
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 363
...•...
...•...
Nadya dan Yoga akhirnya kembali melanjutkan pencarian mereka untuk menemukan Lestari, keduanya memang hingga saat ini belum mampu mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan Lestari, namun Nadya sangat yakin kalau mama angkatnya itu pasti akan bisa ditemukan biarpun ia belum tau kapan itu akan terjadi dan kapan juga ia bisa bertemu dengan Lestari.
Ya Nadya dan Yoga saat ini telah berhasil lepas dari Adrian, setelah sebelumnya mereka terpaksa harus meladeni pria tersebut lebih dulu di sebuah cafe untuk melakukan perundingan. Walau hasilnya nihil karena Adrian tetap saja kekeuh ingin berusaha mendapatkan cinta Nadya lagi, ya bahkan Adrian juga yang pergi begitu saja dari mereka setelah mengatakan itu di hadapan Nadya dan Yoga.
Sampai saat ini, Nadya masih saja kepikiran dengan perkataan Adrian padanya tadi. Nadya sangat merasa bersalah kepada Yoga yang kini sudah menjadi kekasihnya itu, karena ia sama sekali tidak mencintai Yoga dan menerima Yoga menjadi pacar hanya karena rasa kasihan serta tidak enak yang ia rasakan terhadap pria yang sudah banyak membantunya itu.
Berkali-kali Nadya terus menoleh sekilas ke arah Yoga yang tengah fokus menyetir, tentu saja Nadya tidak enak pada Yoga jika sampai Yoga tau kebenaran tentang cintanya. Memang Nadya belum memiliki rasa saat ini pada Yoga, namun gadis itu bertekad untuk bisa mulai mencintai Yoga dan membuat pria tersebut bahagia.
"Kamu tenang aja, Yog! Hari ini aku emang belum cinta sama kamu, tapi kemudian hari pasti aku bisa melakukan itu." batinnya.
Melihat Nadya melamun sembari memandang ke arahnya, membuat Yoga sedikit curiga. Ia merasa kalau ada sesuatu yang tengah disembunyikan Nadya darinya dan ia ingin tau tentang itu, ya Yoga pun menoleh ke arah Nadya untuk coba bertanya langsung kepada gadis tersebut mengapa sedari tadi dia terus saja menatapnya seperti itu.
"Nayang, kamu tuh kenapa sih? Kok ngeliatin aku kayak gitu daritadi?" tanya Yoga heran.
"Eh eee..." Nadya langsung tampak gugup dan bahkan memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah lain karena merasa malu, ia tak menyangka Yoga akan mengetahui jika ia tengah memperhatikannya.
"Kamu masih kepikiran ya soal Adrian?" tanya Yoga lagi sambil sesekali menoleh ke arah Nadya dan tetap fokus memegang setir.
"Iya, gitu deh." jawab Nadya singkat.
"Ohh, udah tenang aja! Aku bakal berjuang sampai mati buat mempertahankan hubungan kita! Aku juga gak akan biarin gitu aja, Adrian yang mau rebut kamu dari aku! Karena aku akan selalu jagain kamu dan lawan siapapun yang mau usik hubungan kita, termasuk Adrian!" ucap Yoga menenangkan Nadya.
"Eee iya, makasih Yog! Aku percaya kok sama kamu, aku juga yakin kalau kamu gak mungkin tinggalin aku!" ucap Nadya tersenyum.
"Bagus! Yaudah, sekarang kamu gak perlu khawatir atau cemas lagi soal Adrian! Karena aku kan ada disini untuk kamu, kita pasti bisa hadapi ini bersama-sama dan lawan si Adrian itu!" ucap Yoga.
Nadya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah kekasihnya, ada sedikit rasa bersalah dan juga ragu di dalam hatinya ketika memandang wajah tampan pria di sampingnya itu. Nadya merasa seperti wanita yang tidak tau diri karena ia menerima Yoga hanya karena kasihan, seharusnya ia memang sudah mencintai pria tersebut.
