Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Penculiknya kabur


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 117


...•...


...•...


Rafi melepas pelukannya lalu menyeka air mata yang membasahi wajah Shella mengenakan sapu tangan miliknya, tampak Rafi merasa senang karena bisa berduaan lagi dengan wanita yang ia cintai itu.


"Andai kamu mau membalas cintaku Sel, pasti aku akan merasa sangat bahagia sekarang dan mungkin aku juga gak bakal bermusuhan dengan Devano! Tapi apa mau dikata, kamu malah lebih memilih untuk bersama Devano dibanding aku.."


Rafi tersenyum sambil menatap mata Shella hingga tak sadar kalau saat ini ia malah mengelap sampai ke leher Shella.


"Eee Raf, kayaknya leher aku gak perlu dilap juga deh!" ucap Shella sambil menggeser tubuhnya.


Sontak Rafi pun tersadar dari lamunannya dan langsung menghentikan gerakannya itu.


"Maaf maaf aku gak sadar, yaudah jangan sedih lagi ya Sel! Ayo sekarang kita cari penginapan dekat sini kalau memang kamu gak mau pulang ketemu Devano!" ucap Rafi.


Shella manggut-manggut sedikit mengeluarkan senyum manisnya, begitupun dengan Rafi yang membalas senyuman dari Shella.


"Masuk!" ucap Rafi membukakan pintu mobilnya sekaligus meminta Shella masuk ke dalamnya.


Shella pun menurut dan masuk ke mobil Rafi, dengan cepat Rafi menutup kembali pintunya lalu berjalan menuju kursi kemudi.


Namun, disaat ia ingin masuk tiba-tiba saja ada suara tembakan ke udara yang mengagetkan dirinya.


"JANGAN BERGERAK!"


Sontak Rafi menoleh ke arah teriakan itu, terlihat sudah banyak polisi berdiri disana sambil mengacungkan pistol ke arahnya.


Polisi-polisi itu mendekat membuat Rafi merasa gemetar namun tetap berusaha santai agar tidak dicurigai.


"Angkat tangan dan jangan coba kabur!" ucap salah seorang polisi yang sudah semakin mendekati Rafi.


Rafi pun menuruti perintah sang polisi untuk mengangkat kedua tangannya...

__ADS_1


"Tunggu pak, ini ada apa? Memangnya saya salah apa sampai disuruh angkat tangan? Justru saya yang membebaskan Shella loh pak!" ucap Rafi berpura-pura tidak tahu.


"Kami sudah tau semuanya kalau anda bekerjasama dengan saudari Lina untuk menghancurkan perusahaan pak Devano, bahkan anda juga sudah berusaha memfitnah saudara Adrian atas apa yang telah anda lakukan!" jelas sang polisi membuat Rafi akhirnya terdiam tak berkutik.


"Borgol dia pak dan bawa saudari Shella!" sambung polisi itu memberi perintah pada bawahannya.


Sontak 2 orang polisi lainnya maju dan langsung memborgol tangan Rafi yang kini sudah pasrah, seorang polisi juga menghampiri Shella yang masih berada di dalam mobil Rafi.


"Kurang ajar Lina! Beraninya dia buka mulut!" batin Rafi merasa geram dengan Lina.


Akhirnya Rafi pun dibawa ke mobil oleh polisi-polisi itu, sementara Shella masih bingung tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


"Ini kenapa pak? Kok Rafi ditangkap begitu? Bukan dia pak yang udah culik saya, justru dia baru aja bebasin saya dari penculik aslinya.. sekarang penculik itu masih ada di dalam rumah itu pak!" ucap Shella dengan raut wajah kebingungan.


"Tenang bu, kami menangkap saudara Rafi karena beliau sudah berusaha untuk membuat perusahaan suami ibu yakni pak Devano hancur! Untuk para penculik itu biar nanti kami yang akan menangkap mereka, sekarang mari ibu ikut dengan kami!" jelas pak polisi yang bernama Parman itu.


"Biar kami saja pak yang cek ke dalam rumah itu, nanti juga kami akan menyerahkan penculik itu ke kantor polisi pak! Kalau bisa sebaiknya Bu Shella juga ikut dengan kami pak supaya lebih mudah membawanya pulang.." ucap Rafael yang juga ada disana karena mendapat perintah dari Devano.


"Baiklah pak, kalau begitu kami serahkan Bu Shella pada anda! Tapi soal penculik itu, lebih baik kami yang mengurusnya.." ucap Parman.


Rafael menurut lalu membawa Shella ke mobilnya, sementara para polisi masuk ke rumah itu untuk menangkap penculik Shella.


"Kamu siapa?" tanya Shella menatap ke arah Rafael karena sebelumnya ia memang tak mengenali lelaki itu.


