
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 239
...•...
...•...
Lestari masih berada di rumahnya tengah duduk menonton acara gosip di tv sembari mengemil, matanya memang tengah menatap ke arah tv dan seakan ia sedang serius menontonnya. Namun, yang terjadi sebenarnya ialah Lestari sedang memikirkan kondisi putri angkatnya alias Nadya.
Wanita itu ingin sekali datang ke rumah sakit menjenguk Nadya untuk melihat kondisinya, akan tetapi ia takut mengganggu momen kebersamaan antara Jenar dengan Nadya disana. Bagaimanapun juga Lestari sadar kalau ia hanyalah mama angkat Nadya dan Jenar tentu lebih berhak untuk bersama Nadya sekarang ini, ia yakin kalau Nadya memang lebih membutuhkan Jenar dibanding dirinya.
Walau sedari tadi Lestari terus saja kepikiran akan kondisi putrinya, ia sudah berusaha menepis pikiran itu dengan cara menonton tv dan bermain hp. Namun, tetap saja itu semua tidak berhasil mengusir rasa cemasnya pada Nadya karena gadis itu sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri.
"Duh kok aku jadi gak karuan begini ya? Rasanya aku pengen sekali ke rumah sakit buat jenguk Nadya, tapi pasti sekarang disana sudah ada Bu Jenar! Aku takut ganggu dia kalau aku pergi kesana sekarang, kasihan juga Nadya pasti dia kebingungan kalau aku bilang aku ini adalah mamanya sedangkan Jenar juga bilang kalau dia ibunya..." batin Lestari kebingungan.
Tak lama kemudian, bi Irah selalu asisten rumah tangga di tempat ia tinggal sekarang datang ke ruang tamu menemui majikannya sembari membawa jus alpukat pesanan Lestari tadi.
"Misi, nyonya! Ini jusnya udah saya bikinin..." ucap bi Irah sembari menaruh gelas berisi jus itu di atas meja.
"Terimakasih, bi!" ucap Lestari tersenyum tipis.
Melihat raut wajah majikannya yang seperti tengah bersedih, bi Irah pun penasaran lalu menggaruk-garuk dahinya yang tak gatal. Ia tidak jadi hendak pergi ke dapur dan memilih tetap disana, itu karena ia hendak bertanya langsung pada majikannya daripada mati penasaran.
__ADS_1
"Eee maaf nih, nya! Nyonya kenapa ya kok kelihatan lagi sedih gitu, apa ada yang nyonya pikirin?" tanya bi Irah dengan sopan.
Lestari menatap wajah bi Irah yang terlihat kebingungan itu, ia melempar senyum sambil mengedipkan mata melihat ke atas.
"Iya bi, saya kepikiran sama Nadya! Tapi, emangnya kelihatan darimana kalau saya lagi sedih bi?" ucap Lestari menjawab jujur.
"Ohh, iya nyah saya tahu soalnya mata nyonya itu kelihatan kayak mau nangis!" ucap bi Irah sambil tersenyum nyengir.
"Ah masa sih, bi?" tanya Lestari tak percaya.
"Iya bener, nyah! Oh ya kalau nyonya kangen sama non Nadya, kenapa nyonya gak ke rumah sakit aja buat jenguk non Nadya??" ujar bi Irah.
"Gak bisa bi, saya takut Nadya tambah sakit nantinya! Lagipun saya juga mau membiarkan ibu kandungnya untuk merawat Nadya, saya yakin dia ingin melakukan itu seorang diri!" ucap Lestari.
Ting nong... Ting nong....
Tiba-tiba terdengar bunyi orang memencet bel dari luar, tentu saja Lestari penasaran siapa yang datang bertamu ke rumahnya saat ini.
"Biar saya aja yang bukain, nyah!" ucap bi Irah.
"Iya silakan, bi!" ucap Lestari memberi izin sembari menganggukkan kepalanya pelan.
Bi Irah pun bergegas ke depan mengecek siapa yang datang sekaligus membukakan pintu, sementara Lestari masih menerka-nerka kiranya siapa yang datang ke rumahnya di tengah hari ini.
