
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 380
...•...
...•...
Disaat Shella bersama Silvi dan juga Eriska tengah asyik mengobrol, tiba-tiba muncul Vonny yang baru datang dari luar menghampiri mereka bertiga disana untuk mencium tangan. Ya Vonny baru pulang dari kerja kelompok di rumah temannya yang juga ada di kampung tersebut, memang hari ini ia tengah libur sekolah karena seniornya tengah melaksanakan ujian dan kelasnya dipakai oleh mereka disana.
Ketiga wanita beda generasi yang tengah mengobrol disana langsung menoleh dan terdiam sejenak saat melihat Vonny muncul dari arah depan mereka, ketiganya pun tampak menatap Vonny yang memang sudah memasuki halaman rumah dan kini tengah mengarah ke arah mereka sembari tersenyum terus tanpa mengalihkan pandangan dari arah mereka.
"Assalamualaikum," ucap Vonny.
"Waalaikumsallam, udah pulang kamu nak?" ucap Eriska bertanya pada putrinya.
"Iya bund, kan aku udah disini." jawab Vonny.
"Ah kamu ini! Kan bunda cuma basa-basi, kamu kayak gak tahu aja kebiasaan masyarakat di negara ini yang hobi basa-basi." ujar Eriska sambil tertawa kecil dan menutupi mulutnya.
"Iya bund, aku ngerti kok." ucap Vonny.
"Abis darimana kamu, Vonny?" tanya Shella heran.
"Eh mbak Shella, iya aku abis kerja kelompok di rumah temen barusan. Biasalah walaupun libur pasti selalu dikasih tugas yang banyak, kan ngeselin ya mbak kalo kayak gitu!" jawab Vonny.
"Ahaha, emang begitulah nasib anak sekolah. Tapi, kan nanti setelah lulus kamu mau sukses. Jadi, kamu harus semangat terus dong!" ucap Shella.
"Iya mbak, aku semangat kok! Apalagi di sekolah itu ada si doi yang jadi penyematan aku, cuma sayang aja sekarang aku libur. Padahal aku seneng banget tiap kali ngeliat mukanya yang tampan itu, apalagi dia cool banget orangnya!" ujar Vonny.
"Hus! Vonny! Kamu itu masih kecil, jangan mikirin cowok dulu!" tegur Eriska.
"Eee aku kan cuma sekedar suka, bunda. Aku juga enggak mungkin lah bisa pacaran sama dia, orang dia aja incaran cewek-cewek di sekolah. Pasti aku juga bakal kalah sama mereka," ucap Vonny.
"Yaudah, jangan begitu lagi!" ujar Eriska.
"Sabar Riska! Namanya juga anak muda yang baru gede, emang sukanya begitu ngeliatin cowok-cowok yang ganteng!" ucap Silvi.
"Nah tante bener tuh, bund. Harusnya bunda wajar dong kan aku baru mau mencoba dewasa, jadi emang sukanya begitu!" ucap Vonny membela diri setelah ada juga yang membantunya.
"Yeh kamu malah ambil kesempatan, harusnya kamu introspeksi diri dong sayang!" ujar Eriska.
"Hehe, maaf bunda! Yaudah, aku mau masuk ke dalam dulu ya? Aku masih harus ngerjain tugas yang lainnya nih, biasalah guru di sekolah tuh kalo ngasih tugas suka pada gak ngotak! Banyak banget sampe pada numpuk tuh di depan, huft!" ucap Vonny.
"Udah jangan ngeluh terus! Biar gak numpuk kamu kerjain sana, jangan main terus kerjaannya!" ujar Eriska.
"Iya iya bunda, ini aku juga mau kerjain kok. Lagian aku bukannya ngeluh, tapi aku kasih tahu bunda sama semua yang ada disini kalau aku punya tugas yang banyak banget!" ucap Vonny.
"Buat apa kamu kasih tau kita? Gak ada juga yang mau tahu kok, udah sana masuk!" ujar Eriska.
