
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 191
...•...
...•...
Devano sudah sangat pusing dan tidak bisa lagi berpikir dengan jernih, akhirnya ia memutuskan untuk menandatangani semua berkas-berkas itu.
Karena isinya yang lumayan banyak, Devano tak sempat membaca semuanya dikarenakan kepala dia sudah serasa mau pecah saat itu.
"Huh semoga aja keputusan gue ini tepat!" ucap Devano sambil menghela nafasnya kasar.
Setelah semua berkas itu ditandatangani, Devano pun menyandarkan tubuhnya di kursi lalu meluruskan kakinya ke depan untuk menghilangkan rasa pegal.
TOK TOK TOK....
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar saat ia baru saja hendak memejamkan matanya.
"Ya masuk!" ucap Devano singkat tanpa merubah posisinya karena ia masih pegal.
Ceklek... pintu pun terbuka memperlihatkan seorang wanita muncul dari balik pintu lalu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Devano seraya menutup pintu itu lagi.
"Permisi pak, ada surat untuk bapak!" ucapnya yang kini telah berada di depan meja kerja Devano.
Pria itu masih terus memejamkan matanya tak sedikitpun ia membuka matanya untuk melihat wanita yang masuk ke ruangannya itu.
"Ya taruh saja di meja!" perintah Devano yang langsung dituruti oleh wanita itu. "Oh ya Novi, tolong kamu pijat kaki saya!" sambungnya meminta sang sekretaris memijat kakinya.
__ADS_1
"Eee baik pak, tapi apa tidak apa-apa kalau saya memijat kaki bapak? Memangnya nanti tidak akan menimbulkan fitnah atau hal yang tak diinginkan lainnya??" tanya Novi.
"Tenang saja Novi, saya kan cuma minta dipijat biasa bukan pijat plus-plus..." jawab Devano dengan santai masih memejamkan mata.
"Ah baik pak," ucap Novi kemudian mendekati bosnya itu lalu mulai menyentuh kaki Devano secara perlahan dan memijatnya.
Devano merasakan kenikmatan pijatan dari tangan sekretarisnya itu, sampai tidak sadar kalau ia senyum-senyum sendiri.
"Lebih keras lagi Nov!" ucap Devano meminta sekretarisnya untuk menambah kekuatan pijatannya.
"Iya pak," ucap Novi pelan lalu mengeraskan pijatan dari tangannya ke kaki Devano.
"Oh ya sekalian juga tangan dan pundak saya, kebetulan semuanya terasa pegal! Kamu tenang aja nanti saya kasih kamu gaji tambahan kok!" ucap Devano.
"Baik pak!" ucap Novi.
Setelah setengah jam memijat bosnya, tangan-tangan Novi mulai terasa pegal juga karena telah memijat hampir seluruh bagian tubuh Devano.
"Duh pegel banget nih," ujar Novi coba meregangkan tangan-tangannya yang pegal.
"Tapi bagus deh, pak Vano jadi ketiduran dan gue bisa pasang penyadap ini disini! Gak sia-sia gue pijitin dia sampe pegal-pegal," gumam Novi tersenyum licik.
Wanita itu pun merogoh kantong bajunya mengambil alat penyadap yang diberikan Adrian beberapa waktu lalu padanya.
Dengan sigap ia langsung bangkit dari duduknya dan celingak-celinguk mencari tempat yang tepat untuk meletakkan alat penyadap tersebut, sampai akhirnya ia menemukan tempat yang cocok yakni di bawah meja kerja Devano.
"Nah kayaknya disitu cocok deh, pastinya pak Vano gak akan sadar kalau ada alat penyadap yang gue pasang disana... terus pak Adrian juga bisa dapet informasi yang lebih jelas kalau gue taro ini disana!" gumam Novi tersenyum licik kemudian menoleh ke arah Devano.
Novi masih belum yakin seratus persen kalau bosnya itu tertidur pulas, akhirnya ia mendekati kembali Devano dan melambai-lambaikan tangannya di depan mata Devano.
