
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 383
...•...
...•...
Jenar akhirnya berhasil membujuk Nadya untuk mau keluar rumah dan makan malam bersamanya, gadis itu juga tampak agak lebih tenang walau air mata masih merembes keluar membasahi pipinya. Ya Jenar sangat sedih dan tidak tega melihat kondisi putrinya yang begitu mengkhawatirkan saat ini, ia tak mau kalau sampai Nadya kenapa-napa nantinya.
Nadya hingga saat ini memang masih saja terus terpikirkan pada kejadian yang menimpa Yoga, ya Nadya belum bisa tenang sepenuhnya kalau pacarnya itu belum ditemukan. Banyak spekulasi memang yang mengatakan kalau Yoga sudah meninggal karena terjatuh ke jurang, namun entah mengapa Nadya yakin sekali kalau Yoga masih hidup dan saat ini dia tengah membutuhkan bantuan.
Jenar kini menggandeng lengan serta merangkul pundak putrinya itu berjalan keluar dari kamarnya, ia berhasil melakukan itu setelah berusaha selama hampir empat jam lebih untuk membujuk Nadya. Awalnya Nadya memang tidak mau dan terus saja menolak ajakan ibunya untuk makan, tapi akhirnya Nadya mau makan malam bersama ibunya itu.
"Sayang, yuk kita ke bawah buat makan!" ucap Jenar setelah berada di depan kamar putrinya.
"Iya Bu, tapi emang bik Yani udah siapin makanan nya?" tanya Nadya.
"Udah kok sayang, malah bik Yani itu bikin makanan kesukaan kamu loh! Sekarang kamu harus makan dulu ya cantik! Kalo gak makan pasti Yoga sedih nantinya, kan ibu yakin banget kalau nak Yoga itu gak mau ngeliat kamu sakit sayang!" ucap Jenar.
"Iya Bu, aku mau makan kok." ucap Nadya pelan.
"Bagus sayang! Yaudah, kita turun ke bawah tapi pelan-pelan aja! Kamu juga pegangan erat ya sama ibu, biar supaya gak jatuh!" ucap Jenar.
Nadya hanya manggut-manggut pelan dan mengikuti perkataan ibunya, ia melangkah pelan menuruni anak tangga satu persatu sembari menggenggam erat lengan ibunya yang ada di sampingnya itu. Pikiran Nadya masih saja terarah pada sosok Yoga kekasihnya yang hilang itu, entah mengapa sulit sekali baginya untuk melupakan sejenak pria itu.
"Yoga, apa kamu baik-baik aja sekarang? Cepat muncul dong Yoga, aku kangen kamu!" batin Nadya.
Sesampainya di bawah, Nadya langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat Damar tengah duduk di meja makan menikmati makan malam seorang diri disana. Ya tentu Nadya masih ingat betul ucapan Damar siang tadi tentang Yoga, hal tersebut sangat amat membuatnya marah dan tak bisa dengan mudahnya ia melupakan itu.
"Bu, aku gak jadi makan deh! Aku mau ke kamar aja, aku males disana ada orang yang mulutnya gak bisa dijaga! Nanti yang ada aku malah ribut lagi sama dia disana, aku males Bu!" ucap Nadya emosi.
"Yah jangan dong sayang! Kamu kan harus makan, kalo gak makan nanti kamu sakit loh sayang! Soal Damar biar ibu yang kasih tau nanti, dia juga udah ibu tegur kok tadi sayang!" ucap Jenar.
"Tapi Bu, aku masih kesel banget loh sama dia! Aku juga gak ngerti kenapa dia bisa ngomong gitu, harusnya kan dia bisa jaga omongannya itu!" ucap Nadya masih dengan wajah cemberutnya.
"Sabar sayang! Mungkin maksud Damar itu cuma bercanda kali, tapi dia emang keterlaluan sih bercandanya. Udah ya, kamu maafin aja dia dan sekarang kita kesana makan sama-sama! Ibu gak mau kamu sakit sayang!" ucap Jenar.