"Jadi kamu orang suruhan mas Vano? Tolong jangan bawa saya ke rumah dia, karena saya belum mau ketemu sama dia!" ucap Shella.


"Loh memangnya kenapa Bu? Memang ibu tidak rindu pada pak Devano? Kalau yang saya lihat sih pak Devano benar-benar merasa kehilangan ibu loh!" ujar Rafael yang keheranan.


"Saya belum siap ketemu dia, saya mau pulang ke rumah ibu saya aja! Tolong antar saya kesana ya nanti biar saya kasih kamu uang sebagai ongkos!" ucap Shella.


"Ah tidak perlu Bu, baik saya akan antar ibu kesana! Mari masuk Bu!" ucap Rafael meminta Shella masuk ke mobilnya.


Shella pun masuk ke dalam mobil Rafael, ia duduk di kursi depan walau Rafael memintanya duduk di belakang sepertinya ia tak mau membuat Rafael merasa sebagai supirnya.


Setelahnya, Rafael langsung menancap gas melakukan mobilnya secara perlahan.


Tampak Shella menatap ke arah Rafi yang saat ini berada di dalam mobil polisi, ia tak menyangka orang sebaik Rafi bisa berada disana.


Begitu pula dengan Rafi yang sadar kalau Shella melewatinya, mereka pun kini saling bertatapan walau hanya dari kaca mobil yang berbeda.


"Baru saja aku ingin menikmati momen bersama kamu Shella, tapi sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.." gumam Rafi.


__ADS_1



Sementara itu, para polisi berhasil memborgol beberapa anak buah si penculik yang sudah tergeletak akibat bertarung dengan Rafi tadi.


Parman masih mencari-cari keberadaan si penculik Shella dengan mengecek setiap ruangan yang ada di rumah itu, namun ia tidak menemukan keberadaan penculik itu.


Akhirnya Parman beserta polisi lainnya berhasil masuk ke kamar tempat Shella disekap sebelumnya, disana terlihat berantakan sekali dan ada bercak-bercak darah di lantai.


Namun, ternyata sudah tidak ada si penculik itu disana.. Parman pun melihat ke arah jendela yang terbuka dan berpikiran kalau penculik itu kabur lewat sana.


"Sepertinya penculik itu sudah kabur melalui jendela, ayo cepat kejar dia jangan sampai lepas! Dilihat dari bercak darah yang berceceran ini sepertinya dia sedang terluka parah, jadi tak mungkin dia bisa pergi cepat!" ucap Parman.


Sontak mereka langsung turun kembali untuk mengejar si penculik yang kabur, sementara anak buah Rafael diminta menjaga orang-orang yang sudah tertangkap termasuk juga Rafi.


...•••...


Disisi lain, Devano berhenti di atas sebuah jembatan yang bawahnya adalah sungai... Ia tampak bersedih disana karena terlihat air mata keluar membasahi pipinya.


Sambil melihat ke bawah, ia membayangkan wajah cantik istrinya saat masih bersama dengannya waktu itu.


"Kenapa honey? Kenapa kamu mau menikah dengan aku kalau ternyata kamu masih mencintai Rafi? Apa ini kamu lakukan untuk membalas perlakuan aku dulu honey?" gumam Devano bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba handphonenya berdering, ia pun menghentikan sejenak lamunannya lalu mengambil ponselnya dari saku celananya.


Terlihat nama Vanya yang terpampang di ponsel itu, Devano pun segera menghapus air matanya lalu mengangkat telepon dari Vanya.


📞"Halo, ada apa Vanya? Apa ada yang perlu aku bantu lagi buat kamu??" tanya Devano pada Vanya di dalam telpon.


📞"Iya nih Dev, gue mau minta bantuan lu buat benerin AC di rumah gue! Biasanya sih kak Kevin manggil tukang langganan dia, tapi gue gak tau nomernya jadi gue minta bantuan lu ya!" ucap Vanya.


📞"Waduh tapi kan aku gak bisa betulin AC Van, yaudah gini aja deh biar aku cariin di deket sini tukang servis yang bisa betulin AC kamu ya!" ucap Devano.


📞"Iya boleh tuh, makasih Dev maaf ngerepotin!" ucap Vanya.


📞"Gak ngerepotin kok, kan aku udah janji bakal gantiin peran Kevin di hidup kamu!" ucap Devano.


📞"Ya yaudah gue tunggu ya Dev, bye!" ucap Vanya.


📞"Iya bye.."


Telepon pun terputus setelah Devano mengucapkan bye pada Vanya, ia langsung memasukkan kembali ponselnya ke saku celana dan menuju ke mobilnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2