
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 293
...•...
...•...
📞"Apa?? Shella dibawa ke rumah sakit?" ujar Arga kaget setelah mendengar info dari anak buahnya.
📞"Iya bos, tapi bos tenang aja kemarin saya lihat Devano udah bawa pulang istrinya!"
📞"Syukurlah kalau dia gapapa, tapi kenapa Shella sampe dibawa ke rumah sakit begitu? Emangnya apa yang terjadi sama Shella?" tanya Arga panik.
📞"Maaf bos, kalau itu saya kurang tahu!"
📞"Aaarrgghh, dasar payah! Apa sih yang kamu tahu, ha?" ujar Arga ngamuk.
📞"Tenang dulu bos, saya tahu informasi penting lainnya tentang Devano...."
📞"Apa itu? Cepat katakan!!!" bentak Arga.
📞"Ternyata selama ini saya salah mengira bos, karena rumah Devano bukan di tempat yang kemarin! Saya sudah mengikuti mobil Devano dan dia pergi ke rumah yang berbeda, bisa jadi mereka tinggal disana bos!"
📞"Apa maksud kamu? Jadi rumah yang kemarin itu bukan tempat tinggal Shella?" tanya Arga.
📞"Sepertinya begitu bos, mungkin saja rumah itu milik ibunya dan kemarin mereka hanya sekedar mampir! Kalau yang ini sudah pasti rumah mereka bos, soalnya besar dan selevel dengan usahawan muda seperti Devano!"
📞"Oke, kirimkan lokasinya ke saya sekarang! Saya akan melanjutkan aksi mendekati Shella, sekaligus mencari tahu apa yang terjadi padanya sampai dibawa ke rumah sakit!" ucap Arga.
📞"Baik bos!"
Arga menutup telponnya lalu tersenyum smirk sembari menunggu pesan dari anak buahnya yang akan mengirimkan lokasi rumah Devano, ia tidak sabar untuk mendatangi sepasang suami-istri itu lalu menggoda Shella kembali.
Tliingg...
💌Si botak : [Lokasi]
💌Si botak : Ini bos lokasinya...
Arga pun tersenyum begitu pesan lokasi dari anak buahnya sampai di ponselnya, ia langsung membuka isi lokasi tersebut dan kini telah tahu dimana tempat Devano & Shella berada sehingga ia bisa mendekati wanita tersebut lagi.
__ADS_1
"Ohh jadi disini rumah kalian, oke deh gue bakal langsung meluncur kesana buat melancarkan aksi selanjutnya!" batin Arga.
Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu keluar dari kamarnya untuk menuju rumah Devano, ia benar-benar sudah tidak sabar menemui Shella disana dan melihat ekspresi terkejut dari Devano bila melihatnya secara langsung.
Sesampainya di depan rumah, Arga langsung menuju mobilnya masih dengan wajah dibalut senyuman membayangkan Shella dalam pikirannya, sejak semalam memang pria itu selalu memikirkan Shella sehingga tak bisa tidur lelap.
"Arga!"
Suara berat yang berteriak memanggilnya membuat Arga tidak jadi membuka pintu mobil, ia menoleh lalu melihat papanya tengah berjalan ke arahnya dengan kaki pincang dan pandangan tajam seperti memendam amarah kepada putranya itu.
"Mau kemana kamu pagi-pagi begini, ha?" tanya Herman dengan nada tegas.
"Papa kenapa sih, selalu aja ngurusin urusan aku?" ujar Arga tampak emosi.
"Keterlaluan kamu, Arga! Bisa-bisanya kamu bicara begitu sama papa kamu sendiri, kamu sudah benar-benar tidak memiliki tata krama!" bentak Herman sangat geram pada Arga.
"Ya lagian papa sendiri, aku tuh udah gede pah! Aku mau kemana kek itu urusan aku, papa gak berhak tanya-tanya!" ujar Arga.
Herman geleng-geleng kepala tak percaya dengan perkataan putranya, sedangkan Arga membuang muka lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam begitu saja tanpa sepatah katapun lagi.
Dengan cepat Arga memacu mobilnya meninggalkan rumah serta Herman yang berdiri disana, pria tua itu nampak sedih sekaligus kecewa pada sikap putranya yang semakin menjengkelkan.