Sementara Yoga juga merasa ada yang tidak beres dari raut wajah kekasihnya itu, Yoga tau jika saat ini Nadya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, ia memilih diam dan tak mau bertanya lebih lanjut jika memang Nadya tidak ingin ia mengetahuinya.
...•••...
Disisi lain, Devano keluar meninggalkan Novi yang masih tampak syok memegangi bibir serta menatap punggung bosnya itu. Devano hanya tersenyum tipis sesaat sebelum ia menutup kembali pintu ruangan sekretarisnya itu, Devano pun melangkah sambil membenarkan jas serta dasinya.
Seorang karyawan yang melihat Devano baru keluar dari ruangan Novi, coba menghampirinya dan menyapa bosnya itu agar tidak dimarahi.
"Pak Vano," ucapnya singkat.
"Ah iya, semangat kerjanya ya!" ucap Devano sambil tersenyum renyah, lalu lanjut melangkah begitu saja tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Tentu saja karyawan itu tampak heran melihat tingkah dan ekspresi wajah Devano, tak seperti biasanya memang Devano seperti itu apalagi sampai senyum-senyum di lorong kantor.
"Ada apa ya sama pak Vano?" ujarnya kebingungan.
Akhirnya karyawan bernama Agus itu pergi saja dari sana untuk melanjutkan kerjanya, walau pikirannya juga masih tertuju pada kelakuan bosnya yang mengherankan itu.
Sementara Devano sudah berada di dalam lift, entah mengapa ia justru memasuki lift yang sama dengan para karyawannya sehingga kini ia bersama tiga orang karyawan pria serta wanitanya di dalam sana dan masih saja terus tersenyum.
"Kalian kenapa lihatin saya begitu?" tanya Devano saat menyadari dirinya tengah diperhatikan.
"Eh eee, maaf pak! Kita cuma heran aja, ini kan lift buat pegawai. Tapi, bapak kenapa masuk kesini?" ucap salah seorang dari mereka.
"Siapa nama kamu?" tanya Devano.
__ADS_1
"Eee saya Fifin, pak!" jawabnya gugup.
"Oke, Fifin. Kamu dengar ya, saya disini kan atasan kamu. Jadi, suka-suka saya dong mau masuk ke lift ini atau lift yang lainnya! Kamu sebagai karyawan, itu diam aja gausah banyak omong!" ujar Devano.
"Eee iya pak, maaf!" ucap Fifin.
Tiiinnggg...
Lift terbuka, Devano pun langsung keluar dari dalam sana untuk menuju ruangannya. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri untuk melirik ke arah Fifin lalu tersenyum tipis pada wanita tersebut. Barulah ia lanjut melangkah dengan cepat dan melewati seorang office boy yang hendak mengantarkan kopi kepada karyawan disana.
Ceklek...
Devano telah sampai di depan ruangan kerjanya, ia pun masuk ke dalam sana lalu beristirahat dengan santai di kursinya. Devano masih saja tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada kursi itu, ia menatap langit-langit ruangannya lalu memejamkan mata mengingat kejadian yang tadi ia lakukan bersama Novi di ruangan sekretarisnya itu.
"Hahaha, servis kamu memang luar biasa, Nov. Saya jadi ingin sering-sering melakukan itu lagi sama kamu, andai kamu bisa menjadi istri kedua saya itu pasti akan lebih menyenangkan." gumamnya.
Tliingg...
Saat ia tengah asyik membayangkan kejadian sebelumnya yang mana Novi memberi servis mulut kepadanya secara paksa itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk ke nomornya. Devano pun membuka matanya kembali lalu mengambil ponsel itu dari atas meja, ia membuka dan membaca isi pesan tersebut.
Matanya terbelalak lebar saat melihat foto yang dikirimkan seseorang dengan nomor misterius ke ponselnya, ya Devano langsung syok berat karena orang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah diculik dan si penculik sengaja mengirimkan foto tersebut untuk membuat Devano panik.
