
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 209
...•...
...•...
"Anda yakin dengan apa yang anda ucapkan barusan?" tanya polisi.
"Iya pak, saya sangat-sangat yakin! Karena memang benar Adrian lah yang sudah menyuruh saya melakukan ini semua, dia sangat ingin menghancurkan hidup Devano dan istrinya! Oleh karena itu, dia menyuruh security yang bertugas menjaga gedung pernikahan mereka untuk memotong tali rem mobil yang akan membawa Devano serta istrinya pulang!" jawab Bimo dengan lantang dan tubuh yang tegap menandakan kalau ia memang tidak sedang berbohong di depan polisi.
Polisi itu pun memahami semua perkataan Bimo serta mencatatnya sebagai bukti bahwa memang Adrian lah yang sudah menyuruh Bimo untuk membunuh Hamzah tempo hari.
"Setelah itu pak, Adrian sangat panik! Dia takut Devano akan mengetahui perbuatannya, karena saat itu Devano mengerahkan anak buahnya menyelidiki tentang penyebab kecelakaan mobilnya! Maka dari itu, Adrian menyuruh saya untuk membunuh pak Hamzah di rumah barunya... namun saat saya datang ke rumah pak Hamzah, disana ternyata juga ada anaknya pak! Sebenarnya saya tidak tega, tapi saya terpaksa membunuhnya agar tidak ada saksi kalau saya yang menghabisi pak Hamzah!" sambung Bimo menyelesaikan ucapannya sampai akhir.
"Baiklah, kami tampung perkataan anda! Secepatnya kami akan memanggil pak Adrian kemari untuk dimintai keterangan, terimakasih atas pengakuan anda saudara Bimo!" ucap polisi itu.
"Sama-sama pak, saya harap Adrian bisa dijebloskan ke penjara secepatnya pak! Saya tidak rela dia hidup enak di luar sana, sementara saya menderita disini karena ulahnya pak!" ujar Bimo.
"Anda tenang saja, kami akan segera memproses ini semua! Pak Juni, bawa saudara Bimo kembali ke sel tahanannya!" ucap polisi itu.
"Baik, pak!"
Bimo pun dibawa kembali ke sel nya oleh seorang polisi bernama pak Juni yang tadi juga mengantarnya kesana untuk membuat laporan.
"Rasain lu, Adrian! Sebentar lagi lu akan mendekam di penjara sama kayak gue, inilah akibatnya karena lu berani bermain-main sama gue!" batin Bimo sambil menyunggingkan senyum.
Sementara polisi yang tadi menerima laporan dari Bimo, kini menghubungi nomor seseorang entah siapa mungkin hendak menyampaikan kabar tersebut kepadanya.
📞"Halo, pak Devano!" ucap polisi itu setelah cukup lama telepon tut tutan aja.
__ADS_1
📞"Iya halo, ini siapa ya?" tanya pria di telpon yang ternyata adalah Devano.
📞"Saya Ramli dari pihak kepolisian! Saya akan memberi kabar kepada bapak tentang kasus pembunuhan pak Hamzah beberapa waktu lalu," jawab polisi itu.
📞"Ah iya iya, ada kabar apa lagi pak?" tanya Devano penasaran.
📞"Begini pak, barusan saudara Bimo telah mau mengakui kalau ia hanya disuruh oleh seseorang untuk melakukan pembunuhan ini!" jelas Ramli.
📞"Lalu, siapa yang menyuruhnya pak?" tanya Devano lagi bertambah penasaran.
📞"Pak Adrian..."
•
•
Devano cukup syok ketika mengetahui kalau ternyata Adrian lah yang sudah menyuruh adiknya sendiri yakni Bimo untuk membunuh Hamzah, ia kini tampak emosi kepada Adrian dan yakin betul kalau memang Adrian yang juga telah menyuruh Hamzah memotong tali rem nya dulu lalu juga yang membuat Kevin kecelakaan sampai meninggal.
"Gue harus temuin Adrian, dia benar-benar udah banyak bikin kejahatan dan harus segera ditangkap sebelum ada kejahatan-kejahatan lainnya yang dia perbuat dan akan membahayakan orang lain!"
Saking buru-buru nya Devano berjalan, ia sampai tak sengaja menabrak sang istri alias Shella yang hendak menaiki tangga. Ya wanita itu pun hampir terjatuh ke lantai, beruntung Devano sigap menangkapnya sehingga Shella tidak kenapa-napa.