"Ih bunda mah begitu!" ucap Vonny cemberut.
__ADS_1
Vonny pun masuk ke dalam rumahnya dengan ekspresi wajah cemberutnya, ia kesal lantaran bundanya itu membuatnya malas untuk bercerita lagi pada siapapun. Sedangkan Eriska sendiri hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum heran melihat tingkah Vonny yang masih saja kekanak-kanakan itu di usianya yang sudah memasuki enam belas tahun.
"Riska, kamu jangan begitu dong sama anak kamu! Kan dia itu masih dalam proses menuju dewasa, jadi sikapnya suka kayak anak-anak." ucap Silvi.
"Iya mbak, aku cuma gak ngerti aja sama dia itu." ujar Eriska sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya mereka bertiga pun melanjutkan perbincangan yang sebelumnya sempat tertunda lantaran kehadiran Vonny disana, ketiganya juga meminum teh hangat yang masih tersedia sembari berbincang-bincang menikmati pemandangan indah yang tersedia di depan mata mereka saat ini.
•
•
Sementara Vonny kini memasuki rumah dengan wajah cemberut dan ekspresi kesal, ia melangkah cukup cepat menuju ke arah ruang tamu tempat dimana ayahnya tengah mengobrol juga disana bersama Tama dan Devano. Ia awalnya tak melihat keberadaan tiga pria tersebut dan terus fokus berjalan ke depan untuk masuk ke kamarnya, karena ia memang sedang kesal dan tak perduli dengan keadaan sekitar seperti keberadaan ayahnya itu.
Roky tidak sengaja melihat putrinya masuk ke dalam rumah dan ia heran karena Vonny seperti sedang kesal entah kepada siapa, Roky juga bertambah heran lantaran Vonny itu melewatinya begitu saja tanpa ada ucapan salam atau menghampirinya untuk mencium tangan seperti biasa. Ia pun penasaran dan akhirnya coba menegur Vonny sebelum gadis itu masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas.
"Vonny!" ucap Roky.
Vonny menghentikan langkahnya saat sang ayah memanggil namanya, ia juga terkejut karena ternyata ada ayahnya disana bersama dengan Devano dan Tama yang sedang duduk di sofa. Vonny pun bergerak lalu menghampiri mereka bertiga karena ia merasa bersalah dengan tidak menyadari keberadaan mereka disana, walau ia sebenarnya sedang bete dan ingin segera masuk ke kamar.
"Ayah, om, kak Vano." ucap Vonny menyapa ketiga pria itu disana sembari mencium tangan mereka secara bergantian.
"Kamu ini kenapa, Vonny? Kok masuk ke rumah diam-diam aja begitu, terus sampe gak ngucap salam apalagi samperin ayah disini. Kamu lagi ada masalah apa sih sayang?" tanya Roky.
"Umm, aku cuma lagi bete aja sama bunda. Abisnya bunda tuh nyebelin tau!" jawab Vonny.
"Loh loh, emang bunda kamu kenapa?" tanya Roky.
"Tadi tuh aku kan cuma cerita kalau tugas sekolah ku ada banyak dan udah numpuk, eh bunda malah bilangnya kalau aku gak boleh ngeluh. Padahal aku gak ngeluh kok, ayah! Bunda nya aja yang salah pengertian, eh tapi bunda juga marahin aku." jawab Vonny menjelaskan pada ayahnya.
"Huft, iya ayah. Kalo gitu sekarang aku mau ke kamar dulu ya ngerjain tugas?" ucap Vonny.
Roky menjawab dengan anggukan sembari menepuk bahu putrinya itu dan tersenyum, ia mewajarkan sikap Vonny yang masih mudah kesal karena dia memang belum bisa mengendalikan emosinya. Roky pun membisikkan sesuatu di telinga Vonny yang isinya meminta agar Vonny bisa lebih tenang dan tidak lagi emosi.
Setelahnya, Vonny pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan meninggalkan sang ayah serta kedua pria lainnya disana. Sedangkan Roky juga kembali duduk di sofa bersama Tama dan Devano, ia masih senyum-senyum saja mengingat wajah cemberut dari putrinya barusan.
