Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Tampan sekali


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 240


...•...


...•...


Bi Irah kembali menemui Lestari di dalam yang masih menonton tv, ia memberitahu majikannya itu kalau di depan ada tamu yang sudah menunggu. Tentu tamu tersebut merupakan orang yang sebelumnya memencet bel berkali-kali, Lestari pun penasaran siapa orang itu dan mengapa ekspresi wajah bi Irah tampak gemetar ketakutan.


"Bi, ada apa sih? Siapa emangnya yang datang?" tanya Lestari penasaran.


"Eee... anu... itu...." ucap bi Irah gugup.


"Haduh kenapa sih bi? Siapa yang datang??" tanya Lestari semakin penasaran melihat ekspresi bibinya yang terlihat gugup seperti.


Sekarang bi Irah malah diam tak menjawab pertanyaan majikannya, tentu Lestari kebingungan dan garuk-garuk kepala walau tak gatal. Entah apa yang terjadi pada asisten rumah tangganya itu, padahal sebelumnya dia baik-baik saja dan ceria seperti hari-hari biasanya.


Akhirnya Lestari bangkit dari sofa menaruh ponsel miliknya di atas meja, ia sungguh penasaran siapa yang datang sampai membuat bi Irah ketakutan seperti itu kayak habis melihat sosok hantu.


"Yaudah bi Irah ke dapur sana, buatin minuman untuk tamu saya! Ingat, bikinnya jangan sambil ketakutan nanti yang ada malah rasanya gak enak!" ucap Lestari menyuruh bi Irah membuat minuman.


"Siap, nyah!" ucap bi Irah lalu berbalik badan kemudian pergi begitu saja menuju dapur.


Lestari hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah asisten rumah tangganya itu, ia pun berjalan ke depan menemui tamunya yang kata bi Irah sudah menunggu dirinya di depan sana.


"Siapa ya kira-kira?"


Dalam hatinya Lestari terus bertanya-tanya mengenai siapa orang yang datang ke rumahnya, ia mempercepat langkahnya karena sudah tak sabar untuk mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di depan, mata Lestari langsung terbelalak lebar begitu melihat sosok pria berjaket coklat yang tengah duduk di sofa sembari menatap lurus ke depan sehingga pria itu belum mengetahui kalau Lestari sudah ada disana.


Lestari yang tak percaya dengan apa yang ia lihat masih tampak syok menutupi mulutnya dengan tangan, ia melangkahkan kakinya secara perlahan maju ke dekat pria itu untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.


"Mas Ari...??" sapa Lestari dengan nada pelan sembari memiringkan kepalanya untuk melihat jelas wajah pria yang terduduk disana.


Begitu namanya disebut oleh Lestari, pria itu langsung menoleh dan tersenyum saat melihat Lestari berada disana tengah menatapnya.


Pria bernama Ari tersebut bangkit kemudian menghampiri Lestari, tanpa basa-basi ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan tampak bahagia sekali bisa bertemu kembali dengan Lestari.


Sementara Lestari masih terbengong, ia seperti tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Ia juga masih belum bisa membedakan apakah ini mimpi atau nyata, namun tetesan mata yang jatuh dari wajah Ari ke pundaknya membuat ia yakin kalau apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.


"Kamu benar mas Ari?" tanya Lestari.


Pria itu melepas pelukannya memegang kedua bahu Lestari sembari menghapus air mata di wajahnya.


"Ya, ini aku! Gak nyangka banget akhirnya kita bisa ketemu lagi, Lestari! Aku kira kamu udah pindah dari rumah ini sejak kita pisah, tapi ternyata kamu masih setia sama rumah pemberian aku!" ucap Ari.


"Mas, untuk apa kamu balik kesini lagi? Apa kamu juga mau mengambil rumah ini dari tangan aku?" tanya Lestari curiga.


"Hah??"


Lestari tersentak kaget mendengar perkataan Ari yang kemungkinan adalah mantan suaminya, mulutnya menganga lebar dan seperti mematung saat ini tanpa melepas pandangannya ke arah Ari.


