
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 203
...•...
...•...
Shella & Laila sampai di rumah sakit tempat Nadya masih dirawat, mereka langsung menuju ruangan tempat Nadya berada.
Tampak sudah ada Jenar serta Lestari di depan sana yang selalu setia menemani Nadya di rumah sakit selama koma ini.
"Assalamualaikum, bu, tante!" ucap Shella memberi salam saat sampai di depan ruang tempat Nadya dirawat dan menyapa ibunya serta mama angkat Nadya itu.
Sontak Jenar serta Lestari menoleh ke arah suara tersebut, mereka tampak tersenyum melihat Shella berdiri disana menatap ke arahnya. Jenar pun langsung bangkit dari duduknya lalu memeluk putrinya itu.
"Waalaikumsallam, Shella..." ucap Jenar.
Shella juga membalas pelukan sang ibu serta mengusap-usap punggungnya, entah mengapa ia merasa kalau ibunya sangat bersedih.
"Sabar bu, aku selalu ada buat ibu kok! Kita sama-sama doain kesembuhan Sheila ya bu, jangan nangis terus!" ucap Shella menenangkan ibunya yang menangis.
Tampak Laila ikut terharu sampai meneteskan air mata, ia langsung menyekanya dengan telapak tangan.
Akhirnya Jenar melepas pelukannya membiarkan Shella menghapus air mata di pipinya yang cukup banyak. Jenar juga mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang berdiri di samping putrinya itu.
"Nak Laila? Kamu ikut kesini juga?" tanya Jenar tersenyum saat melihat Laila disana.
"Iya tante, aku mau tau kondisi Sheila!" jawab Laila membalas senyum Jenar lalu maju mencium punggung tangan Jenar.
"Makasih ya sayang, kamu mau datang!" ucap Jenar mengelus kepala Laila.
__ADS_1
"Sama-sama tante, Sheila kan juga udah jadi keluarga aku sekarang! Udah sewajarnya aku ikut datang kesini jenguk dia, semoga Sheila bisa segera sadar ya tante!" ucap Laila.
"Aamiin," ucap Jenar & Shella bersamaan.
"Yaudah yuk, kamu mau lihat Sheila kan? Kita lihat dia dari sana..." ucap Jenar.
Laila pun mengangguk tersenyum, lalu ia ditemani oleh Jenar berjalan menuju tempat kaca untuk bisa melihat kondisi Sheila dari sana karena memang tidak sembarangan orang yang boleh masuk ke ruangan itu.
Sementara Shella menghampiri Lestari di kursi karena merasa tidak tega melihat wanita itu tengah bersedih memikirkan anaknya.
"Tante, boleh aku duduk disini?" ucap Shella.
Lestari yang sedang melamun sedikit terkejut kemudian mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah Shella yang tengah menunduk ke arahnya. Ia langsung tersenyum lalu mengizinkan Shella duduk disampingnya.
"Silahkan, Shella!" ucap Lestari.
Shella pun tersenyum lalu duduk di samping mama angkat Nadya itu, ia terus menatap wajah wanita disampingnya dan kemudian memberanikan diri mengajak bicara Lestari.
"Eee tante, kalau tante butuh sandaran atau pelukan... aku siap kok buat jadi tempatnya tante! Silahkan aja kalo tante mau peluk aku, anggap aja aku Nadya!" ucap Shella.
Lestari memandang wajah Shella dengan mata berkaca-kaca, ia mengelus wajah wanita yang persis sekali dengan anak angkatnya itu lalu mulai menangis dan memeluk Shella erat.
...•••...
Tiba-tiba saja keberuntungan seperti mendatangi Femila, ya Rafi merasakan kebelet dan ingin buang air. Pria itu pun meminta izin pada Femila untuk pergi ke toilet sejenak.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya! Udah gak tahan nih kebelet banget, tapi kamu disini aja jangan kemana-mana! Sebentar doang kok aku ke kamar mandinya," ucap Rafi.
"Iya sayang, yaudah sana gih nanti gawat kalo kamu bocor disini! Aku tunggu disini sampai kamu selesai buang airnya.." ucap Femila.