"Maaf ya mas Tam, si Vonny itu emang masih kayak anak-anak sikapnya!" ucap Roky.
"Gapapa. Emang namanya juga anak baru gede, jadi ya begitu sikapnya. Saya jadi keinget sama almarhumah putri saya Laila, dia juga suka seperti itu gampang ngambek dan kesal sendiri." ucap Tama.
"Memang anak perempuan itu suka begitu ya, mas?" ucap Roky geleng-geleng kepala.
"Iya, kadang nyebelin tapi kadang juga ngangenin. Seperti sekarang saya juga kangen sama putri saya itu, ya begitulah." ujar Tama menahan sedihnya.
Devano pun menepuk-nepuk punggung papanya bermaksud menenangkan sang papa yang mulai terlihat bersedih saat mengingat Laila.
...•••...
Sementara itu, Rafael kembali datang ke perusahaan milik bosnya tentu untuk menggantikan tugas Devano selama beberapa bulan ke depan. Total sudah lima bulan lebih Rafael bekerja disana menggantikan bosnya, karena Devano memilih untuk istirahat alias cuti demi menemani istrinya selama masa hamil dan meninggalkan tugasnya itu.
Rafael pun sangat menyukainya, ya biarpun memang melelahkan dan membuatnya gampang capek karena tugas yang begitu banyak dan menumpuk, tetapi dengan ia terus-menerus datang kesana ia bisa bertemu terus dengan Novi alias wanita cantik yang ia sukai selama ini dan ia masih terus berharap agar Novi mau menerima cintanya itu.
"Novi...." ucap Rafael langsung menghampiri sekretaris cantik nan seksi itu begitu sampai di dalam perusahaan milik bosnya.
"Eee iya pak, ada apa?" tanya Novi menghentikan langkahnya sejenak saat Rafael memanggilnya.
"Gimana kabar klien dari Korea itu? Apa mereka mau bertemu dengan saya selaku asisten pak Vano?" ucap Rafael bertanya pada Novi dengan wajah penasarannya dan agak sedikit mendekati tubuh gadis cantik itu.
__ADS_1
"Umm, saya sudah berusaha meminta mereka untuk hadir dan bertemu dengan bapak. Tapi, mereka bilang kalau tidak ingin bertemu dengan perwakilan pak Vano, mereka maunya pak Devano langsung yang menemui mereka disini." ucap Novi menjelaskan pada Rafael dengan sedikit menjauh.
"Ohh, apa gak ada kemungkinan buat mereka mau menerima itu dan bertemu dengan saya?" tanya Rafael lagi kepada Novi.
Novi terlihat menghela nafasnya, kemudian menggeleng menatap wajah Rafael kalau memang tidak ada kemungkinan lagi bagi para klien dari Korea itu untuk mau bertemu dengan Rafael.
Rafael pun tampak mengusap wajahnya kasar.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang? Apa kamu ada ide atau solusi kita, Nov?" tanya Rafael.
"Eee saya juga bingung, pak. Soalnya klien dari Korea ini benar-benar bisa membuat perusahaan ini semakin maju dan berjaya, pak. Tapi, kalau misal kita coba menghubungi pak Vano dan meminta pak Vano untuk hadir disini, itu pasti bisa membuat pak Vano marah dan menganggap kita tidak becus mengurus perusahaan ini selama pak tidak bisa hadir." jawab Novi yang juga ikut kebingungan.
"Yasudah, biar saya aja yang coba telpon pak Vano. Mungkin jika saya bicara dengan perlahan, pak Vano bisa mengerti dan mungkin saja mau datang ke perusahaannya untuk bertemu sebentar dengan para klien dari Korea itu." ucap Rafael.
"Eee tidak usah, pak! Nanti saya saja yang akan coba menelponnya pak Devano," ucap Novi.
