
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 257
...•...
...•...
Tliingg...
Botak : [Foto]
Botak : Ini bos, foto yang bos minta!
Botak : Maaf bos, saya cuma bisa dapet satu.
Seorang pria yang tengah duduk di dekat meja billiard sembari memegang tongkat di tangannya langsung tersenyum tipis begitu mendapat pesan berisi foto dua manusia dari seseorang, pria itu menutup kembali ponselnya lalu berdiri dan mulai menyodokkan tongkat ke arah bola billiar.
Paakkk...
Satu bola berhasil ia masukan ke dalam lubang, ia memfokuskan pandangan pada bola lainnya dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyodok bola tersebut mengenakan tongkatnya.
"Arga!"
Suara teriakan seseorang membuyarkan konsentrasi nya, akibatnya ia pun merasa jengkel dan memutar bola matanya ke samping. Namun, ia tetap tenang dengan menghela nafas lalu berbalik badan menatap seorang pria yang sedikit tua muncul disana.
"Kenapa, pah?" tanya pria pemegang tongkat billiar.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu ini, ha? Papa benar-benar malu sekali mempunyai anak kurang ajar seperti kamu, sudah berapa kali kamu bikin malu papa Arga?" ujar pria tua yang ternyata papanya.
"Apa sih, pah? Emangnya Arga salah apa lagi? Perasaan daritadi Arga cuma main billiar disini, tanya aja sama Leo!" ucap pria bernama Arga.
"Halah, jangan kamu kira papa ini gak tahu semua kelakuan kamu Arga! Bisa-bisanya kamu memakai kartu kredit perusahaan yang papa berikan itu untuk menyewa wanita di hotel, apa kamu gak punya malu lagi Arga?" ujar papanya emosi.
"Ohh soal itu, yaelah pah sorry kemarin tuh Arga lagi gak pegang uang makanya terpaksa pake kartu kredit papa! Lagian papa sendiri kan yang kasih kartu itu ke Arga, jadi gak salah dong kalo Arga pake? Papa juga gak bilang kalo Arga gak boleh pake kartu itu buat sewa jalangg, udahlah pah kalem!" ucap Arga masih dengan sikap santainya.
Sang papa yang sudah emosi itu tidak tahu harus berbicara apa lagi dengan putranya, ia sudah muak terus-terusan dibuat malu dengan tingkah laku Arga yang selalu bikin namanya tercoreng.
"Arga, secepatnya papa akan nikahkan kamu dengan Viona! Papa gak tahan lagi dengan kelakuan kamu ini, kamu menang harus segera menikah!" ujar papanya tegas.
"Loh loh, pah? Arga gak mau nikah sama Viona! Kan Arga udah bilang sebelumnya, Arga cuma mau nikah sama Shella! Dengar ya pah, Riza sekarang di penjara dan dia juga gagal buat dapetin Shella! Nah kali ini giliran Arga yang akan berjuang untuk mendapatkan cinta sejati Arga, karena menurut Arga wanita itu sangat sempurna pah!" ucap Arga senyum-senyum.
"Apa kamu sudah gila, Arga? Kamu saja belum pernah bertemu langsung dengan gadis itu, bagaimana bisa kamu bilang dia cinta sejati kamu? Apa hanya dengan foto cinta itu bisa muncul sendirinya, iya?" ujar papanya.
"Benar, pah! Dari fotonya saja dia sudah cantik dan menggoda, memang pilihan Riza itu bukan main! Arga pasti akan mendapatkan Shella, lalu Arga akan bawa dia ketemu sama papa disini!" ucap Arga.
Setelah selesai berbicara, sang papa langsung keluar dari ruang tersebut meninggalkan Arga bersama asistennya disana yang tengah bermain billiard.
"Shella, kamu akan menjadi milikku seutuhnya dan aku pasti bisa merebut kamu dari Devano!" batinnya.
...•••...
