Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Bertemu Yoga


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 294


...•...


...•...


"Awwhhh, ssshh..."


Nadya merintih perih saat luka di tangannya sedang diobati oleh Jenar, mereka kini berada di sofa ruang tamu setelah tadi Nadya terkena pecahan piring pada tangannya sampai berdarah begitu.


"Tahan sayang, kan lagi diobatin!" ucap Jenar.


Nadya mengangguk pelan lalu Jenar pun melanjutkan pengobatan itu, ia meneteskan obat merah ke tangan Nadya kemudian menutup bagian yang luka tersebut dengan plester kecil.


"Nah udah, gak sakit lagi kan?" ucap Jenar.


"Iya Bu, makasih ya!" ucap Nadya tersenyum.


Jenar memang benar-benar menyayangi Nadya dan ingin memberikan kasih sayangnya yang belum sempat ia salurkan pada gadis itu diwaktu kecil dulu, ya anggap saja tindakan Jenar kali ini adalah untuk membalas semua yang ia lakukan dulu pada Nadya yakni menelantarkan Nadya di panti asuhan.


Gadis itu tampak senang sekali memiliki ibu yang baik dan perhatian seperti Jenar, ia merasa bahagia karena sang ibu sangat baik bahkan tidak memarahinya saat memecahkan piring tadi padahal ia sudah was-was akan dimarahi oleh Jenar.


"Yasudah, sekarang ibu mau beresin pecahan piringnya dulu ya sayang!" ucap Jenar.


"Eh Bu, biar aku aja yang beresin! Itu semua kan ulahku, jadi harusnya aku juga yang tanggung jawab buat beresin semuanya..." ucap Nadya bangkit dari sofa menahan ibunya yang ingin pergi.


"Jangan, sayang! Tangan kamu kan lagi sakit, nanti kalo kena lagi bisa bahaya loh!" ucap Jenar.


"Gapapa kok Bu, tanganku udah gak sakit lagi! Biar aku aja ya Bu yang beresin, aku justru juga gak mau kalau ibu terluka nantinya!" ucap Nadya.


Jenar pun tersenyum sembari menghela nafas lalu mendekati putrinya, ia kembali mengusap wajah serta membelai rambut putrinya yang masih menatap matanya dengan wajah memelas dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Udah, biar ibu aja! Kamu kan katanya mau telpon nak Yoga, lagian kalo cuma beresin beling mah ibu udah terbiasa sayang!" ucap Jenar.


"Huft, yaudah deh... tapi ibu hati-hati, ya!" ucap Nadya mengingatkan ibunya.


"Iya sayang, nah ini hp ibu! Kamu telpon nak Yoga sekarang ya, kontaknya ibu kasih nama Yoga!" ucap Jenar memberikan ponselnya pada Nadya.


"Makasih ya Bu, aku pinjem dulu hp ibu!" ucap Nadya.


"Iya sayang..."


Jenar pun berjalan menuju dapur untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Nadya tadi, ia tidak sama sekali merasa marah pada kelakuan putrinya itu, karena menurutnya ini malah mengingatkan ia kalau Nadya memang masih cocok menjadi gadis kecilnya yang dulu.


Sementara Nadya sendiri kini mencari nomor kontak Yoga melalui ponsel ibunya, ia sudah tidak sabar hendak menanyakan pada Yoga mengenai identitas Adrian sekaligus bertemu dengan pria yang suaranya selalu terngiang-ngiang di telinganya itu.


Setelah berhasil menemukan nomor yang ia cari, dengan cepat Nadya pun menghubunginya lalu menanti Yoga untuk menjawab telpon darinya disana sembari berharap-harap cemas dan mondar-mandir karena sudah tidak sabar sekali.


Akhirnya telpon pun tersambung dan Nadya tampak gembira mendengarnya.


📞"Halo tante, ada apa?" tanya Yoga yang mengira kalau yang menelponnya adalah Jenar.


📞"Eee... ini bukan ibu, tapi aku Sheila!" ucap Nadya.


📞"Iya, boleh gak kita ketemuan hari ini?" tanya Nadya.