Tak ada respon sama sekali dari pria itu, Novi pun kini yakin kalau Devano memang benar-benar tertidur dan tidak berpura-pura.
"Huh bagus deh pak Vano gak respon dan itu artinya dia udah tidur pulas, jadi dia gak bakal tau kalau gue taruh alat penyadap ini di bawah meja kerjanya dia...." gumam Novi.
Gadis itu pun berjalan menuju meja kerja Devano, ia membungkukkan tubuhnya setengah lalu menaruh alat penyadap yang ia bawa ke bawah meja tersebut.
__ADS_1
Setelahnya, tentu Novi tersenyum menyeringai dan menatap wajah Devano yang masih tertidur pulas disampingnya itu.
"Maafkan saya pak, tapi kontrak kerja kita sudah habis sejak bapak mengurangi gaji saya!" gumam Novi.
Novi pun melihat berkas-berkas yang diberikannya tadi kepada pak Devano, ia ingin memastikan apakah bosnya itu sudah menandatangani berkas itu atau belum.
"Ternyata pak Vano udah tanda tangan disini, bagus deh berarti sebentar lagi perusahaan ini juga bakal diambil alih sama pak Adrian dan gue akan jadi asisten pribadi pak Adrian yang digaji tinggi...." gumam Novi.
Novi pun mengambil berkas-berkas itu dan membawanya keluar dari ruangan Devano, ia menutup pintu secara perlahan agar tak membangunkan bosnya itu.
...•••...
Disisi lain, Adrian baru menuntaskan permainannya dengan Femila setelah hampir satu setengah jam mereka bermain.
Tampak energi keduanya sangat terkuras akibat permainan yang menggairahkan itu, Adrian ambruk di samping tubuh Femila setelah mengeluarkan cairannya di dalam milik gadis itu lalu mencabut miliknya dari sana.
"Hah... hah... masih mantap aja lu Femila, punya lu itu emang idaman banget deh!" ujar Adrian tersenyum puas sambil ngos-ngosan, ia juga mengusap wajah Femila dengan telapak tangannya lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Ingat Adrian, jangan pernah lu sentuh Yoga sedikitpun! Gue gak akan tinggal diam kalau lu lakuin itu, karena gue punya banyak bukti kelakuan jahat lu ke gue dulu!" ucap Femila mengancam Adrian masih dengan nafas yang tak karuan dan keringat terus bercucuran di wajahnya.
Adrian hanya terkekeh mendengarnya, ia menggerakkan satu tangannya untuk memainkan pusat gunung kembar Femila yang kecil dan berwarna coklat kegelapan.
Adrian memutar, mengelus serta menekan-nekan pentill milik Femila itu seakan belum puas bermain dengannya tadi.
Padahal sudah terlihat di sekujur tubuh Femila penuh dengan tanda merah yang diberikan oleh Adrian tadi, akan tetapi lelaki itu masih merasa kurang dan ingin lanjut bermain lagi.
"Femila, kalo lu bisa layanin gue di ronde dua maka gue pastiin Yoga bakal baik-baik aja dan gue gak akan lukain dia sedikitpun! Gimana bisa gak?" ujar Adrian tersenyum sambil terus memutar-mutar choco chips milik Femila.
"Lu udah gila kali ya? Kita baru banget selesai setelah main sejam lebih, gue masih capek banget dan anu gue juga masih perih! Mikir dong pake otak kalo ngomong!" ujar Femila kesal karena lelaki itu benar-benar mesum.
"Hahaha, gausah marah-marah dong cantik! Yaudah gini aja, biar gue yang mainin tubuh lu dan lu cukup rebahan aja... gue juga gak bakal genjot lu lagi kok!" ucap Adrian.
Femila memutar bola matanya lalu memalingkan wajahnya dari Adrian, sedangkan Adrian menganggap itu sebagai persetujuan dari Femila dan langsung saja ia menancap gas bermain dengan tubuh gadis itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...