Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Tidak jadi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 150


...•...


...•...


PRAANGGG... gelas di tangan Shella mendadak lepas lalu terjatuh ke lantai dan pecah bertubi-tubi membuat Shella kaget sekaligus deg-degan, ia jadi merasa tidak enak dan tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas.


Jenar yang masih menyirami tanaman bersama Yani di luar, langsung masuk ke dalam karena suara pecahan gelas itu dengan terburu-buru... tampak Jenar sangat khawatir pada kondisi putrinya.


"Ya ampun Shella, ini kenapa bisa begini sayang? Kok gelasnya bisa pecah, awas loh nanti kena kaki kamu gimana??" ujar Jenar langsung menghampiri Shella dengan raut wajah cemas dan memastikan wanita itu baik-baik saja tak terluka.


"Aku gak tau bu, tiba-tiba aja tanganku gemetar pas lagi bawa gelas itu! Padahal sebelumnya enggak kok bu, terus perasaan aku kayak gak enak jangan-jangan mas Vano kenapa-napa lagi bu!" ujar Shella tampak panik dan tiba-tiba meringis kesakitan karena rupanya ada pecahan yang menancap di kakinya.


"Awh..."


Jenar pun langsung panik dan mengecek kaki Shella yang mengeluarkan darah, ia syok dan coba membawa Shella menjauh dari pecahan-pecahan gelas tersebut.


"Ya ampun kaki kamu berdarah sayang, yuk kita menjauh dulu dari sini! Eee bi Yani, tolong ini pecahannya dibersihkan dulu ya saya takut terinjak lagi! Jangan sampai ada yang tertinggal ya bi...!!" ucap Jenar membawa Shella pergi lalu memerintahkan bi Yani untuk membersihkan pecahan-pecahan itu.


"Iya baik bu, mau saya ambilkan kotak obat sekalian supaya kaki non Shella bisa diobati?" ujar Yani.

__ADS_1


"Boleh deh bi, tolong ya sekalian...!!" ucap Jenar yang masih memegangi tubuh Shella.


"Siap bu!" ucap Yani kemudian langsung berjalan menuju dapur mengambil sapu dan pengki serta kotak obat untuk Shella.


Sementara itu, Shella & Jenar sudah sampai di sofa ruang tamu.... Jenar langsung mendudukkan Shella di atas sofa dengan sedikit hati-hati karena kaki putrinya itu masih terluka akibat pecahan gelas tadi.


"Kamu harus hati-hati lain kali sayang! Kalau kamu mau minum atau apa, panggil aja ibu biar ibu yang ambilin..!! Kalo udah begini kan repot sayang kaki kamu jadi luka, emangnya kamu mau nanti Devano marah?" ujar Jenar mengingatkan Shella sambil terus memijat lengan putrinya itu agar tidak tegang lagi.


"Iya bu maaf, tapi kan biasanya aku kalo ambil minum sendiri juga gapapa kok... ini gak tau kenapa aku tiba-tiba punya perasaan gak enak aja sama mas Vano, eee aku mau telpon mas Vano deh bu buat mastiin kalau dia gak kenapa-napa soalnya aku cemas banget!" ucap Shella dengan wajah cemas lalu mencari-cari ponselnya tapi ternyata tidak ada disana.


"Duh hp aku kayaknya masih di kamar deh," ujar Shella setelah tidak menemukan ponselnya disana dan mencoba bangkit dari duduknya.


"Eh eh mau kemana kamu? Udah kamu disini aja jangan kemana-mana lagi, nih kamu telpon nak Vano nya pake hp ibu aja biar gampang! Kaki kamu lagi luka kok mau jalan-jalan terus, udah duduk aja dulu..!!" ujar Jenar melarang Shella untuk pergi dan juga memberikan ponselnya pada Shella.


"Iya bu makasih ya," ucap Shella mengambil ponsel ibunya dan mulai mencari kontak bernama Devano alias suaminya itu.


"Permisi bu, ini kotak obatnya...." ucap Yani sedikit membungkukkan tubuhnya sambil menyerahkan kotak obat tersebut.