📞"Apa? Kamu ngajak aku ketemuan? Ini serius kan, kamu gak lagi ngeprank kan?" ujar Yoga.


📞"Ya iya serius, aku tunggu kamu jam 11 di taman deket rumahku ya!" ucap Nadya.


📞"Oke oke, aku pasti langsung meluncur kesana!" ucap Yoga.


Setelah mengatakan itu, Nadya langsung memutus telponnya dan menaruh ponsel milik ibunya itu di atas meja lalu berlari menuju kamarnya.




Menit demi menit telah berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 10.50 alias 10 menit lagi menuju waktu yang Nadya janjikan pada Yoga untuk pertemuan mereka hari ini di sebuah taman dekat rumahnya.


Namun, Nadya masih ragu untuk menemui Yoga sendirian karena ia khawatir pria itu akan bertindak macam-macam padanya, apalagi yang ia tahu Yoga sangat terobsesi pada dirinya dan bisa saja dia melakukan apapun disana nanti.

__ADS_1


"Gimana ya kalo Yoga apa-apain aku nanti?" gumam Nadya kebingungan.


Akan tetapi, pikiran tentang Adrian membuatnya yakin untuk bertemu dengan Yoga dan akhirnya bangkit dari ranjang lalu mengambil jaketnya yang sudah disiapkan sedari tadi.


"Ini demi Adrian, aku harus tahu dimana Adrian!" gumam Nadya.


Nadya pun menyemprotkan minyak wangi yang tersedia di kamarnya entah darimana ke tubuhnya, wangi dari parfum itu membuatnya tertarik, maka dari itu ia pun memakainya walau tidak tahu parfum itu milik siapa dan darimana asalnya.


Setelahnya, Nadya bergerak keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih serta wangi dan bersiap untuk menemui Yoga di taman, ia berjalan menuruni tangga sambil tersenyum karena sudah tak sabar untuk bisa mencari info tentang Adrian.


Tanpa sengaja, Nadya berpapasan dengan Jenar saat sudah satu kaki turun dari tangga, sang ibu yang hendak membuang sampah berhenti sejenak karena terkejut melihat putrinya tampak rapih dan sangat wangi serta cantik.


"Hey, kamu mau kemana sayang?" tanya Jenar.


"Eee... aku mau ketemu Yoga, Bu! Tadi kan aku pinjem hp ibu buat hubungin Yoga, nah sekarang aku mau ketemu sama dia cuma di taman depan aja kok!" jawab Nadya menjelaskan pada ibunya.


"Ohh, kenapa kamu gak suruh nak Yoga kesini aja?" tanya Jenar lagi.


"Yoga nya gak mau Bu, makanya aku ajak dia ke taman aja deh! Gapapa kan Bu, aku boleh kan pergi keluar ketemu Yoga?" ucap Nadya berbohong.


"Iya boleh, sayang!" ucap Jenar tersenyum sembari mengusap wajah putrinya.


"Makasih ya Bu, yaudah kalo gitu aku berangkat sekarang ya?" ucap Nadya mencium tangan Jenar. "Assalamualaikum...."


"Iya, waalaikumsallam nak!"


Nadya pun berjalan keluar dari rumahnya setelah mendapat izin dari Jenar, ia langsung menuju taman di dekat rumahnya karena jam juga sudah lewat pukul 11, sedangkan Jenar tampak tersenyum bahagia melihat putrinya mau berbaikan dengan Yoga dan menerima pria tersebut.


Singkat cerita, Nadya pun telah sampai di taman tersebut dan tampak mencari-cari keberadaan Yoga sambil celingak-celinguk serta berjalan perlahan, ia tak melihat pria itu disana mungkin saja Yoga memang belum datang kesana.


"Duh, Yoga kemana sih? Padahal udah jam 11 lewat 5, tapi dia belum dateng juga!" gumam Nadya kesal.


Akhirnya Nadya memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia disana, ia menunggu kehadiran Yoga sembari menopang dagunya dengan telapak tangan dan berkali-kali menghentakkan kakinya ke tanah.


"Hai, Sheila!"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2