
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 362
...•...
...•...
"Jadi, tadi ada penculikan disini dan korbannya itu cewek yang duduk disana." jawab Cantika.
"APA??!!"
Sadam terkejut bukan main mendengar jawaban dari Cantika, suara teriakannya itu bahkan sampai membuat seluruh pengunjung disana kaget.
Cantika langsung panik karena teriakan dari Sadam, ia pun mendekat ke arah pria tersebut dan memberi cubitan maut pada pinggangnya karena rasa kesal yang ia rasakan saat ini.
"Ish! Kan gue udah bilang, jangan kaget! Gue gak mau pengunjung pada denger!" bisik Cantika.
"Iya iya, maaf! Abisnya gue kaget banget, seriusan itu cewek yang tadi duduk disitu diculik? Lu gak salah info atau cuma main-main sama gue kan? Ini masalah temen gue loh, yang tadi itu temen lama gue!" ucap Sadam penasaran.
"Iya serius! Ngapain juga gue bercanda coba? Orang tadi pak satpam sendiri kok yang lihat kalau cewek itu tuh dibawa masuk ke dalam mobil sama orang-orang banyak, terus polisi juga udah selidikin kasus ini." jawab Cantik.
"Waduh! Gimana gue bilangnya ya sama temen-temen dia itu? Nanti kalo gue kasih tau yang sejujurnya, mereka bisa kaget!" ucap Sadam.
"Saran gue, mending lu bilang yang jujur ke mereka! Daripada ditutup-tutupin kan? Tapi, lu bilangnya jangan disini supaya pelanggan yang lain gak takut terus malah pergi dari sini!" ucap Cantika.
"Iya sih, lu bener. Yaudah, makasih ya infonya! Lu lanjut lagi gih kerjanya!" ucap Sadam.
"Iya iya..." ucap Cantika pelan.
Setelahnya, Sadam pun kembali ke meja Yasmin serta Zara dengan ekspresi wajah bingung sembari menggaruk kepala bagian belakangnya. Sadam masih belum tau bagaimana caranya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, ia khawatir kalau mereka akan bereaksi cukup parah setelah mendengar semuanya.
Sementara Yasmin dan Zara tentunya tampak heran melihat tingkah Sadam setelah kembali dari menemui temannya disana, mereka pun terus menatap wajah Sadam karena penasaran.
"Dam, gimana?" tanya Yasmin.
"Eee..." Sadam justru gugup dan tak bisa menjawab pertanyaan dari Yasmin, ia menunduk sembari menggaruk dahinya kebingungan.
"Lu kenapa sih?" tanya Zara makin heran.
"Maaf guys! Gue harus bicara sebentar sama kalian, tapi gak disini. Gue takut pelanggan yang lain denger apa yang kita bicarakan, ikut gue yuk ke tempat yang agak sepi disini!" ucap Sadam.
"Hah? Emang lu mau bicara apa sih? Kenapa harus ke tempat sepi?" tanya Zara heran.
"Tau ih! Jangan bikin gue overthinking deh!" sahut Yasmin merasa curiga pada Sadam.
"Santai aja! Gue gak mungkin kali jahatin kalian! Udah yuk, ikut aja sama gue ke dalam sana! Nanti kalian juga tau sendiri, apa yang mau gue bicarain ke kalian. Ini tentang Shella dan penting banget!" ucap Sadam berbicara dengan nada serius.
"Oke, kita ikut!" ucap Yasmin.
Akhirnya kedua gadis itu mau mengikuti kemauan Sadam dan beranjak dari tempat duduk mereka, ya ketiganya pun pergi menuju tempat sepi yakni tempat istirahat para karyawan disana. Namun, tempat tersebut cukup sempit juga gelap hingga membuat Zara tampak tidak suka.
"Dam, gak ada tempat lain apa? Gue gak mau ah kita bicara disini!" ucap Zara.
"Emang kenapa sih, Zar? Gue cuma mau bicara sebentar kok sama kalian. Lagian disini juga bersih dan wangi kok, gak bau sama sekali." ucap Sadam.