"Huft, yaudah deh Bu." ucap Nadya menurut.
"Nah gitu dong sayang, yaudah yuk kita kesana!" ucap Jenar tersenyum lalu menggandeng tangan putrinya sembari mengusap punggung Nadya.
Nadya manggut-manggut saja mengikuti langkah ibunya menuju meja makan dengan perasaan jengkel dan masih kesal pada Damar, namun ia berusaha tetap tenang demi sang ibu tersayang.
•
•
Saat sampai di meja makan, tampang Nadya bertambah jengkel begitu melihat Damar secara langsung dari jarak yang lebih dekat. Ingin sekali rasanya Nadya menghantam wajah pria tersebut mengingat apa yang dia katakan siang tadi tentang Yoga, namun ia masih berusaha sabar demi sang ibu yang ada di sampingnya itu.
Damar yang melihat kehadiran Nadya serta Jenar disana pun tampak merasa tidak enak, ia sampai kesulitan menelan makanan yang ada di mulutnya karena rasa gugup yang ia rasakan saat ini. Damar memang menyesal telah mengatakan hal tadi di depan Nadya dan membuat gadis itu bersedih, ia pun menoleh ke arah Nadya untuk meminta maaf.
__ADS_1
"Sheila, kebetulan kamu turun. Aku mau minta maaf ya sama kamu soal tadi, aku gak ada niat apa-apa kok murni bercanda aja. Aku juga sadar kalau candaan aku tuh kelewatan banget," ucap Damar.
"Kamu pikir aku bakal maafin kamu gitu aja ha? Aku gak bisa gitu aja maafin kamu, karena yang kamu bilang tadi tuh bikin aku kesel banget!" ucap Nadya.
"Iya aku tau, yaudah gini deh kamu mau aku lakuin apa supaya kamu bisa maafin aku? Aku pasti bakal turutin apapun itu yang kamu mau, yang penting aku bisa dapetin maaf dari kamu Sheila!" ucap Damar.
"Sheila, kamu maafin aja ya nak Damar! Kalian ini kan saudara sepupu, ya sayang ya!" ucap Jenar.
"Bu, biar begitu aku tetep kesel sama dia! Masalahnya dia tuh gak bisa jaga mulutnya, kan aku kesel banget Bu!" ucap Nadya.
"Iya sayang, tapi kan Damar udah minta maaf. Sekarang kamu harus maafin dia!" ucap Jenar.
Nadya terdiam melirik sekilas ke arah Damar dengan wajah juteknya, sebenarnya ia masih ragu untuk memaafkan Damar karena ia sama sekali tak yakin kalau Damar benar-benar menyesal. Namun, permintaan ibunya membuat Nadya sulit untuk mengambil keputusan saat ini antara memaafkan Damar atau tidak dan memberi hukuman padanya.
"Yaudah iya, aku maafin kok! Tapi, aku masih males buat bicara sama kamu sekarang dan tolong jangan ganggu-ganggu aku dulu!" ucap Nadya masih dengan wajah yang cemberut dan kesal.
"Sheila, kamu kok gitu sih? Berarti kamu gak ikhlas dong maafin nak Damar?" tanya Jenar.
"Bu, aku ikhlas kok!" jawab Nadya.
"Ikhlas apanya? Kalo emang ikhlas ya harusnya kamu jangan jutek gitu dong, ya minimal senyum atau bibirnya jangan ditekuk gitu terus!" ucap Jenar.
"Aku males Bu!" ucap Nadya.
"Eee yaudah tante, gapapa kok. Biar aku lanjut makannya di teras aja, silahkan Sheila kamu makan ya biar badannya enakan!" ucap Damar tersenyum lalu bangkit membawa piring di tangannya.
