Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Kenapa Devano?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 120


...•...


...•...


TOK TOK TOK...


"Permisi Bu Shella," ucap Rafael mengetuk pintu di rumah Shella sambil menenteng tas belanja di tangannya yang untuk diberikan pada Shella.


"Iya sebentar..." teriak orang dari dalam rumah itu berjalan menuju pintu depan lalu membukakan pintu agar Rafael bisa masuk.


"Eh kamu yang kemarin antar Shella kesini kan?" tanya Jenar.


"Ah iya tante benar, saya Rafael orang suruhan pak Devano yang kemarin diutus untuk mencari Bu Shella!" jawab Rafael sambil mencium tangan Jenar.


"Nah kan bener, ada apa lagi kamu kesini? Apa nak Vano juga yang suruh kamu buat datang kesini??" tanya Jenar lagi.


"Iya benar lagi tante, saya diminta pak Devano buat kasih ini ke Bu Shella.. apa Bu Shella nya ada di dalam tante?" ucap Rafael menunjukkan tas belanja yang ia bawa itu.


"Wah apa ini nak Rafael?" tanya Jenar.


"Ah ini ada susu sama vitamin buat Bu Shella tante, pak Devano tidak mau Bu Shella dan kandungannya kenapa-napa tan!" jawab Rafael.


"Wah nak Vano emang peduli banget sama istri dan calon anaknya, tapi kenapa dia gak kasih ini secara langsung ke Shella? Emangnya dia gak mau ketemu sama istrinya ini??" ujar Jenar mengambil tas belanja itu dari tangan Rafael.

__ADS_1


"Kalau soal itu maaf tante saya gak tau, karena saya cuma disuruh untuk beliin ini semua buat Bu Shella! Jadi tolong ini dikasihkan ke Bu Shella ya tan, soalnya pak Devano pesan barang ini harus sampai di tangan Bu Shella..!!" ucap Rafael.


"Iya tenang aja nak Fael, Shella juga ada di dalam kok nanti tante langsung kasih ini ke dia.. terimakasih ya nak Fael udah repot-repot datang kesini buat kasih susu sama vitamin untuk Shella! Sampaikan juga terimakasih dari tante ya buat nak Vano!" ucap Jenar.


"Iya tante pasti, yasudah tan saya izin pamit dulu! Soalnya masih ada yang harus saya urus lagi," ucap Rafael kembali mencium tangan Jenar.


"Ah iya iya hati-hati di jalan nak Fael..!!" ucap Jenar.


Rafael pun berjalan pergi dari rumah Shella, sementara Jenar masuk ke dalam sambil menutup pintu dan menemui Shella untuk menyerahkan susu dan vitamin pemberian Devano itu.


Tampak Shella tengah menyeduh susu sereal di meja makan, Jenar pun langsung menghampirinya dan mencegah Shella meminum itu.


"Eh eh eh, kamu jangan minum ini ya sayang! Nih nih mending kamu minum ini aja susu ibu hamil, biar kandungan kamu sehat-sehat terus sayang! Sebentar ya ibu seduhin buat kamu, susu yang itu biar nanti ibu aja yang minum oke..!!" ucap Jenar.


"Loh ibu beliin aku susu hamil? Buat apa sih Bu pake repot-repot segala, aku juga gak kenapa-napa kok! Justru itu kan malah buang-buang duit ibu, harusnya daripada ibu beli itu mending ibu beli keperluan yang lebih penting lainnya..!!" ujar Shella.


"Aduh Shella sayang, ini tuh bukan ibu yang beli! Tapi tadi itu loh nak Rafael datang kesini bawain ini, katanya dia disuruh sama suami kamu Devano buat beli ini untuk kamu! Oh ya dia juga beliin vitamin loh, karena katanya dia khawatir sama kondisi kamu dan calon bayi di perut kamu itu!" ucap Jenar menjelaskan semuanya pada Shella.


"Tadi ibu juga tanya gitu sama nak Fael, tapi dia katanya gak tau.. yaudah kamu jangan mikir yang enggak-enggak sama suami kamu itu! Mungkin aja dia lagi sibuk kan jadi belum sempat temuin kamu sayang, yaudah ibu bikinin dulu ya susunya!" ucap Jenar mengelus kepala anaknya itu.


