
Shella sadar dari pingsannya, ia merasa heran karena tiba-tiba berada di rumah sakit.
Ia mencoba bangun namun sulit karena kepalanya masih terasa pusing.. Lalu, suster yang ada disana langsung menghampiri nya.
"Eh mbak, jangan bangun dulu! Udah istirahat aja," ucap suster itu.
"Eee sus, siapa ya yang bawa saya kesini?" tanya Shella.
"Ohh tadi ada laki-laki berjas yang bawa mbak kesini," jawab suster.
"Laki-laki siapa ya sus?" tanya Shella.
"Aduh kalo itu saya gak tau mbak, saya permisi dulu ya mbaknya istirahat aja jangan banyak gerak dulu! Kondisi mbak masih lemah," ucap suster.
"Iya sus,"
Suster itu keluar dari ruangan Shella..
"Siapa ya laki-laki berjas yang dimaksud suster itu?" gumam Shella.
Tak berselang lama, Jenar dan Yani masuk ke ruangan itu untuk menemui Shella.
"Shella!" ucap Jenar.
"Ibu? Kok ibu bisa tau aku disini?" tanya Shella.
"Iya tadi ibu dikabarin sama bos kamu, gimana gimana kamu udah baikan?" ujar Jenar.
"Bos aku? Jangan-jangan pak Devano.." batin Shella.
"Shella? Gimana kondisi kamu?" tanya Jenar.
"Aku udah baikan kok Bu, cuma masih agak lemes aja.." jawab Shella.
"Oh gitu, sebenarnya kamu kenapa, kok bisa sampe masuk rumah sakit gini?" tanya Jenar.
"Tadi kepala aku pusing banget Bu, terus tiba-tiba pandangan aku buram dan akhirnya aku pingsan.. Setelah itu aku gak tau apa-apa lagi!" jawab Shella.
"Terus gimana kata dokter?" tanya Jenar.
"Gak tau Bu, pas aku sadar yang ada cuma suster.." jawab Shella.
"Yaudah kamu istirahat ya!" ujar Jenar.
"Iya non, non harus istirahat yang cukup! Mungkin non bisa pingsan karena kurang istirahat.." ucap Yani.
"Iya Bu, Bi Yani makasih ya.." ucap Shella.
...•••...
Sementara itu, dokter sedang berbicara pada seorang pria dengan jas hitam di ruangannya.
"Begitulah yang saya dapatkan dari hasil pemeriksaan tadi.. Pasien harus perbanyak istirahat serta meminum vitamin, karena kondisi bayi yang ada dalam kandungan Bu Shella sangat riskan!" ucap dokter.
"Dokter yakin ini gak salah?" tanya pria itu.
"Saya yakin pak, hasil itu 100% akurat!" jawab dokter.
"Baiklah dok terimakasih," ujar pria itu.
"Sama-sama pak, semoga kandungan Bu Shella baik-baik saja ya!" ucap dokter.
"Iya aamiin, kalo gitu saya permisi dok!" ucap pria itu.
"Silahkan pak,"
Lelaki itu keluar dari ruangan dokter sambil membawa surat hasil tes medis Shella.
__ADS_1
Ia tampak bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Shella tentang ini..
Tiba-tiba seseorang memanggil namanya,
"Vano!" ujarnya.
Lelaki itu pun menoleh dan ternyata Rafi lah yang memanggil nya..
"Lu ngapain Fi?" tanyanya.
"Gimana kondisi Shella? Dia gak apa-apa kan?" ucap Rafi.
"Dia baik-baik aja kok," jawabnya.
"Terus, itu apa?" tanya Rafi.
"Ini hasil tes Shella, lu mau lihat?" ujar nya.
Rafi mengambil surat itu dari tangan Devano kemudian membacanya.
Ia langsung tercengang setelah membaca surat itu.
"Ini beneran Van si Shella hamil?" tanya Rafi.
Devano mengangguk.
...•••...
Adrian sedang memandangi setangkai bunga mawar di tangannya..
"Setiap ngeliat bunga mawar, pasti saya selalu teringat pada bunda.. Harumnya seperti aroma parfum ibu, keindahannya juga menyerupai ibu. Andai saja ibu masih ada, pasti bunga ini akan saya berikan padanya.." batin Adrian.
Lalu, Marissa masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Maaf pak saya langsung masuk, soalnya pintunya terbuka dan saya kira bapak gak ada disini.." ujar Risa.
