
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 361
...•...
...•...
"Misi mbak, ini pesanannya..." ucap seorang pelayan yang datang membawa minuman pesanan Shella, pelayan itu pun menaruh gelas berisi minuman di atas meja dan mempersilahkan Shella untuk meminumnya.
"Terimakasih," ucap Shella singkat sambil tersenyum menatap sekilas wajah pelayan tersebut.
"Sama-sama, silahkan dinikmati!" ucap pelayan itu agak membungkuk sedikit, lalu berbalik badan dan pergi kembali ke tempatnya bertugas.
Ya Shella memang terpaksa memesan minuman lebih dulu, karena sudah sangat haus dan hingga kini pun Yasmin serta Zara belum juga sampai kesana. Shella langsung mengambil gelas di atas meja itu kemudian meminumnya dengan perlahan, rasa haus yang ia rasakan perlahan hilang setelah menikmati minuman segar tersebut.
Bruuukkk...
Tiba-tiba seseorang tak sengaja menabrak tubuh Shella dan mengakibatkan minuman di dalam gelas itu tumpah ke pakaian yang dikenakan Shella, walau sedikit tentu itu sangat membuat Shella kesal dan ingin rasanya ia emosi pada orang tersebut.
"Ma-maaf..." ucap orang itu meminta maaf kemudian berniat membersihkan baju Shella yang basah.
"Iya iya, gapapa. Udah gausah, biar saya aja nanti yang bersihin sendiri!" ucap Shella menolak bantuan dari pria tersebut yang ingin membersihkan bajunya.
"Yaudah, sekali lagi maaf ya!" ucapnya.
"Iya, lain kali hati-hati mas!" ucap Shella dengan raut wajah cemberut, ia pun mengeluarkan tisu dari dalam tasnya lalu mulai membersihkan bekas minuman yang tumpah ke bajunya.
Tak lama kemudian, muncul segerombolan orang yang sangat banyak dan ramai ke dalam cafe tersebut. Mereka semua menuju tempat pemesanan dan tampak mengantri dengan heboh. Dibalik itu, ada empat orang misterius yang langsung menghampiri Shella dan membekap mulut Shella dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius dari belakang.
"Mmpphh mmpphh..." Shella berupaya untuk berontak dari pegangan mereka, namun tak berhasil karena ia dipegang oleh empat orang sekaligus.
Keempat pria tersebut pun langsung membawa tubuh Shella dari dalam cafe tersebut, kerumunan yang tengah memesan itu membuat semua pelayan disana sibuk, sehingga mereka tidak bisa menyadari penculikan yang sedang terjadi disana.
Para pelanggan disana juga tak ada yang bisa melihatnya, karena si penculik sudah mengatur sedemikian rupa banyaknya orang untuk bisa menutupi aksi mereka itu. Sehingga mereka dapat membawa tubuh Shella dengan mudahnya dari dalam cafe tersebut.
Shella yang masih setengah sadar, terus berupaya untuk melepaskan diri. Namun, pengaruh obat bius tersebut sangatlah kuat dan membuatnya lemas serta hampir pingsan.
"Gimana ini? Aku harus bisa selamatin diri!" batin Shella merasa ketakutan.
Kedua bola mata Shella melirik ke kiri dan menemukan sosok Rafael yang masuk ke dalam cafe tersebut, sontak Shella pun berusaha sekeras tenaga untuk bisa memanggil Rafael dan meminta pertolongan padanya. Akan tetapi, usahanya sia-sia karena Shella harus pingsan karena pengaruh obat bius tersebut.
Keempat pria tak dikenal itu pun membawa Shella keluar dari cafe dengan mudahnya, mereka memasukkan Shella ke dalam mobil yang sudah siap sedia di depan cafe.
"Ini targetnya!" ucap salah seorang dari mereka.
"Ayo bawa masuk!" ucap yang lain.
Setelah Shella berhasil dimasukkan ke dalam mobil, sontak keempat orang itu juga ikut pergi menaiki mobil yang lainnya.
