Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Sampai di rumah paman


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 375


...•...


...•...


Shella dan Devano kini telah sampai di sebuah tempat makan yang ada disana, ya mereka pun menemui Silvi serta Tama yang memang sudah berada disana lebih dulu. Devano terus merangkul dan mengecup kening istrinya untuk membuat Shella bisa lebih tenang, tentu ia tak mau jika Shella masih menangis dan membuat orangtuanya curiga nanti.


Keduanya pun langsung mendekati Silvi serta Tama yang sedang makan di salah satu meja disana, walau Devano masih agak ragu karena Shella lebih sering diam saat ini bahkan tanpa ekspresi. Devano dan istrinya itu berhenti melangkah ketika mereka sampai tepat di depan meja makan tempat Silvi serta Tama berada, mereka pun menyapa kedua orang tua tersebut sambil senyum-senyum.


"Mah, pah. Aku cariin kemana-mana ternyata malah makan disini, aku sampe heran loh." ucap Devano.


"Ah akhirnya kalian datang, sini makan sama kita gabung! Ini kan udah waktunya makan siang juga, jadi kalian terutama kamu Shella harus banyak makan ya gak boleh telat!" ucap Silvi.


"Iya mah..." ucap Shella singkat.


"Loh loh, mata kamu kok sembab gitu sayang? Kamu abis nangis ya?" tanya Silvi penasaran saat melihat mata menantunya yang ada di depannya itu.


"Oh iya ya, Vano kamu apakan istri kamu ini?" sahut Tama mencurigai Devano yang sudah menyebabkan Shella sampai menangis seperti itu.


"Hah? Kok jadi aku sih, pah? Aku gak lakuin apa-apa kok, Shella ini gak nangis. Dia cuma kelilipan tadi pas lagi foto-foto, disana kan banyak debu. Iya kan, honey?" jawab Devano.


"Eee iya pah, mah bener itu." ucap Shella.


"Kamu gausah bohong, sayang! Mama tau kalau kamu itu abis nangis, udah cerita aja sama mama! Ada apa sebenarnya antara kamu dan Devano? Kalau emang Devano tadi apa-apain kamu, yaudah kamu cerita aja ayo sama mama!" ucap Silvi.


"Eee gak ada kok, mah. Mas Vano tadi cuma gak sengaja aja ngebentak aku pas mama sama papa gak ada di mobil, tapi karena aku lagi gampang sensi jadinya aku nangis deh." jawab Shella menjelaskan kepada mama mertuanya itu.


Devano tampak geleng-geleng kepala sembari menepuk jidatnya karena perkataan Shella barusan.


"Ohh, jadi kamu bentak Shella, Vano? Berani banget ya kamu bentak menanti kesayangan mama ini, emangnya kamu mau mama kasih hukuman ha? Shella ini lagi hamil loh, bisa-bisanya kamu malah bentak-bentak dia begitu! Kamu mau nanti anak di dalam kandungan Shella itu kenapa-kenapa, ha?" ujar Silvi emosi dan langsung berdiri dari duduknya.


"Iya Vano, harusnya kamu gak boleh kayak gitu! Shella kan lagi hamil, wanita hamil itu perasaannya sensitif dan gampang tersinggung." sahut Tama.


"Pah, mah. Jangan marahin mas Vano dong! Ini bukan murni kesalahan mas Vano aja, tapi karena aku juga yang gak mau diajak pergi sama mas Vano pas di tempat tadi." ucap Shella.


"Duh sayang, kamu itu baik banget sih! Kamu selalu aja belain suami kamu ini, padahal dia udah sering galak dan ngebentak kamu!" ucap Silvi.


"Gapapa, mah. Lagian aku yakin kok, mas Vano gak mungkin bentak aku kalau emang aku gak salah. Jadi, mama sama papa tolong maafin mas Vano ya dan jangan marahin mas Vano lagi! Aku gak mau ada keributan disini, kita kan mau pada makan!" ucap Shella meminta pada kedua mertuanya itu.


