
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 132
...•...
...•...
TOK TOK TOK...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Shella yang hendak masuk kamar pun mengurungkan niatnya karena kebetulan disana tak ada orang lagi selain dia.
Shella pun beralih menuju pintu depan rumahnya untuk memastikan siapa yang datang pagi-pagi begini.
TOK TOK TOK...
Suara ketukan itu terus terdengar membuat Shella mempercepat langkahnya namun tetap berhati-hati agar tak terjatuh dan nantinya bisa membahayakan kandungannya sendiri.
"Iya sebentar...!!" teriak Shella agar orang di depan itu bisa sabar dan tak terus-menerus mengetuk pintu.
Ceklek... akhirnya Shella sampai di depan pintu dan langsung membuka pintu itu, ia langsung terkejut saat melihat orang yang datang ke rumahnya.
"Mas Vano?" ucap Shella yang tampak sangat bahagia melihat keberadaan suaminya disana, apalagi sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan suaminya itu.
Shella pun langsung maju memeluk erat tubuh suaminya itu tanpa basa-basi, bahkan terlihat juga air mata menetes dari matanya yang indah itu.
"Aku kangen banget sama kamu mas, jangan pernah tinggalin aku lagi ya! Aku pengen terus kamu ada disisi aku selamanya mas!" ucap Shella sambil menangis di pelukan suaminya itu.
Sementara Devano hanya diam tanpa ekspresi, hal itu membuat Shella merasa heran dan kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap wajah suaminya itu.
"Kamu kenapa sih mas? Emang kamu gak kangen juga sama aku??" tanya Shella sambil memegang wajah Devano dengan kedua tangannya.
Devano malah menyingkirkan tangan-tangan Shella dari wajahnya itu dan melepas cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
"Simpan ini honey, aku gak mau pakai cincin ini lagi! Karena aku gak sudi punya istri kotor seperti kamu!" ucap Devano sambil meletakkan cincin itu di telapak tangan Shella.
Shella syok, kaget sekaligus terkejut mendengar perkataan dari suaminya barusan... Ia hanya bisa diam memegangi dadanya yang terasa sesak akibat ucapan Devano tadi, sementara suaminya itu malah berbalik badan kemudian melangkahkan kakinya pergi dari rumah Shella.
__ADS_1
"Mas, tunggu mas jangan tinggalin aku...!!!" ucap Shella berteriak sambil berusaha menahan Devano agar tidak pergi dari sana dengan menarik tangannya.
"Lepasin saya...!!!" ujar Devano yang langsung menghentakkan tangannya membuat Shella terjatuh ke lantai dan merasa kesakitan.
Devano sempat menoleh sejenak ke arah istrinya itu, namun bukannya menolong ia malah melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
"Mas jangan pergi mas! Aku masih butuh kamu mas! Awhh..." ucap Shella yang berusaha mengejar Devano tapi tak bisa karena perutnya terasa sangat sakit saat itu.
Terlihat darah mulai keluar dari bawah perutnya, sedangkan Devano sudah menjauh dan tak terlihat lagi walau sekilas.
"MAS VANOOO...." teriak Shella sangat kencang.
Kukuruyukkkk.... (anggap aja suara ayam)
"JANGAN PERGI MASSS...!!!" Shella berteriak sambil bangun dari tidurnya dan terlihat ngos-ngosan.
"Hah... hah... hah... ternyata cuma mimpi, aku kira itu semua nyata dan mas Vano pergi ninggalin aku!" ucap Shella mengusap-usap dadanya yang masih terdengar jantungnya berdetak kencang karena syok.
Shella pun melihat jam weker disampingnya dan tambah kaget saat mengetahui kalau sekarang sudah jam 8 pagi.
"Hah? Udah jam 8 pagi?? Ya ampun siang banget sih aku bangunnya, padahal aku kan udah janji mau bantuin ibu masak..." ujar Shella lalu langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar mencari ibunya, padahal ia belum cuci muka sama kasurnya juga masih berantakan.
Shella berputar-putar kesana-kemari mencari keberadaan ibunya itu, sampai akhirnya ia bertemu juga dengan Jenar yang ternyata baru datang dari luar sambil membawa gas warna ijo.
"Loh Shella, kamu udah bangun toh? Kenapa buru-buru kayak gitu??" tanya Jenar.
"Gapapa sayang, justru malah bagus jadi kamu gak perlu capek-capek bantu ibu masak! Lagian kamu kan lagi hamil, gak boleh kecapekan!" ucap Jenar.
"Yah ibu aku kan pengen banget bantu ibu masak kayak dulu, aku gak enak loh kalo tiap hari cuma makan sama tidur doang kerjaannya..." ujar Shella.
"Yaudah kalo kamu mau bantu ibu, yuk kebetulan ibu pengen bikin pancake strawberry buat cemilan!" ucap Jenar tersenyum kemudian merangkul pundak anaknya itu.
Shella pun juga tersenyum dan mengangguk, ia ikut bersama ibunya ke dapur untuk membuat pancake strawberry.
