Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Selamat


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 367


...•...


...•...


Devano akhirnya sampai di tempat yang dikirimkan ke nomor telponnya oleh si penculik itu, ia turun dari mobilnya dan melangkah ke dalam sebuah gedung tua tak berpenghuni itu. Dilihatnya sudah banyak orang berdiri di depan sana bersiap menyambutnya, mereka sangat seram dengan tatapan tajam yang terus menjurus ke arahnya seperti hendak menyerangnya saat ini juga.


Tanpa rasa takut ataupun gentar, Devano langsung maju mendekati mereka. Semua ini ia lakukan hanya demi keselamatan Shella alias istrinya, ia ingin menebus kesalahannya yang sangat besar pada Shella dengan menyelamatkan istrinya itu. Ya walau ia tahu sendiri kalau tidak mungkin ia bisa menang menghadapi banyak orang seperti itu.


Terlihat mereka juga mulai melangkah maju mendekati Devano, mereka kompak meregangkan otot-otot tangan serta kepala mereka seperti bersiap untuk segera berkelahi dan menyerang Devano. Namun, Devano masih tetap teguh tak gentar sama sekali dengan ancaman dari orang-orang itu yang sengaja menunjukkan wajah sangat mereka.


"Mana bos kalian?" tanya Devano singkat.


Mereka tampak saling pandang dan tersenyum bengis meledek Devano, entah mengapa hal itu membuat Devano sangat geram dan ingin sekali menghajar mereka saat ini juga.


"Bos ada di belakang, ayo ikut kita!" jawab salah seorang dari mereka sambil menaikkan satu alisnya.


"Oke," ucap Devano singkat.


Setelahnya, Devano pun pergi mengikuti gerombolan pria preman itu menuju ke belakang gedung tua tersebut untuk menemui sang bos yang merupakan dalang dari penculikan Shella. Devano juga sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa kiranya yang sudah berani menculik istrinya itu dan mengancamnya seperti ini.


Sesampainya disana, Devano melihat dengan jelas seorang pria dengan jaket hitam berdiri memunggunginya dan tampak tengah mendongak ke langit sembari menaruh dua telapak tangannya di kedua saku celananya.


Lalu, salah seorang dari preman itu mendekati bosnya dan memberi laporan bahwa Devano sudah datang.


"Bos, dia sudah datang." ucapnya.


"Gue tau." ucap pria itu singkat dengan gestur tangan meminta preman-preman itu mundur menjauh.


"Hahaha... selamat datang, Devano!"


Pria tersebut tertawa jahat dan perlahan memutar tubuhnya menghadap ke arah Devano serta menunjukkan wajahnya pada Devano yang masih berdiri disana dengan mata terbelalak dan juga mulut yang sedikit terbuka.


Devano seakan tak percaya ketika melihat pelaku penculikan Shella adalah Bimo alias sang adik dari Adrian yang merupakan cucu Frederick.


"Bimo....??" ujar Devano tak menyangka, selama ini yang ia kira Bimo adalah orang baik tidak seperti Adrian melainkan seperti kakeknya yang sudah banyak membantu perusahaannya.


Bimo tampak semakin membesarkan suara tawanya setelah Devano melihat wajahnya dan mengenalinya.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menculik istri saya, Bimo? Apa salah saya sama kamu, sampai kamu berani mengusik ketenangan keluarga saya? Atau jangan-jangan kamu juga ingin mencari masalah dengan saya, sama seperti kakak kamu yang jahat itu!" ujar Devano kesal.


"Ini tidak ada hubungannya dengan keluarga anda yang gak jelas itu. Karena saya menculik Shella semata-mata hanya untuk memancing anda agar mau datang kesini dan berunding dengan saya." ucap Bimo sembari melangkah menuju Devano.


"Lalu, dimana istri saya? Saya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja dan tidak terluka!" ucap Devano.