Seorang satpam yang berjaga di depan sana, melihat gerak-gerik mencurigakan dari rombongan orang yang memakai topeng hitam pada mukanya itu. Ia pun coba mendekat dan berteriak.
"Woi! Mau ngapain kalian...??!!" teriak satpam itu.
"Gawat nih! Buru cabut cabut!!" ucap penculik itu panik dan langsung masuk ke mobil lalu menancap gas dengan kencang.
"Woi...!!" teriak satpam itu lagi.
Semua sudah terlambat, para penculik tersebut telah berhasil membawa pergi Shella tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Seorang satpam yang lain menghampiri satpam tersebut karena merasa panik.
"Ada apa nih?" tanya satpam bernama Kiwil.
"Itu, barusan ada orang-orang mencurigakan. Kayaknya mereka abis nyulik orang dari dalam cafe deh, soalnya saya lihat mereka masukin seseorang gitu ke mobil mereka!" jelas satpam bernama Supri.
"Apa??" Kiwil terkejut.
__ADS_1
•
•
Sementara itu, Rafael yang masih ada di dalam merasa heran lantaran cafe tersebut sangat penuh dan hampir tidak ada ruang kosong. Ia bahkan tidak dapat memesan minuman, karena antrian yang sangat panjang dan membuatnya malas.
Rafael pun memilih kembali ke luar daripada harus mengantri disana berjam-jam, ia terpaksa mencari warung terdekat untuk membeli air minum karena tenggorokannya sudah sangat kering, ya mungkin akibat ia terlalu lama gabut di dalam mobil.
Saat di luar, Rafael penasaran lantaran ada banyak petugas yang berkerumun di dekat parkiran. Rafael pun menghampiri mereka untuk bertanya langsung.
"Eee permisi, pak! Ini ada apa, ya?" tanya Rafael.
"Eh, ini mas. Tadi teman saya ini ngeliat ada rombongan orang yang culik seseorang dari dalam cafe ini. Nah, kita tuh lagi nunggu polisi datang untuk minta bantuan! Siapa tau emang beneran orang yang dilihat teman saya itu penculik!" jelas Kiwil.
"Waduh, kok bisa ada penculik di cafe? Padahal tuh di dalam rame banget loh!" ujar Rafael heran.
"Iya, itu dia mas. Biasanya emang tempat keramaian suka dijadikan untuk para penculik melancarkan aksinya, mas!" ucap Kiwil.
"Kacau sih emang penculik jaman sekarang! Yaudah, semoga bisa ketemu tuh orang yang diculiknya! Kasihan kalau sampai beneran dia diculik, pasti keluarganya sedih banget!" ucap Rafael merasa tidak tega mendengar berita penculikan seperti itu.
"Iya mas, kita juga mau cek cctv di depan sini! Supaya kita bisa tau mobil si penculik itu!" ucap Kiwil.
"Yaudah pak, saya permisi ya?" ucap Rafael.
"Iya iya..."
Rafael pun pergi dari sana setelah dirasa cukup informasi dari satpam tersebut, ia masih belum terpikirkan jika yang diculik itu adalah Shella alias istri bosnya.
"Cih! Hari gini masih suka nyulik orang! Emang masih jaman apa?" gumam Rafael.
Rafael segera menuju warung di dekatnya untuk membeli minuman yang ia butuhkan, serta tentunya beberapa batang rokok untuk bisa menemani gabutnya sembari menunggu Shella yang tengah bertemu dengan teman-temannya.
Setelah membeli semua yang diinginkan, Rafael pun kembali ke depan cafe dan terkejut melihat banyak polisi disana seperti tengah memeriksa sesuatu.
"Itu polisi pada ngapain, ya?" ujar Rafael bingung.
"Ohh, pasti mereka lagi nyelidikin kasus penculikan yang tadi. Semoga aja si penculik cepet ketangkap dan yang diculik juga bisa balik!" ujarnya menjawab sendiri kebingungan yang ia rasakan.
Rafael pun membuka tutup botol minumnya, lalu menenggaknya sampai habis tak bersisa. Setelah hausnya hilang, Rafael langsung menghisap rokok yang ia beli sembari bersandar pada badan mobilnya dan terus mengamati polisi-polisi di depannya.
