
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 273
...•...
...•...
Shella masih saja diam mencuekkan suaminya yang sudah berusaha untuk mengajaknya bicara, rupanya Shella belum bisa melupakan perkataan Devano kepada Novi yang mengatakan kalau dia menyukai sekretaris cantik itu. Ya Devano tidak tahu mengenai itu karena Shella memang hanya diam, sudah berulang kali ia mencoba bertanya pada istrinya namun tetap tak ada jawaban.
Setelah selesai makan, Devano pun berniat kembali ke kantor karena ada janji dengan pak Ridwan selaku calon kliennya. Ia kembali mendekati istrinya memandang wajah Shella dari dekat lalu berpamitan padanya, namun terlihat Shella hanya diam fokus terhadap makanannya sehingga membuat Laila serta Jenar saling pandang kebingungan.
"Honey, aku ke kantor dulu ya? Nanti aku balik lagi kesini buat jemput kamu, oke?" ucap Devano sembari menyentuh pundak istrinya.
Shella hanya mengangguk pelan sambil mengunyah makanan di mulutnya, ia tak sama sekali melirik wajah Devano suaminya padahal saat ini pria itu ada di sampingnya dan berjarak sangat dekat dengannya.
Cupp...
Devano menarik kepala istrinya lalu mengecup kening Shella dengan lembut, masih tak ada respon dari sang istri karena nampaknya dia masih marah walau Devano tak tahu apa sebabnya Shella sampai marah begitu padanya.
Karena tetap tak ada jawaban dari istrinya, Devano pun beralih pamitan pada Jenar & Laila tak lupa pula ia mencium punggung tangan ibu mertuanya itu dan sesekali juga melirik Shella kembali di belakangnya.
"Bu, aku pamit ke kantor ya? Assalamualaikum..." ucap Devano dengan tampang sedih.
"Iya, waalaikumsallam... hati-hati nak Vano!" ucap Jenar tersenyum tipis.
Devano melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan perlahan dan masih sesekali melirik ke arah istrinya disana, perasaannya tak karuan memikirkan Shella yang tiba-tiba cuek padanya bahkan tidak ada kata-kata apapun apalagi mencium tangannya.
__ADS_1
Sementara Jenar kini duduk di samping putrinya coba menanyakan ada apa sebenarnya antara Shella dengan Devano sampai-sampai Shella mendiamkan suaminya seperti itu, tentu Jenar tahu betul kalau Shella pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Shella, ada apa sih sayang??" tanya Jenar.
"Eh ibu, gak ada apa-apa kok! Aku cuma lagi makan ini belum abis, emang kenapa sih Bu?" ucap Shella pura-pura tak terjadi apapun, ia malah bertanya balik pada ibunya membuat Jenar kebingungan.
"Loh, gimana sih sayang? Ibu itu tanya sama kamu, kok kamu malah nanya balik??" ujar Jenar bingung.
"Ya abis ibu nanyanya kurang jelas sih, aku kan gak ngerti maksud ibu ada apa tuh apa?" ujar Shella.
"Hadeh kamu ini, maksudnya ya hubungan kamu sama nak Vano itu ada apa? Kenapa kamu tadi cuekin suami kamu kayak gitu? Gak baik loh sayang kayak begitu sama suami sendiri!" ucap Jenar.
"Ohh, aku gak cuekin mas Vano kok Bu!" elak Shella.
"Gak cuekin gimana? Orang tadi kamu diem aja pas nak Vano bicara sama kamu, malah kamu juga gak cium tangan dia waktu mau pergi! Ibu kan udah sering bilang sama kamu, gak baik kayak begitu sama suami kamu sendiri...!!" ujar Jenar.
Shella pun tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan ke arah lain karena tak mau terus membahas tentang Devano lagi, ia masih merasa kesal sekaligus geram pada suaminya karena dianggap tidak setia padanya.