"Iya sayang, yaudah yuk sini duduk sama mama!" ucap Silvi menghampiri Shella dan mengajaknya duduk di kursi kosong sampingnya.


Devano hanya bisa pasrah karena ia harus makan berjauhan dengan istrinya, namun matanya itu terus saja melirik ke arah Shella yang sedang makan bersama mamanya disana.


❤️


Setelah selesai makan, kini mereka berempat kembali ke mobil dan bersiap melakukan perjalanan menuju rumah saudara mereka yang letaknya juga sudah tak terlalu jauh dari sana. Devano pun senang karena ia bisa berdekatan lagi dengan sang istri dan Shella juga tampak tidak marah lagi padanya, bahkan istrinya itu tersenyum tiap kali menoleh ke arahnya.


Sementara Silvi dan Tama juga terus berduaan di kursi belakang sembari menatap Shella dan Devano yang ada di depan mereka, kedua orang tua itu sangat berharap kalau tidak akan terjadi lagi masalah pada Shella maupun Devano seperti tadi. Apalagi usia kehamilan Shella juga semakin bertambah, yang artinya sebentar lagi mereka akan memiliki anak.


"Honey, sekali lagi aku minta maaf ya! Aku tadi beneran gak bermaksud buat bentak kamu, aku cuma lagi kesel aja." ucap Devano.


"Iya mas, aku udah maafin kok. Yang penting kamu janji gak akan begitu lagi sama aku, rasanya sakit tahu mas dibentak suami sendiri." ucap Shella sambil menunduk dan merasa sedih.


"Duh, aku jadi makin gak enak." ujar Devano tak tega ketika melihat raut wajah istrinya.


"Halah! Sekarang kamu bilang begitu, tadi kenapa kamu bentak-bentak Shella? Kalau emang kamu lagi kesal karena mama sama papa gak ada, harusnya kamu jangan sampai bentak istri kamu juga dong! Kan kamu bisa bicara santai sama Shella, jangan malah begitu apalagi nyalahin dia!" ujar Silvi.

__ADS_1


"Iya mah, aku kan nyesel udah begitu sama Shella. Aku juga gak mau kok bentak-bentak istri aku, makanya sekarang aku ngerasa gak enak." ucap Devano sambil menoleh sekilas ke belakang.


"Mah, mas Vano. Udah ya? Sekarang kita sama-sama fokus aja ke perjalanan, jangan ribut terus! Aku dengernya bisa pusing loh mah, mas." ucap Shella.


"Tuh dengerin mah! Mama jangan marahin aku terus, nanti Shella bisa pusing terus kandungannya kenapa-napa! Kan aku gak mau kalau sampai terjadi sesuatu ke kandungan Shella, pasti mama juga begitu dong ya?" ucap Devano.


"Kamu itu paling bisa kalau nyalahin orang! Padahal tadi kamu sendiri yang bentak Shella dan bikin Shella nangis, apa itu juga gak akan berpengaruh ke kandungan Shella ha?" ujar Silvi.


"Ya tapi mah—"


"Sudah sudah! Mama jangan ribut terus dong sama Devano! Itu kan Shella udah mulai pusing loh, udah lah jangan dibahas lagi!" potong Tama.


"Iya pah, mama cuma kesel aja sama si Vani ini loh! Sukanya bikin nangis istrinya mulu, katanya sayang tapi kok masih terus aja begitu sama Shella!" ucap Silvi dengan wajah cemberut.


"Mah, maafin aku! Lagian Shella kan juga udah maafin aku tuh," ucap Devano.


"Yaudah, sekarang semuanya tenang! Jangan ada yang ribut atau apalah itu! Kasihan Shella, dia juga kan butuh ketenangan!" ucap Tama.