"Honey, kamu gapapa? Maafin aku ya, aku jalan gak lihat-lihat tadi!" ucap Devano cemas.
"Aku gapapa kok, mas! Tapi kamu kenapa sih, kok kayaknya gelisah gitu? Apa ada masalah yang lain lagi di kantor kamu??" ucap Shella.
"Gak ada kok, honey! Aku cuma mau keluar sebentar ketemu sama orang, kamu serius gapapa? Kalo ada yang sakit bilang aja biar aku obatin!" ujar Devano memandangi seluruh bagian tubuh Shella untuk memastikan istrinya baik-baik saja atau tidak.
"Iya mas, aku gapapa beneran! Kan tadi kamu tangkep aku pas mau jatuh, jadi aku gapapa deh..." ucap Shella tersenyum.
Devano yang melihat senyuman manis di wajah sang istri langsung klepek-klepek, ia membalas senyum Shella kemudian mengecup hidung istrinya itu.
Cupp..
Tak hanya hidung, ciumannya juga mendarat di bibir mungil Shella walau hanya sekilas karena ia tak mau nantinya malah jadi ketagihan dan kebablasan.
"Yaudah, syukurlah kalo kamu gapapa! Aku pergi dulu ya, honey! Langsung telpon aku aja, kalo ada apa-apa sama kamu!" ucap Devano.
__ADS_1
"Iya, pasti mas! Kamu juga hati-hati ya bawa mobilnya, jangan ngebut ngebut mas bahaya!" ucap Shella mengingatkan suaminya itu.
"Iya, honey! Yaudah aku pergi ya, assalamualaikum..." ucap Devano mengecup kening istrinya.
"Waalaikumsallam, mas!" ucap Shella mencium punggung tangan sang suami.
"Dadah!"
"Iya, dadah mas! Mmuuaachh..."
Setelah saling melambaikan tangan dan memberi kiss bye, Devano pun lanjut berjalan keluar rumah dengan terburu-buru seperti orang yang dikejar-kejar rentenir. Sementara Shella naik ke kamarnya karena ingin merebahkan tubuh sejenak, entah kenapa sedari tadi ia merasa pusing pada bagian kepalanya.
...•••...
Disisi lain, Adrian menghentikan mobilnya di sebuah gedung tua tak terurus yang bangunannya setengah jadi mungkin karena tidak dilanjutkan oleh orang yang hendak membangunkannya dahulu. Terlihat banyak orang berjaga disana, mereka tentunya ialah suruhan Adrian karena mereka langsung membungkuk sedikit ketika Adrian datang.
Adrian masuk ke dalam gedung tersebut, ia menghampiri seseorang yang terikat di kursi bersama 2 orang penjaga pria disampingnya. Adrian memberi kode pada 2 penjaga tersebut untuk keluar dari sana karena ia ingin berbicara empat mata dengan seseorang yang terikat tersebut.
Setelah penjaga itu pergi, Adrian pun mendekati tawanannya tersebut sambil tersenyum menyeringai licik dengan lidah dijulurkan keluar. Adrian bersimpuh dengan satu kaki ditekuk ke bawah dan satunya ditekuk ke atas lalu tangannya yang satu diletakkan di atas lututnya tersebut.
"Apa kabar, Novi?" ucap Adrian menyapa seseorang yang ia ikat di kursi tersebut.
Adrian menarik dagu wanita itu ke atas sehingga dapat melihat jelas wajahnya yang masih cantik itu walau banyak luka lebam akibat siksaannya.
"Kenapa diam? Kan yang gue tutup cuma mata lu, mulut lu ini masih terbuka loh..." ucap Adrian mengelus lembut bibir milik Novi dengan jarinya.
"Lepasin gue!" ucap Novi pelan.
"Hahahaha, ya bagus! Bagus, Novi! Itulah yang saya inginkan, suara kamu yang merdu itu... tapi, sayang sekali karena saya tidak akan membebaskan kamu dari sini! Justru sebentar lagi saya akan membuang kamu ke jurang, supaya kamu bisa mati!" ujar Adrian sambil tertawa seperti seorang psikopet.
Wajah Novi terlihat ketakutan serta cemas mendengarnya, sementara Adrian makin tertawa puas melihat ketakutan di wajah Novi. Tak lama kemudian, ponsel Adrian berdering menandakan ada telpon masuk yang ternyata dari Devano.
"Mau apa Devano telpon gue?" batin Adrian.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1