...•••...
Disisi lain, Devano bersama istri dan mertuanya tengah menikmati makan siang di kantin rumah sakit karena ini sudah waktunya. Lagipun, Nadya juga sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu terlebih dahulu sehingga Devano mengajak Shella & Jenar makan di kantin. Ya walau wajah istrinya itu masih saja jutek karena kesal pada Devano yang mulutnya suka keceplosan, namun ia beruntung karena Shella tetap menurut dan tidak terlalu mengesalkan.
Sementara Jenar menyadari ada yang tidak beres pada sepasang suami-istri di depannya itu, ya tak biasanya memang mereka diam-diaman seperti itu tanpa berbicara sedikitpun. Tentu Jenar merasa curiga pada mereka, ia pun menghentikan sejenak aktivitas makannya lalu menatap wajah putri dan juga menantunya secara bergantian.
__ADS_1
"Shella, Devano!" ucap Jenar tegas sambil menatap sepasang suami-istri itu dengan tajam.
Sontak Shella serta Devano terkejut lalu mendongak ke arah Jenar, mereka heran mengapa Jenar menatap seperti itu ke arah mereka.
"Ya, ada apa Bu?" tanya Shella & Devano bersamaan, ya mereka memang selalu kompak walau sedang marahan seperti ini.
"Kalian itu kenapa sih, kok daritadi diem terus gak ada obrolan atau apa gitu? Biasanya juga kalo kita makan bareng kalian tuh selalu ribut sendiri, tapi ini tumben banget kalian diem-diem kayak begini! Hayo ada masalah apa nih sama kalian?? Apa jangan-jangan kalian malah lagi berantem ya?" ucap Jenar seperti tengah menginterogasi anak dan menantunya itu.
Shella terdiam sembari menggaruk dahinya, sedangkan Devano terus melirik ke arah istrinya karena bingung harus menjawab apa.
"Loh kok malah pada diem aja sih? Kalian gak denger ibu bilang apa tadi?? Ayo jawab!" ujar Jenar merasa sedikit kesal karena dicuekin.
"Eee...." ucap Shella sambil mencari posisi duduk terenak, ia tidak bisa diam karena sedang berpikir kiranya jawaban apa yang tepat untuk ia ucapkan.
"Aku sama Shella gak ada apa-apa kok, Bu! Kami baik-baik aja malah lagi kasmaran, kami itu diam soalnya mau fokus makan dulu Bu! Ya kan, honey?" potong Devano sembari merangkul istrinya.
"Ah iya hehe... bener banget Bu yang dibilang mas Vano!" ucap Shella terpaksa mengiyakan perkataan suaminya, ia sebenarnya merasa risih karena dirangkul begitu oleh Devano, tapi ini semua agar ibunya tidak semakin curiga pada mereka.
"Ohh, yasudah bagus deh kalo gak ada apa-apa! Tapi, jangan pernah bohongin ibu loh ya! Kalau kalian ada masalah, ingat pesan ibu! Kalian harus sama-sama saling percaya dan mengerti satu sama lain, jangan biarkan masalah itu bikin kalian terpisah! Paham?" ucap Jenar menasehati sepasang suami-istri itu.
"Paham, Bu!" ucap Shella & Devano lagi-lagi bersamaan sembari mengangguk juga.
Devano masih saja merangkul istrinya sembari menatap wajah Shella yang terlihat kesal, ia sengaja memanfaatkan momen ini untuk menggoda sang istri supaya tidak marah lagi padanya.
"Eee yaudah mas, lepas dulu dong! Kita kan mau lanjut makan lagi, nanti keburu sore loh! Kalo gitu kan gak jadi makan siang, malah makan sore!" ucap Shella tersenyum malas sembari menyingkirkan tangan Devano dari pundaknya.
"Iya..." ucap Devano singkat sambil senyum-senyum menggoda sang istri.
Jenar dibuat terkekeh serta geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya, sebenarnya ia tahu jika mereka pasti sedang ada masalah. Namun, ia tak mau terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga putrinya itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...