Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Ada apa?


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 188


...•...


...•...


"Sabar Shella, mimpi lu belum terkubur kok! Kan lu masih bisa minta sama bang Vano buat kuliah lagi atau kerja buat kejar cita-cita lu yang sempat tertunda, gue yakin kok bang Vano pasti izinin lu buat ngelakuin itu!" ucap Laila coba menenangkan Shella yang tengah bersedih itu dengan merangkul pundaknya.


"Iya La makasih, tapi untuk sekarang ini gue udah gak punya tekad yang kuat buat ngelakuin itu semua! Karena kan gue udah jadi istrinya mas Vano, gue harus bisa nyenengin mas Vano dengan kasih anak buat dia!" ucap Shella kini kembali tersenyum.


"Maafin abang gue ya Sel, dia udah bikin hidup lu jadi kayak gini! Coba aja dia gak lakuin hal itu ke lu dan dia bisa nahan nafsuunya, pasti lu masih bisa kejar mimpi-mimpi lu dan jadi sarjana dengan nilai terbaik!" ucap Laila.


Kini giliran Shella yang merangkul Laila, karena gadis itu tampak bersedih akibat nasib Shella sekarang yang menyedihkan itu.


"Gak perlu minta maaf Laila, ini semua udah garis takdir kehidupan gue! Kalaupun mas Vano gak ngelakuin itu, mungkin orang lain yang bakal melakukannya.... udah ya jangan sedih sedih lagi, kan mau kuliah masa nangis sih?" ucap Shella tersenyum menepuk-nepuk lengan atas Laila untuk menenangkan gadis itu.


Laila manggut-manggut pelan dan menatap mata Shella, ia menghapus air matanya lalu memeluk gadis yang kini jadi kakak iparnya itu.


Sedang asyik-asyiknya berpelukan, tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan mereka semua dan Shella reflek melepas pelukannya lalu menoleh ke asal suara.


Rupanya itu mobil jemputan Shella yang sudah datang dengan pak Aris orang suruhan Devano sebagai pengemudinya, pak Aris keluar dari mobil lalu menemui Shella.


"Permisi bu, saya disuruh pak Devano tadi untuk mengantar bu Shella ke rumah sakit!" ucap pak Aris menaruh kedua tangannya di depan.


"Aduh pak, bisa gak jangan ngagetin kita kayak tadi? Gak tau apa suasananya lagi menyedihkan, ganggu aja ih!" ujar Laila kesal karena jantungnya masih deg-degan.


"Iya maaf non Laila, tadi saya gak sengaja kepencet klaksonnya...." ucap pak Aris sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.

__ADS_1


"Udah La, jangan marah-marah ah!" ucap Shella mengusap-usap punggung Laila sambil tersenyum. "Oh ya pak, tapi tadi mas Vano bilangnya mau suruh pak Rafael bukan bapak!" sambung Shella menatap wajah pak Aris.


"Saya tidak tau bu, tadi pak Devano sendiri yang telpon saya kalau ibu tidak percaya bisa dicek langsung ponsel saya ini bu!" ucap pak Aris merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel miliknya dan menyerahkan itu pada Shella.


"Eh gausah pak, saya percaya kok cuma tadi agak heran aja soalnya yang dateng beda!" ucap Shella tersenyum.


"Tenang aja Shella, ini tuh supir panggilannya bang Vano kalo lagi butuh! Jadi lu bakal aman kok gausah khawatir..." ucap Laila.


"Iya La, yaudah gue berangkat ke rumah sakit ya! Lu hati-hati nyetir mobilnya jangan ngebut!" ucap Shella menepuk pundak Laila.


"Siap!" ucap Laila tersenyum sambil mengangkat jarinya membentuk huruf o.


Shella pun berjalan mendekati pak Aris supirnya yang akan mengantar ia ke rumah sakit menjenguk Nadya.


"Ayo pak, kita jalan sekarang!" ucap Shella berbicara pada pak Aris sambil terus berjalan ke dekat mobilnya.


"Silahkan bu!" ucap pak Aris membukakan pintu mobil jok belakang untuk Shella, ia menutupnya kembali saat Shella telah masuk ke dalam.


Pak Aris pun masuk juga ke kursi kemudi lalu melajukan mobilnya pergi dari rumah Devano, terlihat Shella melambaikan tangannya ke luar untuk Laila tentunya... dan Laila pun membalas lambaian tangan Shella sambil tersenyum.


Setelah mobil itu pergi, Laila baru melangkah menuju mobilnya lalu melaju menuju kampus.


