekat dan mengecup pipi Yoga dengan lembut lalu tersenyum sembari menjauh, hal itu membuat Yoga gemas dan langsung saja menyerang Nadya dengan bertubi-tubi kecupan pada area wajahnya.


Namun, tindakan itu terhenti lantaran mereka sama-sama melihat seorang pria berjas rapih turun dari mobil pribadi di depan mereka. Pria tersebut tampak berjalan memasuki area kantor dan banyak sekali pegawai yang menyambutnya dan bersikap hormat padanya, itu pun membuat Nadya serta Yoga kebingungan dan penasaran siapa dia.


"Sayang, apa mungkin orang itu bos kamu?" tanya Yoga terheran-heran.


"Eee aku juga gak tahu sih, yaudah ya aku turun dulu?" ucap Nadya.


"Iya iya...."


Nadya pun turun dari mobil setelah berpamitan dengan Yoga dan melambaikan tangan ke arahnya, ia langsung bergerak cepat menuju kantor karena takut telat dan bisa terkena sp.


"Pagi Bu Nadya!" sapa seorang satpam disana.


"Pagi..." balas Nadya.


Tiba-tiba ada seorang pria yang merupakan karyawan disana menghampiri Nadya.


"Nah lu disini, Nad. Buruan deh masuk ke dalam! Itu, bos besar mau ketemu sama lu!" ucapnya.


"Hah?"


Nadya pun terkejut bukan main mendengarnya.


"Jadi benar, yang tadi aku lihat itu bos aku?" gumam Nadya di dalam hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2