Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Malu-malu


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 330


...•...


...•...


Shella bangun dari tidurnya dan kaget saat melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan hampir pukul setengah sembilan pagi, ia langsung mengucek mata sembari menoleh ke samping dan ia bertambah kaget karena disana sudah tidak ada Devano lagi.


Shella pun langsung bangkit menyibakkan selimutnya lalu duduk sejenak di atas ranjang, ia hendak mencari dimana suaminya karena sangat khawatir padanya.


Disaat ia hendak turun dari ranjang dan berjalan pergi keluar, rasa nyeri pada area intimnya membuat ia kesulitan untuk bisa berjalan cepat. Mungkin akibat permainan Devano semalam yang terlalu bergairah dan membuatnya kesakitan.


"Awhh, mas Vano emang bener-bener deh!" gumamnya sembari menahan rasa nyeri itu.


Setelah bersusah payah menuruni tangga dengan perlahan sambil berpegangan pada dinding disana, akhirnya Shella berhasil menemukan suaminya yang sedang bersama Silvi serta Tama di meja makan, ia pun mendekat ke arah mereka sambil tersenyum.


"Masss..." ucap Shella.


Devano, Silvi dan Tama menoleh secara bersamaan ke arah Shella yang baru datang dari kamarnya. Mereka juga tersenyum saat melihat Shella disana lalu mengajak wanita itu untuk bergabung bersama mereka di meja makan dan sarapan bersama.


"Kamu udah bangun?" tanya Devano sembari mengusap lembut rambut istrinya.


"Iya mas, kamu kok gak bangunin aku sih? Kan aku jadi gak enak bangun kesiangan begini," ucap Shella.


"Gapapa, aku tau kamu capek. Sekarang kita sarapan bareng yuk! Ini mama udah bikin nasi kuning spesial di hari ulang tahun aku, yuk makan!" ucap Devano.


"Eee... tapi aku gak enak, mas." ucap Shella.


"Gak perlu gak enak, sayang! Mama maklumin kok kamu bangun kesiangan, pasti Devano semalam minta jatah kan sama kamu? Udah kita makan aja gausah malu-malu!" ucap Silvi.

__ADS_1


"Mama ini kalo ngomong asal jeblak aja!" ujar Devano merasa malu.


"Emang bener kan?" goda Silvi sambil tersenyum.


"Ya emang sih, tapi kan mama jangan omongin disini dong! Kan aku jadi malu, Shella juga pasti tambah malu tuh." ujar Devano.


"Hahaha, gausah malu! Orang sama orang tua sendiri kok masih malu aja," ujar Tama.


"Udah sini Shella sayang, kita makan bareng! Kamu gak perlu malu-malu sama mama atau papa, disini kan kami udah jadi keluarga." ucap Silvi menghampiri Shella lalu mengajaknya duduk.


"Iya mah," ucap Shella singkat.


Silvi pun membawa Shella duduk di dekatnya lalu menuangkan nasi kuning itu ke piring yang akan digunakan Shella, tentu Shella makin merasa tidak enak pada mama mertuanya karena ia menganggap dirinya tidak becus jadi seorang istri.


Sementara Devano yang tengah makan merasa jengkel lantaran mamanya malah mengajak Shella duduk di kursi lain yang jauh darinya, ia terus memandangi wajah istrinya di depan sana sembari senyum genit bermaksud menggodanya.


"Nah ayo makan sayang!" ucap Silvi.


"Ah iya mah," ucap Shella sambil tersenyum.


"Vano, istrinya jangan ditatap terus dong! Shella kan harus makan dulu, kamu kasih waktu buat istri kamu makan dong!" ucap Silvi menegur putranya.


"Eee iya mah, emang salah apa kalo aku lihatin istri aku sendiri?" ucap Devano.


"Ya gak salah, tapi lihat tuh mantu mama jadi gak bisa fokus makan gara-gara dilihatin terus sama kamu begitu!" ucap Silvi.


"Hehe iya mah," ujar Devano nyengir.


