Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Main terus


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 349


...•...


...•...


Hari sudah semakin sore dan matahari juga sebentar lagi akan terbenam, namun Devano masih memompa miliknya di dalam milik sang istri dengan sangat bersemangat walau lebih berhati-hati karena ingat ada calon bayinya di rahim Shella saat ini.


Shella sudah tampak letih dan tak mampu lagi meladeni permainan suaminya, tenaganya memang gampang terkuras sejak ia mengandung.


Ya akhirnya Devano melepaskan cairan miliknya di dalam rahim sang istri, secara bersamaan Shella juga berhasil mencapai puncaknya.


Devano pun ambruk di atas tubuh Shella lalu tersenyum menatap wajah istrinya itu sembari membelai rambut sang istri.


"Honey, nikmat kan?" tanya Devano menggoda istrinya sambil tersenyum genit. Devano juga kembali mengecup bibir serta wajah Shella dan sesekali menjilat keringat yang membasahi wajah istrinya itu.


"Mas, kamu kok malah begini lagi sih? Nanti kalo mama tau bisa marah loh!" ucap Shella.


"Gapapa sayang, aku udah gak tahan soalnya! Tadi di kantor kan aku terpaksa keluarin sendiri, karena jauh dari kamu." ucap Devano masih terus menciumi area wajah Shella dan memainkan titik sensitif istrinya itu.


"Hadeh, aku heran deh sama kamu. Kok kamu mesum banget sih, mas? Padahal mama kan udah wanti-wanti supaya kamu gak sering minta jatah dari aku lagi, eh ini sekarang udah langsung ngegas aja! Lagian kamu kan abis mandi mas, emang gak capek mandi lagi?" ucap Shella.


"Kenapa harus capek? Kan aku mandinya sama kamu, inget loh kamu juga harus mandi lagi! Kalau urusan mama, tenang aja gausah takut! Mama gak akan marah asal kamu gak cepu bilang ke mama, lagian aku juga mainnya pelan tadi!" ucap Devano.

__ADS_1


"Pelan apanya? Segitu tuh masih kasar, tau!" ucap Shella cemberut.


Cupp...


Devano kembali melumatt bibir Shella dengan sangat lembut dan membuat istrinya itu lagi-lagi terhanyut dalam kenikmatan.


"Honey, nikmat banget ya? Kamu kuat kan kalo kita lanjut ronde kedua sekarang?" ucap Devano melepas pagutannya lalu berdesis tepat di depan wajah Shella sembari memegang bibir bawah Shella.


"Mas, udah ah! Aku gak mau terjadi sesuatu sama calon bayi kita!" bujuk Shella.


"Haish, padahal aku masih mau loh! Tapi, yaudah deh kalo emang kamunya gak kuat mah. Aku juga gak mau sih terjadi sesuatu sama calon bayi kita, kan dia itu harapan buat aku punya keturunan!" ucap Devano tersenyum sambil mengusap perut Shella.


"Nah itu dia, makanya kamu jangan paksa aku ya buat main lagi! Kan kasihan mas calon anak kita, kalau dia terus kena guncangan gara-gara papanya yang gelo ini." ucap Shella.


"Iya cantik," Devano menurut lalu menciumi area wajah sampai leher sang istri, tanpa menghentikan usapannya pada perut Shella yang sudah agak membesar akibat mengandung calon anaknya itu.


Memang Devano telah setuju dengan permintaan istrinya untuk tidak minta bermain lagi, namun Devano masih terus kembali meraup gundukan Shella dengan mulutnya seperti bayi kelaparan.


TOK TOK TOK...


Akhirnya Devano menghentikan aksinya saat pintu kamar mereka diketuk dari luar, sontak Devano dan juga Shella langsung panik dan berusaha memakai pakaian mereka kembali.


Shella harus memungut pakaiannya yang berserakan di lantai akibat keganasan Devano tadi. Tentu Shella tak mau jika seseorang di luar sana yang mengetuk pintu kamarnya, melihat jika ada banyak pakaian miliknya yang berserakan dan mengetahui kalau ia dengan Devano habis melakukan permainan ranjang yang sangat panas dan penuh gairah itu.


...•••...


Disisi lain, Nadya tengah rebahan di sofa ruang tamu sembari memainkan ponsel milik ibunya untuk chattingan bersama Yoga. Nadya memang masih belum memiliki ponsel lagi, sejak kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu.


Jenar tampak tersenyum melihat putrinya itu bahagia karena bisa memiliki seorang kekasih, Jenar juga senang karena Nadya memilih pasangan yang tepat untuknya dan tidak lagi menanyakan tentang Adrian seperti sebelum-sebelumnya.


"Sayang...." ucap Jenar memanggil putrinya sembari menghampiri Nadya di sofa dan meletakkan piring berisi dodol di atas meja.

__ADS_1


"Eh ibu, maaf bu aku gak sopan." ucap Nadya langsung bangkit duduk tegak di samping ibunya dan tersenyum merasa bersalah karena sudah rebahan di sofa sambil mengangkat satu kakinya di atas kaki yang lain.


"Gapapa, gausah ngerasa bersalah gitu! Nih, ibu bawain dodol buat cemilan kamu!" ucap Jenar.


"Ah iya, makasih Bu!" ucap Nadya.


Nadya pun menyingkirkan ponselnya sejenak lalu mengambil dodol goreng yang sudah disediakan oleh ibunya itu dan memakannya.


"Oh ya, Bu. Ini aku balikin aja deh hp ibu, soalnya Yoga juga katanya mau pergi ada urusan sebentar. Jadi, aku gak bakal chattingan lagi sama dia!" ucap Nadya menyerahkan kembali ponsel itu kepada ibunya.


"Udah gapapa, kamu simpan aja! Nanti kalau nak Yoga kirim pesan ke kamu lagi kan gampang kamu balasnya, lagian ibu juga jarang pegang hp kok." ucap Jenar.


"Loh tapi aku gak enak sama ibu, ini kan hp ibu bukan hp aku. Masa aku yang pegang sih? Udah biar sama ibu aja, ya? Nanti kalau misal Yoga kirim pesan atau telpon, ibu bilang aja akunya lagi di kamar atau ngapain gitu!" ucap Nadya.


"Gapapa sayang, kamu pegang aja dulu! Anak muda yang baru pacaran kan biasanya lagi seneng-seneng nya tuh kirim pesan atau telponan, jadi kamu lebih butuh dibanding ibu!" ucap Jenar.


"Iya deh, Bu. Makasih ya!" ucap Nadya.


"Nah gitu dong, gausah gak enakan kalau sama ibu mah!" ucap Jenar tersenyum sembari mengusap rambut Nadya.


"Iya Bu," ucap Nadya.


Nadya merasa nyaman dengan usapan ibunya itu, ia pun membenamkan kepalanya pada bahu sang ibu lalu mendongak menatap wajah Jenar dan tersenyum manis.


"Bu, makasih ya udah sayang banget sama aku!" ucap Nadya pelan.


"Buat apa kamu makasih sayang? Udah tugas seorang ibu untuk menyayangi putrinya, apalagi ibu juga sempat melakukan kesalahan sama kamu dulu. Anggap aja ini sebagai gantinya karena dulu ibu sudah menelantarkan kamu, sayang!" ucap Jenar.


Mereka pun berpelukan disana. Nadya tampak sangat menikmati pelukan sang ibu, inilah yang ia inginkan sejak dulu yakni dapat merasakan pelukan kasih sayang dari ibu kandungnya. Bagi Nadya, rasa pelukan dari ibu kandung dan mama angkat itu jelas berbeda bahkan sangat-sangat berbeda


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2