Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Berdenyut lagi


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 172


...•...


...•...


Adrian menemui mayat Nadya di dalam kamar jenazah, ia berjalan mendekati mayat itu sambil menangis dan gemetaran... tampak Adrian begitu terpukul saat hendak membuka kain penutup wajah jenazah tersebut.


Adrian menghela nafas sejenak memejamkan matanya sebelum memberanikan diri untuk membuka penutup kain itu, ya Adrian langsung banjir air mata setelah kain tersebut terbuka memperlihatkan wajah cantik Nadya.


"Nadya, kenapa kamu pergi secepat ini cantik? Harusnya kamu jangan tinggalin aku kayak gini, kalau tau bakal jadi seperti ini pasti waktu itu aku gak akan mau diminta untuk menjauhi kamu sayang....!! Jujur aku sedih banget dan gak bisa kehilangan kamu, aku benar-benar sayang sama kamu Nadya!" ucap Adrian mengusap-usap wajah mayat itu.


Adrian mengingat kembali saat-saat kebersamaan dirinya dengan Nadya, tangisan terus membasahi wajahnya yang masih tak percaya kalau wanitanya akan pergi secepat ini meninggalkan dirinya.


"Kalau aku diberikan waktu untuk bisa bicara lagi sama kamu, maka aku pasti akan langsung meminta maaf sebesar-besarnya atas segala kelakuan aku sama kamu selama ini! Selain itu, aku juga akan berjanji pada kamu untuk selalu menyayangi dan melindungi kamu Nadya!" ucap Adrian yang kini mendekatkan wajahnya ke muka Nadya, air matanya menetes mengenai wajah mayat itu.


Dengan cepat Adrian menghapus air matanya yang jatuh ke wajah Nadya, ia tak mau gadis itu ikut merasakan kesedihannya.


"Aku pergi dulu Nadya, semoga kamu tenang disana dan bahagia selalu disisinya! Aku akan selalu mendoakan kamu dan juga tetap menyayangi kamu apapun kejadiannya, i love you Nadya Lestari...." ucap Adrian mengecup kening mayat itu tanpa rasa ragu.


Setelahnya, ia mengelus bekas kecupannya di kening Nadya lalu menjauh dari wajah mayat itu.


Adrian juga menyeka air matanya dengan lengan kemejanya sebelum pergi dari sana, tak lupa juga ia membenarkan semula kain yang menutupi wajah Nadya.


"Selamat tinggal, Nadya....!!" ucap Adrian kemudian menutupi kembali wajah Nadya dengan kain putih itu.


Adrian pun berbalik badan, ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar walau terasa berat baginya untuk melakukan itu karena ia masih ingin tetap disana bersama Nadya.


Tanpa disadari, tangan Nadya terjatuh menjuntai ke bawah sesaat setelah Adrian pergi dari kamar jenazah itu.


Saat membuka pintu dan hendak keluar, ia langsung berpapasan dengan Yoga & 2 orang perawat pria di depan pintu.


"Udah kan ketemu Nadya nya? Sekarang gua mau langsung bawa mayat Nadya dan makamin dia di tempat yang layak, lu boleh pergi karena lu gak ada urusan lagi disini!" ujar Yoga dengan tatapan tajam mengarah ke wajah Adrian yang masih bersedih itu.

__ADS_1


"Oke, gua pergi kok Yog! Tolong lu urus baik-baik ya mayat Nadya, oh ya apa mamah angkatnya udah dikasih tau soal ini? Kasihan Nadya kalau di pemakamannya gak ada orang-orang tersayangnya, gua juga bakal temuin ibu kandungnya buat kasih tau soal kepergian Nadya...." ucap Adrian.


"Gua gak punya nomor telepon mamah angkatnya Nadya, soalnya yang gua tau mamahnya itu lagi keluar kota! Lu sendiri emang tau ibu kandungnya Nadya siapa?" ujar Yoga kini mulai adem.


"Bukan cuma tau, gua juga kenal sama ibunya! Kalo gitu biar gua nanti yang kasih tau ke mamah angkatnya... gue permisi dulu," ucap Adrian menepuk pundak Yoga kemudian melangkah pergi dari sana.


Sementara Yoga masuk ke kamar jenazah itu bersama 2 orang perawat yang ingin membawa mayat Nadya ke mobil jenazah.


Salah seorang perawat yang lebih dulu menghampiri mayat Nadya coba membetulkan posisi tangan Nadya yang menjuntai ke bawah, kala itu ia tak mau berpikiran negatif karena mungkin tangan Nadya jatuh akibat sentuhan dari Adrian tadi.


