
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 99
...•...
...•...
Laila datang ke sebuah tempat menemui pacarnya, ya tampak Sadam memang sudah menunggu disana sambil menikmati semangkuk bakso cuanki.
"Hai beb! Wih enak tuh kayaknya, aku jadi kepengen.." ucap Laila tergiur dengan bakso cuanki yang sedang dimakan pacarnya itu.
"Kamu mau? Yaudah pesen aja tuh nanti biar aku yang bayar!" ujar Sadam dengan santainya menyuruh Laila memesan satu mangkuk bakso cuanki.
"Oke makasih ya beb! Bang, bikinin lagi dong satu buat saya jangan pedes ya bang soalnya saya gak kuat makan pedes!" ucap Laila pada abang tukang bakso itu lalu duduk di samping Sadam.
"Kamu kok cepet kesininya? Emang kamu udah main ke rumah mertuanya abang kamu??" tanya Sadam sambil memakan bakso cuanki di tangannya.
"Udah dong makanya aku bisa kesini, tadinya sih papah mamah ajakin aku buat ke apartemen kak Vano.. Tapi aku gak mau ikut karena udah ada janji sama kamu sayang!" jawab Laila dengan sedikit manja menyenderkan kepalanya pada bahu Sadam.
Saat sedang asyik bermesraan, tiba-tiba abang bakso datang memberikan semangkuk bakso yang dipesan Laila tadi.
"Ini neng baksonya.." ucap si abang.
"Oh iya makasih ya bang," ucap Laila menampani mangkuk bakso itu lalu mengaduk-aduk kuahnya agar merata.
"Emm, pasti enak nih dari aromanya aja udah menggugah selera..!!" ujar Laila lalu mulai memakan bakso cuanki miliknya.
Sadam memandangi Laila yang tengah asyik memakan baksonya, entah kenapa Laila terlihat lebih cantik saat sedang makan bakso seperti itu menurut Sadam.
"Kamu ngapain ngeliatin aku begitu?" tanya Laila yang mengetahui jika daritadi Sadam memandangi dirinya.
"Eee enggak kok sayang, kamu lucu aja kalo lagi makan bikin gemes hehe.." ujar Sadam nyengir.
"Yeh dasar! Udah ah aku mau fokus makan takutnya nanti keselek kalo makan sambil ngomong!" ucap Laila lalu melanjutkan makannya, begitu juga dengan Sadam yang kembali memakan baksonya itu.
ya itulah tampilan bakso cuanki yang sedang dimakan Laila & Sadam, kebetulan sekarang disini lagi dingin banget jadi kepengen juga makan bakso cuanki 🤤
__ADS_1
Disisi lain, Damar & Lubis rupanya juga berada di tempat yang sama dengan Laila & Sadam.
Ya Lubis yang pertama kali melihat keberadaan Laila disana, ia pun memberitahukannya pada Damar.
"Eh Mar, itu bukannya adiknya Devano ya? Sama siapa tuh disana dia??" ujar Lubis sambil menunjuk ke arah Laila yang tengah makan bakso cuanki.
"Iya bener pak itu Laila adiknya mas Vano, dan kayaknya yang sama dia itu pacarnya deh pak soalnya waktu itu kan pernah dateng juga ke pernikahan mbak Shella!" ucap Damar yang juga akhirnya melihat keberadaan Laila.
"Oh iya bener kamu, jadi gimana nih mau kita samperin apa enggak si Laila itu??" tanya Lubis.
"Ngapain sih pak nyamperin orang pacaran? Udah lah mending kita pulang ke rumah aja! Lagian besok kan kita mau balik ke Surabaya, Damar masih harus beresin baju-baju Damar pak!" ucap Damar tampaknya tidak senang melihat Laila bermesraan dengan pacarnya itu.
"Yowes ayo kita pulang! Tapi kamu kenapa sih kok kelihatannya bete gitu pas ngeliat Laila? Ohh jangan-jangan kamu cemburu ya, awas loh Mar jangan macem-macem di kota orang!" ujar Lubis tertawa kecil lalu berjalan mendahului Damar.
"Bener kata bapak, sebaiknya aku lupain saja Laila! Mungkin emang jodohku itu ndak ada di Jakarta!" gumam Damar merasa sedih.
Damar masih terus memandangi wajah Laila dari kejauhan, hingga tiba-tiba saja Laila melirik ke arahnya dan langsung membuatnya kaget lalu segera berjalan menyusul bapaknya.
Melihat pacarnya celingak-celinguk seperti orang kebingungan, Sadam pun heran dan bertanya pada Laila.
"Kamu cari siapa sih beb?" tanya Sadam sambil mengunyah baksonya.
"Eh enggak kok beb, tadi perasaan ada yang lihatin aku gitu dari sana eh tapi pas dilihat gak ada siapa-siapa!" jawab Laila.
Laila mengangguk lalu meneruskan memakan bakso cuanki miliknya sampai habis bahkan ia juga meminum kuah bakso tersebut sampai tak tersisa sedikitpun.
