
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 354
...•...
...•...
Melihat Nadya terdiam dan menunduk, justru membuat Damar senang dan merasa kalau Nadya juga memiliki rasa padanya.
Damar menarik dagu Nadya lalu mencengkeram rahang gadis itu dan tersenyum sembari menatap wajahnya, Damar juga menggerakkan jarinya untuk membelai rambut depan Nadya lalu kakinya melangkah sedikit lebih maju mendekati Nadya.
Nadya makin merasa gugup dan jantungnya sudah berdetak tak karuan karena Damar semakin mendekatinya, bahkan diantara mereka seperti tidak ada jarak sama sekali.
"Sheila, jangan nunduk dong! Aku mau lihat kecantikan wajah kamu!" ucap Damar.
"Eee Mar, kamu—"
"Ssshhh! Kamu jangan bicara kalau aku gak suruh! Sekarang aku lagi fokus menikmati keindahan wajah kamu ini, cantik sekali ya ciptaan Tuhan yang satu ini sulit untuk dilewati!" potong Damar dengan cepat sembari menempelkan telunjuknya pada bibir mungil milik Nadya.
Perasaan Nadya makin tak karuan, ia juga heran mengapa Damar begini padanya.
"Kamu apa-apaan sih?" tanya Nadya.
"Kan udah aku bilang, jangan bicara Sheila! Kamu diem aja dulu, biar aku fokus menikmati kecantikan kamu ini!" ucap Damar sembari mengelus wajah Nadya dengan tangannya yang satu lagi.
Akhirnya Nadya terpaksa mendorong tubuh Damar untuk menjauh darinya sekaligus melepaskan diri dari cengkeraman pria tersebut, Nadya menganggap kalau tindakan Damar sudah diluar batas sebagai seorang sepupunya.
"Mar, kamu jangan kurang ajar sama aku! Aku emang sepupu kamu, tapi kamu gak bisa gituin aku!" bentak Nadya dengan tegas.
Nadya langsung berniat pergi meninggalkan Damar dan kembali ke kamarnya, namun pria itu justru mencekal lengannya dan menariknya kuat ke arah tembok lalu mengungkungnya disana.
"Mar, kamu mau ngapain sih?" tanya Nadya panik.
"Gausah takut, Sheila! Aku kan udah bilang, aku cuma mau menikmati keindahan wajah kamu dan memandangi kecantikan yang jarang aku lihat ini! Kita kan baru beberapa kali bertemu, jadi aku masih belum terlalu kenal dekat dengan kamu. Makanya sekarang aku pengen begitu dan lebih dekat lagi sama kamu, Sheila!" jawab Damar.
"Haish, mending kamu minggir deh dan jangan kayak gini sama aku!" ujar Nadya kesal.
Cupp...
Damar justru mencengkeram dua tangan Nadya dan menaruhnya di atas kepala gadis itu, Damar juga mengecup kening Nadya lalu tersenyum sembari membelai lembut bibir mungil gadis itu.
"Lepasin, Mar!" ujar Nadya.
"Asal kamu tau, Sheila. Aku ini jatuh cinta pada mbak Shella, sampai sekarang aku juga masih merasakan hal itu! Cintaku pada mbak Shella itu sangat tulus, tapi mbak Shella gak pernah tau bahkan sampai dia menikah sekarang! Itulah sebabnya, sekarang aku mau ungkapin rasa itu ke kamu. Supaya aku gak terlambat lagi, aku cinta sama kamu Sheila!" ucap Damar menatap dengan tulus ke arah mata Nadya.
"Apa??" Nadya terkejut bukan main mendengarnya, bibir yang sedari tadi mengatup kini terbuka lebar lantaran ia sangat kaget.
"Ka-kamu cinta sama mbak Shella?" tanya Nadya yang kemudian diangguki oleh Damar sebagai jawaban ya.
"Mar, mbak Shella itu sepupu kamu! Dan aku juga sama kayak dia, aku sepupu kamu! Mana bisa kamu jatuh cinta sama aku ataupun mbak Shella? Kamu harus sadar, Mar! Masih banyak cewek di luar sana yang bisa kamu miliki, bukan cuma aku!" ucap Nadya memberi saran pada Damar.