"Oh begitu? Yasudah, semoga kamu berhasil membujuk pak Devano ya! Kalau gitu saya mau izin ke kantin dulu, apa kamu mau ikut juga?" ujar Rafael.
"Eee saya kan ingin telpon pak Vano, mungkin nanti saya akan menyusul." jawab Novi gugup.
Rafael tersenyum lalu mendekat ke arah Novi dan membelai rambut gadis itu, "Baiklah, kamu semangat ya dan semoga berhasil!" ucap Rafael lalu memegang wajah Novi dengan dua tangannya dan memberikan kecupan manis pada dahi Novi.
"Iya, kalau gitu saya permisi..." ucap Novi.
Rafael mengangguk pelan memberi izin pada Novi untuk pergi ke ruangannya, ya Novi akan coba menghubungi bosnya yakni Devano dan meminta pada Devano untuk datang kesana. Karena kehilangan klien dari Korea itu juga akan sangat berpengaruh pada perusahaan mereka, oleh karena itu Novi akan coba menjelaskan pada Devano.
...•••...
Disisi lain, Nadya dan Adrian sampai di lokasi kejadian yang mana mobil dari Yoga tergelincir jatuh ke jurang dalam itu. Nadya langsung saja turun dari mobil begitu mereka sampai disana, ia terlihat sangat panik dan berusaha menerobos kerumunan orang serta para polisi yang berdiri disana untuk menyelidiki penyebab kecelakaan itu.
Adrian tampak geleng-geleng kepala karena Nadya sulit dibilangin dan malah turun dari mobilnya, akhirnya ia pun juga menyusul Nadya keluar dari mobil untuk menenangkan gadis itu. Adrian langsung menghampiri Nadya yang sudah berada di depan jurang itu dan menangis disana, ia memeluk Nadya untuk coba menenangkan Nadya yang histeris itu.
"Nadya, kamu jangan begini dong! Kamu bisa menghalangi kerja polisi dan tim SAR disini, udah yuk kita mundur dan saksikan aja prosesnya dari jauh!" ucap Adrian membujuk Nadya.
"Gak bisa, pak! Saya sekarang harus pastikan kalau Yoga kekasih saya itu masih hidup, dia gak boleh tinggalin saya pak!" ujar Nadya.
"Iya saya tahu, tapi kamu harus tenang dulu Nadya! Kita serahin semuanya ke pihak yang ahli, saya yakin mereka juga pasti melakukan yang terbaik untuk menemukan tubuh pacar kamu!" ucap Adrian.
Lalu, ada seorang polisi yang datang menghampiri mereka disana untuk bertanya.
"Maaf mas, mbak. Kalian ini siapa, ya?" tanyanya.
"Eee begini pak, yang kecelakaan itu kekasih dari wanita ini. Makanya dia sangat sedih dan pengen supaya kekasihnya bisa ditemukan, apa sudah ada perkembangan pak?" ucap Adrian.
"Untuk saat ini kami belum bisa mendapatkan apapun mengenai keberadaan korban, kami hanya menemukan ponsel yang diduga milik korban." jelas polisi itu sembari menyerahkan sebuah ponsel.
"Ya ampun, iya benar ini milik Yoga kekasih saya. Saya mohon pak, bapak cari dia sampai ketemu!" ucap Nadya memohon pada polisi itu.
"Tenang saja mbak! Kami pasti akan usahakan yang terbaik untuk bisa menemukan korban, sekarang tim sar juga sudah bergerak menyusuri jurang ini untuk mendapatkan informasi. Tapi, karena kondisinya yang curam dan licin membuat mereka juga kesulitan untuk menyusuri tempat jatuhnya korban." ucap polisi itu.
Nadya pun kembali menangis histeris mendengar penjelasan dari si polisi, ia memeluk ponsel milik Yoga dan mengingat saat terakhir kali ia bertemu dengan Yoga pagi tadi.
Sementara Adrian juga merasa terharu dan tidak tega pada gadis itu, ia pun memeluk Nadya dari samping sembari mengusap-usap pundaknya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1