Laila pun membersihkan mulutnya dari bekas kuah bakso yang berceceran disana menggunakan tisu yang ia bawa.
"Tadi kok kayak Damar ya? Tapi mau ngapain dia ke tempat ini?? Terus kenapa dia cuma lihatin aku dari jauh coba bukannya langsung kesini aja?" gumam Laila masih bertanya-tanya soal seseorang yang tadi ia lihat.
...•••...
Sementara itu, Silvi & Tama datang ke apartemen Devano untuk memberi hadiah spesial pada anaknya dan juga menantunya itu.
"Eh papah, mamah, kok mau dateng kesini gak bilang-bilang dulu sih? Kalo tahu kan biar aku sama Shella aja yang ke rumah pah!" ucap Devano tersenyum melihat orangtuanya datang.
"Ya gapapa dong Vano, kita kan pengen kasih kejutan buat kamu! Oh ya mana istri kamu yang cantik itu? Mamah ada sesuatu buat dia!" ujar Silvi menanyakan keberadaan Shella.
"Ada kok mah di dalem, ayo masuk pah, mah!" ucap Devano mengajak orangtuanya masuk ke dalam.
Mengetahui ada mertuanya datang, sontak Shella berlari mengambil jaket yang tergeletak di ranjang lalu menutupi tubuhnya menggunakan itu agar terlihat lebih tertutup di depan mereka.
"Eh mamah sama papah ternyata.. Ayo duduk mah, pah, biar aku buatin minum ya untuk mamah sama papah!" ucap Shella menyambut kedatangan mertuanya.
"Udah Shella gausah, mamah sama papah udah minum kok tadi di rumah ibu kamu!" ujar Silvi mencegah Shella membuatkan minuman lalu duduk di sofa bersebelahan dengan suaminya.
__ADS_1
"Oh ya? Jadi tadi mamah sama papah juga dateng ke rumah ibu?" tanya Shella berusaha akrab dengan mertuanya walau dia masih agak canggung.
"Iya sayang kita abis dari sana ini, terus biar sekalian yaudah kita mampir kesini tengokin kalian! Nah gimana Shella, Devano nakal gak?" ujar Silvi agak bercanda.
"Hahaha enggak kok mah, justru mas Vano baik banget dan perhatian sama aku!" ucap Shella memuji suaminya, sontak Devano merasa senang lalu merangkul istrinya itu di hadapan orangtuanya.
"Ya iya dong kan aku mau jadi suami yang baik buat kamu honey, jadi aku bakal terus berusaha buat kasih yang terbaik untuk kamu dan calon anak kita!" ucap Devano keceplosan mengatakan itu di depan Silvi & Tama.
Tentu saja mereka langsung terperangah kaget mendengar ucapan Devano itu, Shella juga membulatkan matanya menatap Devano dengan tatapan kesal karena suaminya itu malah keceplosan di depan Silvi & Tama.
"Waduh sialan gua lupa kalo mamah sama papah kan belum tau soal kehamilan Shella, bisa berabeh nih urusannya!" gumam Devano panik.
...•••...
Bimo masuk ke kamar Adrian diam-diam seperti maling yang hendak mencuri barang-barang di rumah itu.
Tampak sudah ada Adrian menunggu disana sambil berdiri melipat kedua tangannya di depan.
"Gimana?" tanya Adrian dingin.
Bimo melepas masker serta hoodie yang ia kenakan, lalu duduk di sofa dengan kaki kanan berada di atas kaki kirinya.
"Sukses bro! Cuma sekali geprek langsung mokat tuh orang!" jawab Bimo menyombongkan diri.
Adrian tersenyum lalu mendekati adik tirinya itu, ia menepuk-nepuk pundak Bimo kemudian mengucapkan selamat padanya.
"Bagus bagus, lu emang bisa gua andelin Mo! Tapi barang buktinya udah lu amanin semua kan? Gua gak mau sampe polisi tau apa yang udah lu lakuin itu!" ujar Adrian yang kini duduk di samping Bimo.
Bimo yang awalnya santai berubah jadi tegang setelah mengingat sesuatu dalam pikirannya.
"Sial! Tadi gua lupa cabut kapak nya dari leher perempuan itu, mana gua gak pake sarung tangan lagi tadi.." gumam Bimo.
Adrian pun merasa heran dengan sikap adiknya itu, tentu saja dengan sekejap Bimo langsung berubah ekspresinya.
"Lu kenapa Mo? Apa ada masalah??" tanya Adrian penasaran.
"Gak, gak ada kok bang! Semuanya aman terkendali! Setelah ini jangan lupa tepati janji lu!" ucap Bimo lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Adrian itu.
Adrian mengetahui kalau ada yang tidak beres dari sikap adiknya itu, ia merasa kalau Bimo sedang menutupi sesuatu darinya.
Sementara Bimo tampak panik dan mengacak-acak rambutnya sendiri di luar sana, ia takut kalau kecerobohannya itu bisa berakibat fatal pada dirinya nanti.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!! ...
__ADS_1