"Permisi pak, selamat siang!" ucap polisi itu.
"Eee iya pak pol, ini kenapa ya? Kok jadi pada datengin saya? Memangnya saya salah apa, pak? Saya gak ngelakuin apa-apa loh daritadi." ujar Rafael ketakutan sendiri.
"Tenang, pak! Kami justru ingin memberitahu pada bapak, ini tentang penculikan yang terjadi di cafe ini barusan." ucap polisi.
"Ohh, emangnya ada apa ya, pak?" tanya Rafael.
"Iya pak, jadi begini... orang yang diculik itu adalah seorang wanita, kami telah melihat semuanya melalui kamera cctv yang terpasang di dalam dan luar cafe ini. Lalu, saat kami menelisik ke rekaman sebelumnya ternyata wanita itu datang ke cafe ini bersama anda! Maka dari itu, kami—"
"Apa pak? Jadi, maksudnya yang diculik itu Bu Shella istri bos saya?" ujar Rafael langsung panik.
Ketiga polisi beserta dua satpam itu kompak mengangguk dengan wajah bersedih, sedangkan Rafael langsung kalut dan panik tidak karuan mengetahui kabar tersebut.
•
•
Sementara itu, mobil penculik yang membawa Shella berhenti di depan sebuah bangunan tua yang setengah jadi. Mereka mengeluarkan tubuh Shella dari dalam mobil, lalu membawanya ke dalam.
Sekelompok orang tersebut meletakkan Shella pada sebuah kursi, lalu mengikat tangan serta kakinya dengan tali yang kuat. Mereka juga membekap mulut Shella menggunakan lakban hitam agar Shella tidak bisa bicara ketika sadar nanti, ya keadaan Shella saat ini tengah pingsan dan tak dapat berbuat apapun.
Setelah selesai melakukan tugas mereka, salah seorang pria pun menghubungi nomor bosnya dan mengatakan kalau mereka telah berhasil membawa Shella ke tempat yang diperintahkan dan juga telah mengikat Shella secara aman disana.
"Gimana? Si bos pasti seneng kan?" tanya kumis.
"Iya dong, bos puji kerja kita! Sekarang kita keluar dari sini dan biarin si bos yang lanjutin aksinya sama cewek ini!" ucap jenggot.
"Oke!"
Mereka pun bergegas keluar dari dalam ruangan kotor tersebut sambil tertawa-tawa gembira.
Tak lama kemudian, seorang pria berjas disertai tampilan yang rapih bahkan rambut pun rapih. Memasuki ruangan tersebut dan berjalan mendekat ke arah tubuh Shella.
__ADS_1
Pria itu tersenyum menyeringai sembari menatap Shella yang pingsan tak berdaya disana, jari-jemarinya bergerak menyingkirkan rambut Shella yang menghalangi pandangannya dari wajah wanita cantik itu.
"Hahaha, Devano pasti sangat marah jika tau istrinya sekarang ada di tempat saya. Saya jadi tidak sabar, ingin mengetahui bagaimana reaksi orang bodoh itu saat tau kalau kamu ada disini, Shella!" ucapnya.
Pria itu pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mengambil foto Shella.
Cekreekkk...📸📸
"Hahaha, foto yang sangat indah! Bagiku, tidak tau kalau bagi Devano..." ujarnya.
...•••...
Sadam yang baru selesai mengantar pesanan, kini kembali ke cafe tempat ia bekerja. Sadam tidak merasa bahwa ada yang tidak aneh, karena suasana di cafe tersebut saat ini sudah sepi dan para polisi yang tadi berada disana pun telah pergi.
Sadam langsung turun dari motornya, lalu berjalan masuk ke dalam cafe itu. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok Yasmin dan juga Zara yang baru turun dari mobil mereka. Tentu saja Sadam pun berniat menghampiri mereka, ia tau pasti kedua gadis itu ingin menemui Shella di dalam.
"Hai guys!" ucap Sadam menyapa mereka.