"Tau ih! Lebay lu!" sahut Yasmin.
"Ish, bukan masalah itu! Gue ini claustrophobia tau." jawab Zara nampak ketakutan.
"Apaan sih? Orang gak ada Santa Claus disini." ujar Sadam bercanda sambil terkekeh.
Sontak kedua gadis itu langsung menatap tajam ke arah Sadam, dan Sadam pun ketakutan sendiri lalu membuang muka sembari menggaruk area lehernya karena ditatap seperti itu oleh mereka.
"Bercanda doang elah!" ujar Sadam.
"Yeh candaan lu garing!" ujar Zara.
"Hahaha, yaudah intinya gini aja deh. Gue cuma mau kasih tau sama kalian, kalau Shella itu diculik sama orang-orang gak dikenal dan sekarang polisi lagi selidikin tentang itu!" ucap Sadam.
"Apa/Hah??" Yasmin dan Zara terkejut secara bersamaan begitu mendengarnya.
__ADS_1
"Lu gak lagi bercanda kan?" tanya Yasmin.
"Ya enggak lah! Ini gue dapet dari temen gue yang tadi, dia kan ngeliat sendiri." jawab Sadam.
Yasmin dan Zara pun tampak lemas tak berdaya akibat mengetahui kabar kalau Shella diculik, mereka menangis histeris dan tampak saling merangkul satu sama lain di depan Sadam.
"Sini gue peluk kalian! Supaya kalian berdua gak sedih lagi!" ucap Sadam tersenyum merasa iba pada kedua gadis itu, ia berniat maju memeluk keduanya akan tetapi Yasmin dan Zara justru berteriak.
"Ish, jangan modus lu! Kita tuh lagi sedih tau, malah sempat-sempatnya modus!" bentak Zara.
"Hehe.." Sadam hanya nyengir sembari menggaruk kepalanya.
...•••...
Sementara itu, Rafael tengah panik sendiri mencari keberadaan Shella dengan mobilnya. Rafael tentunya tidak mau jika sampai bosnya tau kalau Shella diculik dan ia gagal untuk mencegahnya, Rafael akan sangat merasa bersalah jika sampai ia tidak bisa menemukan Shella saat ini dan membawanya kembali ke rumah bosnya itu.
"Aaarrgghh! Ini gimana, ya? Kalau sampe pak Vano tau istrinya diculik, bisa abis nih gue!" gumamnya kebingungan sembari mengerutkan kening.
Rafael saat ini tengah berusaha mencari dan menemukan keberadaan Shella, bersama beberapa polisi di depannya. Rafael sangat berharap kalau ia dan yang lainnya dapat menemukan Shella, karena tentu ia tak mau jika sesuatu sampai terjadi pada istri dari bosnya itu.
Ya saat ini mereka hendak menuju ke tempat yang tertera sesuai nomor plat dari mobil penculik tersebut, walau mereka semua belum tau apakah benar para penculik ada di titik yang muncul itu atau semua orang itu sudah pindah ke tempat lain yang belum bisa dilacak.
Rafael juga sudah meminta bantuan pada seluruh teman-temannya untuk membantunya mencari Shella dan merahasiakan ini dari Devano lebih dulu agar tidak ada kepanikan dari bosnya itu.
Tiba-tiba saja, ponsel milik Shella yang berada di sampingnya berbunyi. Ya ponsel itu memang tergeletak di atas meja cafe, sehingga polisi menyerahkannya pada Rafael selaku kerabat dari Shella. Rafael pun langsung panik karena mengira kalau yang menelpon itu adalah Devano, ia bingung dan tidak tau harus bagaimana saat ini apalagi ponsel itu terus saja berdering membuat kepalanya makin terasa pusing.
Akhirnya Rafael mengambil ponsel milik Shella tersebut dan melihat siapa yang menelpon kesana, rupanya dugaan ia salah karena ternyata yang menelpon adalah Yasmin alias teman Shella.
"Yasmin? Ini siapa, ya? Apa temannya Bu Shella?" gumam Rafael bertanya-tanya sendiri.
Rafael pun mengangkat teleponnya lebih dulu.
