
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 387
...•...
...•...
Jenar, Nadya dan juga Adrian kini telah sampai di rumah kediaman wanita tersebut setelah mereka sebelumnya pergi ke pemakaman Yoga yang cukup mengharukan itu. Ketiganya berdiri di teras depan rumah dan bersiap untuk masuk ke dalam, namun Nadya nampaknya masih belum bisa melupakan Yoga dan hingga kini pun terus saja menangis.
Adrian sangat tidak tega melihat Nadya bersedih seperti itu saat ini, entah mengapa ia merasa sangat bersalah karena gagal menyelamatkan Yoga dan justru membuat Nadya semakin sedih. Adrian pun coba membantu Jenar untuk menenangkan Nadya, ya walau hanya dengan kata-kata penghibur serta elusan dari tangannya pada area pundak gadis itu.
"Sheila, kamu harus kuat ya! Aku yakin kamu pasti bisa lewati ini semua dengan tegar dan kuat! Memang melupakan dan mengikhlaskan kepergian seseorang yang kita sayang itu berat, tapi bukan berarti gak mungkin!" ucap Adrian tersenyum.
"Iya Sheila, yang dibilang sama nak Rian itu benar! Kamu harus bisa tegar dan kuat, ikhlasin nak Yoga supaya dia bisa tenang disana!" sahut Jenar.
"Iya Bu, Adrian! Aku juga lagi berusaha kok buat ngelakuin itu semua, sekali lagi makasih ya karena ibu sama kamu Adrian udah selalu berusaha buat tenangin aku!" ucap Nadya sambil menyeka air mata.
"Sama-sama, Sheila! Kami disini kan ingin yang terbaik buat hidup kamu, kami juga gak pengen lihat kamu terus-terusan sedih seperti ini!" ucap Adrian.
"Makasih ya Adrian! Kamu emang pria yang baik, berkat kamu tubuh Yoga bisa ditemukan dan aku masih bisa melihat dan berbicara dengan Yoga disaat-saat terakhir dia sebelum akhirnya dia meninggal dunia!" ucap Nadya.
"Iya Sheila, yaudah kamu jangan nangis lagi ya!" ucap Adrian sembari mengusap air mata di wajah Nadya.
Melihat putrinya itu saling bertatapan dengan Adrian cukup lama tanpa ada jeda, Jenar pun mulai merasa kalau sepertinya cinta Adrian kepada Nadya itu memang benar-benar tulus. Bahkan Adrian juga sampai rela mencari tubuh Yoga secara langsung di jurang demi Nadya, padahal Yoga adalah pacar Nadya yang notabenenya saingan Adrian.
"Sheila, mungkin sepertinya kamu dan nak Adrian cocok sebagai sepasang kekasih! Ibu berharap kamu bisa cepat moveon nak, supaya kamu juga bisa membalas cinta nak Rian!" batin Jenar.
Setelah cukup lama saling menatap satu sama lain, akhirnya Nadya sadar dan memalingkan wajahnya sambil sedikit menunduk malu-malu dan mulai salah tingkah di hadapan sang ibu. Sedangkan Adrian sendiri hanya tersenyum sembari garuk-garuk tengkuk lehernya, Adrian pun berniat pamit dari sana mengingat hari yang juga sudah hampir sore.
"Eee yaudah tante, Sheila, aku pamit dulu ya? Ini udah mau sore juga, kayaknya aku mau langsung pulang sekarang aja deh!" ucap Adrian.
"Loh kok pulang? Emang kamu gak mau mampir dulu ke dalam gitu?" tanya Jenar.
"Iya Adrian, kamu masuk aja dulu! Kan kita habis dari luar tadi, pasti kamu haus. Biar aku buatin minuman dulu buat kamu, mau kan?" timpal Nadya ikut menahan Adrian agar tetap disana.
"Eee gausah repot-repot Sheila! Aku juga masih ada urusan lain yang harus diurus, mungkin lain kali baru aku bisa mampir lagi kesini! Maaf banget ya!" ucap Adrian menolak tawaran dari Nadya dengan terpaksa, ya sebenarnya ia ingin sekali tetap disana.
