
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 314
...•...
...•...
Devano masih menantikan jawaban dari sekretarisnya mengenai pertanyaan yang ia layangkan sebelumnya, ia sangat penasaran mengapa Novi tampak gugup hanya karena ia bertanya soal omongan istrinya dengan Novi.
Sementara Novi tentunya kebingungan harus bagaimana menjawab pertanyaan dari bosnya, tak mungkin jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Devano karena takut Shella akan marah dan kecewa padanya yang sudah membongkar kejutan itu.
"Hey, kenapa?" tanya Devano menegur Novi.
"Ah gapapa kok, pak!" jawab Novi gugup.
"Terus, gimana jawabannya? Apa yang istri saya bicarakan sama kamu waktu itu?" ucap Devano.
"Eee...."
Devano semakin menekan Novi untuk segera menjawab pertanyaannya, ia duduk tegak sembari melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Novi tajam, tentu saja Novi juga semakin gugup serta bingung tak tau harus apa sekarang.
"Ayo Nov, jawab!" ujar Devano tegas.
"Maaf pak, berkas-berkas ini ditunggu segera oleh klien kita! Sebaiknya bapak fokus dengan ini dulu, baru nanti kita bahas yang lainnya lagi!" ucap Novi.
"Benar juga yang dikatakan Novi, saya sampai lupa sama berkas-berkas ini..." batin Devano.
Akhirnya Devano melupakan sejenak pikirannya tentang Shella dan Novi, ia memilih fokus dahulu pada berkas-berkas di mejanya yang cukup banyak dan perlu diperiksa lebih lanjut itu, walau sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan pembicaraan Shella serta Novi waktu itu di ruangannya.
Sementara Novi tampak lega serta merasa aman karena Devano tidak lagi mencecarnya, namun ini belum sepenuhnya aman karena pasti Devano akan bertanya kembali padanya nanti, oleh karena itu ia harus memikirkan jawaban yang tepat jika nantinya Devano kembali bertanya mengenai itu.
"Yasudah, saya akan teliti dulu berkas-berkas ini! Kamu boleh keluar sekarang, tapi nanti kamu balik lagi kesini karena saya masih ingin bertanya sama kamu soal pembicaraan itu!" ucap Devano.
__ADS_1
"Baik pak, kalau begitu saya mohon izin permisi!" ucap Novi tersenyum.
"Ya, silahkan!"
Novi pun bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi keluar dari ruangan bosnya dengan perasaan lega namun masih sedikit deg-degan, ia khawatir kalau Devano memaksanya kembali menjawab pertanyaan tentang pembicaraan dirinya dengan Shella.
Setelah sekretarisnya itu keluar dari sana, Devano langsung membuka semua berkas yang ada di mejanya lalu membacanya satu persatu sebelum ia menandatangani itu, namun lagi-lagi pikirannya masih kacau memikirkan siapa laki-laki yang kemarin hendak menculik istrinya disana.
Akibatnya, Devano pun tak fokus dalam membaca semua berkas di mejanya sehingga ia harus mengulanginya lagi dan lagi, entah mengapa rasanya Devano belum bisa tenang jika ia belum tahu siapa dan apa motif si penculik itu ingin menculik Shella alias istrinya disana.
"Aaarrgghh!! Ini kenapa sih, kenapa saya terus-terusan kepikiran tentang kejadian itu??" gumam Devano geram sembari menjambak rambutnya sendiri.
Ceklek...
Tak lama kemudian, pintu di ruangannya terbuka begitu saja dan ternyata itu adalah Novi yang kembali lagi kesana menemuinya, sontak Devano terkejut lalu terheran-heran mengapa sekretarisnya kembali kesana padahal tadi dia sudah keluar.
"Ada apa lagi, Novi?" tanya Devano penasaran.
"Maaf pak kalau saya lancang, tapi ada yang ingin bertemu dengan bapak!" jawab Novi.
"Siapa??"
"Eee...."
Tiba-tiba seorang wanita muncul dari belakang Novi menampakkan dirinya di hadapan Devano dengan gaya modis serta senyum terukir di wajahnya, Devano terbelalak melihat kehadiran wanita yang tak lain adalah sahabatnya yakni Viona.
...•••...
