
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 321
...•...
...•...
Hari masih pagi, namun Rafael sudah mendatangi kantor Devano alias bosnya dan tampak celingak-celinguk seperti tengah mencari seseorang disana, ia pun pergi ke tempat resepsionis menemui Serena dan bertanya pada gadis itu disana.
"Eee permisi," ucap Rafael.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Serena.
"Saya mau ketemu Novi, apa dia sudah datang?" ucap Rafael.
"Ohh, sudah kok pak! Sebentar, biar saya hubungi dia dulu ya?" ucap Serena.
"Ya, terimakasih!"
Rafael tampak senyum-senyum sendiri disana menanti kehadiran Novi, nampaknya pria itu memang sudah tertarik pada Novi sekretaris bosnya yang cantik dan seksi, walau ia juga masih berusaha mendekati Vanya alias mantan bosnya.
Sesudah menghubungi Novi, Serena pun memberitahu pada Rafael untuk menunggu sebentar karena Novi harus mengurus sesuatu lebih dulu, gadis itu juga meminta Rafael duduk agar tidak capek jika dia berdiri terus seperti sekarang.
"Saya sudah menghubungi Novi, sebentar lagi dia sampe kok! Pak Rafael tunggu aja dulu disana, paling juga gak lama!" ucap Serena.
"Oh gitu, oke saya duduk. Terimakasih, Serena!" ucap Rafael tersenyum.
"Iya, sama-sama!"
Rafael pun berbalik badan lalu duduk di kursi tunggu yang tersedia sembari bersandar dan terus saja tersenyum, membuat setiap karyawan yang lewat termasuk Serena merasa aneh dengan tingkah laku Rafael yang seperti itu.
"Deketin Vanya, tapi dianya cuma anggap saya teman. Sekarang saya coba deh buat deketin Novi, siapa tau kan berjodoh." gumam Rafael di dalam hatinya sembari senyum-senyum.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Novi muncul lalu menghampiri Serena di meja resepsionis untuk bertanya ada apa dan dimana Rafael berada. Ia tampak sedikit lelah karena harus buru-buru turun ke bawah menemui Rafael setelah dihubungi Serena.
Novi mengira jika Rafael meminta bertemu dengannya itu karena Devano, maka dari itu Novi turun dengan tergesa-gesa sehingga ia letih dan tampak ngos-ngosan, untungnya Novi tidak sampai pingsan atau kehabisan nafas.
"Ser, mana pak Rafael nya?" tanya Novi.
"Kamu kenapa, Nov? Kok sampe ngos-ngosan begitu, keringetan segala lagi? Abis lomba maraton dimana kamu, Nov?" ucap Serena.
"Ish, orang lagi serius juga! Mana pak Rafael, katanya mau ketemu sama saya?" ucap Novi.
"Hehe iya iya, itu noh dia masih duduk disana! Temuin aja gih, takutnya penting!" ucap Serena menunjuk ke arah Rafael dengan dagunya.
"Oke, thanks!"
Novi berjalan menemui Rafael sembari merapihkan rambutnya serta mengatur nafas agar bisa bicara dengan lancar saat bersama Rafael, ia tak membawa tisu sehingga tidak bisa menyeka keringat yang kini mengucur di dahinya.
"Permisi pak, maaf kalau saya lama!" ucap Novi mendekati Rafael sembari membungkuk sedikit.
Rafael yang mendengar suara Novi langsung segera menoleh dan memasukkan ponselnya ke saku jasnya lalu berdiri, Rafael tersenyum menatap Novi yang terlihat menggoda dengan keringat memenuhi bagian wajahnya itu.
Novi tampak heran karena Rafael terus saja menatap ke arah tubuhnya sembari tersenyum, ia berpikir apa mungkin itu karena keringat di wajahnya dan Rafael menertawakan itu, Novi pun menunduk karena malu tak berani memandang Rafael.
"Kamu kok sampe keringetan begini sih?" tanya Rafael.
"Hahaha, gak ada urusan penting kok! Orang saya cuma mau bicara sama kamu, ini masalah pribadi gak ada sangkut pautnya sama kerjaan atau pak Devano!" ucap Rafael.