...•••...
Bimo diantar oleh seorang polisi menuju ruang pertemuan, ia mengira kalau yang datang menjenguk dirinya adalah Adrian atau mungkin papahnya.
Namun, kenyataan memang kadang tak sesuai harapan... ya karena yang datang kesana ternyata bukan Adrian, Satria apalagi Frederick melainkan Devano alias musuh bebuyutan kakaknya.
"Mau apa lu kesini? Tau darimana lu kalo gue ada disini ha??" tanya Bimo saat baru sampai bahkan belum duduk di kursinya.
"Santai bro, duduk aja dulu! Kita obrolin semuanya dengan santai dan rileks..." ujar Devano sambil senyum-senyum.
__ADS_1
Bimo pun terdiam dan kemudian duduk berseberangan dengan Devano.
"Udah nih, sekarang cepet kasih tau apa tujuan lu datang kesini??!! Karena gue gak punya banyak waktu buat ngeladenin orang kayak lu..!!" ucap Bimo.
"Wis iya iya gue tau kok bro kalo lu sibuk, gue itu tau lu ada disini dari polisi yang kasih tau ke gue! Kenapa gitu? Karena sebelumnya gue udah kasih kartu nama gue ke polisi pas mereka melakukan penyelidikan tentang kasus meninggalnya pak Hamzah dan anaknya," jelas Devano sambil tersenyum.
"Jujur saya gak nyangka, pemuda seperti anda bisa tega melakukan pembunuhan sekeji itu! Memangnya ada masalah apa anda sama pak Hamzah?" sambung Devano melipat kedua tangannya di atas meja.
"Lu gak perlu tau, lagian emang lu siapanya Hamzah ha? Bukan siapa-siapanya kan? Jadi lu gausah pengen tau tentang ini..!!!" ujar Bimo.
"Emang sih gue bukan siapa-siapa pak Hamzah, tapi gue ini lagi selidikin tentang dia yang udah bikin rem mobil gue blong! Eh tiba-tiba aja gue dapet kabar kalau pak Hamzah dibunuh secara keji, makanya gue jadi curiga kalau lu terlibat dalam kasus ini! Jelasin ke gue apa motif lu bunuh pak Hamzah??!!" ujar Devano menatap mata Bimo tajam.
Bukannya menjawab Bimo malah tersenyum sinis dan membuang muka dari pandangan Devano.
"Kalo emang gue terlibat, lu mau apa ha??" ucap Bimo yang malah menantang Devano.
...•••...
Disisi lain, mamah Nadya baru turun dari kamarnya dan hendak menuju meja makan untuk sarapan.
Namun, ia terkejut saat melihat putrinya yakni Nadya masih berada disana bahkan terlihat santai duduk-duduk di sofa sambil main handphone dan sandaran.
Ia pun segera menghampiri Nadya dengan wajah penasarannya....
"Nadya sayang, kamu kok masih disini sih? Emangnya kamu gak kerja cantik??" tanya mamah Nadya sambil duduk di samping anaknya itu.
Sontak Nadya terkejut dan langsung menaruh ponselnya serta duduk tegap untuk menjawab pertanyaan mamahnya.
"Eee iya nih mah soalnya aku ngerasa gak enak badan, kepala aku kayak pusing banget mah! Makanya tadi aku kirim email ke perusahaan kalau aku gak bisa masuk kerja karena sakit," jawab Nadya.
"Ohh kalo pusing ya jangan main handphone terus dong sayang apalagi dari jarak dekat, cahaya dari ponsel itu kan bisa bikin kita tambah pusing!" ujar mamah Nadya.
"Hehe iya mah maaf, aku gak main handphone lagi kok! Eh iya mamah belum sarapan kan? Mending mamah sarapan dulu deh, aku udah bikinin sandwich buat mamah loh di meja makan..." ucap Nadya.
"Oh ya? Wah pasti enak nih kalo bikinan kamu mah, tapi emangnya bi Irah kemana sayang? Kok kamu sih yang bikinin sarapan buat mamah??" ujar mamah Nadya menanyakan tentang asisten rumah tangganya.
"Ada kok mah, tapi aku sengaja pengen buatin sandwich buat mamah spesial loh mah aku bikinnya pake cinta jadi tambah enak deh pasti!" ucap Nadya.
"Iya iya mamah percaya kok, makasih ya sayang kamu selalu menyayangi mamah seperti mamah kandung kamu sendiri..!!" ucap mamah Nadya sambil memeluk anaknya itu.
"Sama-sama mah, makasih juga ya udah ngerawat dan ngebesarin aku seperti anak kandung mamah sendiri! Padahal waktu itu aku sedih banget pas ditinggal sama ibu kandung aku, untung aja ada mamah yang mau adopsi aku..." ucap Nadya.
Mereka pun terus berpelukan sangat erat seperti tak mau melepaskan pelukannya itu.... di sela-sela pelukan, Nadya teringat wajah ibu kandungnya dan menangis saat itu juga.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...