Disisi lain, Devano penasaran karena sekretarisnya tak kunjung kembali dari toilet padahal sudah hampir 30 menit ia menunggu disana. Maka dari itu, Devano pun coba menyusulnya karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan kepada Novi disana.
Akan tetapi, Devano tidak berhasil menemukan sekretarisnya di dalam toilet tersebut karena isinya kosong dan tak ada orang satupun disana. Akhirnya Devano memilih kembali ke mejanya beranggapan kalau mungkin Novi sudah pulang lebih dulu, ia tahu bagaimana sikap sekretarisnya itu yang selalu tidak enakan setiap kali ia membantunya.
Dan benar saja, Devano melihat Novi tengah jalan menuju sebuah taksi dari arah lain cafe tersebut. Dengan cepat Devano mengejarnya berharap bisa menahan Novi sebelum wanita itu pergi, ia sepertinya ingin sekali Novi kembali ke kantor bersamanya bukan sendirian begitu.
Seseorang yang daritadi mengawasinya pun ikut keluar setelah melihat Devano pergi terburu-buru, ia masih membawa kamera di tangannya berharap ada momen romantis lagi yang bisa ia abadikan disana.
"Nov, tunggu!" teriak Devano sambil berlari mendekati sekretarisnya.
__ADS_1
Novi yang hendak masuk ke taksi sontak menoleh ke asal suara yang memanggil namanya, ia pun tercengang begitu melihat bosnya tengah berlari ke arahnya dan seketika Novi tampak gugup.
"Kenapa kamu pergi diam-diam?" tanya Devano begitu sampai di dekat Novi, diluar dugaan ia juga meraih tangan Novi lalu menggenggamnya.
Cekrek....📸📸📸
Tentu saja momen tersebut langsung diabadikan oleh orang itu, ia tersenyum puas melihat hasil fotonya dan pasti bosnya akan merasa senang.
Novi terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Devano karena ia takut bosnya itu marah padanya, sungguh ia tidak ingin terus berdekatan dengan Devano diluar urusan kerja seperti ini. Itu karena ia takut Shella sang istri bosnya akan cemburu seperti saat sebelumnya ketika mereka berduaan di ruang kerja, Novi tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga bosnya sendiri.
"Kenapa diam? Harusnya kamu tuh ngomong kalo mau pergi sekarang, jangan malah bilang mau ke toilet eh tau-tau mesen taksi!" ujar Devano.
"Maaf pak..." ucap Novi seraya menarik tangannya dari genggaman Devano.
"Saya cuma gak mau ada salah paham lagi nantinya, jadi saya harus pandai menjaga jarak dengan bapak kalau diluar urusan pekerjaan!" sambungnya seraya menatap wajah Devano.
Devano terdiam garuk-garuk keningnya sambil menunduk sedikit lalu mendongak kembali, ia paham betul mengapa Novi seperti menjauh darinya karena pernah membuat hubungannya dengan Shella jadi sedikit berantakan akibat cemburu.
"Yasudah, saya tidak akan paksa kamu lagi untuk ikut dengan saya! Tapi, jangan bohongi saya seperti tadi karena itu bikin saya khawatir sama kamu!" ucap Devano sembari mengikis jarak diantara mereka.
"Baik, pak! Saya akui tindakan saya tadi itu salah, sekarang tolong biarkan saya pergi!" ucap Novi.
"Ya, bekerjalah dengan baik dan jangan sampai masalah ini kamu bawa sampai ke kantor!" ucap Devano mengingatkan Novi sambil memegang pundak sekretarisnya itu.
"Iya pak, saya akan profesional kok!" ucap Novi.
Devano melepas tangannya lalu tersenyum memandang wajah Novi, sedangkan gadis itu langsung masuk ke dalam taksi.
"Perasaan apa ini? Kenapa saya seperti sedih ketika Novi ingin menjaga jarak dari saya?" batin Devano.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1