Disisi lain, Rafael sudah berhasil mendapatkan kotak paket yang sebelumnya dikirim oleh seseorang misterius ke rumah bosnya, dan untungnya disana masih tertera nama tempat jasa pengirim paket sehingga Rafael bisa menyelidiki ini semua.
Rafael pun kembali ke depan menemui Shella serta kedua orang tua Devano yang masih setia duduk disana bercanda gurau, ia hendak berpamitan pada mereka bertiga sebelum pergi dari sana karena merasa tidak enak bila langsung pergi.
"Permisi nyonya, tuan, bu Shella! Saya mau izin pamit pergi dulu, saya ingin menyelidiki pengirim paket misterius ini!" ucap Rafael sedikit membungkuk.
"Oh iya, silahkan!" ucap Silvi.
"Pak Rafael, semoga berhasil ya! Saya juga penasaran siapa sebenarnya yang mengirim paket itu dan ingin membuat hubungan saya dengan mas Vano retak!" ucap Shella.
"Baik, Bu! Insyaallah saya akan mengungkap semuanya dan mengetahui siapa pengirim paket ini, baiklah kalau begitu saya mohon izin!" ucap Rafael.
__ADS_1
"Iya,"
Rafael pun berbalik badan lalu berjalan keluar dari rumah bosnya dengan membawa kotak paket di tangannya, ia berharap semua ini bisa berjalan lancar dan ia dapat mengungkap siapa pengirim paket yang meresahkan itu.
Setelah Rafael pergi dari sana, Silvi pun kembali menatap ke arah Shella dan melontarkan pertanyaan mengenai paket yang tadi dibawa oleh Rafael. Ia serta Tama penasaran apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa bisa sampai seperti ini.
"Sayang, apa sih yang terjadi? Paket apa emangnya yang tadi dibawa sama Rafael??" tanya Silvi.
"Iya sayang, ada apa sebenarnya selama kami pergi keluar kota kemarin?" sahut Tama.
"Eee...."
Shella nampak kebingungan harus cerita bagaimana ke mama serta papa mertuanya itu, ia khawatir jika mereka berdua syok mendengarnya seperti reaksinya ketika pertama melihat foto-foto suaminya dengan sang sekretaris.
"Apa sayang? Kenapa kamu bingung gitu? Udah cerita aja sama mama, paket apa itu!" ujar Silvi.
"Iya mah, jadi tuh kemarin ada orang yang kirim kotak paket ke rumah ini buat aku! Nah tapi pas dilihat sama mas Vano, nama pengirimnya tuh gak dicantumin! Makanya mas Vano penasaran, dia takut kalau itu paket dari orang yang mau niat jahat sama aku! Nah makanya mas Vano nyuruh pak Rafael buat cari tahu semua ini..." ucap Shella menjelaskan.
"Ohh, bener sih apa yang dilakukan suami kamu itu! Kan ini demi kebaikan kamu juga, siapa tau emang bener kalo paket itu dari orang jahat!" ucap Silvi.
"Iya tuh, apalagi kamu kan cantik!" sahut Tama.
"Ahaha, apa hubungannya cantik sama paket ini, pah?" ujar Shella tertawa kecil.
"Ya ada dong sayang, dengan kecantikan kamu itu pasti banyak orang jahat yang mau gangguin kamu! Makanya kita harus waspada dan lindungin kamu, supaya kamu gak diambil orang!" jelas Tama.
"Bener kata papa, bisa aja yang ngirim paket itu suka sama kamu!" sahut Silvi.
"Tenang aja pah, mah! Shella bakal tetap disini kok sama mama dan papa juga mas Vano, Shella gak mungkin pergi dari sini!" ucap Shella.
Shella pun memeluk mama mertuanya dan membenamkan wajahnya pada pundak Silvi, ia tersenyum menatap ke arah Silvi serta Tama bergantian, Silvi langsung menggerakkan tangannya untuk mengusap wajah menantu kesayangannya itu.
"Benar juga yang dibilang papa, apa mungkin kalau paket itu dikirim sama Arga?" batin Shella.
"Oh iya, memangnya apa sih isi paket itu, sayang?" tanya Silvi lagi.
Shella pun kaget sembari menganga sedikit mendengar pertanyaan mamanya, padahal ia sudah senang dan merasa tenang karena mereka tidak menanyakan isi paket itu, namun sekarang justru Silvi bertanya seperti itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...