...•••...


Disisi lain, Devano bersama Shella juga Jenar kembali ke ruang ICU setelah selesai makan siang di kantin rumah sakit tadi. Mereka cukup terkejut karena disana sudah tidak ada siapa-siapa, padahal Jenar menitipkan Nadya pada Yoga ketika mereka hendak makan siang sebelumnya.


"Loh nak Yoga kemana ya, kenapa dia gak ada disini?" ujar Jenar bertanya-tanya kebingungan.


"Umm, mungkin dia udah pulang Bu! Yaudah lah biarin aja, lagian Sheila juga pasti aman kok di dalam kan ada suster yang jagain!" ucap Shella.


"Iya, kamu benar juga Shella! Ibu penasaran apa Sheila sudah bangun tidur atau belum ya? Kalau dia sudah bangun, ada baiknya kamu temui dia ya dan ajak bicara supaya Sheila bisa lebih terbiasa sama kamu sayang!" ucap Jenar.


"Iya Bu, kebetulan aku juga mau ketemu sama Sheila kok! Yaudah sekarang kita lihat dulu aja kondisi Sheila dari kaca sana, yuk Bu!" ucap Shella menggenggam tangan ibunya lalu membawa sang ibu ke dekat kaca untuk melihat Sheila.

__ADS_1


Rupanya Nadya memang sudah bangun dan saat ini tengah makan siang disuapi oleh suster disana, Jenar pun tampak tersenyum melihatnya lalu segera meminta putrinya yakni Shella masuk ke dalam menggantikan posisi suster tersebut.


"Shella, kamu cepat gih ke dalam! Suapin adik kamu itu supaya kalian bisa lebih cepat dekat!" ucap Jenar sambil tersenyum sumringah.


"Iya, siap Bu!" ucap Shella manggut-manggut.


Shella pun berjalan menuju pintu masuk, ia sempat melirik sejenak ke arah suaminya yang terdiam terpaku disana. Namun, Shella tak mengatakan apapun kemudian langsung masuk ke dalam ruang ICU untuk menemui Nadya.


Jenar yang melihat menantunya tampak sedih langsung menghampiri Devano disana, ia menaruh tangannya di pundak pria itu untuk menenangkan hati Devano yang sedang bersedih. Sepintar apapun Devano menyembunyikan kesedihannya, tetap saja Jenar bisa tahu kalau Devano tengah sedih.


"Nak Vano..." ucap Jenar pelan.


"I-i-iya Bu, kenapa?" ujar Devano sedikit terkejut.


"Kamu ke dalam gih, temani istri kamu untuk berbicara dengan Sheila! Kamu kan belum pernah jenguk Sheila secara langsung di dalam, sebaiknya kamu masuk susul istri kamu!" ucap Jenar.


"Eee tapi Bu...." ucap Devano ragu-ragu.


"Gapapa, Shella gak mungkin marah-marah di dalam walau dia sekesal apapun sama kamu! Udah sana masuk dan temui Sheila, kalian juga harus terbiasa bicara dari sekarang supaya gak kagok!" ucap Jenar.


"I-i-iya Bu," ucap Devano gugup.


"Yasudah sana masuk!" ujar Jenar.


Devano pun mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju pintu, ia menelan saliva kasar sembari menghela nafas sebelum akhirnya ia membuka pintu ruangan tersebut. Walau sebenarnya Devano tidak mau masuk kesana, karena ia takut kalau istrinya tidak suka dan malah mengacaukan suasana di dalam sana antara adik dan kakak.


Ceklek...


Dua gadis cantik yang tengah berbincang sembari makan siang itu sontak menoleh saat mereka menyadari ada yang datang, mata Nadya terbuka lebar begitu melihat sosok pria tampan memasuki ruang tersebut dan mendekatinya.


"Tampan sekali, siapa dia??" batin Nadya tanpa sadar terukir senyum di wajahnya sembari terus menatap wajah Devano dari posisi terbaring.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2