Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Penangkapan Tama


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 135


...•...


...•...


Nadya sedang rebahan di kasurnya dengan posisi terbalik sambil bermain game di ponselnya, namun tiba-tiba ia membanting ponselnya itu karena terus-menerus kalah.


"Ish bete banget sih kalo gak kerja begini, kenapa ya tiba-tiba aku malah kepikiran sama pak Adrian? Sampai sekarang juga dia tumben belum telpon aku, harusnya kan dia nanyain gitu ya kenapa aku gak masuk kerja... ya walaupun aku udah kirim email, tapi biasanya kan dia pengen tau banget soal aku!" ujar Nadya kemudian membalikkan posisi tubuhnya yang kini jadi terlentang lalu merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.


Tanpa sadar, Nadya ternyata sedang memikirkan Adrian pria yang selalu mendekatinya walau Nadya tak pernah meresponnya.


"Ini aku kenapa malah mikirin pak Adrian sih? Harusnya kan aku seneng kalo gak diganggu lagi sama pak Adrian, tapi ini kenapa aku malah berharap banget sih dihubungin sama dia?? Duh ada yang salah nih sama isi kepala aku, pasti gara-gara pak Adrian itu selalu kejar-kejar aku deh..!!" ujar Nadya sambil memegang keningnya.


Lalu, Nadya pun bangun terduduk di ranjangnya kemudian mengambil ponselnya yang sempat ia banting hingga terjatuh ke lantai itu.


"Huh untung gapapa nih hp, sayang juga sih kalo hp ini rusak nanti yang ada aku ngerepotin mamah lagi buat beli hp baru atau benerin kerusakannya!" ujar Nadya memutar ponselnya untuk mengecek kondisi hp nya itu.


Nadya mencoba menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa gabut nya saat ini, namun secara tidak sengaja ia menonton berita tentang orang meninggal.


"Ya pemirsa sekarang saya sedang berada di lokasi pemakaman jenazah almarhum Satria Bagaskara atau yang dikenal sebagai pemilik dari PT. Kilau Bagaskara... saat ini jenazah almarhum sudah dikuburkan di tempat pemakaman Cipulir, dan keluarga juga masih belum mau dimintai keterangan karena sedang dirundung duka..."


Nadya langsung syok ketika menonton berita tersebut, ia pun memegang dadanya serta menutup mulutnya karena benar-benar terkejut.


"Mungkin karena ini aku kepikiran pak Adrian terus, pasti sekarang beliau lagi sedih banget karena ditinggal pergi papahnya..." ucap Nadya kemudian mematikan tv dan berjalan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Rupanya Nadya ingin menemui mamahnya yang ada di bawah, namun niatnya itu tidak jadi ia penuhi karena ternyata mamahnya sedang berbicara dengan tamu pria dan terlihat sangat serius.


Ya Nadya pun berbalik arah dan kembali masuk ke kamarnya karena tidak mau mengganggu mamahnya yang sedang ada tamu.


"Nanti aja deh aku kasih tau mamahnya, gak enak juga kalo aku langsung samperin mamah tadi! Oh ya aku coba telfon Syifa aja deh, siapa tau kan karyawan kantor ada rencana buat melayat ke rumah pak Adrian..." ucap Nadya kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Syifa.


📞"Halo Nadya, ada apa kamu telfon? Bukannya kamu lagi sakit ya??" tanya Syifa.


📞"Ah eee iya, ini aku mau tanya aja kira-kira karyawan kantor ada rencana buat ngelayat ke rumah pak Adrian gak ya? Soalnya ini aku baru nonton berita di tv kalau pak Satria meninggal dunia, aku langsung kaget banget dengernya..." jelas Nadya.


📞"Iya sama Nadya, tadi kami semua di kantor juga pada kaget berjamaah... pasalnya baru kemarin pak Adrian kasih kabar kalau papahnya udah mendingan, eh di luar dugaan hari ini pak Satria malah kehilangan nyawanya!" ucap Syifa.


📞"Eee terus gimana ya Syifa, apa karyawan kantor pada mau datang ke rumah pak Adrian?" tanya Nadya lagi.


📞"Aduh kalo soal itu aku belum tau Nadya, tapi kita udah kirim karangan bunga kok ke rumah pak Adrian tadi! Kalau misal ada kabar pasti aku kasih tau kamu kok, oh ya coba aja deh kamu hubungi pak Adrian mungkin beliau mau mengangkat telepon dari kamu!" ujar Syifa.


📞"Oh gitu ya, yaudah oke deh aku coba telfon pak Adrian nanti makasih ya Syifa...." ucap Nadya kemudian menutup telponnya.


Nadya pun memikirkan perkataan Syifa yang memintanya menghubungi Adrian, sebenarnya ia ingin sekali menelpon Adrian untuk mengucapkan turut berdukacita... tapi ia masih merasa gengsi untuk melakukan itu.


...•••...


