
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 313
...•...
...•...
Jenar sudah selesai menjelaskan semuanya pada Adrian mengenai kondisi Nadya selepas mengalami kecelakaan dan koma, ya Adrian tampak terkejut setelah mengetahui kalau Nadya saat ini sedang hilang ingatan dan tak bisa mengingat semua tentang dirinya atau siapapun yang dekat dengannya.
Adrian pun tau mengapa sedari tadi Nadya tampak penasaran dengan dirinya, ia merasa sedih sekaligus senang karena Nadya tak bisa mengingat semua kejahatan yang dulu ia lakukan padanya, namun tetap saja ia merasa bersalah karena tak seharusnya ia menjadikan Nadya sebagai tumbal dulu.
"Maaf ya, aku gak bisa ingat apa-apa soal kamu! Tapi, kalau benar kamu itu jahat berarti aku gak perlu datang kesini sekarang!" ucap Nadya.
"Hey, jadi maksudnya kamu menyesal karena datang kesini? Aku emang manusia jahat dulu, aku gak bisa kontrol diri karena rasa cintaku pada Shella yang tak terbalas! Tapi, sekarang aku udah berubah dan gak akan mau jadi seperti dulu lagi!" ucap Adrian.
"Kamu pasti berubah karena gak betah kan di penjara? Semua orang juga bakal gitu kok, harusnya dari dulu kamu berpikir kayak gitu!" ucap Nadya.
"Iya, entah kenapa aku malah baru sadar sekarang! Setelah aku kehilangan semua orang-orang terdekat yang aku sayangi, dari mulai mama papaku sampai Shella dan juga kamu!" ucap Adrian.
"Bagus deh, yaudah yuk Bu kita langsung pulang aja! Aku gak mau lama-lama ada disini, udah cukup buat aku cari tau siapa Adrian itu!" ucap Nadya.
Adrian tampak sedih menundukkan kepalanya mendengar perkataan Nadya, bagaimanapun juga ia masih ingin melihat gadis itu karena sejak sebelumnya ia selalu memikirkan tentang kondisi Nadya, bahkan sampai ia sulit untuk tidur.
"Kamu yakin gak mau tanya-tanya lagi sama nak Rian? Mumpung masih disini, nanti giliran udah di rumah kamu ngerengek minta ketemu lagi sama Adrian!" ucap Jenar.
"Bu, ibu ngomong apa sih?" bisik Nadya.
"Ya kan emang bener, kemarin kamu terus minta ibu buat temuin kamu sama Adrian! Makanya sekarang ibu tanya lagi, bener kamu mau pulang?" ucap Jenar.
"Ish ibu, jangan keras-keras!" ujar Nadya.
Adrian yang mendengarnya pembicaraan Jenar serta Nadya itu sedikit terkekeh melihat ekspresi wajah Nadya yang menggemaskan, ia juga baru tau kalau ternyata sejak sadar dari koma Nadya itu selalu bertanya tentangnya dan ingin sekali bertemu dengannya.
"Heh, kenapa senyum-senyum? Aku nanyain kamu karena suara kamu diwaktu aku koma itu selalu terngiang, bukan soal yang lain!" ucap Nadya.
"Sheila! Kamu kok kasar begitu sih?" ujar Jenar.
"Ya biarin Bu, dia kan orang jahat!" ucap Nadya.
"Sheila sayang, kamu gak boleh bicara kayak gitu sama nak Rian! Itu gak sopan dan gak pantas, jangan diulangi lagi ya!" ucap Jenar.
__ADS_1
"Iya Bu,"
"Gapapa kok tante, semua yang dibilang Sheila kan emang bener! Saya ini orang jahat, lagian Sheila juga gak terlalu kasar kok!" ucap Adrian.
"Heh, gausah sok baik deh! Pake segala belain aku, gak perlu ya!" ucap Nadya.
"Hus! Sheila, kamu ini malah makin menjadi-jadi! Ibu kan udah kasih tau sama kamu tadi, kenapa kamu malah balik kasar lagi?" ucap Jenar.
Nadya pun memalingkan wajahnya dan tampak cemberut, ia merasa menyesal sekali sudah merengek minta ditemuin dengan Adrian bahkan sampai sering ngambek, rasanya ingin sekali ia mencopot wajahnya itu dan menggantinya dengan yang baru agar ia tidak terus merasa malu.
...•••...
Disisi lain, Shella masih kumpul bersama mertuanya di sofa dan terlihat berbincang santai sambil tersenyum bahagia, Silvi & Tama kompak menceritakan masa kecil mereka dulu kepada Shella sekaligus juga menceritakan bagaimana momen dulu saat Silvi mengandung Devano.