Shella manggut-manggut saja dan lalu Jenar pun menuju ke dapur untuk menyeduh susu hamil itu.


"Kenapa ya sama mas Vano? Padahal aku berharapnya dia bakal datang kesini buat temuin aku, ya walau aku masih belum mau ketemu sama dia sih!" gumam Shella.


...•••...


Adrian masih saja berusaha untuk mendekati Nadya, padahal wanita itu sudah berulang kali mengusirnya agar tak mendekati dirinya lagi.


"Bapak ngapain lagi sih kesini? Kalau ada apa-apa pasti saya langsung temuin bapak di ruangan bapak kok, jadi bapak gak perlu datang ke ruangan saya!" ucap Nadya yang sedikit kesal karena lagi-lagi Adrian datang ke ruangannya.


Adrian hanya diam saja sambil tersenyum tipis, ia pun menarik sebuah kursi yang ada disana lalu memindahkannya ke samping Nadya dan tentu saja ia duduk disana.


"Jangan galak-galak dong cantik, kamu kan asisten saya jadi harus bersikap ramah sama saya!" ucap Adrian mendekatkan wajahnya pada Nadya.

__ADS_1


"Maaf pak, tapi saya sudah berusaha bersikap ramah sama bapak! Cuma bapaknya aja yang terus-terusan bikin saya emosi, sekarang bapak mau apa lagi datang kesini??" ujar Nadya berusaha menjauh dari Adrian.


"Saya mau..." Adrian sengaja menggantung ucapannya lalu semakin mendekatkan wajahnya dan membelai rambut Nadya itu.


Cupp.. walau berusaha menghindar akhirnya satu ciuman berhasil mendarat di pipi Nadya yang tentu saja dilakukan oleh Adrian.


"Itu yang saya mau, tapi bukan itu aja sih karena saya juga mau kecup bibir kamu yang indah ini.." ucap Adrian sambil mengelus lembut bibir milik Nadya.


"Jangan pak! Saya gak mau bapak lakuin itu, sebaiknya bapak sekarang kembali ke ruangan bapak karena saya harus lanjut bekerja pak! Saya juga gak mau ada orang yang tau kalau bapak malah berada disini bukan di ruangan bapak, nantinya pasti orang-orang akan berpikiran yang enggak-enggak!" ucap Nadya.


Adrian malah tersenyum lalu menarik kepala Nadya dan kembali mengecup pipinya yang mulus itu, ia mengulangi itu berkali-kali sampai akhirnya Nadya berhasil lepas dari genggamannya.


"Cukup pak! Kalau bapak mau saya bersikap ramah, harusnya bapak gak kayak gini ke saya! Emangnya bapak pikir saya ini wanita apa??!!" ujar Nadya emosi.


"Jangan marah-marah gitu..!!" ucap Adrian sambil mengelus rambut Nadya, namun dengan cepat Nadya langsung menepis tangannya itu.


Baru saja Adrian ingin mendekap tubuh Nadya lagi, namun ponselnya berdering dan akhirnya ia mengurungkan niatnya itu.


Adrian mengambil ponselnya dari dalam saku celana miliknya, ia lalu mengangkat teleponnya disana.


📞"Halo pah, ada apa ya??" tanya Adrian di dalam telpon dan ternyata yang menelponnya adalah Satria alias papahnya.


📞"Kamu masih di kantor An?" ucap Satria yang terlihat sangat cemas.


📞"Iya nih pah, emang kenapa ya? Kok papah kayak yang lagi panik gitu??" tanya Adrian sambil melirik dan menggenggam tangan Nadya.


📞"Adik kamu Bimo ditangkap polisi atas tuduhan melakukan pembunuhan..!!" ucap Satria.


Sontak Adrian langsung membulatkan matanya dan menjauhkan ponselnya dari telinganya, ia tak mengerti bagaimana bisa polisi berhasil mengetahui kalau Bimo telah membunuh orang.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2