📞"Halo, Shella! Lu sekarang dimana? Gue sama Zara khawatir banget sama lu! Sadam bilang kalo lu diculik, apa itu bener?" ujar Yasmin.
📞"Iya, itu benar." ucap Rafael singkat.
📞"Hah? Ini siapa? Kok suara cowok sih bukan cewek? Apa jangan-jangan lu yang udah culik Shella temen gue itu? Ngaku lu sialan!" ujar Yasmin langsung marah-marah mengira Rafael penculik.
📞"Tenang dulu! Saya ini asisten pak Vano, suami dari Bu Shella. Ponsel milik Bu Shella ada sama saya, karena tadi tertinggal di cafe. Sekarang saya bersama para polisi, sedang berusaha mencari keberadaan Bu Shella." jelas Rafael.
📞"Ohh, jadi lu bukan penculik Shella? Terus Shella dimana sekarang? Apa lu udah bisa temuin keberadaan Shella, ha?" tanya Yasmin cemas.
📞"Eee iya iya, maaf! Tolong cari Shella sampe ketemu ya!" ucap Yasmin.
📞"Pasti kok!" ucap Rafael singkat.
Tuuutttt...
Rafael langsung memutus telpon itu, lalu menaruh kembali ponsel milik Shella di atas dashboard.
"Kalau temannya Bu Shella aja sampe secemas itu, apa kabar sama pak Vano?" gumamnya.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di lokasi yang tertera sesuai plat mobil penculik. Rafael pun turun dari mobilnya lalu menghampiri para polisi yang juga sudah mulai bergerak menyusuri tempat tersebut untuk mencari keberadaan mobil si penculik yang membawa Shella dari cafe.
"Pak, apa sudah ada petunjuk?" tanya Rafael.
"Belum, pak. Kami juga tidak menemukan mobil itu disini, namun kami akan mencoba untuk bertanya kepada pemilik rumah disana. Karena mobil itu terdaftar atas nama pemilik rumah tersebut." jawab polisi sembari menunjuk ke sebuah rumah.
"Yaudah, kalo gitu kita langsung kesana aja, pak!" ucap Rafael sudah sangat panik.
"Mari, pak!"
Mereka pun bergegas menuju rumah tembok putih yang ada di dekat sana.
"Permisi..." ucap seorang polisi.
Ceklek...
Tak berapa lama, seorang bapak tua dengan kacamata muncul keluar menemui mereka semua disana dan tampak kebingungan.
"Eee ini ada apa, ya?" tanyanya keheranan.
"Apa benar ini dengan bapak Mulyana Bahari?" ucap polisi tersebut.
"Eee iya saya sendiri, kenapa pak?" ujarnya.
"Kalau begitu, apa benar anda pemilik mobil dalam foto ini? Tolong jawab dengan cepat dan jujur! Karena kami sedang menyelidiki sebuah kasus penculikan yang melibatkan mobil ini." ucap polisi itu menunjukkan foto mobil di hp nya.
__ADS_1
"Ohh, iya iya. Itu benar mobil saya, tapi baru aja tiga hari yang lalu mobil itu dicuri orang. Saya juga sudah mengajukan laporan kehilangan ke kantor polisi di dekat sini, pak." ucap Mulyana.
"Pak, jangan bohong ya!" ujar Rafael emosi.
"Tahan dulu, pak! Tidak perlu pakai emosi, biar kami pastikan apa benar yang dikatakan bapak Mulyana tadi." ucap polisi.
Rafael pun menghela nafas sejenak mencoba lebih tenang agar tak terbawa emosi, walau sebenarnya ia sangat tegang saat ini dan tidak bisa sabar lagi karena Shella telah diculik.
Setelah menghubungi kantor polisi di dekat sana, polisi itu pun mengatakan pada Rafael juga semua yang ada disana kalau memang apa yang dikatakan bapak Mulyana adalah benar.
"Pak, ternyata memang benar mobil bapak ini sedang dicuri oleh seseorang. Jadi bisa dipastikan, bukan bapak ini pelaku penculikan itu!" ucap polisi.
