
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 373
...•...
...•...
"Saya yakin, kamu ingin tahu siapa saya kan?" ucap pria itu sembari memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Nadya disana.
Nadya pun terkejut hebat saat melihat sosok pria di hadapannya saat ini alias bosnya di perusahaan tersebut, Nadya dengan sigap menutup mulutnya dengan telapak tangan karena masih tak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini dengan mata kepalanya. Ya dugaannya tadi ternyata benar dan ia memang tidak salah mengira.
Sementara pria itu hanya tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya ke arah Nadya.
"Gak, gak mungkin!" batin Nadya sambil geleng-geleng kepala tak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.
Pria yang tak lain ialah bosnya itu, memajukan tubuhnya mendekat ke arah Nadya dan meletakkan dua tangannya di atas meja sambil menatap wajah Nadya yang masih tampak terkejut itu. Ia tersenyum dan menggerakkan satu tangannya untuk mengelus wajah cantik milik Nadya, gadis itu hanya bisa diam membiarkan bosnya bertindak seperti itu.
"Kamu cantik sekali, Nadya! Saya makin tergoda lihat kecantikan kamu yang indah ini," ucapnya.
"Adrian!" ucap Nadya sembari menatap tajam ke arah bosnya itu masih seakan tak percaya.
"Iya sayang, ini aku." ucap pria yang tak lain ialah Adrian Bagaskara alias bosnya disana.
"Bagaimana bisa...??" tanya Nadya bingung.
Adrian masih terus mengusap wajah Nadya sembari membelai rambutnya yang terurai itu, ia tersenyum terus dan memandangi wajah cantik milik Nadya yang tak bisa ia lupakan. Adrian memang masih mencintai gadis itu dan tak mungkin akan rela melepaskan Nadya begitu saja pada Yoga.
Akhirnya Nadya pun bergerak dan menyingkirkan tangan Adrian dari wajahnya, ia menatap geram ke arah bosnya itu seakan tak terima karena wajahnya itu disentuh seenaknya. Apalagi Nadya juga masih heran mengapa bisa Adrian menjadi bosnya disana, padahal ini adalah perusahaan yang berbeda dengan perusahaan milik Adrian sebelumnya.
"Kenapa sayang?" tanya Adrian tersenyum.
"Jangan pernah sentuh saya!" tegas Nadya.
"Hahaha, kenapa sih? Kamu kok jadi jual mahal gitu sama saya sekarang, Nadya? Padahal dulu kita udah lumayan deket loh, bahkan saya hampir bisa rasain tubuh kamu yang indah itu!" ucap Adrian.
"Pak, bagaimana bisa kamu jadi pemilik di perusahaan ini? Bukannya kamu..." ucap Nadya tertahan.
"Iya sayang, aku disini karena ini ya emang perusahaan aku. Kamu tau kan PT kilau Bagaskara tempat kerja dulu? Ya itu sekarang dikelola adik aku, Bimo. Dan perusahaan ini, adalah cabang dari PT kilau Bagaskara. Aku sengaja terima kamu sebagai sekretaris aku disini, supaya kita bisa dekat lagi seperti dulu sayang!" ucap Adrian.
"Hah? Saya gak sudi ya kerja untuk anda lagi! Lebih baik saya mengundurkan diri, daripada saya harus bekerja di perusahaan milik anda! Kalau tau dari awal ini adalah perusahaan anda, saya pasti tidak akan pernah mau menerima pekerjaan ini!" ucap Nadya.
"Oh ya? Silahkan saja kamu ajukan pengunduran diri kamu itu ke HRD, paling juga gak lama setelah itu akan ada surat dari pengadilan untuk kamu, yang isinya tuntutan karena kamu sudah memutus kontrak sebelum waktu perjanjian berakhir. Asal kamu tahu Nadya, saya sengaja kasih minimal kontrak ke kamu selama dua tahun untuk bekerja disini." ucap Adrian tersenyum sinis.