"Hehehe, iya Bu aku ngerti kok!" ucap Shella.
"Yaudah bagus kalo ngerti, tapi nanti kamu minta maaf loh sama suami kamu dan jangan diulang lagi perbuatan tadi!" ucap Jenar.
"Iya Bu..."
...•••...
Disisi lain, Viona yang bete karena gagal bertemu dengan Devano kini memilih masuk ke dalam cafe untuk sekedar menghilangkan haus sekaligus mengisi perutnya yang lapar. Viona memesan kopi serta kue manis untuk menemaninya di cafe, ia sangat geram karena keinginannya menemui Devano di kantor tadi sirna.
Sluurrrppp....
Viona menyeruput kopinya dengan penuh penghayatan sembari memejamkan mata, ketenangan sedikit terasa kini di dalam tubuhnya setelah meminum kopi tersebut. Ya walau masih ada sedikit kekesalan akibat Devano yang tak muncul ketika ia berada di kantornya, padahal ia sudah menantikan momen untuk bertemu dengan Devano.
Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapih masuk ke dalam cafe itu dan duduk di meja yang kosong lalu memanggil pelayan disana untuk memesan. Viona terus memperhatikan pria itu karena menurutnya ia seperti mengenali pria tersebut, ya Viona baru teringat kalau pria itu memanglah Arga alias lelaki yang dijodohkan oleh orangtuanya.
__ADS_1
"Itu kan Arga, dia kok dateng ke cafe kecil kayak gini sih? Bukannya dia anak keluarga ternama, tumben ada cowok kayak dia..." batin Viona.
Akhirnya Viona memilih membawa cangkir kopinya ke meja Arga untuk menghampiri pria tersebut, ya Viona memang sangat tertarik padanya karena ketampanan serta kewibawaan seorang Arga yang terlihat cukup menarik di matanya.
"Hai...!!" ucap Viona menyapa Arga.
Tanpa rasa ragu maupun malu Viona langsung duduk di hadapan pria itu dengan cangkir kopi yang tadi ia bawa, Arga pun terkejut dan memberikan tatapan tajam dengan mata menyala ke arah wanita itu karena ia tidak suka Viona ada disana.
"Kamu ngapain disini?" tanya Arga ketus.
"Aku tadi lagi ngopi-ngopi aja, terus pas lihat kamu masuk kesini juga yaudah deh aku langsung pindah kesini nemenin kamu!" jawab Viona tersenyum.
Arga tak lagi menjawab dan hanya terdiam sembari mengusap wajahnya kasar karena malas sekali ia harus berurusan dengan Viona lagi dan lagi, padahal ia datang ke cafe ini untuk menenangkan diri sekaligus menyusun rencana selanjutnya yang akan ia lakukan pada Shella maupun Devano.
"Kamu kok tumben sih mau dateng ke cafe kayak gini, bukannya kamu sukanya makan di tempat mewah ya?" tanya Viona mencoba akrab.
"Ini kan tempat umum dan siapapun bebas buat kesini, jadi suka-suka saya mau datang kesini atau kemana kek kan bukan urusan kamu!" ucap Arga.
"Ya iya sih, tapi heran aja gitu...." ucap Viona.
Arga pun memalingkan wajahnya sembari mengerutkan keningnya, Viona yang melihatnya malah tersenyum manis menopang dagunya mengenakan dua tangan sambil terus memandangi wajah tampan pria tersebut.
Tentu Arga merasa risih dipandang seperti itu oleh seorang wanita yang sama sekali tak ia sukai, apalagi Viona masih terus saja tersenyum ke arahnya seperti sengaja menggoda pria di hadapannya itu.
"Ngapain sih senyum-senyum gitu??" tegur Arga.
"Gak ngapa-ngapain kok..." jawab Viona santai.
Viona tak perduli dengan ketidaksukaan Arga padanya, ia tetap tersenyum menggoda pria itu sembari menaikkan dua alisnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1