"Keterlaluan kamu, Arga!" batinnya geram.
...•••...
"Kamu ini serius, sayang? Kamu mau telpon Yoga?" tanya Jenar terheran-heran.
"Iya Bu, emang kenapa sih?" ucap Nadya.
"Gapapa kok, sebentar ya ibu ambilin hp nya di depan!" ucap Jenar tersenyum.
"Eh eh Bu, gausah!" ucap Nadya.
"Loh kenapa, sayang? Tadi katanya kamu mau telpon nak Yoga, giliran ibu mau ambil hp ibu di depan malah kamu larang..." ujar Jenar heran.
"Iya, tapi gak sekarang juga ibu!" ucap Nadya.
"Ohh, emangnya kenapa kalo sekarang sayang?" tanya Jenar masih kebingungan.
"Kan ibu masih makan, dihabisin dulu makanannya!" jawab Nadya tersenyum renyah.
"Oh iya, yaudah deh sayang!"
Jenar & Nadya pun melanjutkan sarapan mereka menghabiskan nasi goreng yang lumayan banyak itu, Nadya tampak lahap memakannya sembari senyum-senyum sendiri disana.
Tentu Jenar tampak heran dengan tingkah putrinya tersebut, tak biasanya memang Nadya senyum-senyum sendiri begitu apalagi disaat makan seperti ini.
__ADS_1
Sesudah selesai menghabiskan sarapan, Jenar langsung membereskan piring kotor bekas mereka berdua makan untuk segera dicuci, namun dengan cepat Nadya mencegahnya dan mengatakan kalau ia ingin mencuci piring kali ini.
"Bu, biar aku aja yang cuci!" ucap Nadya memegang tangan ibunya.
"Udah gausah sayang, biar ibu aja!" ucap Jenar.
"Ih ibu, ayolah sekali-kali aku mau berbakti sama ibu!" ucap Nadya memaksa dengan bibir mengerucut membuat Jenar gemas.
"Iya iya, yaudah boleh..." ucap Jenar luluh.
"Nah gitu dong Bu, aku kan juga mau jadi anak yang berbakti sama ibu!" ucap Nadya tersenyum.
Nadya pun mengambil piring-piring kotor itu dari tangan ibunya lalu membawanya ke wastafel, disana lah Nadya mencuci semua piring tersebut sambil tersenyum manis membayangkan sosok Adrian yang selalu menggerayangi pikirannya.
"Semoga Yoga bisa bantu aku buat ketemu Adrian, cuma dia sekarang satu-satunya harapan aku!" batin Nadya sembari mendongak sambil tersenyum.
Praaanggg....
Karena tidak fokus mencuci, akhirnya Nadya tanpa sengaja memecahkan piring tersebut dan pecahan itu mengenai telapak tangannya sehingga ia berdarah lalu meringis menahan sakit.
"Awwhh..."
"Gimana ini...??"
Nadya pun panik karena kekacauan itu, ia takut kalau ibunya akan marah padanya karena sudah memecahkan piring tersebut dan pecahannya pun terpencar kemana-mana.
"Sheila, ada apa sayang?"
Tiba-tiba saja ibunya muncul lalu kaget melihat banyak pecahan piring berserakan serta tangan putrinya yang terluka dan berdarah.
"Ya ampun Sheila, ini kenapa bisa begini?" tanya Jenar dengan raut panik.
"Ma-maaf Bu...." jawab Nadya menunduk.
Jenar menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Nadya agar menjauh dari pecahan piring yang berserakan tersebut, ia mengusap puncak kepala Nadya sambil tersenyum membuat gadis itu terheran-heran kebingungan.
"Gapapa sayang, ibu gak marah kok!" ucap Jenar.
"Ta-tapi piringnya pecah, Bu.... ini gara-gara aku gak fokus tadi nyucinya, maaf banget ya Bu! Harusnya kan aku bikin ibu seneng, eh malah jadi nyusahin ibu!" ucap Nadya manyun.
"Hus! Kamu gak nyusahin ibu kok, ibu gak akan bisa marah sama kamu sayang...!!" ucap Jenar.
Jenar memeluk tubuh Nadya menenangkan putrinya yang tampak ketakutan itu, ia meyakinkan Nadya bahwa dirinya tidak marah kepadanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1