"Apa? Kamu itu bener-bener ya, Adrian! Maksudnya apa sih kamu ngelakuin ini ke aku?" ujar Nadya.
"Jangan emosi, sayang! Kamu disini sekarang bekerja sebagai sekretaris aku, kamu harus hormat sama bos kamu ini! Kita mulai lagi dari awal ya, seperti dahulu yang pernah terjadi!" ucap Adrian.
Nadya terdiam menahan emosi yang sudah hampir meluap, ia benar-benar tak menyangka harus bekerja di perusahaan milik Adrian.
...•••...
Sementara itu, kini Shella bersama keluarga Devano telah bersiap untuk pergi menuju rumah saudara mereka yang ada di luar kota. Terlihat Silvi terus menuntun Shella menuju mobil dengan perlahan, sedangkan Tama dan juga Devano menyusul di belakang sambil mengobrol sembari tertawa-tawa melihat Silvi yang sangat mencemaskan Shella.
__ADS_1
Ya mereka sudah selesai sarapan di dalam tadi, maka dari itu mereka pun segera menuju mobil yang sudah disiapkan sedari tadi oleh pekerja di rumah tersebut. Namun, yang kali ini menyetir adalah Devano dan mereka tidak memakai supir karena menurutnya lebih bagus jika menyetir sendiri yang tentunya akan lebih mudah bagi mereka.
"Mah, Shella duduk di depan aja ya sama aku? Bosen lah kalau aku nyetir terus di sampingnya gak ada orang, boleh ya mah?" ucap Devano.
"Hadeh, dasar kamu! Gak bisa apa jauh sedikit dari istri kamu ini? Yaudah gapapa deh, asal Shella nya juga mau duduk di depan sama kamu." ucap Silvi.
"Ya pasti mau lah, mah! Iya kan, honey?" ucap Devano sembari menatap paksa ke arah Shella.
"Umm, iya mas. Aku mau kok duduk di depan sama kamu, lagian gak enak juga kalau misal aku di belakang dan nantinya malah ngerepotin mama." ucap Shella sambil tersenyum.
"Sebenarnya gak ngerepotin kok, sayang! Tapi, kalau emang kamu maunya sama Vano ya apa boleh buat?" ucap Silvi.
"Udah lah, mah! Biarin aja Shella sama suaminya, kan mama ada papa yang nemenin. Kalau mereka bisa mesra-mesraan di depan, kita juga lebih asyik kan di belakang?" ujar Tama sambil terkekeh kecil.
"Ish, papa ini!" ujar Silvi malu-malu.
"Hahaha, benar itu mah. Jadi bukan cuma Vano sama Shella aja yang pacaran, tapi mama papa juga bisa dah tuh pacaran lagi mengenang masa muda mama sama papa dulu!" ucap Devano.
"Yeh sembarangan aja kamu Vano! Papa ini masih muda loh, rambut papa aja baru beberapa yang berubah putih." ujar Tama.
"Hahaha, iya deh pah iya." ujar Devano tertawa.
Setelahnya, Devano pun membantu Shella masuk ke dalam mobil sambil sesekali mencuri kesempatan untuk mencium pipi wanita itu. Shella hanya tersenyum saja ketika suaminya justru mencium pipinya, ia tak mempermasalahkan itu karena ia juga senang dan bahagia dicium suaminya.
Sementara Silvi dan Tama tampak masuk ke dalam mobil bagian belakang secara bersamaan, mereka seperti abg yang baru jatuh cinta dan ingin pergi jalan-jalan saat ini. Hal itu membuat Devano serta Shella yang ada di depan terkekeh geli, karena baru kali ini mereka melihat Silvi dan Tama mesra begitu.
Setelah semuanya masuk di dalam mobil, Devano pun meminta pada semua yang ada disana untuk memakai sabuk pengaman dan tak lupa untuk berdoa sebelum mulai perjalanan.
"Udah siap semua kan ini? Gak ada yang ketinggalan di dalam, apa gitu?" tanya Devano memastikan.
"Eee gak ada sih, semuanya udah siap kok!" jawab Silvi sambil memeriksa tasnya.