"Oke,"
Cupp... Rafi mengecup bibir Femila sekilas lalu mencubit pipi wanita itu dengan gemas, setelahnya baru ia berjalan pergi meninggalkan Femila disana menuju toilet terdekat.
Sementara Femila tersenyum senang karena akhirnya bisa lepas dari Rafi, ia pun kembali ke cafe tempat ia melihat Yoga berada tadi.
Sesampainya disana, benar saja Yoga masih tetap ada disana dengan secangkir kopi di meja yang sepertinya belum disentuh. Femila pun langsung sumringah kemudian maju menghampiri mantannya yang sangat ia rindukan itu.
__ADS_1
"Yoga...."
Mendengar suara memanggil namanya, seorang pria yang tengah melamun itu reflek menoleh mencari asal suara yang ia dengar. Telinganya seperti tak asing mendengar suara barusan karena ia merasa seperti pernah mendengar suara tersebut sebelumnya.
Yoga langsung membulatkan matanya terkejut ketika melihat sosok wanita yang sangat ia kenali tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum di dekat sana, ia bahkan bangkit dari duduknya dan coba mendekati wanita itu.
"Femila?" ucap Yoga dengan rahang bergetar akibat saking tak percayanya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.
Gadis itu hanya tersenyum dan terus menatap wajah pria di depannya, sedangkan Yoga berusaha menyentuh wajah Femila untuk memastikan apakah yang ia lihat benar.
"Apa ini benar kamu, Femila?" tanya Yoga yang kini telapak tangannya sudah menyentuh wajah mulus gadis di hadapannya dan perlahan mengelusnya dengan jari-jarinya.
"Iya, aku Femila..." jawab wanita itu sambil manggut-manggut lalu mengelus punggung tangan Yoga yang berada di wajahnya.
Sontak saja Yoga sangat bahagia mendengarnya, kini ia yakin benar kalau yang dilihatnya adalah Femila sang kekasih yang sangat ia sayangi. Tanpa basa-basi lagi Yoga langsung memeluk erat tubuh wanita itu.
...•••...
Disisi lain, Devano hendak kembali ke kantornya setelah selesai menemui Adrian dan berbicara dengan pria itu di cafe tadi. Tampak Devano masih geram dengan Adrian karena cukup lihai memainkan kata-kata sehingga sulit baginya untuk mengetahui rencana apa yang sedang direncanakan oleh Adrian.
Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia tengah fokus memikirkan Adrian, ia terpaksa melipir sejenak ke pinggir jalan demi mengangkat telpon dari pengacaranya itu.
📞"Halo, pak Ilham! Bagaimana, pak?" ucap Devano langsung bertanya pada pengacaranya.
📞"Begini pak Vano, saya sudah menyusuri lokasi kecelakaan tersebut dan berhasil menemukan beberapa saksi yang mengetahui secara langsung kejadian itu pak! Beliau mengatakan kalau mobil yang dikendarai pak Tama itu memang berjalan pada jalurnya, bahkan mobil dari arah lain lah yang masuk ke jalur pak Tama!" jelas pak Ilham.
📞"Baguslah pak, mungkin kesaksian beliau bisa membuat papa dan mama saya dibebaskan atas tuduhan yang tak benar ini! Ajak dia bertemu dengan saya di kantor pak, saya ingin bicara langsung sama dia!" ucap Devano.
📞"Baik pak, saya akan meluncur ke kantor bapak sekarang juga!" ucap pak Ilham.
📞"Terimakasih, pak! Saya tunggu kedatangannya di kantor, berhati-hatilah pak!" ucap Devano.
📞"Siap pak!"
Telepon pun dimatikan oleh Devano, ia langsung kembali menancap gas menuju kantornya karena tak sabar untuk menemui saksi yang dibawa oleh pengacaranya itu.
"Semoga aja dengan ini papa sama mama bisa lepas dari tuduhan Adrian, tapi gue heran kenapa polisi gak bisa ketemu sama orang ini? Gimana kerjaan mereka dalam menyelidiki kasus ini, kok malah mereka bisa mutusin untuk tangkap papa sama mama gitu aja?" batin Devano mengerutkan keningnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...