Namun, disaat perawat itu memegang tangan Nadya ia benar-benar terkejut karena ternyata nadi gadis itu berdetak kembali.


"Jat, kenapa lu?" tanya perawat lainnya yang merasa heran dengan tingkah temannya, karena temannya itu tak melepas-lepas tangan Nadya.


"I-ini loh Mar, nadinya berdenyut lagi!" jawab perawat bernama Ajat itu.


"Hah? Seriusan lu Jat?" ujar temannya yang bernama Amar kaget.


"Iya, coba aja lu pegang nih!" ucap Ajat.


Amar pun memastikan bahwa perkataan Ajat benar, ia memegang tangan Nadya dan ternyata memang benar nadinya kembali berdenyut.


Yoga yang penasaran langsung menghampiri 2 orang perawat itu karena terlihat heboh, ia bertanya pada mereka apa yang terjadi.


"Ada apa mas?" tanya Yoga.


"Ini loh mas, ternyata nadi mayat ini berdenyut lagi! Tandanya dia masih hidup mas!" jawab Ajat.


"Apa???" ujar Yoga kaget terperangah sekaligus tak percaya dengan kata-kata Ajat.


"Mas gak bercanda kan?" sambung Yoga.


"Ini beneran mas, coba aja mas pegang sendiri tangan mayat ini kalo gak percaya!" ujar Ajat.


Yoga pun maju mendekati mayat Nadya, ia memegang tangan Nadya untuk memastikan yang dikatakan perawat itu benar.


"Gimana mas, bener kan?" tanya Ajat.


"Iya mas, Alhamdulillah.... berarti ini tandanya pacar saya masih hidup kan mas?" ujar Yoga langsung sumringah mengetahui itu.


"Benar mas, eh Jat lu panggil dokter cepet kasih tau info ini...!!" ujar Amar.

__ADS_1


"Iya iya," ujar Ajat kemudian langsung berlari keluar kamar jenazah untuk menemui dokter.


...•••...


Sementara itu, Devano juga tengah berbicara dengan 2 orang wanita yang akan bekerja di rumahnya.


Tampak Shella menuruni tangga untuk menyusul suaminya yang sudah lebih dulu ke bawah, ia pun duduk di samping Devano lalu mengenalkan dirinya pada 2 wanita itu.


"Nah bu Yuni, mbak Intan! Kenalkan ini istri saya namanya Shella... honey, ini bu Yuni dan adiknya mbak Intan! Mereka akan bekerja disini bantu-bantu kamu beberes..." ucap Devano.


"Iya mas... kenalin saya Shella!" ucap Shella tersenyum kemudian mengulurkan tangannya di hadapan 2 wanita itu.


Sontak mereka saling memandang karena tak percaya majikannya akan mengajak mereka bersalaman, karena tampak keraguan di wajah 2 orang itu... Shella pun meyakinkan mereka kalau dirinya tidak bercanda.


"Kenapa bu, mbak? Apa ada yang salah sama tangan saya?" tanya Shella sambil melihat telapak tangannya sendiri.


"Eh enggak kok nyonya, kita cuma heran aja soalnya gak pernah salaman sama majikan!" ucap Yuni menjelaskan mengapa dirinya dan adiknya terdiam tadi.


"Ohh... udah gapapa bu, yang namanya kenalan kan harus salaman! Ayo kita salaman aja bu!" ucap Shella kembali mengulurkan tangannya.


Yuni dengan ragu-ragu memajukan tangannya meraih telapak tangan Shella, ia bersalaman dengan majikannya itu sambil memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Yuni nyonya..." ucap Yuni gugup.


"Salam kenal ya bu Yuni, selamat bekerja dan semoga betah!" ucap Shella tersenyum.


"Iya nyonya, terimakasih!" ucap Yuni.


Yuni pun melepaskan tangannya, kini giliran Intan yang bersalaman dengan Shella.


"Kalau nama saya Intan, nyonya!" ucap Intan meraih tangan Shella tanpa ragu.


"Semoga betah ya mbak Intan!" ucap Shella.


Devano hanya tersenyum saja melihat istrinya begitu ramah dengan kedua calon pekerjanya.


"Emang gak salah saya pilih istri, Shella itu benar-benar berattitude baik... pantas saja banyak orang yang sayang sama dia, termasuk Adrian yang masih tergila-gila padanya!" gumam Devano.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2