Disisi lain, Devano beserta papah mamahnya juga baru mengetahui kabar meninggalnya Satria Bagaskara alias ayah dari Adrian lewat berita di tv.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, gak nyangka banget aku pah kalau pak Satria meninggal secepat ini! Padahal beliau itu baik banget loh semasa hidupnya, dia juga banyak membantu perusahaan aku yang baru berdiri pah, mah! Semoga beliau tenang di alam sana dan segala amal ibadah nya di terima oleh Tuhan yang maha esa...!!!" ucap Devano yang terkejut saat menonton berita itu.


Sementara Silvi & Tama juga saling melirik satu sama lain sambil merasa deg-degan menonton berita itu.


"Pah, mah, kenapa malah diem aja sih? Emangnya papah sama mamah gak kaget apa denger berita ini? Pak Satria itu kan rekan kerja papah mamah juga," ujar Devano yang heran dengan orangtuanya karena malah diam tak berekspresi.


"Ya justru itu Vano, papah sama mamah ini kaget banget denger beritanya..!! Sampai-sampai kita gak bisa berkata-kata lagi, jujur loh papah syok banget Vano apalagi kemarin papah sama mamah ini yang antar pak Satria ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan di jalan raya..." ucap Tama.


"Hah? Jadi papah sama mamah tuh ada di lokasi pas pak Satria kecelakaan? Ya ampun berarti papah sama mamah tau dong apa penyebab pak Satria bisa kecelakaan??" ujar Devano kaget serta melontarkan pertanyaan pada orangtuanya.

__ADS_1


"Iya benar Vano, kita tau betul kejadiannya karena itu semua terjadi di depan mata kepala mamah sama papah! Malah sampe sekarang mamah masih suka kebayang sama kejadian itu..." ucap Silvi.


"Iya Vano, waktu itu mobil pak Satria oleng dan masuk ke jalur yang berlawanan... nah pas kebetulan saat itu papah sama mamah juga lewat dari arah berlawanan ini! Langsung aja papah bunyikan klakson yang kencang supaya gak terjadi tabrakan diantara mobil kita, nah mobil pak Satria ini langsung banting setir ke kiri untuk balik lagi ke jalurnya! Tapi sayangnya malah kebablasan dan sampe nabrak tiang listrik di pinggir jalan, parahnya lagi tiang itu jatuh dan menimpa mobil pak Satria sampai hancur!" jelas Tama panjang lebar.


Devano hanya bisa diam saat mendengar cerita dari papahnya, ia tak dapat membayangkan apa yang terjadi saat itu karena dari ceritanya saja sudah mengerikan baginya.


"Karena papah merasa bersalah, makanya papah langsung berhenti dan menghampiri pak Satria! Saat sampai di seberang sudah banyak orang yang mengerumuni mobil itu dan coba mengeluarkan tubuh pak Satria yang terjebak di dalam sana! Setelah cukup lama akhirnya pak Satria berhasil dikeluarkan, tapi kondisinya sangat parah terutama dibagian kepalanya yang banyak mengeluarkan darah mungkin akibat tertimpa tiang listrik itu! Nah supaya bisa cepat ditangani, papah pun membawa pak Satria ke rumah sakit terdekat..." sambung Tama.


"Ya ampun pah, jadi kemarin pas kita ketemu di depan rumah itu papah sama mamah abis anterin pak Satria ke rumah sakit? Berarti luka-luka di wajah papah sama mamah itu karena kecelakaan ini?" tanya Devano memastikan.


"Iya Vano, itulah yang terjadi... papah sungguh gak menyangka kalau pak Satria akan kehilangan nyawanya secepat ini! Papah benar-benar merasa bersalah atas semua ini Vano..." ucap Tama merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Devano pun mengusap wajahnya sendiri karena terkejut dengan penjelasan dari papahnya, sementara orangtuanya itu juga menangis tersedu-sedu disana.




Sementara itu, di luar gerbang rumah Devano sudah dipenuhi oleh mobil polisi yang hendak masuk.


"Pak Devano, kami dari kepolisian ingin bertemu dengan saudara Tama Alexander dan juga saudari Silvia Alexander terkait kasus kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya saudara Satria Bagaskara..." ucap polisi itu mengenakan toa.


Sontak Devano beserta kedua orangtuanya yang sedih bersedih di dalam pun terkejut ketika mendengar suara polisi datang.


"Pah, kok bisa ada polisi sih pah?" tanya Devano panik sekaligus cemas.


"Mungkin polisi ingin menangkap papah sama mamah nak, ayo mah kita temui polisi itu!" ucap Tama yang sepertinya pasrah saja jika harus ditangkap dan dipenjara.


Begitupun dengan Silvi yang juga hanya bisa pasrah mengikuti suaminya, walau sebenarnya ia tidak bersalah karena yang mengemudi adalah Tama.


Devano pun menghela nafas panjang karena lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan masalah yang bertubi-tubi ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2