"Yuk makan sayang!" ucap Silvi meminta Shella untuk memakan nasi di piringnya.


Shella manggut-manggut kemudian memakan makanan yang sudah tersedia di depannya, ia mulai melahap nasi kuning itu dan merasakan sensasi yang berbeda karena rasa dari makanan tersebut sangat lezat.


...•••...


Disisi lain, Nadya juga tengah menikmati sarapan bersama ibunya di rumah sembari berbincang mengenai hubungan antara Nadya dan juga Yoga. Jenar tanpak senang karena sekarang ini putrinya bisa menerima baik Yoga dalam kehidupannya.


Nadya pun memang sudah mengetahui jika Yoga adalah pria baik yang selalu menghiburnya dikala susah dan selalu menjadi pelindung baginya, itulah sebab mengapa sekarang Nadya menjadi baik kepada Yoga tak seperti kemarin-kemarin.

__ADS_1


"Bu, nanti agak siangan aku mau izin pergi sama Yoga. Dia bakal kesini kok jemput aku buat sekalian minta izin sama ibu, boleh kan?" ucap Nadya.


"Ya boleh dong sayang. Oh ya, kamu sama nak Yoga itu udah pacaran apa belum sih?" ucap Jenar.


"Hah? Aku gak pacaran kok, Bu. Aku sama Yoga itu cuma temenan aja, yakali dia mau jadi pacar aku." ucap Nadya tersenyum sembari menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Loh kenapa enggak? Ibu lihat nak Yoga itu selalu perhatian loh sama kamu, dia juga anak yang baik dan gak neko-neko." ucap Jenar.


"Iya Bu, justru itu aku bilang gak mungkin. Aku kan cuma gadis biasa yang belum sempurna, mana mungkin Yoga mau sama aku? Paling juga lelaki sebaik Yoga itu punya selera tinggi," ucap Nadya.


"Kamu ini hobi merendah mulu, ya? Padahal menurut ibu kamu termasuk salah satu wanita yang cantik, buktinya banyak yang kejar-kejar kamu!" ucap Jenar.


"Apa sih Bu? Udah deh jangan bahas soal pacar terus! Aku sekarang masih mau fokus ke karir, aku mau cari kerjaan supaya aku bisa bahagian ibu dan insyaallah aku mau bawa ibu ke Mekkah!" ucap Nadya tersenyum sembari memegang lengan ibunya lalu mengelus-elus punggung Jenar.


"Aamiin, niat kamu mulia sekali sayang. Ibu doain juga semoga kamu bisa jadi orang sukses dan terkenal!" ucap Jenar.


"Aamiin, makasih Bu." ucap Nadya.


Mereka pun berpelukan di meja makan, Nadya membenamkan wajahnya pada pundak sang ibu lalu tersenyum sembari memejamkan mata merasakan kehangatan pelukan sang ibu.


"Aku sebenarnya pengen bilang sama ibu, kalau aku kangen sama mama Lestari. Tapi, aku gak mau bikin ibu sakit hati atau cemburu." batin Nadya.


Setelah selesai makan, Nadya membantu ibunya mencuci piring karena kali ini ia ingin membuat Jenar tersenyum bahagia dan tak mau jika sang ibu sampai kelelahan, ya itu semua ia lakukan juga karena saat ini hanya ialah anak Jenar yang tersisa.


"Makasih loh sayang, kamu pake repot-repot segala bantuin ibu!" ucap Jenar.


"Gapapa Bu, udah tugas seorang anak buat bantu ibunya. Lagian aku gak mau ibu sampe kecapekan, karena kan sekarang bik Yani masih cuti." ucap Nadya.


"Iya sih, tapi kalo cuma cuci piring mah ibu juga bisa sendiri kok." ucap Jenar.


"Ibu ini selalu aja begitu, udah gapapa biar hari ini aku bantu-bantu ibu beberes rumah. Ya mungkin sampai Yoga datang jemput aku," ucap Nadya.


"Yaudah iya," ujar Jenar tersenyum.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2