"Ohh, yaudah deh. Hati-hati aja kamu!" ucap Nadya.
"Iya Sheila, kamu juga ya jangan sedih-sedih lagi! Belajar untuk ikhlas dan kuat, aku yakin kamu pasti bisa lakuin itu!" ucap Adrian menaruh tangan di pundak Nadya dan tersenyum.
"Iya, makasih banyak ya Adrian!" ucap Nadya tersenyum seraya menyeka air mata di wajahnya.
Adrian tersenyum lalu mendekat ke arah Nadya sambil menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata di wajah Nadya, "Sama-sama!" ucapnya.
Nadya dibuat tak berkutik oleh tindakan Adrian yang mengejutkan dirinya itu, ia pun hanya bisa diam menatap wajah Adrian dari jarak dekat dan kesulitan menelan saliva nya. Jantung Nadya juga sudah berdebar tak karuan menahan rasa gugupnya itu, terlebih ada sang ibu yang berdiri di sampingnya dan sedari tadi terus saja cengengesan.
__ADS_1
"Umm, yaudah aku pergi ya? Sampai ketemu besok!" ucap Adrian tersenyum sambil menjauh.
"Besok?" tanya Nadya tak mengerti.
"Iya, aku bakal ajak kamu refreshing besok! Ya supaya kamu gak terus sedih-sedih begini, boleh kan tante?" ucap Adrian.
"Ya boleh dong, kalau itu demi kebaikan Sheila pasti tante kasih izin kok! Karena tante juga gak tega ngeliat Sheila terus sedih begini, dia emang butuh hiburan!" ucap Jenar tersenyum.
"Alhamdulillah! Yaudah, aku permisi ya tante?" ucap Adrian sembari mencium tangan Jenar. "Sheila, aku pergi dulu! Assalamualaikum," sambungnya.
"Waalaikumsallam," ucap Nadya & Jenar bersamaan.
Setelahnya, Adrian pun berbalik badan lalu pergi dari rumah itu menuju ke mobilnya yang terparkir di depan gang sana. Adrian sempat kembali menoleh ke arah Nadya juga Jenar yang rupanya masih setia menunggu di depan teras rumah, Adrian pun melambai ke arah mereka sambil tersenyum lalu baru masuk ke dalam mobilnya.
Saat mobil Adrian sudah pergi menjauh dan tak terlihat lagi wujudnya, Jenar pun memegang dua pundak putrinya dari samping sambil tersenyum lalu mengajak Nadya masuk ke dalam. Jenar cukup senang lantaran Nadya saat ini sudah bisa agak tenang dan tidak lagi menangis seperti tadi, ya walau terlihat jelas kalau Nadya masih bersedih.
"Sheila sayang, yuk kita masuk! Ibu akan masak sesuatu yang spesial buat kamu!" ucap Jenar.
"Apaan tuh Bu?" tanya Nadya penasaran.
"Ada deh, kalo kamu mau tau ya kita masuk dulu sekarang!" jawab Jenar tersenyum.
"Iya Bu," ucap Nadya sambil mengangguk pelan.
Disaat mereka baru hendak melangkah masuk ke dalam rumah itu, tiba-tiba Damar muncul dari dalam sana dan menemui Nadya serta Jenar yang baru juga ingin masuk kesana. Damar tersenyum memandang sosok gadis yang merupakan sepupunya itu sambil menyedot minuman kotak di tangannya dan sesekali menaikkan alisnya.
"Udah pulang tante?" tanya Damar sambil senyum-senyum dan menaruh satu tangannya pada dinding samping pintu.
"Ohh, aku mau lanjut cari kerja tante. Doain aja semoga aku bisa cepat dapat kerja!" ucap Damar.
"Iya, aamiin!" ucap Jenar tersenyum.