"Eee ini pak ada yang harus ditandatangani," jawab Risa sambil menyerahkan berkas.
"Baik,"
Adrian menyimpan bunganya di sebuah vas yang terbuat dari kaca.
"Bapak suka bunga mawar ya?" tanya Risa.
"Iya benar, karena bunga mawar yang indah itu mengingatkan saya pada keindahan ibu saya!" jawab Adrian.
"Sepertinya bapak lagi kangen ya sama ibu bapak," ujar Risa.
"Iya saya kangen sekali sama beliau, saya juga butuh kasih sayang dan pelukan darinya sekarang.." ucap Adrian.
"Memangnya ibu bapak kemana?" tanya Risa.
"Ibu saya sudah bersama yang maha kuasa di atas," jawab Adrian.
"Oh maaf pak saya tidak tahu," ucap Risa.
"Gapapa, yasudah ini berkasnya sudah saya tanda tangani!" ujar Adrian.
"Baik pak, kalau gitu saya permisi.." ucap Risa.
"Ya,"
Risa pun keluar dari ruangan Adrian, lalu ia bertemu dengan Frederick di depan pintu.
"Permisi pak," ucap Risa.
"Tunggu tunggu! Adrian lagi apa di dalam?" tanya Frederick.
__ADS_1
"Oh pak Adrian tadi sepertinya lagi kangen sama ibunya pak," jawab Risa.
"Ada-ada aja.. Yasudah kamu boleh pergi!" ujar Frederick.
"Baik pak saya permisi," ucap Risa.
Risa pun pergi dan Frederick masuk ke ruangan Adrian.
"Rian!" ucap Frederick.
Adrian langsung menoleh ke arah kakeknya itu..
"Iya kek kenapa?" tanya Adrian.
"Bagaimana, apa kamu sudah berhasil mendapat info tentang laki-laki yang membuat Bimo kecewa?" ujar Frederick.
"Sudah kek, sebentar saya ambil data-data orang itu dulu!" ucap Adrian.
Adrian mengambil sebuah dokumen dari laci meja nya dan memberikan itu pada Frederick.
"Ini kek data pria itu, namanya David dia anak dari ceo pt. cahaya gemilang yang merupakan saingan berat perusahaan ini kek.. Selain itu, cahaya gemilang juga merupakan investor perusahaan papahnya Zara!" jelas Adrian.
"Ternyata mereka mau bermain-main dengan keluarga Bagaskara!" ujar Frederick.
Frederick menatap tajam foto David seakan-akan ingin membunuhnya.
...•••...
Dokter masuk ke ruangan Shella, ia ingin mengecek kondisi Shella disana.
"Permisi, saya mau periksa kondisi pasien.." ucap dokter.
"Oh iya silahkan dok!" ujar Jenar.
Dokter pun melakukan pemeriksaan pada Shella.
"Kondisi kamu sudah mendingan, sepertinya kamu sudah bisa pulang dari sini.." ucap dokter.
"Alhamdulillah, makasih dok! Tapi, saya sakit apa ya? Kenapa tadi kepala saya terasa pusing banget?" tanya Shella.
"Saya sudah memberikan hasil tes kamu pada laki-laki yang membawa kamu kesini, dia bilang dia akan memberitahu kamu sendiri.." jawab dokter.
"Sebenarnya siapa dok orang itu?" tanya Shella.
"Iya siapa toh yang bawa anak saya kesini dok?" saut Jenar.
"Eee saya juga tidak tahu siapa nama laki-laki itu, mungkin nanti dia akan menemui kamu sendiri!" jawab dokter.
"Baik dok, kalo gitu saya langsung pulang sekarang ya dok.." ucap Shella.
"Iya boleh, tapi pelan-pelan ya bangun nya!" ujar dokter.
Dokter dan Jenar membantu Shella untuk bangun dari tempat tidurnya..
"Sebentar nak, ibu bayar biaya administrasi nya dulu ya!" ucap Jenar.
"Ibu bawa uang?" tanya Shella.
"Bawa nak, sebentar ya! Bi, titip Shella dulu ya!" ucap Jenar.
"Baik Bu," ucap Yani.
Jenar keluar untuk membayar biaya rumah sakit Shella, disusul juga oleh sang dokter.
Tak lama kemudian, masuk seorang pria ke dalam ruangan Shella..
"Permisi,"
__ADS_1
Shella dan Yani terkejut mendengar suara itu, Shella juga merasa kaget dengan kehadiran nya.