"Hah??"
Novi tampak terkejut sekaligus menyesal karena sudah jalan buru-buru menemui Rafael, ia cemberut memalingkan wajahnya sembari meluapkan kekesalan di dalam dirinya.
...•••...
Disisi lain, Devano sudah rapih dengan kemeja serta jasnya dan bersiap untuk berangkat ke kantor di pagi hari yang cerah ini. Ia hanya tinggal memasang dasi miliknya, namun itu dia Devano tak dapat menemukan dimana dasinya berada.
Devano sampai harus mengobrak-abrik isi kamarnya demi mendapatkan dasi itu, tapi tetap saja ia gagal alias tidak berhasil menemukannya. Devano tampak bingung sembari garuk-garuk kepala dan terus mencari dasinya ke segala tempat.
Ceklek....
Terdengar suara pintu kamarnya dibuka dari luar oleh seseorang, Devano menoleh dan melihat istrinya yakni Shella masuk ke dalam sana sambil tersenyum manis menatap ke arah pria tersebut lalu berjalan menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Honey, kebetulan banget kamu datang!" ucap Devano tersenyum bahagia.
"Loh kenapa? Kamu mau kerja aja masih mesum sih mas, nanti kamu telat loh!" ucap Shella salah paham dengan perkataan suaminya.
"Hah? Kamu apaan sih? Aku tuh mau tanya, kamu lihat gak dasi aku dimana?" ucap Devano.
"Ohh, aku kira kamu minta jatah lagi mas." ujar Shella sambil nyengir menahan malu. "Kamu cari dasi? Sebentar ya aku bantu cari," sambungnya.
Shella pun langsung membantu Devano untuk menemukan dasi miliknya disana. Hanya dengan satu kali pencarian, Shella berhasil mendapatkan dasi tersebut lalu menyerahkannya pada Devano membuat pria itu tercengang.
"Ini mas, aku pakein sekalian ya?" ucap Shella.
"Kok bisa ketemu sih sama kamu? Perasaan aku tadi udah obrak-abrik lemari, tapi gak ketemu tuh!" ujar Devano masih terheran-heran.
"Ohh, pantes aku lihat baju-baju di lemari pada berantakan begitu. Ternyata kamu biang keroknya, bukannya dirapihin lagi!" ucap Shella cemberut.
"Hehe ya maaf, kan aku mau cari dasi aku!" ucap Devano nyengir.
"Yaudah lah, nanti biar aku yang beresin! Sini aku pakein dasinya biar cepet, kamu katanya ada meeting kan pagi ini?" ucap Shella mengalungkan dasi ke leher suaminya.
"Iya, tapi masih sekitar 2 jam lagi kok." ucap Devano.
Shella pun memasangkan dasi di leher sang suami sembari memandang wajah Devano yang tampan dan membuatnya terpana, begitu juga dengan Devano yang terus saja memandangi wajah istrinya itu sambil senyum-senyum.
"Kamu kenapa ngeliatin aku begitu, mas?" tanya Shella saat menyadari Devano tengah menatap wajahnya.
"Kamu juga kenapa lihatin aku? Bukannya masang dasi yang bener, malah lihatin muka aku!" ucap Devano balik bertanya pada istrinya.
"Ish, itu kan bukan keinginan aku mas!" ucap Shella mengerucutkan bibirnya.
"Hah? Terus kalo bukan kamu, itu keinginan siapa yang pengen lihatin wajah tampan aku ini?" ucap Devano tersenyum menggoda istrinya sembari mencolek dagu Shella.
"Gak kok, lupain aja!" ucap Shella.
Shella lupa kalau ia belum memberitahu Devano tentang kehamilannya, ya saat ini ia sedang ingin menatap wajah suaminya karena keinginan sang bayi di dalam rahimnya itu.
Setelah selesai memakaikan dasi pada leher suaminya, Shella pun tampak memalingkan wajah dan terlihat gugup sendiri di hadapan suaminya saat ini karena ia bingung.
"Kok saya ngerasa kayak ada yang disembunyiin ya sama Shella?" batin Devano.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...