"Oke deh. Kalo gitu kita jalan sekarang, ya?" ucap Devano kembali bertanya.
"Oke, pah!" ucap Devano menurut.
Devano pun langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah, lalu menambah kecepatan saat berada di jalan raya.
•
•
Saat dalam perjalanan, Shella tampak terpesona dengan pemandangan alam yang ada di sekitarnya karena ini sudah memasuki luar kota dan sebentar lagi mereka akan sampai. Sawah-sawah serta pegunungan membuat Shella merasa nyaman saat melihatnya, entah mengapa ia ingin turun disana dan berfoto-foto karena pemandangan yang indah.
Memang Shella sudah lama sekali tidak melihat pemandangan yang seperti itu, ya sejak ia besar Shella selalu tinggal di perkotaan bersama ibunya dan jarang pulang ke kampung. Maka dari itu, momen seperti ini pasti sangat membuatnya teringat pada saat-saat kecilnya ketika tinggal di kampung bersama ayahnya juga Nadya.
"Mas, kita mampir sebentar dong! Aku mau foto-foto disana, kayaknya pemandangannya indah banget deh!" ucap Shella meminta pada suaminya berhenti sejenak disana.
"Honey, kamu kan lagi hamil. Udah duduk aja diem! Lagian kalau kita mampir dulu, nanti kita bisa telat sampai di rumah pamannya. Kan aku juga gak mau kecapekan, sayang!" ucap Devano.
"Iya deh..." ucap Shella tampak kecewa.
Melihat Shella bersedih karena keinginannya ditolak oleh Devano, Silvi pun merasa kasihan dan tak tega jika sampai Shella terus bersedih sepanjang perjalanan karena permintaannya tak disetujui oleh Devano. Akhirnya Silvi mencoba untuk berbicara pada Devano agar mau berhenti sejenak demi menuruti keinginan istrinya.
"Vano! Kamu jangan begitu dong! Kasian itu Shella, dia pengen keluar sebentar harusnya kamu turuti aja dong! Siapa tahu itu keinginan anak kamu, kan Shella sekarang lagi hamil!" ujar Silvi.
"Iya Vano, kamu gak boleh nolak kemauan istri kamu yang lagi hamil! Nanti kalau anak kamu ileran gimana, hayo?" sahut Tama.
"Ah papa masih aja percaya gituan! Itu mah cuma dongeng, pah! Mana mungkin kalo gak diturutin, anak bisa ileran sih? Gak nyambung juga, lagian kalau kita mampir dulu tuh kasihan Shella nya nanti kecapekan." ucap Devano.
__ADS_1
"Kamu ini kalo dibilangin sama orang tua, ngebantah aja!" ujar Silvi kesal.
"Mah, pah. Udah jangan marah-marah sama mas Vano! Aku gapapa kok, lagian kan aku harus nurut sama kata-kata suami aku." ucap Shella membela suaminya karena tak tega.
"Aduh sayang, kamu jangan terlalu baik gitu sama Vano! Justru Devano yang harus turutin kemauan kamu, karena kamu kan lagi hamil anaknya! Ayo Vano berhenti dulu, kasihan istri kamu itu!" ucap Silvi kembali memarahi Devano.
"Iya iya, aku berhenti dulu nih!" ucap Devano.
"Kamu kenapa kesel gitu? Terpaksa? Marah sama mama, iya? Gak boleh gitu dong Vano, ini kan demi anak kamu juga!" ujar Silvi.
"Ya ampun, mah! Aku gak kesel atau terpaksa kok, ini aku berhentiin mobilnya!" ucap Devano.
Akhirnya Devano dengan terpaksa melipir sejenak ke pinggir dan menghentikan mobilnya, ya ini ia lakukan karena tekanan sang mama dan juga sedikit tidak tega pada istrinya. Walau Devano sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Shella disana nanti, karena kehamilan Shella makin membesar.