Nadya hanya diam tak perduli dengan perkataan serta gerakan dari Damar itu, ia justru senang saja karena Damar mau pergi dari sana sehingga ia tidak harus makan bersama Damar. Nadya juga langsung duduk begitu saja di meja makan sesudah Damar pergi dari sana, Jenar yang ada di sampingnya juga menyusul Nadya duduk disana.
"Syukur deh! Dia ngerti juga buat pergi tanpa diusir, aku jadi bisa makan dengan tenang deh!" ucap Nadya.
...•••...
Disisi lain, Adrian terjun langsung ke bawah jurang bersama para tim SAR serta beberapa anak buah yang ia kerahkan untuk bisa menemukan tubuh Yoga dengan cepat dalam keadaan apapun. Adrian sudah tidak tahan lagi melihat tangisan dari Nadya gadis tercintanya itu, bahkan di kegelapan malam ini Adrian tetap nekat untuk meneruskan pencarian.
Pria itu berbekal alat pengaman yang diberikan tim SAR, mulai turun menyusuri jurang yang terjang dan cukup mengerikan dan licin itu demi mencari Yoga alias kekasih dari Nadya. Adrian perlahan bergerak sembari mengarahkan senter di tangan sebagai penerangan jalannya, ia juga berteriak memanggil nama Yoga supaya pria tersebut dapat mendengar.
"Saya harus bisa temuin anda Yoga! Biarpun saya tidak suka dengan anda, tapi saya lebih mementingkan kebahagiaan wanita yang saya cintai yaitu Nadya!" gumam Adrian di dalam hatinya.
Mereka berpencar menjadi beberapa kelompok yang akan menyusuri hutan lebat dan gelap itu, Adrian ditemani oleh beberapa anak buahnya itu berjalan beriringan sembari berteriak memanggil Yoga. Mereka tentu berharap Yoga bisa segera ditemukan dan dalam kondisi hidup, walau kemungkinan itu cukup kecil lantaran kondisi jurang yang dalam.
"Bos, kita gak nemu apa-apa nih disini. Apa mungkin si korban itu gak ada disini?" ucap Tono salah seorang anak buah Adrian.
"Ah kamu jangan berkesimpulan seperti itu dulu! Kita baru beberapa menit disini, cari terus sampe ketemu dan jangan banyak mengeluh! Kalian ini saya mintai pertolongan juga saya bayar, jadi kalian harus bekerja dengan baik!" ujar Adrian.
"Siap bos!" ujar Tono.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mencari Yoga di sekitar hutan yang lebat itu, Adrian cukup berhati-hati dan terus mengamati sekitar barangkali ada ular atau hewan berbahaya lainnya. Memang sebenarnya Adrian tak ingin melakukan ini semua, namun kesedihan Nadya membuatnya terpaksa harus turun langsung mencari Yoga disana.
Tak lama kemudian, disaat mereka tengah asyik mencari keberadaan Yoga sembari berteriak memanggil nama pria tersebut, tiba-tiba saja sebuah suara orang minta tolong muncul dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Adrian serta anak buahnya pun tampak bingung dan coba mencari darimana asal suara tersebut, mereka berharap kalau itu adalah suara milik Yoga.
"Tolooongg...!!!"
Adrian dengan cepat langsung memerintahkan anak buahnya yang ada disana untuk mencari asal suara orang minta tolong itu, ia tak mau sampai kehilangan jejak dan terlambat menyelamatkan nya. Apalagi kalau sampai orang tersebut memanglah benar Yoga alias kekasih Nadya yang tengah mereka cari sedari tadi disana, Adrian pun juga ikut berjalan mencari asal suara tersebut bersama anak buahnya.
"Ayo cepat cari cari cari..!!" perintah Adrian.
"Siap bos!" jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Tolooongg....!!"
Suara itu muncul kembali dan bahkan lebih jelas dari sebelumnya, Adrian pun dapat memastikan suara itu berasal dari balik semak-semak lebat yang ada di samping kanannya. Ia bersama anak buahnya langsung mengarahkan pandangan kesana dan berjalan mendekati Demak tersebut, mereka perlahan melangkah untuk memastikan siapakah yang ada di balik semak-semak tersebut.