"Aku gak mau, Sheila! Aku ini cintanya sama mbak Shella, ya kalau gak bisa miliki mbak Shella setidaknya aku masih punya kamu. Lagian kata ayah, menikah dengan sepupu itu boleh kok karena sepupu bukan mahram kita!" ucap Damar.
"Hah? Kamu sakit, Mar!" ujar Nadya.
"Enggak kok, itu memang benar. Sekarang aku mau kamu jadi kekasih aku, karena aku cinta sama kamu dan aku pengen kamu jadi punya aku!" ucap Damar.
Nadya menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. "Enggak, kamu gak boleh begitu! Aku juga gak bakal mau jadi pacar kamu! Aku ini udah punya kekasih," ucapnya.
"Oh ya? Baru pacar kan, belum nikah? Kalo gitu aku masih punya kesempatan buat milikin kamu, dan rebut kamu dari dia!" ucap Damar berdesis di telinga Nadya sembari menjilatinya.
__ADS_1
Nadya memejamkan mata merasakan hawa aneh di tubuhnya saat Damar melakukan itu.
"Assalamualaikum..."
Suara Jenar membuat Damar langsung terkejut dan reflek melepas cengkeramannya dari Nadya, Damar juga menjauh dan kondisi jantungnya sedang tidak baik-baik saja.
Begitupun dengan Nadya yang juga membenarkan rambut serta bajunya yang sedikit berantakan akibat sentuhan Damar tadi.
"Hey, kalian kok malah diem aja? Jawab dong salam ibu! Menjawab salam itu hukumnya wajib loh!" ucap Jenar menasehati mereka berdua.
"Ah iya Bu, waalaikumsallam..." ucap Nadya gugup.
"Waalaikumsallam, tante." ucap Damar.
"Nah gitu dong! Kalian lagi pada ngapain tadi? Kok kayaknya serius banget sih?" tanya Jenar penasaran sembari mendekati mereka.
"Eee kita cuma ngobrol biasa kok, tante. Ini loh Sheila tadi nanyain soal tante ke aku, ya aku jawab aja kalau tante lagi belanja di luar!" jawab Damar sambil senyum-senyum.
"Iya Bu, begitu." sahut Nadya.
Jenar tersenyum lalu menatap putrinya dengan wajah penasarannya.
"Kenapa kamu nanyain ibu, sayang?" tanya Jenar.
"Eee aku penasaran aja tadi, kenapa aku bisa tiba-tiba ada di kamar? Padahal kan semalam aku masih di bawah sama ibu dan Damar, kok pas bangun aku udah di kamar aja sih Bu?" ucap Nadya menjelaskan maksudnya mencari sang ibu.
"Oalah soal itu, iya semalam tuh ibu minta tolong sama Damar buat bawa kamu ke kamar. Nah Damar itu yang gendong kamu terus tidurin kamu di kamar!" ucap Jenar memberitahu pada Nadya kalau Damar lah yang membawanya ke kamar.
Sontak Nadya terkejut lalu menoleh ke arah Damar.
"Kalau kamu cuma mau tanya soal itu, kenapa gak tanya langsung ke aku? Kan aku pasti bisa jawab, apalagi aku sendiri yang bawa kamu ke kamar semalam!" ucap Damar.
"Ya aku kan gak tau sebelumnya, aku pikir kamu juga gak tau soal itu." ucap Nadya gugup.
"Hahaha, syukur deh kalian jadi lebih akrab sekarang. Jadi, ibu gak perlu takut lagi setiap kali pengen pergi keluar dan harus tinggalin kamu sendirian di rumah sayang!" ucap Jenar tersenyum sembari memegang pundak putrinya itu.
"Iya sayang, ibu diajak ngaji sama tetangga sebelah di musholla kampung ini nanti siang. Untung aja sekarang ada nak Damar, jadi ibu gak perlu khawatir mau tinggalin kamu di rumah!" jawab Jenar.
"Iya tante, tenang aja! Aku bakal jagain Sheila selagi tante pergi ke luar." ucap Damar.