Akhirnya semua orang di dalam mobil itu diam menurut pada perkataan Tama, mereka juga tidak mau tentu membuat Shella merasa pusing dan tidak nyaman karena keributan itu. Walau sebenarnya Silvi masih agak kesal pada kelakuan putrinya yang selalu membuat Shella menangis, ia juga heran mengapa Devano bersikap begitu pada istrinya sendiri.




Tak lama kemudian, Devano beserta keluarganya telah sampai di rumah pamannya yang bernama paman Roky itu. Devano pun memarkir mobilnya tepat di depan halaman rumah itu, ia menoleh ke belakang dan meminta pada kedua orangtuanya untuk segera turun karena mereka sudah sampai di depan rumah paman Roky.


Ya suasana disana cukup sepi karena sekarang hari sudah malam, tepatnya lewat waktu isya sekitar pukul delapan malam dan kebetulan saat ini malam Jumat eh malam Sabtu deh. Entah mengapa suasana disana sepi seperti ini, padahal biasanya selalu ramai ketika malam apalagi ini belum terlalu malam karena masih lumayan terang.


"Mah, pah, honey. Kita udah sampe nih! Kita langsung turun aja kali, ya? Kebetulan pintu rumah paman Roky kebuka tuh, kesempatan jadinya buat kita bisa masuk ke dalam!" ucap Devano.


"Iya iya, yaudah ayo kita turun! Kamu tuntun itu istri kamu, jangan dibiarin sendiri!" ucap Silvi.


"Iya mamaku sayang! Aku juga ngerti kok kalau aku harus pegangin Shella turun, mama tenang aja ya!" ucap Devano tersenyum.


"Yaudah, bagus!" ucap Silvi.


"Honey, kamu tunggu disini ya!" ucap Devano tersenyum sembari mengusap tangan Shella.


Shella hanya mengangguk pelan dengan mata lemas seperti mengantuk. Devano yang melihat itu sadar kalau istrinya sudah mulai mengantuk dan butuh tidur, ia pun bergegas turun dari mobil untuk menemui mama papanya dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.


"Mah, pah. Itu barusan aku lihat Shella udah ngantuk lagi, aku gak enak kalo baru sampe terus numpang tidur ke rumah paman Roky. Tapi, aku juga kasihan karena Shella udah ngantuk banget!" ucap Devano.


"Waduh, yaudah gapapa biar nanti mama yang bilang ke Roky kalau istri kamu butuh tidur. Sekarang kamu bantu dulu tuh Shella turun, mama sama papa langsung masuk aja ke dalam!" ucap Silvi.


"Ohh, iya mah. Makasih ya, mah!" ucap Devano.


Silvi dan Tama pun masuk ke dalam rumah Roky lebih dulu untuk mengatakan hal itu, mereka tidak ingin jika Shella sampai kenapa-napa karena kurang tidur atau apalah itu. Sedangkan Devano kembali ke mobilnya, membuka pintu dan membantu Shella turun dari mobil dengan cara menuntunnya.


"Honey, kamu ngantuk ya?" tanya Devano sembari memegang wajah istrinya itu.


"Hah? Enggak kok, mas. Aku cuma capek aja, kan kita abis perjalanan jauh." jawab Shella tersenyum.


"Ohh, yaudah masuk yuk!" ucap Devano.


Shella hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah sang suami berjalan menuju ke dalam rumah paman Roky, Devano terus memapah tubuh istrinya agar tidak terjadi sesuatu pada sang istri dan juga calon anak di dalam kandungannya.


"Mas, kayaknya kamu bener deh. Aku ngantuk!" ucap Shella lemas sambil menguap.


"Nah kan, yaudah kamu tenang aja! Tadi aku udah minta bantuan ke mama sama papa buat ngomong ke paman Roky, jadi kamu gausah khawatir ya!" ucap Devano menenangkan istrinya.


"Iya mass...." ucap Shella pelan sembari menempelkan wajahnya pada bahu sang suami.