Nadya hanya diam dan tak sama sekali menggubris ucapan Damar barusan, ia sungguh malas juga melihat sepupunya tersebut secara langsung seperti ini mengingat apa yang sudah dikatakan olehnya sebelum ini. Namun, Nadya berusaha tetap santai agar tidak dikira masih marah dan jengkel kepada Damar sepupunya itu yang ada di depannya.
"Sudah hampir enam bulan, tapi masih belum dapat kerjaan juga, niat gak sih cari kerja sebenarnya?" gumam Nadya di dalam hatinya terheran-heran.
...•••...
Disisi lain, Devano yang kalut langsung bergegas pergi dari kantornya menuju ke tempat parkir untuk segera kembali ke rumah paman Roky menemui istrinya yakni Shella yang sedang ngambek. Ya Devano tak mau dan tak bisa tentunya jika sang istri terus selalu ngambek padanya, karena yang ia inginkan adalah kelembutan dari Shella seperti biasa.
Devano pun masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat melaju pergi, ia juga sudah mengabari Rafael serta Novi kalau ia ingin langsung kembali menemui Shella di rumah paman Roky. Devano juga meminta pada mereka untuk bisa mengatur perusahaan miliknya dengan sebaik mungkin, sehingga ia tak perlu lagi datang kesana secara langsung.
"Saya harus segera pulang! Shella pasti udah kangen banget sama saya, saya gak mau kalau dia sampai ngambek berhari-hari hanya karena kesalahan saya yang lupa mengabarinya tadi!" batin Devano.
Saat di tengah jalan setelah pergi meninggalkan kantor, Devano melihat sebuah kedai kue cubit yang sangat ramai dan ia pun teringat akan istrinya yang selalu menyukai jajanan seperti itu. Terlintas dalam pikirannya untuk membelikan kue cubit tersebut pada istrinya sebagai permintaan maaf, ya Devano berharap Shella nantinya mau memaafkan dirinya.
Akhirnya Devano pun melipir sejenak ke pinggir untuk membeli kue tersebut, seperti biasa ia menggunakan cara andalannya untuk bisa mendapat kue lebih dulu, yakni mentraktir semua pembeli disana supaya tak akan ada yang merasa kesal. Untungnya Devano kembali berhasil melakukan itu, ia juga membawa-bawa nama sang istri sebagai alasan agar lebih dipermudah membeli kue tersebut.
Setelahnya, ia pun kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah paman Roky dan menemui istrinya disana. Devano tersenyum senang sembari membayangkan wajah sang istri ketika ia berikan kue cubit tersebut padanya, ia yakin sekali kalau Shella pasti akan mau memaafkan dirinya setelah diberikan kue cubit sebagai hadiah.
"Shella pasti seneng deh! Dia itu kan suka banget sama kue beginian, apalagi ini rasanya enak! Saya jadi gak sabar lihat reaksi Shella, bayangan wajah gemasnya aja udah terlintas di kepala saya!" gumam Devano dalam hatinya.
Akhirnya Devano segera memacu mobilnya dengan kecepatan sedang dan agak cepat, ya Devano ingin bertemu dengan Shella secepatnya dan membujuk wanita itu agar tidak ngambek lagi. Tentunya Devano sangat merasa bersalah jika istrinya itu masih ngambek padanya, apalagi kalau sampai ia juga dimarahi oleh Silvi dan juga Tama karena itu.
__ADS_1
•
•
Sesampainya di depan rumah paman Roky, kebetulan sekali karena Devano melihat Shella tengah jalan berdua dengan Vonny di halaman rumah tersebut. Ya suasana sore hari seperti itu memang mengundang Shella untuk dapat menikmatinya bersama Vonny, tentu Devano langsung saja menghampiri mereka disana.
"Honey!" teriak Devano memanggil istrinya sembari turun dari mobil lalu berjalan ke arah Shella.
Sontak Shella serta Vonny terkejut dan menoleh ke asal suara tersebut, mereka berdua sama-sama kaget melihat keberadaan Devano disana karena yang mereka tau Devano sedang di Jakarta. Keduanya pun hanya bisa diam di tempat dengan mulut terbuka sedikit, apalagi Shella yang juga masih kesal dengan sosok suaminya tersebut.