"Shella...??" batinnya dengan nafas yang langsung tak karuan begitu melihat foto itu.
...•••...
Rafael masih dalam perjalanan mencari Shella yang diculik dan sampai saat ini belum berhasil menemukan dimana keberadaan wanita tersebut, Rafael tampak sangat panik karena hingga kini ia belum menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan Shella dan waktunya hanya tinggal sebentar lagi sebelum malam tiba.
Teman-teman yang ia mintai bantuan, juga masih belum ada kabar hingga saat ini. Tentu Rafael makin tampak kalut dan tidak bisa tenang karena ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Shella, apalagi jika nantinya Devano tau kalau istrinya diculik oleh rombongan orang yang tidak dikenal.
"Duh, gimana ini ya? Bu Shella belum ketemu juga, gue harus bilang apa kalo nanti pak Vano nanya?" gumam Rafael kebingungan.
Baru saja ia memikirkan tentang Devano, saat ini ponselnya sudah berbunyi dan ada telpon dari bosnya itu yakni Devano. Sontak Rafael langsung sangat-sangat panik dan bingung harus bagaimana caranya mengatakan pada Devano, ia khawatir bosnya itu akan marah padanya.
"Mampus gue! Pak Vano pake nelpon segala lagi, harus bilang apa gue dong?" gumamnya panik.
📞"Halo, pak!" ucap Rafael sedikit ketakutan.
📞"Halo, Raf! Shella dimana sekarang?" ujar Devano dengan nada keras.
📞"Eee Bu Shella masih di dalam cafe kok, pak. Beliau lagi ngobrol-ngobrol sama temannya disana, kalau saya ini lagi nunggu di depan aja. Emangnya kenapa ya, pak? Bapak mau bicara sama Bu Shella?" ucap Rafael berbohong pada bosnya.
📞"Kamu bohong, Rafael! Beraninya kamu membohongi saya! Kamu pikir saya tidak tau, kalau sekarang Shella sedang diculik? Dasar asisten gak becus kamu, disuruh jagain istri saya aja gak bisa! Kamu niat kerja atau enggak sih, ha?" bentak Devano yang emosi.
Rafael pun terkejut mendengarnya, ia tak menyangka kalau Devano ternyata sudah mengetahui semuanya.
"Pak Vano tau darimana, ya?" gumamnya.
📞"Hey, Rafael! Kenapa kamu diam? Benar kan apa yang tadi saya bilang? Mengapa itu bisa terjadi, Fael? Ngapain aja kamu disana, sampai istri saya bisa diculik sama orang?" ujar Devano emosi.
📞"Maaf, pak! Iya itu memang benar dan saya akui kalau saya lalai dalam menjaga Bu Shella, tapi penculik itu sangat licik, pak! Dia menggunakan cara yang diluar nalar, saya dan polisi aja sampai sulit buat melacak keberadaan mereka." ucap Rafael.
📞"Tidak usah banyak alasan kamu! Kalau kamu gak lalai, ini semua gak akan terjadi! Sudahlah, sekarang kamu harus cari dimana keberadaan istri saya sampai ketemu! Oh ya, tadi si penculik itu sms saya dan kirim foto Shella. Kamu bisa lacak keberadaan mereka lewat nomor telponnya kan? Saya akan kirim nomornya ke kamu sekarang, saya tidak mau tau kamu harus berhasil menemukan Shella!" ujar Devano dengan tegas.
📞"Siap, pak!"
Tuuutttt...
Telpon langsung diputus oleh Devano, Rafael pun tampak gusar sembari mengusap wajahnya kasar dan menunggu pesan dari bosnya itu.
Tliingg...
Ya benar saja, pesan dari Devano langsung masuk tak lama setelah telpon terputus. Rafael pun segera membukanya untuk melihat nomor telpon si penculik dan melacaknya.
💌Devano : 08xxxxxx itu nomornya.
Setelahnya, Rafael langsung meneruskan pesan itu ke nomor temannya untuk bisa dilacak.