"Tenang aja! Istri anda pasti akan baik-baik saja, asalkan perundingan kita kali ini berjalan mulus. Bagaimana, apa anda sudah bersiap untuk berunding dengan saya disini?" ucap Bimo.


Devano tampak gugup, ia bingung apa yang hendak dirundingkan oleh Bimo dengannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya? Mengapa kamu sampai harus menculik istri saya hanya untuk itu?" tanya Devano.


"Hahaha, tentu agar anda menyetujui apa yang ingin saya rundingkan nanti." jawab Bimo santai.


Devano terdiam. Mata pria itu menatap tajam ke arah Bimo yang berdiri di depannya, ia makin penasaran tentang apa yang hendak dibicarakan oleh Bimo. Apalagi pria tersebut sampai harus melakukan penculikan pada Shella dan membuatnya hampir gila karena harus berpisah dari sang istri.


"Baiklah, kita mulai aja perundingannya! Semakin cepat itu semakin bagus, saya juga penasaran apa yang hendak kamu sampaikan." ucap Devano.


"Oke, silahkan duduk di tempat yang sudah anak buah saya sediakan!" ucap Bimo meminta Devano untuk duduk disana dan ia pun juga akan duduk tepat di hadapan pria tersebut.

__ADS_1


Setelah kedua pria itu duduk berhadap-hadapan disana, Bimo pun tampak tersenyum dan mengeluarkan sebuah berkas berwarna hijau lalu meletakkannya di atas meja.


Devano tampak penasaran sekali dengan apa isi dari berkas tersebut, namun yang pasti itu berhubungan dengan pembahasan yang akan dilakukan Bimo.


"Semua yang ingin saya rundingkan dengan anda, ada disini. Saya pastikan anda tidak mungkin mau jika istri anda itu selamanya berada disini, bukan? Oleh karena itu, silahkan saja anda baca dan cermati isi berkas tersebut!" ucap Bimo.


Devano melirik sekilas ke arah mata Bimo, satu tangannya pun meraih berkas itu.


"Apa ini?" tanya Devano heran.


"Buka saja!" ucap Bimo singkat dan santai.


Devano pun mulai membuka berkas itu sesuai dengan keinginan Bimo, ia juga memang penasaran dengan isi berkas tersebut. Matanya terbelalak saat melihat bacaan yang tersedia disana, semua itu membahas tentang aset-aset perusahaannya yang diminta oleh Bimo dengan taruhan keselamatan Shella alias istrinya.


"Maksudnya apa? Anda ingin meminta semua aset perusahaan saya?" tanya Devano.


"Ya, anggap saja kita barter. Saya akan berikan istri tercinta anda itu kepada anda, lalu anda harus memberikan seluruh aset perusahaan anda kepada saya." jawab Bimo.


"Kurang ajar! Kalau anda ingin berjaya seperti perusahaan saya, seharusnya anda berjuang dan berusaha untuk bisa melampaui kesuksesan perusahaan saya. Bukan justru anda dengan gampangnya meminta aset perusahaan saya ini, memangnya anda pikir saya ini sebodoh itu? Saya tidak akan pernah menyerahkan sepeserpun aset yang saya miliki kepada anda, camkan itu!" ucap Devano dengan nada tegas dan emosi.


"Ohh, ya baiklah. Kalau begitu anda juga tidak akan bertemu kembali dengan istri anda, karena dia akan selamanya disini bersama Adrian." ucap Bimo.


Mendengar nama Adrian disebut, Devano pun langsung terkejut dan seketika menoleh ke arah wajah Bimo dengan wajah bergetar.


"Apa maksud anda? Adrian itu masih di penjara, tidak mungkin dia bisa ada disini dan bersama istri saya!" ucap Devano.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Devano...."


Tiba-tiba saja seseorang muncul dari arah samping mereka dan berjalan menuju tempat duduk itu sambil tersenyum licik, ya orang itu ialah Adrian yang akan ikut berunding disana bersama Devano serta Bimo.