Mereka pun berjalan ke dalam rumah paman Roky, terlihat sudah ada mama papanya di dalam sana bersama keluarga paman Roky yang juga ada disana.


❤️

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Devano begitu memasuki rumah milik pamannya itu.


"Waalaikumsallam, eh ini dia calon ayahnya." ucap Roky menjawab salam Devano.


Devano pun mendekat ke arah pamannya serta tantenya yang ada disana bersama sang istri, ia mencium tangan keduanya lalu juga memegang pipi para sepupunya yang masih kecil itu. Begitupun dengan Shella yang juga mengikuti apa yang dilakukan sang suami, lalu mereka duduk berdampingan di sofa bersama Silvi serta Tama.


"Vano, siapa nama istri kamu ini?" tanya Roky.


"Eee aku Shella, paman." jawab Shella pelan.


"Ohh, Shella? Nama yang cantik, secantik orangnya! Memang pintar kamu ini Vano pilih istri, paket sempurna banget loh istri kamu!" ucap Roky memuji Shella sambil senyum-senyum.


"Ya iya dong, paman! Devano Alexander itu kan gak pernah salah kalau soal wanita, jadi paman gak perlu kaget gitu!" ucap Devano menyombongkan diri.


"Kamu ini masih belum berubah, ya? Masih sama kayak dulu, suka banget nyombongin diri kamu sendiri!" sarkas Roky sambil tertawa kecil.


"Hahaha, begitulah Devano sifatnya nurun dari papanya!" sindir Silvi sembari melirik sinis ke arah Tama.


"Oh iya dong, mah!" ucap Tama bangga.


Tak lama kemudian, tante Eriska yang merupakan istri paman Roky itu muncul kembali membawakan minuman untuk Devano serta keluarganya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Nah ini dia minumnya, yuk diminum dulu!" ucap Eriska sembari meletakkan gelas di meja.


"Makasih tante," ucap Devano tersenyum.


Devano pun mengambil satu gelas itu dan ia tawarkan kepada istrinya.


"Honey, minum nih!" ucap Devano.


"Iya mas.." ucap Shella pelan.


Diluar dugaan, Devano juga meminumkan minuman itu kepada istrinya sembari memegangi kepala Shella karena ia tak ingin Shella kenapa-napa.


"Aduh, romantis banget pasangan muda ini. Makin mesra aja ya yang sebentar lagi mau jadi ayah sama ibu muda!" ucap Eriska.


"Kamu gak tahu aja Riska, mereka sekarang emang lagi romantis banget! Tapi, mereka juga sering banget berantem dan ribut cuma karena hal kecil!" ucap Silvi.


"Hahaha, benar itu! Barusan siang juga mereka ini berantem pas di jalan," sahut Tama.


"Mah, pah. Aku sama Shella gak berantem tau, kan cuma ada selisih paham antara aku sama Shella!" ucap Devano membela diri.


"Yaudah iya," ucap Silvi.


"Hahaha, itu kayaknya Shella ngantuk banget tuh! Tadi kan mbak Silvi juga bilang katanya Shella butuh istirahat, sana gih Vano kamu antar istri kamu ke kamar biar istirahat disana!" ucap Roky.


"Eh iya ya Vano, mama lupa! Anterin gih istri kamu itu ke dalam kamar!" ucap Silvi.


"Eee kamarnya dimana ya, paman?" tanya Devano.


"Hahaha, itu ada kamar tamu di lantai atas. Sayang, kamu anterin mereka ya! Kasihan takutnya nanti nyasar!" ucap Roky.


"Iya.." ucap Eriska menurut.


"Yuk honey, kita ke kamar! Kamu harus istirahat dulu!" ucap Devano.


"Iya mass.." ucap Shella pelan.


Devano pun membantu Shella berdiri dan terus memegangi tubuh istrinya itu, mereka berjalan menuju kamar diantar oleh Eriska selaku tante Devano.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_1


...Eh udah Senin aja...


...❤️❤️❤️...


__ADS_2