Di tengah keasyikan mereka mengobrol, tiba-tiba pak Umar satpam yang berjaga disana menghampiri mereka di sofa untuk melapor, sontak mereka pun menghentikan sejenak obrolan itu untuk mendengarkan laporan dari sang satpam karena mereka cukup penasaran.
"Permisi nyonya, tuan, bu Shella!" ucap pak Umar.
"Iya pak, ada apa?" tanya Silvi.
"Begini nyonya, itu di depan sudah ada pak Rafael yang katanya ingin bertemu dengan bu Shella!" jawab pak Umar menjelaskan.
"Oh, yaudah suruh masuk aja pak!" ucap Silvi.
"Baik nyonya, permisi...." ucap pak Umar.
"Sayang, Rafael itu siapa?" tanya Silvi.
"Ohh, mama jangan salah paham dulu! Rafael tuh anak buah sekaligus orang kepercayaannya mas Vano, mah!" jawab Shella tersenyum.
"Oh ya ampun, tadi mama kira Rafael teman kamu atau siapa gitu!" ucap Silvi juga tersenyum.
"Enggak lah, mah! Sejak menikah dengan mas Vano, aku udah gak punya teman cowok lagi! Mana berani aku mah temenan sama cowok lain, pasti mas Vano bakalan marah besar!" ucap Shella.
"Hahaha, bagus itu sayang!" ucap Silvi.
"Tuh, mama juga harus kayak Shella dong! Setelah menikah jangan temenan sama laki-laki lain! Lah mama dulu malah banyak banget temen cowoknya!" ucap Tama.
"Apa sih, pah? Yang lalu jangan diungkit-ungkit lagi dong!" ujar Silvi.
Tak lama kemudian, Rafael pun masuk ke dalam lalu menghampiri mereka bertiga di sofa dan ia tampak gugup karena ada orang tua bosnya, ya memang sebelum ini ia belum pernah bertemu langsung dengan kedua orang tersebut.
"Permisi...." ucap Rafael membungkuk sedikit sembari menyatukan dua telapak tangan di depan.
"Eh iya! Nah mah, pah ini yang namanya Rafael alias orang kepercayaan mas Vano!" ucap Shella.
"Ohh, jadi kamu Rafael?" tanya Silvi.
__ADS_1
"Iya mamanya pak bos Devano, saya Rafael!" jawab Rafael sedikit gugup.
"Hahaha, panggil aja tante!" ucap Silvi tertawa kecil.
"Oh iya, maaf tante!" ucap Rafael.
"Hey, gak perlu kaku begitu! Santai aja kalau di keluarga ini mah, kamu kan orang kepercayaan Devano jadi sudah kita anggap bagian keluarga juga!" ucap Tama.
"Makasih om," ucap Rafael singkat.
"Lalu, ada apa kamu kesini?" tanya Silvi penasaran.
"Begini tante, saya mau minta kotak paket yang waktu itu dikirim ke rumah ini! Kata pak Devano, saya harus mencari tau siapa pengirim paket tersebut! Apa kotaknya masih ada, Bu Shella?" ucap Rafael.
"Oh ada kok, sebentar ya..." ucap Shella.
"Eh kamu mau kemana, sayang?" cegah Silvi saat menantunya ingin beranjak dari sofa.
"Aku mau ambil kotaknya, mah!" jawab Shella.
"Jangan! Udah kamu duduk aja disini, kan hari ini mama mau kamu nyantai jangan ngapa-ngapain! Biar mama aja yang ambilin, dimana kotaknya?" ucap Silvi.
"Gapapa kok, mah! Kan cuma jalan kesana deket, lagian aku juga hamilnya baru beberapa Minggu!" ucap Shella.
"Ya emang, tapi khusus hari ini mama maunya kamu diem aja gausah ngapa-ngapain! Besok terserah deh kamu mau apa, ya?" ucap Silvi.
"Iya deh mah, kotaknya ada sama Intan!" ucap Shella.
"Yaudah, mama ambil dulu ya?" ucap Silvi.
"Eh gausah tante, biar saya sendiri aja yang minta ke mbak Intan kotaknya!" ucap Rafael.
"Ohh, yaudah!" ucap Silvi.
"Permisi tante, om, bu Shella!" ucap Rafael.
Rafael pun pergi ke dapur menemui Intan alias pekerja disana untuk meminta kotak paket sesuai yang diperintahkan bosnya yakni Devano, namun ia sedikit berpikir mengingat perkataan Shella jadi yang menyatakan kalau dirinya sedang hamil.
"Bu Shella hamil?" batin Rafael.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...❤️ Happy Sunday ❤️...
__ADS_1