Tentu Devano merasa sangat terkejut begitu melihat sosok Adrian datang kesana, yang ia tau selama ini Adrian tengah mendekam di dalam penjara dan tak mungkin pria itu bisa tiba-tiba muncul disana bersama Bimo ingin menekannya.


"Apa yang terjadi ini...??" batin Devano.




"Kenapa Vano? Lu kok kaget gitu ngeliat gue ada disini?" tanya Adrian mengejek.


"Gimana bisa anda disini? Bukannya—"


"Gue udah bebas. Tapi, lu tenang aja! Karena gue disini bukan pengen ikut campur masalah kalian, apalagi deketin Shella. Gue cuma pengen ketemu aja sama lu, kan udah lama kita gak ketemu." ucap Adrian memotong ucapan Devano.


"Jangan pernah apa-apakan istri saya! Atau anda akan menanggung akibatnya, Adrian!" ancam Devano.


"Santai aja! Gue bisa jamin istri lu baik-baik aja kok, sekarang mending lu fokus lanjutin perundingan lu sama Bimo! Kalau bisa sih lu setuju aja ya, kan demi kebaikan istri lu juga." ucap Adrian.


"Ogah! Buat apa saya serahin aset saya ke kalian? Kalau kalian memang ingin berhasil, ya kalian harus berusaha!" ucap Devano.


"Hahaha, itu sih terserah anda Vano! Tapi, jika anda tidak menyetujui permintaan saya, bukan tidak mungkin kalau saya akan berbuat macam-macam dengan Shella alias istri anda itu. Dan bisa saja abang saya yang sudah bebas ini, akan mempersunting Shella!" ucap Bimo.


"Kurang ajar! Shella itu istri saya dan hanya saya yang boleh memiliki dia!" bentak Devano.


"Oh ya? Memangnya anda sudah jatuh cinta dengan istri anda itu? Kalau belum, sebaiknya anda relakan saja istri anda pada abang saya! Dengan begitu, anda kan tidak perlu kehilangan aset anda." ucap Bimo.


"Itu tidak akan terjadi! Saya akan mempertahankan Shella dan juga perusahaan saya, karena mereka semua berarti untuk saya. Memang saya akui kalau saya menikahi Shella hanya karena rasa tanggung jawab saya sebagai lelaki, tapi sekarang—"


"Lu juga masih belum cinta sama Shella, ya kan?" potong Adrian dengan santainya.


Sontak Devano langsung melirik tajam ke arah Adrian yang mengucapkan kalimat itu, ia merasa sangat marah walau perkataan Adrian barusan memang benar adanya.


"Jangan sok tau anda! Saya ini cinta sama istri saya, siapapun di dunia ini jika tahu akan hal itu!" ucap Devano dengan suara lantang dan tegas.


"Ah yang bener? Sudahlah Vano, mengaku saja kalau lu emang belum cinta sama Shella! Gue disini siap kok buat gantiin posisi lu. Ya emang sih Shella udah gak p lagi, tapi gue ikhlas dan rela buat jadi suami dia karena gue tulus cinta sama dia! Gak seperti lu, yang menikahi Shella hanya karena nafsuu!" ucap Adrian.


Braakkk...

__ADS_1


Devano berdiri dan menggebrak meja dengan keras di hadapan Adrian serta Bimo.


"Anda jaga bicara anda!" bentak Devano.


"Loh loh, kok marah? Lu sendiri loh yang bilang begitu sama gue dulu, apa lu lupa? Kalau gue sih jelas masih inget banget, karena itu menyangkut wanita yang gue cintai." ucap Adrian.


"Duduk! Kita bicara santai disini, jangan sampai saya perintahkan anak buah saya untuk menghajar anda dan ikut menahan anda disini sama seperti istri anda itu!" ucap Bimo.