"Nah bagus itu! Yaudah, Sheila tolong bantu ibu bawain barang belanjaan ini ya! Kita sekalian juga masak bareng buat sarapan! Kamu kan katanya mau belajar masak sama ibu?" ucap Jenar menyodorkan plastik belanja ke hadapan Nadya.
"Iya Bu..."
Akhirnya Nadya mengambil kantong belanja itu dan membawanya ke dapur bersama sang ibu, sedangkan Damar duduk di sofa sambil senyum-senyum.
...•••...
Disisi lain, Shella telah selesai membersihkan tubuhnya serta mencuci mulutnya untuk menghilangkan rasa jijiknya karena habis meminum cairan milik suaminya semalam walau tidak sampai menelannya, Shella pun sudah tampak lebih baik saat ini dan kembali mendekati suaminya dengan memakai bathrobe warna biru miliknya.
Shella menyentuh tubuh suaminya sembari membangunkan sang suami yang tertidur kembali disana dengan posisi tubuh bersandar pada sandaran ranjang.
"Mas, bangun mas! Ayo mandi!" ucap Shella.
"Eemmhh..." Devano hanya ngulet lalu berganti posisi menghadap ke samping memunggungi istrinya.
"Ish, mas bangun!" ujar Shella kesal.
Akhirnya Devano terbangun lantaran Shella menarik pinggangnya membuat ia hampir terjatuh ke lantai jika tidak segera bangun, Devano bahkan langsung terduduk di pinggir ranjang sembari mengucek matanya dan menguap. Tiba-tiba matanya langsung terbelalak melihat sang istri berdiri di depannya dengan hanya mengenakan bathrobe, wangi tubuh Shella juga membuat Devano tergoda.
"Honey, wangi banget sih kamu!" Devano langsung menerjang tubuh istrinya dan mendekapnya erat lalu menyesap aroma tubuh Shella yang sangat amat membuatnya tergila-gila.
"Mas, kamu apaan sih? Jangan peluk aku dulu! Kamu mending mandi sana, baru deh kamu bisa peluk aku sesuka kamu! Kalo sekarang kan nanti aku jadi ketularan bau tubuh kamu lagi!" ucap Shella emosi dan menyingkirkan tangan Devano dari tubuhnya.
"Hahaha, jahat banget kamu! Masa suami sendiri dibilang bau badan? Aku ini kan selalu wangi, honey! Mana pernah aku bau badan?" ucap Devano.
"Wangi apanya?" Shella langsung mengendus aroma tubuh suaminya dan menghirup bau tak sedap dari bagian tubuh sang suami. "Tuh kan, bau iler kamu tau! Udah sana cuci muka terus mandi sekalian biar baunya ilang! Ish, aku jadi ketularan bau deh gara-gara dipeluk sama kamu!" sambungnya sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya iya, ini aku mandi kok. Kamu jangan pake baju dulu, ya! Begini aja, ngapain dulu kek gitu sampe aku selesai mandi!" ucap Devano.
"Hah? Emang kenapa, mas? Kamu mau ngapain lagi? Jangan bilang kalo kamu pengen minta jatah lagi sama aku!" ucap Shella menatap curiga kepada suaminya dari jarak agak jauh.
"Ahaha, enggak kok. Udah nurut aja, jangan bandel jadi istri!" ujar Devano.
"Haish, iya iya..." Shella mendengus pasrah mengikuti kemauan suaminya, ia pun terpaksa duduk saja di ranjang dengan melipat kedua tangannya dan bibir yang cemberut.
Sementara Devano melangkah masuk ke kamar mandi membawa handuk miliknya.
"Mas Vano mau ngapain sih? Kenapa aku gak boleh pake baju coba? Kan aku harus ke bawah bantu mama sama yang lain siapin sarapan, emang dasar mas Vano otak mesum!" gumam Shella tampak kesal dan menarik-narik mantel yang ia kenakan.
Tak lama kemudian, Devano kembali menemui istrinya setelah selesai mandi. Ia keluar dengan handuk melilit di pinggang dan dadanya terpampang jelas membuat Shella yang melihatnya sedikit tertegun, ya dada Devano memang sangat kekar seperti atlet-atlet.