Sementara Shella hanya tersenyum saja sembari memandangi wajah suaminya dan mengelus tangan milik Devano itu, ia senang karena Devano mau menuruti kemauannya walau harus dimarahi lebih dulu oleh mamanya dan juga terlihat sangat terpaksa.
"Mas, makasih ya!" ucap Shella mencoba untuk menenangkan hati suaminya.
"Duh, aku paling gak kuat deh kalo disenyumin sama kamu begitu. Iya iya, sama-sama! Sekarang kamu boleh kok turun dan foto-foto disana, aku temenin juga ya?" ucap Devano tersenyum.
"Iya mas..." ucap Shella tersenyum manis.
Setelahnya, mereka semua pun turun dari mobil dan menuju tempat indah disana. Ya cukup ramai juga orang yang datang untuk sekedar berfoto sembari menikmati kuliner disana, membuat Shella makin tak sabar untuk segera datang kesana.
"Hey, honey! Jangan lari-lari, kamu lagi hamil! Sini biar aku gandeng kamu, supaya kamu gak jatuh!" ucap Devano.
"Iya mas, aku kan gak lari-lari. Orang daritadi aku masih disini, aneh kamu!" ucap Shella.
"Ya aku ngingetin aja, siapa tahu kamu mau lari kan? Yaudah, aku tuntun ya sampe kesana!" ucap Devano mendekati Shella kemudian menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Iya..." ucap Shella tersenyum singkat.
Mereka pun berjalan menuju tempat tersebut dan mulai berfoto-foto disana, Shella tampak bergelayut manja pada lengan suaminya dan bertingkah seperti anak kecil yang jalan bersama papanya. Hal itu membuat Devano tersenyum senang karena jarang sekali Shella seperti ini padanya.
Sementara Silvi dan Tama menunggu saja di badan mobil sembari mengamati sepasang suami-istri itu dari sana, ya mereka ingin membiarkan Devano serta Shella pergi berduaan saja disana. Tentunya mereka juga ingin berduaan tanpa harus malu karena dilihat oleh Devano atau Shella, terbukti Tama langsung merangkul istrinya sambil senyum-senyum sendiri.
"Enak ya, mah? Kita bisa berduaan lagi di tempat yang indah kayak gini, terus Vano sama Shella juga enggak ribut-ribut lagi." ucap Tama.
"Iya pah, mama tuh kadang heran deh sama Vano. Ya emang sih niatnya dia baik, tapi terlalu lebay gitu! Sampai gara-gara hal sepele aja, dia harus berantem sama istrinya." ucap Silvi.
"Hahaha, ya maklumlah kan Devano baru pertama kali jadi suami dan calon ayah." ucap Tama.
"Iya sih, papa benar." ucap Silvi.
"Mah, kita jalan-jalan juga yuk kesana!" ucap Tama.
"Boleh pah, mama juga mau." ucap Silvi.
Silvi dan Tama pergi ke tempat yang berlainan dengan Devano serta Shella, mereka tentunya ingin berduaan sejenak sembari menikmati pemandangan indah sebelum nantinya lanjut berjalan menuju rumah saudara mereka.
Sementara Devano dan Shella kini juga tengah asyik foto-foto berdua di dekat sebuah bangunan bekas keraton yang memang menjadi destinasi wisata di daerah itu, Shella meminta suaminya untuk memfoto kan dirinya disana.
"Mas, sekarang kamu fotoin aku ya? Nanti baru kita foto berdua lagi!" ucap Shella menyerahkan ponselnya kepada Devano.
"Enggak, jangan! Nanti kalau kamu sendirian berdiri disini terus kamu jatuh gimana? Aku gak mau ya ambil resiko, udah kita foto berdua aja!" ucap Devano.
"Ish kamu mah, nyebelin dasar!" ujar Shella ngambek dan mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya Devano terpaksa menuruti kemauan istrinya karena tidak tega melihat istrinya itu ngambek, ya Devano pun mengambil foto Shella sendirian namun tak terlalu jauh. Ya Shella pun tersenyum kembali dan merasa senang karena suaminya mau menuruti permintaannya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...