"Saya ingin ketemu istri saya, cepat katakan dimana dia!" ujar Devano emosi.


"Kalem bro! Lu bisa kok ketemu Shella, setelah lu selesaikan dulu perundingan ini dengan adik gue. Ayo udah, cepet tanda tangan dan kasih semua aset perusahaan lu ke adik gue! Dengan begitu, semua masalah ini akan selesai dan lu juga bisa pulang sama istri lu terus lu pake dah sesuka hati lu lagi tanpa cinta!" ucap Adrian.


Devano sangat emosi pada Adrian, ingin sekali rasanya ia menghajar wajah pria tersebut saat ini juga. Namun, keselamatan Shella masih menjadi prioritas utama baginya saat ini.


Devano pun duduk kembali dan menenangkan dirinya disana.


"Bagaimana sekarang, Devano?" tanya Bimo.


"Baiklah saya akan menuruti semua kemauan anda, saya akan tandatangani berkas ini dan menyerahkan semua aset perusahaan saya pada anda." jawab Devano sembari menghela nafasnya.


"Bagus, itu pilihan yang tepat! Ini pulpennya, ayo cepat tandatangani dan saya akan menyerahkan Shella pada anda!" ucap Bimo.


"Iya..."


Devano mengambil pulpen itu dan bersiap untuk memberikan tanda tangannya di dalam berkas tersebut, ia memejamkan mata dan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan untuk meyakinkan dirinya.


"Semoga ini pilihan yang tepat, saya harus lakukan ini demi menebus kesalahan saya pada Shella!" batin Devano.


Devano pun mulai mengarahkan pulpen itu pada kertas dalam berkas tersebut.


Doorrr...


Namun, tiba-tiba saja suara tembakan muncul secara mendadak dan membuat ketiga pria tersebut kaget. Bahkan pulpen di tangan Devano sampai terjatuh karena kagetnya ia.


"Menyerahlah penjahat...!!"


Adrian dan Bimo tampak kaget melihat kehadiran polisi-polisi disana, mereka pun menganggap kalau Devano sudah mengerjai mereka.


"Kurang ajar! Lu kenapa lapor polisi, ha?" ujar Adrian.


"Saya gak tau..." jawab Devano yang juga heran.


"PAK VANO! JANGAN TAKUT, BU SHELLA SUDAH AMAN DENGAN SAYA!!!" teriak Rafael dari jarak jauh coba berbicara pada Devano.


Devano pun tersenyum merasa lega karena istrinya telah berhasil diselamatkan, ia menatap wajah kedua pria di hadapannya itu dan dengan cepat merobek berkas tersebut disana.


"Sekarang anda tidak bisa lagi mengancam saya, justru anda dengan abang anda yang akan terancam sekarang!" ucap Devano.


"Sial!" umpat Adrian kesal.


Bughh...


Adrian menendang tubuh Devano hingga terjungkal ke belakang, ia pun kabur bersama Bimo dengan sangat cepat dan pergi dari sana.


Tentu saja para polisi disana langsung berlari mengejar kedua pria tersebut sembari menembakkan peluru ke udara.


Tampak Rafael serta Shella juga ikut berlari menghampiri Devano yang masih tergeletak disana memegangi perutnya akibat tendangan dari Adrian yang cukup keras itu.


"Masss..." Shella tampak histeris begitu sampai di dekat suaminya, matanya berkaca-kaca dan ingin mengeluarkan air mata.


"Honey, aku seneng banget bisa lihat kamu lagi. Aku minta maaf ya, karena aku lalai dan gak bisa jagain kamu sampai kamu diculik seperti ini!" ucap Devano tersenyum sembari mengelus wajah Shella.


"Enggak mas, ini salah aku." ucap Shella.


Devano pun bangkit lalu memeluk erat istrinya di depan Rafael dan mereka sama-sama menangis bahagia karena bisa bertemu kembali.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2