"Hah? Sadam? Lu ngapain disini?" ujar Yasmin terkejut terheran-heran melihat kehadiran mantan sahabatnya itu disana.
"Tau ih! Lu ngintilin kita, ya?" sahut Zara.
"Dih, enggak lah! Yakali gue ngikutin kalian, ngapain amat? Gue tuh kerja disini, jadi tukang antar pesanan online. Gue tau nih, kalian pasti pada mau ketemu Shella kan?" ucap Sadam.
"Iya, kok lu tau sih? Terus kenapa lu bisa kerja disini jadi tukang antar?" tanya Yasmin heran.
"Soal kerjaan gue gausah dibahas! Tadi gue lihat Shella lagi nungguin kalian di dalam, udah lumayan lama sih sekitar tiga puluh menitan yang lalu. Terus kalian kenapa baru sampe sekarang? Kasihan loh Shella nunggu lama begitu, parah banget sih kalian!" ucap Sadam.
"Hehehe, di jalan macet tau! Kita juga udah coba hubungin nomor Shella dan kirim pesan ke dia, tapi gak diangkat-angkat juga!" ucap Yasmin.
"Yeh dasar! Yaudah, masuk aja yuk ke dalam! Barangkali Shella masih disana, kalian minta maaf dah tuh sama Shella karena udah bikin dia nunggu lama!" ujar Sadam.
"Iya iya..." ucap Yasmin dan Zara bersamaan.
Mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam cafe itu secara bersamaan, Sadam langsung menunjukkan tempat ia bertemu dengan Shella tadi. Namun, alangkah terkejutnya ia saat menyadari tempat tersebut sudah kosong tak ada orang.
"Nah, ini tadi gue lihat Shella disini." ucap Sadam.
"Lah terus kemana Shella? Kok kosong sih, gak ada orang?" tanya Zara heran.
"Ya itu dia, gue juga bingung." ujar Sadam.
"Ah lu salah lihat kali!" ujar Yasmin.
"Matamu! Jelas-jelas gue ngeliat Shella, bahkan gue juga sempet ngobrol sama dia disini! Bentar-bentar, gue coba tanyain deh sama pelayan disini. Barangkali mereka pada tau kemana Shella, tunggu aja dulu!" ucap Sadam.
"Iya deh..." ucap Yasmin.
Sadam pun pergi menemui pelayan yang bekerja disana alias teman kerjanya juga, sedangkan Yasmin dan Zara menunggu di tempat duduk yang sebelumnya diduduki oleh Shella.
"Cantik!" ucap Sadam berteriak.
"Cie cie, udah mulai muji kecantikan gue..." ledek seorang pelayan yang tak lain ialah teman Sadam.
"Ah elah, resek lu! Nama lu kan emang cantik, terus gue harus panggil apa dong kalo bukan cantik? Jelek gitu apa jerawatan, kayak muka lu yang sekarang tuh?" ujar Sadam.
"Yeh ngeselin lu! Ada apaan sih lu manggil-manggil gue?" ujarnya.
"Gini, lu tau gak cewek yang tadi duduk di meja itu pergi kemana? Soalnya tadi sebelum gue berangkat nganter makan, tuh cewek masih ada disitu. Lah sekarang kok udah gak ada, apa dia pergi?" tanya Sadam penasaran.
Pelayan bernama Cantika itu langsung terdiam, seperti ada yang disembunyikan olehnya.
"Kenapa sih? Kok muka lu langsung berubah gitu? Emang apa yang terjadi sama cewek di tempat duduk itu tadi?" tanya Sadam terheran-heran.
"Eee gue mau kasih tau, tapi lu jangan kaget ya!" ucap Cantika berbisik.
"Iya iya, emang ada apaan sih? Jangan bikin gue penasaran dong!" ujar Sadam makin tidak tahan lagi karena rasa penasarannya itu.
"Jadi, tadi ada penculikan disini dan korbannya itu cewek yang duduk disana." jawab Cantika.
"APA??!!"
Sadam terkejut bukan main mendengar jawaban dari Cantika, suara teriakannya itu bahkan sampai membuat seluruh pengunjung disana kaget.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...