Devano langsung mendekati Shella dan menunduk sambil tersenyum, ia menggerakkan tangannya untuk menarik dagu Shella agar bisa menatapnya.
"Cantik, gimana sekarang? Aku udah wangi kan?" tanya Devano dengan sedikit membungkuk.
Shella menggeleng pelan, Devano pun mendorong tengkuk Shella ke arah perut sixpack miliknya dan menahannya hingga Shella berupaya berontak sembari memukul-mukul punggung suaminya.
"Apaan sih, mas? Kamu iseng banget sih!" ujar Shella kesal pada suaminya.
"Kan biar kamu tau kalau aku udah wangi, abisnya kamu malah geleng-geleng! Makanya langsung aja aku tempelin muka kamu ke tubuh aku, gimana wangi kan?" ucap Devano tersenyum.
"Haish, iya iya..." ujar Shella.
Devano tersenyum lalu melepas lilitan handuk di pinggangnya sehingga kini tubuhnya polos tanpa tertutupi apapun.
Shella yang melihatnya terbelalak dan menganga lebar, ia reflek menggunakan tangannya untuk menutupi kedua matanya lalu membuang muka dan histeris seketika.
"Mas, tutup lagi ah!" teriaknya panik.
"Kamu kenapa sih? Semalam aja kamu udah anuin dia untuk yang kesekian kalinya loh, masa masih teriak gitu tiap ngeliat si Daniel?" ujar Devano menggoda istrinya, ia sengaja mendekati miliknya ke arah wajah Shella sehingga Shella makin panik.
"Mas, jangan begini ah!" ujar Shella.
"Ahaha, yaudah buka mata kamu!" ucap Devano menarik dua tangan Shella dan mencengkeramnya.
"Mas ah, aku gak mau!" ujar Shella masih dengan mata tertutup dan membuang muka.
"Ahaha, ayolah honey! Buka mata kamu dan rasakan sensasinya, aku yakin kamu juga suka kan? Iyalah, orang si Daniel itu besar dan kuat bisa bikin kamu menjerit kenikmatan!" ucap Devano.
"Haish, nyebelin kamu mas! Tadi katanya gak mau minta jatah, terus ini apa?" ucap Shella.
"Ini aku gak minta jatah loh. Aku kan cuma mau tunjukin ke kamu progres si Daniel yang makin lama makin besar, makanya kamu harus lihat dulu sini, jangan tutup mata kayak gitu! Kamu pasti syok banget deh pas lihat betapa besarnya si Daniel, aku aja yang punyanya juga gak nyangka bisa jadi sebesar ini setelah dianuin kamu kemarin." ucap Devano sambil tersenyum mesum.
"Mas, jangan ngaco deh! Aku gak butuh tau progres si Daniel kayak apa, sekarang pokoknya tutup lagi itu kamu pake handuk atau apa kek! Atau aku gak bakal mau buka mata nih dan teriak biar mama datang kesini terus marahin kamu, emang kamu mau dimarahin sama mama lagi?" ancam Shella.
"Ah kamu mah gak asik, honey! Ancamannya gitu terus, mau teriak lah biar mama nyamperin kesini. Emang gak bosan apa kamu?" ucap Devano.
"Ya makanya pake itu handuk kamu! Jangan pernah tunjukin itu lagi ke depan muka aku!" ucap Shella.
Devano hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, akhirnya ia mau menuruti perkataan Shella dan memakai kembali handuk yang sempat ia lepas tadi. Ya itu semua ia lakukan demi kemauan istrinya agar tidak ketakutan begitu, walau ia sebenarnya masih ingin dilayani.
"Udah nih, aku udah tutup lagi si Daniel nya." ucap Devano sambil mengelus wajah Shella.
"Yang bener kamu, mas?" tanya Shella.
"Iya honey, makanya buka mata kamu dong!" ucap Devano.
"Iya..."
Shella pun membuka matanya dan tersenyum saat melihat suaminya memang sudah kembali memakai handuk sesuai kemauannya, ia mendongak lalu memeluk pinggang sang suami dan membenamkan wajahnya cukup dalam pada perut Devano.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1