__ADS_1
💌Rafael : 08xxxxxx
💌Rafael : Lacak nomor itu!
Rafael pun tinggal menunggu sampai temannya selesai melacak dan mengirimkan lokasi tempat si penculik berada.
...•••...
Sementara itu, Nadya bersama Yoga telah sampai di rumah tantenya untuk bertanya mengenai keberadaan Lestari alias mama angkatnya. Sudah sekitar lima jam mereka berkutat di jalanan demi bisa sampai disana, ya karena letaknya memang di luar kota sehingga membutuhkan waktu yang lama.
TOK TOK TOK...
Nadya langsung mengetuk pintu juga memencet bel yang terletak di depan pintu.
"Assalamualaikum, tante Alvi..." ucapnya.
"Waalaikumsallam..."
Terdengar suara balasan dari dalam rumah tersebut saat Nadya mengucap salam, sontak Nadya pun tersenyum sembari menatap wajah Yoga yang berada di sampingnya, ia merasa senang karena ternyata tantenya itu masih ada disana.
Ceklek...
Pintu terbuka dan seorang wanita yang agak dewasa dengan dasternya muncul, ya ialah Alvi alias tante Nadya dan juga saudara kandung Lestari.
"Eh Nadya, ada apa?" tanya Alvi.
"Tante," ucap Nadya sembari maju ke dekat tantenya dan mencium tangan tantenya itu.
Yoga pun juga melakukan hal yang sama.
"Tante, aku mau tanya boleh?" ucap Nadya meminta izin pada tantenya untuk mengajukan pertanyaan tentang mama angkatnya.
"Ya boleh dong, sayang. Tapi, masuk dulu yuk ke dalam! Ajak teman kamu juga sekalian! Gak enak lah kalo kita ngobrol di depan pintu begini, past capek kan?" ucap Alvi mengajak Nadya masuk.
"Iya tante," ucap Nadya tersenyum.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Alvi dan duduk di sofa yang tersedia. Tampak Alvi selalu merangkul dan mengusap-usap punggung Nadya, tampaknya Alvi memang sangat merindukan gadis cantik yang merupakan ponakannya itu.
"Nadya, kamu mau minum apa sayang?" tanya Alvi menawarkan minuman.
"Umm, apa aja tante." jawab Nadya.
"Nah kalo kamu? Eh, siapa deh nama kamu? Daritadi aku belum tau loh nama kamu." ucap Alvi menatap Yoga dan bertanya padanya.
"Ahaha, iya tante. Saya Yoga, soal minum saya mah apa aja tante yang penting bisa diminum supaya gak haus lagi tenggorokan." ucap Yoga.
"Hahaha, yaudah. Sebentar ya, sayang!" ucap Nadya.
"Iya tante..." ucap Nadya.
Alvi pun pergi ke belakang untuk menemui asisten rumah tangga yang bekerja disana, ia meminta pada pekerjanya itu membuatkan minuman untuk Nadya dan juga Yoga yang menunggu di ruang tamu.
Setelahnya, Alvi kembali kesana dan duduk di samping Nadya sambil tersenyum.
"Nah udah, sekarang kamu mau tanya apa Nadya?" ucap Alvi sambil memegang dua tangan gadis itu dan menatapnya penasaran.
"Eee sebenarnya aku kesini, cuma mau tanya sama tante soal mama Lestari." ucap Nadya.
Alvi tampak terkejut mendengar ucapan Nadya, entah mengapa ia tiba-tiba menjadi gugup sendiri setelah Nadya mengatakan ingin bertanya tentang Lestari padanya, Alvi seperti mengetahui sesuatu tentang Lestari dan merasa sedikit cemas.
"Ada apa, tante?" tanya Nadya penasaran.
"Eee...." Alvi gugup sendiri dan sedikit gemetar.
Disaat Alvi hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba asisten rumah tangganya justru muncul membawa minuman untuk mereka bertiga dan ucapan itu pun terganggu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...