"Wah wah! Jadi, mobil saya itu dipakai buat menculik seseorang? Aduh, bener-bener ya penculik jaman sekarang! Udah gak modal, pake acara culik orang segala lagi!" ujar Mulyana.
Rafael tampak geram dengan semua ini, ia tak tau lagi apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Baiklah, terimakasih pak Mulyana atas infonya. Maaf kalau kami sudah mengganggu waktu anda, kami permisi dulu!" ucap polisi.
"Oh iya, silahkan pak!" ucap Mulyana.
Mereka semua pun pergi dari sana meninggalkan rumah pak Mulyana dengan raut kecewa, terlebih bagi seorang Rafael yang tampak sangat gusar gundah gulana itu.
Setelah para polisi serta Rafael pergi, Mulyana terlihat menghubungi seseorang dengan hp nya.
📞"Halo, saya sudah melaksanakan tugas saya! Jangan lupa uang yang anda janjikan kemarin, atau saya akan buka mulut!" ujar pak Mulyana.
📞"Anda tenang aja! Orang suruhan saya yang lain sedang menuju ke rumah anda membawakan sejumlah uang untuk anda!"
📞"Apa? Kenapa tidak ditransfer saja?" tanyanya.
Tiba-tiba saja, sekumpulan orang dengan topeng hitam datang ke rumah Mulyana dan langsung meloncati pagar rumah itu dengan membawa pisau tajam di tangan mereka.
"Si-siapa kalian?" tanya Mulyana gugup.
Mereka tak menjawab, namun mereka semua langsung bergerak menangkap Mulyana dan menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh pria tua itu.
•
•
📞"Aaakkhhhh..."
Tuuutttt...
Seorang pria yang merupakan penculik Shella itu tersenyum menyeringai saat mendengar suara rintihan kesakitan dari pak Mulyana melalui ponselnya. Ia langsung menutup teleponnya kemudian menyimpan ponsel miliknya pada saku celana, barulah ia kembali berbalik dan menatap Shella yang masih pingsan disana.
Perlahan pria itu melangkah maju, hentakan sepatunya terdengar samar-samar di telinga Shella yang masih dapat berfungsi walau ia tak dapat membuka matanya saat ini.
"Ha-ha-ha..."
Pria itu tertawa berjalan mengitari tubuh Shella sembari mengusap wajah serta rambut wanita itu.
"Sebentar lagi saya akan menghubungi suami kamu, tentunya saat waktunya telah tiba. Saya pastikan kamu tidak akan terluka sedikitpun, Shella! Karena yang saya inginkan hanyalah, Devano menyerahkan seluruh aset perusahaannya pada saya." ujarnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering membuat ia harus berhenti sejenak untuk mengangkat telepon dari seseorang itu.
"Kakek?"
📞"Halo, kek. Ada apa?" ucapnya.
📞"Halo! Kamu itu bagaimana sih? Baru juga beberapa Minggu kakek tinggal pergi, eh udah hancur aja tuh perusahaan. Sebenarnya kamu ngerti atau enggak sih ngurus perusahaan itu? Kakek kan udah ajarin kamu berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelumnya!"
📞"Tenang dulu, kek! Semua gak akan jadi seperti ini, kalau kakek gak bantu perusahaan Devano! Sekarang kakek tenang aja, karena aku sedang berusaha untuk mengembalikan kondisi keuangan perusahaan kita!" ucapnya.
📞"Jangan salahkan orang lain atas kesalahan diri kamu sendiri! Sebaiknya kamu belajar banyak ke Devano, atau siapapun yang ahli di bidang ini! Agar kamu juga bisa seperti mereka, bukan hanya duduk-duduk tidak jelas!"
📞"Iya kakek, kan aku udah bilang. Aku bakal balikin kejayaan perusahaan kita lagi, tenang aja kek!" ucapnya dengan senyum tipis.
📞"Yasudah, kakek masih ada urusan yang harus diurus. Sampai nanti!"
📞"Iya kek, sampai jumpa!"
Tuuutttt...
Telpon terputus setelah orang itu sengaja mematikannya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...