"Yoga? Apa itu kamu?" tanya Adrian sambil berjalan mendekati semak-semak itu.
Tak ada jawaban dari sana, tentu membuat Adrian sangat penasaran sekaligus jengkel dengan seseorang yang ada di balik semak tersebut karena ia memilih diam tak menjawabnya.
Sraakkk...
Adrian menyingkirkan semak-semak tersebut dan melihat sosok pria tengah tergeletak lemas disana sembari memegangi perutnya menahan sakit, ia pun langsung menghampiri pria tersebut dan berjongkok di dekatnya dengan ekspresi panik.
"Yoga? Yog, lu gapapa?" ujar Adrian cemas begitu melihat Yoga lah yang ada disana.
"Adrian? Uhuk uhuk..." ucap Yoga lemas.
"Lu jangan banyak bergerak dulu! Biar gue bantu bawa lu ke atas sana, kebetulan gue juga sama tim SAR dan mereka lagi cari lu. Sebentar ya, woi kalian hubungi tim SAR suruh mereka kesini!" ucap Adrian.
"Siap bos!" ucap Tono.
Sementara Tono menghubungi tim SAR, Adrian pun berusaha membantu Yoga dengan cara apapun itu seperti memberi air minum padanya.
"Yog, nih lu minum dulu!" ucap Adrian.
"Uhuk uhuk, makasih!" ucap Yoga lemas.
Adrian pun membantu Yoga meminum air yang ia bawa tersebut dengan perlahan.
"Makasih Adrian!" ucap Yoga.
"Sama-sama, lu sabar ya! Bentar lagi tim SAR bakal dateng buat bantuin lu, kita tunggu sebentar dulu!" ucap Adrian menenangkan Yoga.
"Adrian, gue salah nilai lu selama ini. Ternyata lu itu emang orang yang baik, buktinya lu mau tolong gue yang padahal adalah musuh lu dan juga saingan lu buat dapetin Nadya." ucap Yoga.
"Lu gak perlu banyak bicara dulu saat ini, kondisi lu belum memungkinkan untuk itu!" ucap Adrian.
"Gapapa. Satu lagi yang mau gue bilang sama lu, kayaknya gue gak kuat lagi deh buat ngapa-ngapain dan gue juga belum yakin kalau gue bisa lanjutin kehidupan gue ini. Maka dari itu, kayaknya lu orang yang pas buat gue titipin Nadya!" ucap Yoga.
"Lu ngomong apaan sih, Yog? Udah deh jangan suka bicara yang enggak-enggak begitu! Lu pasti bisa sembuh, Nadya udah nunggu lu di rumah!" ujar Adrian memarahi Yoga.
"Ya, gue bakal terus berusaha untuk tetap hidup demi Nadya dan juga semua yang gue sayangi! Tapi, kalaupun emang sekarang ini udah waktunya gue buat pergi dari dunia, gue ikhlas kok karena yang terpenting gue udah pernah bisa merasakan cinta dari gadis yang gue sayangi!" ucap Yoga.
"Lu pasti bisa sembuh!" ucap Adrian.
"Gue titip Nadya sama lu, Adrian! Jagain dia dan cintai dia dengan sepenuh hati lu! Gue yakin banget lu pasti bisa lakuin itu, karena lu orang yang bener-bener sayang sama dia!" ucap Yoga.
"Apaan sih? Gak, gak ada kek gitu!" ujar Adrian.
"Oh ya, gue juga minta sama lu buat hati-hati sama sepupunya Nadya si Damar itu. Dan gue minta juga buat lu jagain Nadya dari dia, karena dia gak sebaik yang kalian semua kira!" ucap Yoga.
"Hah? Maksud lu? Emang Damar kenapa?" tanya Adrian terkejut terheran-heran.
"Di-dia...."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1