"Eh iya makasih ya bi, itu jangan lupa pecahan gelasnya di bersihin supaya gak keinjek lagi!" ucap Jenar menampani kotak itu.


"Iya bu baik, ini saya langsung bersihkan kok! Permisi dulu bu..." ucap Yani lalu kembali ke tempat pecahan gelas tadi dan membersihkannya sampai tak bersisa.


"Nah Shella, sini kaki kamu ibu obatin dulu supaya gak infeksi...!!" ucap Jenar sambil membuka kotak obatnya dan menghadap ke arah Shella berada, namun wanita itu malah menunjukkan wajah bete nya.


"Loh kamu kenapa Shella??" tanya Jenar kebingungan karena anaknya itu tiba-tiba cemberut.


"Ini loh bu, handphonenya mas Vano gak bisa dihubungin! Aku kan jadi makin cemas tau sama mas Vano kalo gini, biasanya dia gak pernah loh matiin ponselnya walau pergi kemanapun itu..." ujar Shella memanyunkan bibirnya.


"Ya ampun Shella, tadi kan kamu bilang sendiri sama ibu kalau nak Vano mau ketemu sama calon investor di perusahaannya... ya mungkin aja dia matiin hp nya supaya gak keganggu!" ucap Jenar berusaha menenangkan Shella.

__ADS_1


"Iya juga sih bu, yaudah deh nanti lagi aja aku coba hubungin mas Vano... oh ya ini bu hp nya makasih ya udah pinjemin aku tadi," ucap Shella lalu mengembalikan hp ibunya itu.


"Iya sayang sama-sama, yaudah sini kaki kamu ibu obatin dulu itu darahnya lumayan loh harus segera diobati supaya gak terus mengalir!" ucap Jenar kemudian mengangkat kaki Shella secara perlahan ke atas sofa agar mudah untuk diobati.


"Awh..." Shella sedikit merintih saat kakinya diangkat oleh Jenar ke atas sofa.


"Tahan ya sayang, pasti sakit pas ibu cabut beling nya dari kaki kamu... jadi tahan dulu ya mungkin emang agak sakit!" ucap Jenar sambil tersenyum lalu perlahan mengeluarkan beling itu dari kaki Shella.




Disisi lain, Nadya sampai di depan pintu rumah Shella untuk menemui ibunya... bagaimanapun juga Nadya sekarang sedang kesepian setelah ditinggal mamah angkatnya pulang kampung, ia pun terpaksa mendatangi rumah ibu kandungnya sekaligus juga bertemu kembali dengan saudaranya yang ia rindukan.


Namun, langkah Shella terhenti saat ia mendengar sebuah suara rintihan dari seorang wanita yang tidak lain adalah Shella.


Ia pun mengintip dari kaca jendela yang sedikit terbuka itu dan melihat ke dalam, tampak Jenar tengah mengobati kaki Shella yang terluka dan gadis itu seperti kesakitan karenanya.


"Ibu kelihatannya sayang banget sama Shella, sampai luka kecil aja ibu yang harus ngobatin kakinya Shella... kira-kira ibu bakal lakuin hal yang sama gak ya ke aku kalau kaki ku luka begitu juga? Huh udah lah percuma juga aku berharap, mana mungkin coba ibu kayak begitu ke aku... orang ibu aja gak sayang sama aku!" gumam Nadya lalu memundurkan langkahnya ke belakang.


Entah mengapa ia jadi berubah pikiran untuk menemui ibu dan saudaranya, akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang dan meletakkan bingkisan yang ia bawa di kursi depan rumah itu.


"Semoga ibu sehat-sehat terus ya, maaf aku belum bisa temuin ibu sekarang karena aku masih terlalu kecewa sama ibu...." gumam Nadya yang terlihat sedih sampai menitikkan air mata.


Dengan cepat Nadya menyeka air matanya dan berbalik badan, setelah menghela nafas panjang ia mulai berjalan pergi meninggalkan rumah ibunya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2