Devano pun berhenti tepat di depan Shella dan tersenyum menatap wajah istrinya itu, ia berniat memegang wajah Shella karena ia ingin sekali mengelusnya saat ini. Namun, Shella justru menghindar dan memasang wajah jutek plus kesal kepada suaminya tersebut, ya sepertinya Shella masih ngambek pada Devano saat ini.
"Honey, kamu kenapa? Kamu masih marah sama aku sayang? Honey, aku minta maaf ya atas kelupaan aku tadi! Kamu jangan marah lagi ya honey, ini aku bawa kue cubit buat kamu!" ucap Devano.
"Ohh, kamu mau sogok aku pake kue cubit gitu?" tanya Shella ketus.
"Ya gak gitu, aku cuma mau minta maaf sama kamu dan aku beliin kue cubit ini sebagai tanda maaf aku ke kamu honey!" jelas Devano.
"Oh gitu, yaudah makasih!" ucap Shella singkat.
Shella mengambil begitu saja plastik di tangan suaminya masih dengan raut cemberut, hal itu membuat Devano kebingungan harus bagaimana lagi untuk membujuk istrinya. Memang Shella kalau sudah ngambek susah sekali untuk dibujuk atau dihibur, walau Devano sudah berulang kali mencari cara untuk bisa menghibur istrinya itu.
"Honey, kok kamu masih cemberut sih? Maafin aku dong sayang!" ucap Devano.
"Nanti aja ya mas kita ngobrolnya, aku sama Vonny mau makan kue cubit ini dulu! Ayo Vonny, kita makan berdua kue ini!" ucap Shella.
"Boleh mbak, kita makan di saung aja yuk!" ujar Vonny kesenangan.
"Wah ide bagus tuh! Ayo Vonny kita langsung aja kesana sambil makan kue ini!" ucap Shella sambil menggandeng tangan sepupu Devano itu.
"Ayo mbak!"
Setelahnya, Shella dan Vonny pun pergi ke samping rumah itu untuk menuju saung yang terletak disana dan makan kue cubit pemberian Devano bersama sambil berbincang-bincang. Sedangkan Devano tetap berdiri disana merasa kecewa sekaligus kesal karena Shella masih marah padanya, padahal ia sudah berharap dan membayangkan senyum di wajah cantik istrinya itu.
Tak lama kemudian, Silvi muncul bersama Eriska menghampiri Devano disana untuk berusaha membujuk pria tersebut. Ya keduanya melihat Devano ditinggal oleh Shella dan Vonny sendirian disana, mereka pun tampak kasihan dan ingin menghibur Devano agar tidak terus sedih seperti sekarang ini karena istrinya yang masih marah.
"Vano, kamu yang sabar ya sayang! Istri kamu pasti bisa berhenti marah kok nanti!" ucap Silvi.
"Iya Vano, namanya juga orang hamil jadi gampang banget buat marah dan kecewa! Makanya kamu lain kali jangan sampai begitu lagi!" sahut Eriska.
"Benar itu, kan kamu sendiri yang janji sama Shella mau kasih kabar terus-menerus!" ucap Silvi.
"Iya mah, tante, makanya sekarang aku nyesel banget udah lupa sama janji aku itu! Aku harus bisa bikin Shella berhenti ngambek, karena kalo enggak aku yang bakal ngerasa paling bersalah mah!" ucap Devano tampak gusar dan geram sendiri.
"Iya, tapi kamu harus ngertiin juga perasaan Shella dan jangan terlalu maksa dia sayang!" ucap Silvi mengingatkan putranya.
"Tenang aja mah! Aku pasti gak akan maksa Shella kok!" ucap Devano tersenyum.
Sejujurnya Devano memang ingin sekali membuat Shella memaafkan dirinya, namun perkataan mamanya tadi membuat ia sadar kalau ia tidak boleh terlalu memaksa Shella.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1