Sementara itu, Devano masih berada di ruang meeting bersama Novi setelah Adrian serta pak Santoso pergi dari sana.


Tampak Devano masih merasa ada yang janggal di dalam hatinya tentang Adrian, ia tak percaya begitu saja kalau Adrian ikhlas membantu dirinya.


"Pak, apa yang sedang bapak pikirkan? Bukannya seharusnya bapak itu senang? Kan Alhamdulillah keuangan perusahaan kita sebentar lagi akan kembali stabil dan semua hutang-hutang kita juga akan terlunasi!" ucap Novi merasa heran dengan bosnya.


"Ya, saya senang kok dengan itu! Hanya saja saya merasa heran mengapa pak Adrian mau membantu perusahaan kita, padahal selama ini hubungan saya dengan dia tidak baik! Saya yakin pasti ada sesuatu yang dia rencanakan, itu dia yang bikin saya bingung Novi!" ucap Devano terus mengopek ngopek bibirnya yang kering, ia memang biasa melakukan itu saat sedang bingung atau berpikir.


"Kalau menurut saya wajar-wajar kok pak kalau pak Adrian ingin membantu bapak, mungkin beliau berpikir perusahaan kita bisa kembali sukses seperti beberapa waktu lalu dan itu juga akan menguntungkan pak Adrian!" ucap Novi.


Mendengar perkataan Novi yang coba berpikir positif pada Adrian, Devano malah tidak sama sekali terpengaruh pada ucapan Novi barusan.


"Novi, tolong kamu selidiki tentang ini sampai ke akar-akarnya! Saya yakin Adrian itu punya maksud yang tidak baik dengan perusahaan saya, setelah kamu mendapatkan informasi langsung beritahu saya!" ucap Devano kemudian beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Baik pak," jawab Novi mengangguk.


Devano pun pergi keluar dari ruang meeting itu, sementara Novi membereskan semua barang-barang bekas meeting tadi.




Disisi lain, Adrian masih berada di mobilnya mendengarkan pembicaraan antara Devano dan Novi lewat handphonenya.


"Jadi anda ingin menyelidiki saya Devano? Hahaha, bodoh sekali anda ini bisa-bisanya anda malah menyuruh Novi untuk melakukan itu! Padahal sekarang Novi sudah jadi bagian dari saya Devano...." gumam Adrian tersenyum-senyum sendiri.


Ia mematikan rekaman itu setelah dirasa cukup mendengarkan pembicaraan Devano, selanjutnya ia mencari nomor kontak Novi dan menghubunginya saat itu juga.


📞"Halo pak Adrian, sepertinya pak Devano masih menaruh curiga pada bapak! Dia menyuruh saya untuk menyelidiki tentang bapak!" ucap Novi dengan suara pelan.


📞"Iya saya sudah tau semua itu, kan alat penyadap nya ada di ruangan itu Novi!" ujar Adrian tersenyum menyeringai.


📞"Oh iya pak saya kira bapak tidak mendengarnya tadi, lalu apa yang harus saya lakukan sekarang pak supaya pak Devano bisa percaya 100% pada bapak??" ucap Novi.


📞"Kamu bilang saja sama dia kalau kamu tidak berhasil menemukan apa-apa, saya yakin dia pasti bakal merubah pikirannya! Oh ya satu lagi Novi, jangan sampai kamu lupa pasang alat penyadap yang lainnya di ruangan pribadi Devano!" ujar Adrian.


📞"Baik pak, alat ini sudah ada di tangan saya sekarang dan sebentar lagi akan saya taruh di ruang kejar pak Devano!" ucap Novi sambil mengambil alat penyadap tersebut dari kantong bajunya.


"Novi!" tiba-tiba ada suara pria memanggil nama sekretaris wanita itu, ia pun terkejut sampai alat penyadap di tangannya terjatuh.


Novi sangat panik saat melihat Devano masuk lagi ke dalam sana, ia langsung mematikan teleponnya dengan Adrian lalu berusaha untuk tetap tenang di hadapan Devano.


"Apa itu yang jatuh Nov?" tanya Devano saat menyadari ada benda kecil terjatuh di lantai tadi ketika ia masuk ke dalam.


Novi terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat agar Devano tidak curiga padanya.


Sementara Adrian heran karena teleponnya tiba-tiba dimatikan begitu saja oleh Novi, ia juga sempat mendengar suara seseorang tadi sebelum telepon itu dimatikan.


"Ada apa ya?" ujarnya kebingungan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2